Emaknya Ashfat yang Orang Bangladesh Itu… (ODOP Day 1 of 99)

bangladesh-women

Sumber foto: ICMHD Blog

Ashfat sekelas dengan Dinara yang sekarang berumur 6 tahun sementara Arafat 3 tahun lebih muda. Bapaknya pelayan kedai makanan Bangladesh di Colchester. Ibunya bernama Yasmin, tak fasih berbahasa Inggris. Mereka tinggal di belakang rumah kami.

Saat pertama kali datang ke rumah, saya harus memanggil suami untuk membantu memahami apa yang dikatakan Yasmin. Suami akhirnya menelpon Food Inc, satu-satunya toko penjual daging halal di kota kecil kami, karena penjual dan pelayan di sana fasih berbahasa Inggris dan Bengali.

Setahun terakhir Yasmin mengikuti kursus bahasa Inggris yang diselenggarakan pemerintah daerah setempat. Bahasa Inggrisnya mengalami peningkatan, meski tentu jauh dari nilai IELTS untuk lolos dapet beasiswa sekolah di Barat.

Dengan modal bahasa Inggris hasil kursus, dan bahasa Inggris saya yang selevel anak berusia 3 tahun di United Kingdom (UK), kami sering mengobrol ketika bertemu di jalan atau di sekolah saat mengantar/menjemput anak-anak.

Yasmin sekeluarga memasuki Inggris dengan paspor Spanyol. Suaminya bekerja semacam kuli membangun jalan raya di Spanyol. Paspor Spanyol itulah yang selalu mereka gunakan dalam segala urusan administrasi di UK. Mereka masih berkebangsaan Bangladesh, tetapi paspor negara tersebut hanya mereka simpan saja.

Yasmin berusaha sekuat tenaga untuk hidup layak di UK. Layaknya imigran dari negara miskin, ia bersedia melakukan apa pun demi-anak-anaknya. Secara jujur ia mengatakan kecewa terhadap hasil referendum UK di mana pemilih Brexit memenangkan hasil pemilihan.

Yasmin selalu menanyai saya, apakah saya dan anak-anak berpaspor Inggris? Apakah kami sudah resmi menjadi warga negara Inggris? Bagaimana caranya, dan sebagainya. Begitu juga soal rumah. Berkali-kali ia menanyai saya berapa harga sewa rumah kami perbulannya.

Beberapa pekan lalu Yasmin bercerita akan pindah rumah. Seminggu yang lalu ia datang ke rumah kami. Saya masih memasang kerudung dan jilbab ketika suami menemuinya. Dari penjelasannya, suami menyimpulkan, Yasmin dan keluarganya akan pindah rumah, ke rumah yang mereka minta ke pemerintah.

“Mereka mau minta rumah ke pemerintah,” terang suami. Yasmin datang meminta izin menitipkan beberapa barang di gudang halaman belakang, yang akan diambil setelah urusan pindah rumah beres. Saya pun tak berkeberatan.

Hari ini Yasmin datang membawa bubur Bangladesh. Ia menitipkan 2 kotak besar peralatan berkebunnya.
“Bagaimana kabar anak-anak?” tanya saya.
“Mereka ada di rumah, bersama suami saya,” jawabnya.

Saya sering bilang kepada Pakne Krucils, “Suaminya Yasmin itu gimana, ya, istrinya pontang-panting minta bantuan ke tetangga, dia sendiri sama sekali ngga pernah bantu istrinya ke sini…”
“Suaminya model laki-laki Asia, mungkin, Bun,” jawab Pakne Krucils sekenanya, “Laki-laki Asia khan nggak pandai berbasa-basi.”

Saya membuka pintu belakang rumah yang menghubungkan kebun dengan jalan raya. Dua kotak berkebun Yasmin sudah ada di depan pintu. Yasmin melarang saya membantu mengangkat dan menyeret kotak-kotak tersebut masuk ke kebun.

Melihatnya mengangkat dan menyeret kotak-kotak yang berat itu, benak saya dipenuhi keheranan luar biasa akan sosok suaminya. Sekaligus kekaguman luar biasa atas diri Yasmin.

Berkali-kali dengan nada bergurau, saya selalu bilang kepada suami, “Dia itu seperti ibu, ya, Pak.”
Biasanya sih, suami cuma diam saja. Tapi saya tahu, pikirannya melayang pada sosok mantan buruh tani tak tamat SD di desa yang terletak di kaki gunung Semeru di kota Lumajang sana. Ibu dan Yasmin, dua ibu tangguh yang barangkali tak akan pernah ada produk yang menjadikan mereka berdua sebagai bintang iklan.

“Anda ibu tangguh?”demikian tanya Dian Sastro.
Saya membalas senyumnya di youtube. Ah, Jeng Dian. Banyak ibu yang layak menyandang gelar sebagai ibu tangguh. Hanya saja Dunia tak mengenal mereka karena paras mereka tak kinclong , dan mereka tak berpendidikan setinggi pendidikan ibumu.

Tapi mereka akan selalu menjadi bintang minimal bagi keluarga kecilnya.

Colchester, Essex, 2 Januari 2017

Advertisements

One thought on “Emaknya Ashfat yang Orang Bangladesh Itu… (ODOP Day 1 of 99)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s