Yang Pergi dan Tak Akan Kembali

innalillahi

Namanya Indriane Hardine. Saya, sebagaimana ibu-ibu dan Mbak-mbak Indonesia lainnya di United Kingdom (UK), memanggilnya Bu Indri. Sekitar 3 tahun lalu Bu Indri sekeluarga pindah ke Malaysia. Saya dan beliau masih terhubung di facebook.

Di grup Keluarga Islam Indonesia di Britania Raya (Kibar), Bu Indri mengabarkan berita duka. Sebuah musibah menimpa salah satu anggota Kibar yang hijrah ke Madinah. Menurut Bu Indri, keluarga Pak Candra dan Mbak Wanda mengalami kecelakan parah di Madinah dan anak ketiganya yang perempuan meninggal dunia. Saya dan keluarga besar Kibar tentu sangat kaget dan ikut berdukacita atas musibah tersebut.

Berita itu datang sehari sebelum yang biasa disebut masyarakat sebagai perayaan tahun baru Masehi. Entah mengapa menjelang pergantian tahun, nggak biasanya, Mahdi terjaga sekitar jam 10 malam dan minta makan. Meski ia segera lelap kembali menyusul anggota keluarga yang lain, mata saya masih sempat melihat pijaran satu-dua kembang api yang dilontar jauh ke langit hitam disertai ledakan-ledakan yang tak sampai membangunkan banyak orang. Tanpa melihat jam pun, saya tahu kalender resmi berganti.

Di sepanjang tahun 2016, ada begitu banyak orang-orang yang setahu saya baik, lebih dahulu menghadap-Nya. Sejujurnya, yang menyesakkan adalah saat menerima berita di mana kita harus mengikhlaskan orang-orang yang kita tahu bahwa mereka orang baik, masih muda, usia produktif, bahkan masih anak-anak atau bayi dan balita. Mengapa harus orang-orang baik ini, dan mengapa bukan orang-orang semacam perampok Pulomas ini saja yang lebih dulu pergi? Mengapa harus bayi, balita, anak-anak, yang masih panjang masa depannya yang dipanggil lebih dulu, bukan mereka yang sudah berusia sangat senja dan sudah teramat siap dijemput Malaikat Izrail? Mengapa harus mereka para pengemban dakwah, yang masih sangat dibutuhkan oleh ummat ini, bukan para teroris yang dengan kekuasaannya bisa menghilangkan nyawa jutaan umat manusia, yang harus menyudahi catatan amalannya?

Tapi demikianlah. Sepanjang tahun 2016 ini seorang teman muslimah pengemban dakwah yang menggondol gelar master dari Denmark, berpulang ke rahmatullah saat berenang di kolam renang khusus muslimah di sebuah kota di Sumatera. Teman muslimah pengemban dakwah lain mengikhlaskan suaminya yang wafat setelah 2 tahun berjuang melawan kanker usus. Sang suami adalah mahasiswa cemerlang, aktivis dakwah gemilang, menamatkan studi S3 di Korea Selatan, meninggalkan istri dan dua anak yang belum lagi remaja. Teman muslimah pengemban dakwah lain yang saya kenal sejak kami sama-sama berstatus mahasiswa Unibraw, secara mendadak anak-anaknya yang masih kecil berstatus yatim setelah sang suami yang juga aktivis dakwah menghembuskan nafas terakhir di RS Saiful Anwar Malang akibat kecelakaan lalu lintas. Beberapa teman pengemban dakwah yang mamah muda diberikan kesempatan menambah pahala setelah bayi-bayi mereka diambil kembali oleh pemiliknya.

Sambil mendengarkan dentuman-dentuman kembang api di luar sana, saya pun teringat, mereka sudah pergi, dan tak akan kembali. Saya, ada dalam antrian. Ya, satu saat nanti, saya juga akan menyusul mereka. Itu pasti. Bisa esok hari. Bisa lusa nanti. Mungkin malah sebentar lagi.

Colchester, Essex, 1 Januari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s