Kibar Colchester bareng Pak Dr. Adnin Armas

IMAG1684

Pak Adnin Armas (berkaos merah) bersama Kibar Colchester

Pengajian bulan ini yang ngisi Dr. Adnin Armas, bertempat di rumah Mbak Pipit. Pak Adnin memulai pengajian dengan menceritakan secara ringkas kejadian penyerbuan umat kristen pada saat umat muslim menyelenggarakan sholat Idul Fitri di Tolikara, Papua. Beliau juga menyinggung isu pembakaran gereja di Aceh yang sebetulnya hanya dibesarkan media. Beliau menekankan bahwa meski kaum muslimin secara jumlah adalah mayoritas di Indonesia, tetapi sebetulnya masih mengalami ketertindasan.

Beliau menyinggung soal Gubernur DKI Jakarta yang kafir, dan membandingkan dengan Sumatera Utara, “Di Sumut saja, di Medan, meski jumlah umat Islam dan Kristen hampir berimbang, tidak pernah ada gubernurnya bukan orang Islam.”

Secara ringkas beliau menggambarkan bahwa penguasa Indonesia saat ini adalah uang dan media, dengan kata lain adalah orang-orang pengusaha Cina yang sedang berusaha menggolkan Ahok sebagai gubernur Jakarta.

Bu Ilen menanyakan bagaimana kita menyikapi rekan sekerja yang berpikiran tidak Islami karena busana tidak bisa digunakan sebagai standar pemahaman seseorang. Kayaknya sih beliau tidak menjawab secara praktis, hanya semacam, “Ya di Indonesia memang tokoh-tokoh muslimnya berbeda dengan di Timur Tengah. Kita tidak akan menjumpai ulama tokoh di Univeritas Al Azhar yang pemikirannya bertentangan dengan Islam tetapi kalau di Indonesia banyak dosen UIN atau IAIN mengajar agama Islam tapi pemikirannya berlawanan dengan Islam.”

Terkait dengan Ahok, saya memberikan pendapat, “Banyak umat Islam sendiri yang justru mendukung Ahok karena sudah bosen dipimpin sesama muslim tetapi kehidupan juga tidak membaik. Ditambah lagi kisah sukses muslim yang hidup di negara kafir yang menghasilkan kesimpulan bahwa rakyat seharusnya memilih pemerintah berdasar kompetensi, kredibilitas, dan kinerja; bukan berdasar agamanya. Apa ada fakta setelah Ahok jadi gubernur kemudian mengeluarkan kebijakan yang merugikan umat Islam semisal melarang jilbab?”

Pak Adnin menyampaikan bahwa tim pendukung Ahok secara terang-terang mempublikasikan foto bersama minum-minuman keras, soal reklamasi, dan Sumber Waras. Beliau mengungkapkan betapa besar peran media dalam memoles citra Ahok sekaligus menghancurkan citra tokoh-tokoh dari partai Islam semacam Lutfi Hasan Ishaq. Intinya, Ahok pun juga tidak baik-baik banget.

Soal kehidupan bernegara di Barat yang dipimpin orang kafir, Pak Adnin memberikan pendapat bahwa kalau di Barat muslim memang minoritas. Kalau di Indonesia, ya jangan bersikap jadi minoritas. Beliau lantas menyampaikan sekilas soal kepemimpinan alias imamah dalam Islam bahwa memilih ulil amri dalam Islam tujuannya adalah untuk hifzud diin alias menjaga agama. Jadi yang prioritas bukan persoalan kesejahteraan tapi agama. Intinya, tidak mungkin orang kafir bisa diharapkan menjaga agama Islam.

Soal aparat pemerintah yang dulu-dulu yang sama korupsinya dengan yang kafir, menurut Pak Adnin, “Yang sudah berlalu ya sudah biarlah berlalu… Sekarang umat Islam perlu bersatu agar tidak dipimpin orang kafir…”

Menurut beliau, banyak pemimpin muslim yang sebetulnya berprestasi tapi tidak diangkat media karena media berpihak kepada orang Cina dan orang kafir. Di masa Menteri Komunikasinya Pak Tifatul Sembiring sebetulnya sudah ada gagasan membentuk TV Islam tetapi ‘kapling di udara’ sudah habis.

Solusi yang ditawarkan Pak Adnin Armas ada 2. Pertama, umat Islam yang berada di kelas menengah diharapkan untuk turut ‘bermain’ ke atas. Kedua, dukunglah muslim yang bersaing dengan Ahok atau kafir lainnya. Prinsipnya kalau tidak mendapat yang baik minimal mengurangi kemudaratan yang lebih besar. Beliau mencontohkan pemimpin muslim yang baik semacam Kang Aher, Bu Risma, Kang Yoto, dan Bu Iliza.

Terlepas dari mepetnya waktu pengajian, ada beberapa poin yang saya simpulkan. Pertama, tanpa mengurangi rasa hormat kepada beliau, Pak Adnin Armas ternyata juga pragmatis. Kedua, saya pribadi kurang setuju jika dalam forum semacam ini seluruh kenestapaan kaum muslimin di Indonesia ditimpakan seolah-olah penyebabnya adalah para Cina dan orang kafir. Menurut saya, sebelum nunjuk-nunjuk ke 8 penjuru mata angin, seharusnya umat Islam intrspeksi kenapa kok bisa dijajah Cina dan kafir. Poin ‘kebodohan internal’ di dalam tubuh umat Islam ini yang nggak saya tangkap dari penjelasan Pak Adnin. Bahwa kemunduran taraf berpikir ummat ini adalah sumbangsih terbesar dalam keterpurukan umat Islam di seluruh dunia saat ini.

Dan yang terakhir, solusi yang ditawarkan juga tidak jelas. Sekali lagi terlepas dari sempitnya kesempatan yang ada, solusi muslim kelompok menengah diharapkan bermain ke atas ini ternyata juga membingungkan teman-teman di Kibar Colchester lainnya.

Pak Adnin tidak menyebut soal Hizbut Tahrir dan gagasan khilafahnya. Beliau hanya menyebut adanya kelompok yang berorientasi kepada kekuasaan yang mana, “Seolah-olah kalau umat Islam berkuasa lantas semua peroalan beres. Padahal khan tidak begitu. Toh di zaman kekhilafahan saja Khalifah dan khilafah juga tidak sempurna…”

Karena itu beliau menyayangkan kelompok Islam yang golput karena dipandang memberikan jalan bagi orang kafir untuk berkuasa.

Ya karena waktunya mepet, kira-kira demikianlah yang beliau sampaikan.

“Jadi Pak Adnin Armas itu sebetulnya pengen menyampaikan apa sih?” tanya saya ke Pakne Krucils ketika kami sudah tiba di rumah.
Indonesia dijajah Cina,” jawab Si Doi singkat.

Saya mencep. Itu mah, judul buletin Al Islam 3 bulan lalu. Tapi, Hizbut Tahrir tidak memusuhi Ahok, orang kafir, dan/atau orang Cina. Bagi Hizbut Tahrir, Ahok, orang kafir, dan/atau orang Cina bukan musuh. Toh, Si Felix Siauw juga Cina. Ngga ada tuh tanda-tanda Si Felix mau ganti nama jadi Faisal atau Firdaus biar lebih Islami. Fokus Hizbut Tahrir adalah memahamkan Islam kepada kaum muslimin sekaligus menyadarkan bahwa musuh utama kaum muslimin adalah ideologi kapitalisme. Bukan Ahok, Harry Tanoe, Jokowi, dan sebangsanya.

Colchester, 9 Mei 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s