Tantangan Hidup Tanpa MedSos (ODOP Day 98 of 99)

stargazing

Hamdan lillah akhirnya tiba jualah di penghujung tantangan One Day One Post (ODOP) yang digagas Institut Ibu Profesional. Terima kasih banyak untuk Mbak Shinta Rini, yang sudah memasukkan saya ke grup Ibu-ibu Doyan Nulis, Kumpulan Emak Blogger, dan menyemangati saya untuk mengontak Mbak Shanty Dewi Arifin.

Berikutnya saya mau nulis menjalani tantangan hidup tanpa media sosial. Sebetulnya sudah beberapa kali saya kepikiran untuk men-deaktivasi akun facebook ini. Beberapa hari terakhir, ‘pertanda’ yang menguatkan saya untuk ‘puasa media sosial’ semakin banyak. Di antaranya, pertanda pertama datang dari Mbak Asri Supatmiati. Jurnalis Radar Bogor ini mengomentari posting Saya Nggak Harus Punya WA dengan, “Penulis wajib punya WA Mba, jadilah produsen inspirasi. Supaya konten di WA tidak didominasi copas-copas hoax. Harus adaptif dengan teknologi Mba. Yang penting kita smart memenej waktu. Bukan teknologi yang memperbudak kita, tapi kita yang mengatur kapan memanfaatkan mereka. Untuk kebaikan. Untuk menebar inspirasi. Walau WA hanya alat…selama bermanfaat kenapa nggak? Banyak info2 penting segera terupdate via WA.”

Sejujurnya, tulisan beliau kian meneguhkan pendirian saya untuk tidak menambah jumlah media sosial yang saya miliki. Saya bukannya nggak tahu WA. Suami saya punya smartphone dan bergabung dengan sejumlah grup WA. Orang-orang Indonesia di Colchester juga lebih sering ngerumpi di WA.

Tulisan beliau juga menegaskan bahwa saya tidak memerlukan media sosial. Menebar kebaikan bisa dilakukan tanpa media sosial. Menginspirasi? Aduh, memangnya saya siapa? Dunia akan tetap  berputar meski saya tidak eksis di dunia medsos. Update info penting? Memangnya info penting apa yang saya perlukan? Cari resep? Opening times toko-toko tertentu? Cari info demikian tidak memerlukan media sosial. Dan aktivitas (termasuk dakwah) saya saat ini tidak mewajibkan saya punya media sosial.

Pertanda kedua datang dari Musa yang menang lomba Musabaqah Hifzil Quran. Saya merenung panjang membaca berita kemenangannya. Apakah saya hanya cukup puas dengan membaca tentang Musa? Tidakkah berita tentang Musa sebetulnya menjadi ‘pertanda’ bahwa saya yang jauh lebih tua dari Musa seharusnya sudah menghafalkan Alquran juga?

Siapa yang tidak ingin menjadi penghafal Alquran. Saya sampai pada renungan, apa Musa bisa jadi penghafal Alquran kalau bapaknya memegang banyak akun media sosial dan aktif di media sosial?

Pertanda ketiga datang dari Bu Ade Suryani, MSc, PhD. Saya membaca tulisanya yang di-share Mbak Astri Hamidah, pengurus Pesantren Anak-anak program tahfidz cepat. Bu Ade adalah dosen Universitas Bengkulu, penyandang gelar PhD, dan ketiga anaknya sudah beranjak remaja, penghafal Alquran semua. Bagaimana beliau bisa menghafal Alquran? Beliau mengikuti program Super Manzil di pesantren Mbak Astri.

Satu hal yang saya garis bawah tebal adalah pernyataan beliau, “Selama program berlangsung kita tidak diizinkan pegang gadget kecuali seminggu boleh nelpon suami. Sebulan tidak ngecek WA, jumah unread messages mencapai angka 4200, mashaAlloh…”

Ya, dalam proses super manzil, peserta tidak boleh pegang gadget. Saya menyimpulkan, berarti peserta tidak bisa menggunakan media sosial. Peserta dikarantina, sebagaimana bapaknya Musa ‘mengkarantina’ Musa dengan program homeschooling dan tidak membiarkan Musa bergaul dengan banyak orang.

Pertanda keempat, Mbak Shanty Dewi Arifin mengomentari posting saya bahwa Saya Nggak Harus Punya WA, “Pilihan yang keren Nurisma Fira. Bener itu, kita harus PD memilih mana yang bisa kita handle mana yang nggak. Pilihan jadi terbatas karena nggak punya WA? Itu pasti. Tapi bukan banyaknya pilihan yang jadi patokan, melainkan seberapa sesuai dengan kebutuhan kita. Walau punya WA dan FB, saya sebenarnya prefer FB karena informasi tidak ada istilah tergulung. Kita bisa cari informasi kapan pun kita mau dan sesuai kebutuhan.

Pertanda kelima, Mbak Pritha Khalida, bunda sholihah dengan 2 jagoan cerdas, Gaza dan Bilal, nulis status, “Saya kok deg2an ya pengen bilang ke Gaza. ‘Bang, gimana kalo tv di rumah kita sumbangin aja? Kaya Musa, gak pernah ntn tv jadi lbh mudah menghafal Qur’an.’ Khawatir tuh bocah ntar jawab, ‘Bun, gimana kalo hp nya dijual aja. Kayaknya umminya Musa gak fesbukan.'”

Pertanda keenam, banyak yang nge-share posting Las 2 cosas mas bellas en el mundo, dan ini sindiran telak buat saya. Bukankah di awal One Day One Post (ODOP) saya sudah merencanakan untuk membaca lebih banyak karya sastra? Dan setelah 90 hari, karya sastra mana yang sudah saya baca, selain versi untuk anak-anak SD semacam Roald Dahl dan CS Lewis? Saya harus lebih banyak membaca buku bermutu, dan bukan membaca status facebook yang itu-itu melulu.

Pertanda ketujuh, tarhib Ramadan. Ramadan identik dengan berpuasa. Dan Ramadan kali ini saya juga berencana melewatinya dengan puasa atau diet media sosial. Iseng-iseng saya google dengan memasukkan kalimat life without smartphone, life without social media, dan life without internet, dan menemukan beberapa artikel menarik. Ternyata saya bukan yang pertama kepengen ‘diet’ medsos.

Saya suka How 30 days without Social Media changed my life-nya Steve Corona, the CTO of Twitpic, a 50 million user startup, yang blognya sudah diliput the New York Times, LifeHacker, Fast Company, dan berbagai media online papan atas.

Saya juga meluangkan waktu membaca eksperimen Steve Pavlina. Secara bertahap ia mempublikasikan tulisan di blognya; 30-Day Facebook Fast (Februari, 2011)How Many Days Can You Go Without Checking Email or Social Media? (November, 2013); dan One Year Without Social Media (Juli, 2015).

Demikianlah, puasa media sosial, dalam hal ini Facebook karena saya cuma punya Facebook sebagai media sosial, akan berlangsung sepanjang 88 hari dimulai pada tanggal 21 April 2016 dan berakhir pada 18 Juli 2016. Kenapa 88 hari? Bingung milih nomor… hihihi… Maksudnya biar berbeda dengan ODOP yang pakai angka 99

Saya berjanji, insyaAllah akan tetap nulis di blog meskipun tidak terpublikasikan di Facebook seperti biasanya. Mungkin karena ODOP, jadi sudah terbiasa rajin posting hampir setiap hari 😀

Kalau saya sudah terbukti mampu hidup tanpa TV, tanpa smartphone, tanpa WA, saatnya saya membuktikan diri bahwa saya tidak termasuk dalam barisan Mama Susah Log-Off atau Mama Sulit Deaktif 😀

Mampukah saya hidup tanpa Facebook? Ya kita lihat saja mulai Hari Kartini besok 😀

Mohon doanya agar hafalan Alquran saya nambah… Hehehe…

Keterangan foto: Salah satu kegiatan rutin Year 1 (5-6 tahun) adalah star gazing alias mengamati benda-benda langit dengan teleskop. Sayangnya pada hari H cuaca mendung. Sebagai gantinya, guru menugaskan siswa untuk star gaze sendiri lewat aplikasi di internet. Bukti bahwa siswa belajar adalah orang tua mengirimkan foto anak sedang belajar lewat aplikasi tersebut (entah apa namanya…. saya gaptek). Pakne Krucils menulis untuk Bu Guru, “Dinara with her tablet learning about stars, planets, and constellations. We could not use Skyview (it says that the device is not compatible) and used Night Sky instead.”

Bu Guru me-reply, “Fantastic, Dinara!”

Colchester, 19 April 2016

Advertisements

3 thoughts on “Tantangan Hidup Tanpa MedSos (ODOP Day 98 of 99)

  1. Mbak Fira, inspiring lho ini… Saya jadi ikut berpikir pengin lepas dari medsos. Minimal mengurangi lah walau belum bisa lepas sama sekali karena ada beberapa hal yang harus dilakukan via medsos 😀

    Like

  2. Pingback: Daftar Lengkap Nulis Kurikulum 0-5 tahun di Inggris (ODOP Day 99 of 99) – Rumah kecil di seberang universitas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s