Cara Sekolah Negeri di Inggris Membaurkan Siswanya (ODOP Day 90 of 99)

BPM MEDIA English Martyrs Primary School in Sparkhill, Birmingham - where pupils speak an astonishing 31 languages. L/R back (4th) row Tomiwa Solanke (Yoruba), Tekime Kiobo-Bizirhi (Swish French), Amarah Knox (Arabic), Star Mayenba (Lingala), Laura Siqueira Dos Santo (Spanish), Daniel Horvath (Czech), Daniela Dvorakova (Czech). 3rd row Sami Haroon (Arabic/Dutch/Sudanese), Rebecca Durodola (Yoruba), Courtney Galvin (English/Irish), Makarim Omar (Dutch/Arabic), Julia Luboch (Polish). 2nd row David Liani (Portuguese), Acemea Harris (Jamaican Patois), Erica Plesca (Romanian), Kerene Miasuekama (Lingala), Marek Kubow (Polish), Emran Hamood (Arabic), Amran Faqiri (Pashto), Ben Silva Marytsch (Portuguese). Front row Kailash Rana (Nepalese), Fatema Rashid (Khachi), Asmathe Mougamadou (Tamil and French), Navneet Bharaj (Punjabi), Myrah Khan (Urdu)

Secara rutin, sekolah krucils menyelenggarakan agenda semacam Stay and Play atau Coffe Morning yang dikhususkan kepada EAL families. EAL, maksudnya adalah English as Additional Language. Jadi EAL Families adalah keluarga-keluarga dengan bahasa utama bukan bahasa Inggris. Bahasa kasarnya adalah keluarga pendatang di Inggris.

Acaranya intinya adalah mengumpulkan keluarga-keluarga ini (dan siswanya, tentu saja) dalam satu ruangan aula utama sekolah. Anak-anak main, menggambar, diberi kegiatan prakarya, ada sesi storytelling, membaca buku bersama, menyanyi bersama, dan sejenisnya. Untuk penganan ringan, disediakan biskuit-biskuit, serta teko air panas lengkap dengan gula, susu, kopi, dan teh; sebagaimana kebiasaan orang Inggris dalam waktu minum teh.

Sementara anak-anak beraktivitas, para orang tua bisa ngemil dan mengobrol. Acaranya biasanya hanya sekitar 45-60 menit. Stay and Play atau Coffee Morning bukan hanya untuk EAL Families, tetapi juga untuk Families with Additional Support, alias keluarga-keluarga yang anak-anaknya dikategorikan sebagai siswa berkebutuhan khusus. Tentu penyelenggaraannya berbeda waktu dengan EAL Families.

Coffee Morning bagi keluarga dengan anak berkebutuhan khusus, yang hadir adalah keluarga-keluarga dengan anak yang siswanya positif autisme, Down Syndrom, Asperger Syndrom, dan berbagai kebutuhan khusus lainnya. Aktivitas yang disiapkan pun sesuai dengan kebutuhan-anak spesial ini.

Di sekolah-sekolah Inggris, sudah biasanya sekolah harus mengelola siswa dari ras beraneka ragam yang ketika pertama kali sekolah tidak bisa berbahasa Inggris. The English Martyrs’ Catholic School di Birmingham, misalnya, mengelola siswa dengan 31 bahasa ibu yang berbeda-beda: Afrikaans, Arabic (Iraqi), Arabic (Lingala), Arabic (Sudanese), Arabic (Yemeni), Bengali (Bangla), Bengali (Sylheti), Czech, Dutch, English, Gaelic, Gujarati, Gurmukhi, Hindko, Jamaican Patois, Kachi, Lingala, Mirpuri, Nepalese, Pashto, Polish, Portuguese, Punjabi, Romanian, Somali, Spanish, Sudanese, Swiss French, Tamil, Urdu and Yoruba.

Membaca berita-berita semacam ini, dan melihat penghargaan Barat dalam membanggakan bahasa lokal sebagai bagian dari kekayaan bangsa, kadang saya sedih juga. Soalnya saya nggak bisa berbahasa Jawa dengan baik. Mungkin, membuat sekolah nasional di Indonesia yang siswa-siswa masih mahir berbahasa daerah, kian semakin mimpi. Karena generasi saya saja sudah banyak nggak bisa berbahasa Jawa dan Sunda yang versi krama atau halus.

Mungkin kelak kita harus belajar sastra Jawa di Belanda.

Acara seperti Stay and Play bisa jadi adalah pemborosan dalam pandangan sistem pendidikan Asia, terutama Asia Timur. Ya boros dana karena harus menyediakan cemilan, juga membuang-buang waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk belajar matematika-sains-literasi.

Di sisi lain, saya menyadari, inilah salah satu cara Inggris mengajarkan mata pelajaran kewarganegaraan bagi siswa berusia 3-7 tahun. Tidak dengan teori, tetapi langsung mempraktekkannya. Apa kabar mata pelajaran PMP, PPKN, Kewarganegaraan, dan sejenisnya? Masih eksiskah di tanah air?

Berikut beberapa foto yang dimuat secara terbuka di website sekolah krucils… Beberapa yang tertangkap kamera adalah dari keluarga Indonesia, Afrika, Turki, sisanya nggak tau deh… Sibuk ngobrol dan nyemil lupa kenalan… Typical memang 😀

Colchester, 10 April 2016

haz1
Mbah Putri dan Bu Maharani

haz2
Hairunnisa dan Bapaknya, orang Turki

haz5

Alana kalo nggak salah Polandia… lupa deh…

haz7
Krucils dan Emaknya

haz4
Abram yang berdarah campuran Belanda-Bali-Jawa Tengah :p

haz6contoh kegiatan

Advertisements

One thought on “Cara Sekolah Negeri di Inggris Membaurkan Siswanya (ODOP Day 90 of 99)

  1. Pingback: Daftar Lengkap Nulis Kurikulum 0-5 tahun di Inggris (ODOP Day 99 of 99) – Rumah kecil di seberang universitas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s