Homework alias PR: Antara Sistem Inggris dan Cina (Day 89 of 99)

fahdiy n homework

Krucil dan project-nya dalam bentuk power point

Sisa dari Kibar Gathering adalah, selain ketika berangkat nggak sempat ngepel rumah, PR krucils juga belum kelar. Tentang PR alias Homework. Di kelas Reception (4-5 tahun) sampai Year 2 (6-7 tahun) biasanya sekolah memberikan weekly homework alias PR hanya di hari Jumat. Berdasar peraturan formal, homework untuk Year 1 dan Year 2 (5-7 tahun), tidak boleh menyita lebih dari 10 menit setiap malam. Jumlah waktu ini terus bertambah hingga di kelas Year 5 dan Year 6 (umur 9-11 tahun) jumlah waktu untuk mengerjakan PR seharusnya adalah 30 menit setiap malam. Di sekolah umumnya tidak ada sanksi bagi siswa. Yang ada adalah reward. Kalau dalam satu term semua PR dikerjakan, di akhir term akan mendapakan sertifikat.

Beberapa tahun terakhir, keberadaan homework jadi perdebatan di UK. Karena nyatanya dalam banyak kasus, keberadaan homework bukannya membantu anak untuk belajar, tetapi justru memicu stress di dalam keluarga. Konon akhirnya sekarang beberapa sekolah sudah nggak lagi memberikan weekly homework karena diprotes melulu oleh orang tua siswa. Di sisi lain, pihak guru sebetulnya menginginkan orang tua tetap membantu siswa belajar di rumah. Dalam bentuk, mengerjakan PR.

Mungkin, demi mengambil jalan tengah, sekolah krucils memberikan weekly homework hanya bagi siswa Reception, Year 1 dan Year 2 (4-7 tahun). Untuk usia Year 3 s/d Year 5 (7-10) tahun tidak ada lagi weekly homework. Sebagai gantinya, guru memberikan project yang hanya diberikan menjelang liburan panjang antar-termin (1 pekan) atau libur hari besar agama semacam Christmas dan Easter/Paskah (libur 2 pekan). Year 6 (10-11 tahun) diberi PR setiap hari karena akan menghadapi ‘Ujian Nasional’.

Apakah semua keluarga senang jika tidak ada homework? Belum tentu. Keluarga imigran Asia biasanya tidak puas dengan sistem sekolah bebas homework ala Inggris yang memberikan porsi cukup besar terhadap mata pelajaran seni lukis dan musik, olah raga, atau desain dan teknologi; karena ini artinya mengurangi jam belajar literasi-matematika-sains. Sementara Inggris dan Barat, sepertinya berada di arah yang berbeda, yakni berusaha menciptakan ‘balance curriculum’ sekaligus memberikan siswa lebih banyak kesempatan bersosialisasi, bekerjasama dalam grup, bereksperimen secara mandiri, mengkreasi, dan mencipta.

Anak-anak Asia Timur seperti Cina, Korea Selatan, Jepang dan Singapura, biasanya unggul dalam kerja keras alias kerajinan dalam urusan belajar dan sekolah. Di negara asalnya, keluarga Asia sudah biasa mulai les dan latihan mengerjakan soal-soal di atas kertas sejak usia dini. Kalau sudah remaja belajarnya bisa 12-18 jam per hari. Dampaknya, remaja Asia Timur lebih jago matematika, sains, dan bahasa Inggris dibandingkan anak-anak British sendiri.

Sisi negatif sistem pendidikan ala Asia Timur sudah jelas, siswa banyak yang stress. Keluarga-keluarga Asia Timur yang mampu secara ekonomi, belakangan lebih memilih menyekolahkan anak ke Barat. Jumlah ini setiap tahun semakin meningkat. Di Cina, misalnya, jumlah siswa yang mengikuti gaokao (Ujian Nasional, yang level stress-nya minta ampun), dari tahun ke tahun jumlahnya kian menurunn. Penyebabnya adalah keberhasilan kebijakan satu anak di tiap keluarga yang sukses menekan angka kelahiran, sekaligus semakin banyaknya remaja Cina yang lebih memilih melanjutkan studi di Barat.

Karena terbiasa ‘direbus’ dalam sistem pendidikan Asia, di Barat biasanya anak-anak Asia sukses dalam studi. Matematika-sains-literasi ala sekolah Inggris nggak ada apa-apanya dibandingkan ‘hafalan dan drill latihan soal-soal’ di sekolah-sekolah Asia Timur, misalnya di Cina. Tak heran hasil tes semacam PISA menempatkan Asia Timur pada posisi top pendidikan terbaik di dunia. Maths top 10 adalah Shanghai, Singapura, Hong Kong, Taiwan, Korea Selatan, Macao (Cina), dan Jepang di peringkat ke-7. Negara Barat di posisi teratas tebaik dalam matematika adalah Liechtenstein (tetangganya Jerman), Swiss, dan Belanda di posisi 10. Finlandia, berada di ranking ke-12. Inggris duduk di posisi ke-26 sementara Amerika Serikat di peringkat ke-36 dalam hal kemampuan matematika remaja usia 15 tahun.

Barat bukannya menutup mata terhadap ‘kekalahan’ siswa SMP mereka dalam urusan matematika-sains-literasi terhadap Asia Timur. Negara-negara Barat pun mulai berbenah. Karena dampak jangka panjang output pendidikan ini nggak main-main. Urusannya ekonomi nasional bahkan kedaulatan negara. Target kurikulum pendidikan Inggris pun dinaikkan.

Eksperimen sosial diselenggarakan. Lima guru diimpor dari Cina untuk mengajar 50 siswa Year 9 (usia 13 tahun) selama 4 pekan di salah satu sekolah terbaik Inggris, Bohunt School, di Liphook, Hampshire . Sebagai kontrol, 50 siswa Year 9 lainnya tetap diajar dengan cara Inggris. Siswa di ‘Chinese class’ stress karena setiap pagi harus olah raga, apel hormat bendera, tidak boleh mengoceh di dalam kelas, tidak ada praktikum (digantikan dengan menonton guru mendemonstrasikan), dan sekolah 12 jam sehari.

Di akhir minggu ke-4, siswa-siswa di ‘Chinese school’ terbukti 10% lebih unggul dibandingkan dengan kelompok kontrol dalam mengerjakan soal-soal matematika, sains, dan bahasa Inggris, di atas kertas. Pro-kontra pun pecah.

“China’s schools are testing factories. Why is Britain so keen to copy them?” tulis salah satu opini di The Guardian, 4 Agustus 2015. Tapi School Minister, Nick Gibb, punya pendapat berbeda, “The maths teachers of Shanghai have the perfect formula for learning”, tulis beliau dalam opininya di media yang sama, 26 Nov 2015.

Standar pembelajaran siswa pun dinaikkan. Hasilnya, kualitas pendidikan dalam calistung meningkat, tetapi jumlah siswa yang stress juga bertambah 200%.

Saya pribadi bisa memahami mengapa negara-negara maju Barat yang pendidikannya termasuk 10  besar seperti Finlandia, Kanada, dan Liechtenstein, tidak serta-merta tergoda ingin menjiplak 100% sistem pendidikan Asia yang sangat kognitif. Nampaknya mereka menyadari bahwa meski Asia unggul dalam matematika, tetapi Asia tertinggal dalam kreativitas, sehingga miskin dalam inovasi.

Secara umum Barat masih percaya diri menjadi kiblat pendidikan dunia. Wang Huiyao, Vice-chairman of the China Western Returned Scholars Association di Beijing, mengatakan, “Setiap tahun siswa yang ikut gaokao turun jumlahnya. Kementrian Pendidikan mengontrol semua universitas, ini mengakibatkan inovasi dan kreativitas berhenti. (Kalau ingin maju) kuncinya adalah otonomi sekolah.”

Dampaknya, secara umum ekonomi dan industri masih dikuasai negara-negara maju Barat, meski yang jago matematika adalah Asia. Bisa jadi, Barat sudah memprediksi dan belajar banyak dari peristiwa semacam The Death of Samurai: Robohnya Sony, Panasonic, Sharp, Toshiba, dan Sanyo (Yodhia Antariksa, 2012). Jepang telah berjaya membangun bangsa dan negaranya dengan spektakuler dari puing-puing Perang Dunia (PD) II setelah dijatuhi bom atom oleh Amerika Serikat pada Agustus 1945. Sekarang, Jepang yang sama sedang dilumpuhkan oleh perusahaan elektronik Korea Selatan yang lebih inovatif, dan juga Cina, dengan harga yang lebih murah yang kini sedang membanjiri pangsa pasar global.

Mungkin target pendidikan Asia Timur adalah kompetensi di bidang matematika dan sains. Sementara yang berusaha dikejar Barat adalah pendidikan yang menumbuhkan curiosity (rasa ingin tahu agar belajar secara mandiri), kreativitas, dan inovasi, dengan hasil akhir memunculkan banyak pakar di setiap bidang dan sekaligus mendorong lahirnya lebih banyak sosok enterpreneurs semacam Steve Jobs, Bill Gates, dan Mark Zuckerberg yang memiliki nyali untuk berpikir out of the box.

Jadi, homework alias PR: Yes or No? Saya pribadi nggak terlalu mempermasalahkan keberadaan homeworks. Kalau krucils dikasih homeworks ya dikerjakan. Kalau sekolah nggak memberikan homeworks, ya cari sendiri via google. Sebagai produk pendidikan Asia, rasanya homeworks ala Inggris ngga ada apa-apanya dibandingkan PR di sekolah Asia.

Lagipula, untuk zaman sekarang, nampaknya kurikulum sekolah Islam terpadu lebih berat daripada kurikulum Barat dan Shanghai. Kalau kurikulum Barat dan Asia Timur targetnya hanya kompetensi di bidang literasi, matematika, sains, seni, desain, olah raga; maka target orang tua Asia yang muslim normalnya lebih tinggi lagi, yakni ditambah anak harus menghafal Alquran, menguasai ushul fiqh, dan anak dipacu untuk menjadi Muhammad Al Fatih, Salahuddin Al Ayyubi, Al Khawarizmi, Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, dan Abdurrahman bin Auf abad 21.

Dengan target keluarga muslim yang begitu begitu tinggi, siswa mau dikasih kurikulum ala Inggris, Amerika Serikat, Shanghai, Singapura, Korea Selatan, Jepang, KTSP atau Kurikulum 2013, kelihatannya nggak masalah. InsyaAllah keluarga muslim akan survived, sepanjang siswa dan keluarganya adalah orang-orang kuat. Kuat mbayar, kuat begadang, dan kuat keimanannya.

Colchester, 8 Apil 2016

Sumber tulisan: (kalo mau baca klik saja tulisannya)

CHINA: Stress of the entrance examination (University World News, 13 June 2010)
Students in China among the world’s most stressed (examiner, April 20, 2010)
Pisa tests: Top 40 for maths and reading (BBC, 14 Okt 2015)
Pupils taught by Chinese outpace their peers in experiment (The Telegraph, 19 Aug 2015)
Primary school pupils driven to suicide, survey reveals (The Telegraph, 5 April 2016)
GCSEs: Pressure of exams leaves teens suffering from mental illness (The Telegrapgh, 25 Aug 2011)
Surge in young people seeking help for exam stress (The Guardian, 14 May 2015)
‘Long homework hours’ for UK families (BBC, 11 Dec 2014)

Advertisements

2 thoughts on “Homework alias PR: Antara Sistem Inggris dan Cina (Day 89 of 99)

  1. Pingback: Daftar Lengkap Nulis Kurikulum 0-5 tahun di Inggris (ODOP Day 99 of 99) – Rumah kecil di seberang universitas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s