Saya Nggak Harus Punya WA (ODOP Day 88 of 99)

mahdi n hp Mahdi dan telefon Bunda

Saya mengikuti One Day One Post (ODOP) ini karena termotivasi oleh Mbak Shinta Rini, yang mendapatkan program ini sebagai bagian dari program Ibu-ibu Profesional (IIP). Sebetulnya saya ingin juga bergabung dengan IIP. Tetapi selama ini nggak tahu caranya.

Beberapa waku lalu saya kembali mengontak Mbak Shinta. Ceritanya, nanya, apakah di IIP masih ada yang konsisten ber-ODOP karena saya mulai keteteran. Mbak Shinta lantas menyarankan saya bergabung dengan IIP. Lagi-lagi saya bermasalah karena nggak punya WA.

Hari ini, Teh Indari Mastuti, bosnya Ibu-ibu Doyan Nulis (IIDN), menulis posting, “Memaintenance alumni Sekolah Perempuan dengan saling nge-CHARGE ENERGI MENULIS melalui SHARING di grup wa… Adakah alumni Sekolah Perempuan yang belum masuk grup? Menuju Sekolah Perempuan gelombang-13. 1 juta perempuan menulis buku, bismillah.”

Saya pun cuma bisa gigit jari, karena nggak punya WA. Saya cuma punya telepon genggam (mobile phone) seperti di foto ini, yang cuma bisa dipakai untuk menelpon dan kirim SMS. Social media saya cuma punya facebook, dan blog cuma punya 1 di wordpress. Saya tulis cuma 1 karena buanyaaakkk di luar sana ibu rumah tangga yang me-maintain bisa 4 blog secara bersamaan.

Kenapa saya nggak punya WA? Karena saya nggak punya smartphone. Kenapa saya nggak punya smartphone? Tentu jawabannya bukan karena suami pelit.

Mengapa saya nggak punya smartphone dan nggak punya WA? Minimal ada 2 alasan. Pertama, menghemat waktu. Terus terang saya pelit terhadap waktu. Kira-kira alasannya sama seperti yang dijelaskan Dr. Ir. Zulfahrizal alias Fachri Al Fatih, dosen Unsyiah Aceh, yang penelitian S3-nya di Georg August Universität Göttingen (GAUG), “Saya juga blm mau menggunakan WA dgn alasan FB sdh lebih dari cukup membuat saya membuang waktu.”

Bu Septin Puji Astuti (kandidat PhD di University of Birmingham) menulis, “Hanya satu alasan mengapa saya tetep keukeuh tidak menggunakan WA. Supaya ‘ada batas’, supaya saya tidak menerima informasi terlalu banyak tentang urusan kerja di jam bukan jam kerja. Egois? Pasti. Tapi yang jelas, saya manusia yang punya batas. Jika pengalaman membuktikan saya ‘bingungan’ maka sebaiknya yang membuat bingung diminimalisir. kalau perlu dihilangkan. Lebih tenang di pikiran dan tidak kemrungsung.

Ketinggalan informasi? Sudah pasti.
Tapi saya tetep keukeuh, urusan kerja disebarkan ke email, bukan ke WA.

“Nggak bisa bu kalau tanpa WA”

Inggris (enggres maning.. enggris maning) itu negara maju, mereka diskusi kerjaan tidak lewat WA. Tapi lewat email resmi bukan lewat email gratisan. Pak Pos dan kantor pos aja masih jalan lho… bahkan mereka malah masih jalan kaki kalau menyebarkan surat.

Urusan apa-apa harus lewat WA itu yang bikin culture shock ketika balik ke negeri sendiri.”

Alasan kedua, saya tahu kelemahan diri saya sendiri. Kalau saya punya smartphone, saya akan lebih memperhatikan smartphone saya daripada anak-anak. Dan saya akan lebih banyak ‘membaca smartphone’ daripada membaca buku.

Kalau saya punya WA, bisa jadi saya justru nggak akan sanggup ikut ODOP. Karena waktu terbuang banyak untuk membaca message-message di WA. Sejak menikah saya sudah berhasil menghemat banyak waktu karena nggak punya TV. Target saya semester depan justru malah mengurangi online supaya lebih banyak lagi waktu yang produktif, sekaligus supaya lebih banyak membaca buku.

Apakah smartphone selalu buruk? Tentu saja tidak. Pakne krucils punya smartphone, punya WA, dan bergabung dengan sejumlah grup WA. Tapi mampu mengendalikan diri untuk sekadar jadi ‘silent reader’ di semua grup WA-nya.

Tapi saya tetep pengen bergabung dengan IIP. Akhirnya saya mengontak salah satu pengurusnya, dan cerita masalah saya. Alhamdulillah, menurut beliau, ikut IIP tidak harus punya WA. Cukup mengirimkan link minmal 33 postingan terakhir.

Jadi… Saya masih tetap bisa hidup tanpa TV dan tanpa smartphone. Entah sampai kapan saya mampu bertahan…

Colchester, 8 April 2016

 

Advertisements

4 thoughts on “Saya Nggak Harus Punya WA (ODOP Day 88 of 99)

  1. Salam kenal Mba’, saya punya WA tapi nggak terlalu aktif juga di WA, seringnya jadi silent reader, kadang pesan grup sampe ratusan nggak dibaca.. 🙈
    Tapi kalo dengan punya smartphone lebih sering baca HP ketimbang buku, aku banget Mba’.. 🙈
    Baru beberapa bulan ini aja mulai nambah baca buku lagi, menggoda banget ini si smartphone..

    Like

  2. Pingback: Tantangan Hidup Tanpa MedSos (ODOP Day 98 of 99) – Rumah kecil di seberang universitas

  3. Pingback: Daftar Lengkap Nulis Kurikulum 0-5 tahun di Inggris (ODOP Day 99 of 99) – Rumah kecil di seberang universitas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s