Drama itu berjudul Kibar Gathering (bagian 2 dari 2) (ODOP Day 87 of 99)

ksg 16

Narasumber Kibar Gathering kali ini adalah Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah (2005-2010) yang juga adalah Ketua Majelis Ulama Indonesia Pusat (2005-2010), Prof. Dr. H. Yunahar Ilyas, Lc., M.Ag, dengan tema besar Al Quran dan Masyarakat Madani, Membangun Masyarakat Madani: Hidup Bahagia dalam Naungan Al Quran.”

Atas nama pribadi saya memiliki tanda tanya besar dengan konsep masyarakat Madani. Tapi kalau ada, kayaknya saya mau mendengarkan rekaman pengajiannya dulu, deh… Hehe…

Balik lagi ke drama menjelang berangkat ke Gathering, terus terang bayangan menempuh jarak 350 km bareng 4 krucils bikin keder. Tetapi justru krucils juga yang menjadi alasan terbesar saya berangkat ke Kibar.

Sebagai minoritas muslim di Colchester, berkali-kali krucils menanyakan, “Why are we Muslim? Why do we have to worship Allah? Where is Allah? What? Allah is everywhere? So Allah is wide? No? So Allah is big and tall, but not wide?”

Soal Allah is big and tall but not wide ini, kesalahan Bundanya yang menerjemahkan Allah Maha Besar sebagai Allah is Big dan Allah Maha Tinggi sebagai Allah is Tall. Habis gimana… Kadang pikiran udah ruwet akibat ‘multitasking ala ibu rumah tangga’… Dan seringkali pertanyaan-pertanyaan bermunculan justru pada saat yang ‘kritis’ semacam menghadapi gorengan yang keburu gosong sementara Si Dua Tahun memanjat kursi agar bisa melongok ke atas kompor lebih jelas, atau pada saat Si Empat Tahun harus dibantu melepas pakaiannya dan ke toilet karena mendadak berseru, “Oh! I can’t stop my wee-wee!”

“We worship Allah because Allah is the only God who is The Creator, The Greatest, The Highest, The Most Merciful, The Most Generous, The Most Powerful, The Most Loving One, and He is The Giver of Life…” kata saya.
“How do you know that?”
“From reading Alquran. Lha kalau kamu disuruh ngaji nggak mau, ya nanti nggak bisa-bisa baca Alquran. Kalau mau bisa baca Alquran ya setiap hari harus ngaji. Dan belajar Arabic.”

Soal Paradise and Hell ini juga berkali-kali ditanyakan. Karena tinggal di lingkungan non-muslim, dengan guru-guru dan teman-teman sepermainan non-muslim, krucil merasa tidak adil kalau teman-temannya dikatakan akan masuk ke neraka.
“Why do only muslim enter Paradise? Why can’t Christian go to Paradise as well?”
Pertanyaan ini selesai setelah bapaknya menjawab dengan lebih diplomatis daripada Si Emak. Jawaban Bundanya, “Pokoknya kalau di dalam Islam ya begitu itu,” sementara Ayahnya menjawab dengan, “Christians can enter Paradise if they learn and accept Islam.”

Materi Believe in Angels pun nggak luput dikritisi. Ketika membaca tentang Malakul Mawt is the angel of death, mereka menanyakan apa maksudnya.
“Malakul Mawt is the malaikat, or the angels who take human’s and animal’s souls. With Allah’s will, Malakul Mawt take the life from humans and animals. So then they’ll die.”
“What? Allah and Malakul Mawt kill us and the animals? That’s so cruel!!! Why is Allah so rude???”
“Errrr….. I mean, people and animals can die in many conditions. Some of them died because of being killed, illness, getting old, but it doesn’t mean Allah and Malakul Mawt kill us. Malakul Mawt just take the soul. Allah gives every living creature soul so they live. Every living creature will die, and return to Allah Swt…”
“It’s scary…”
“Well, yes, if we’re not obey Allah the death can be really scary… But for children and the Prophet and the good Muslim, death means, like we just move from one life to another one. It a bit looks like we move from one room to another room. How do you feel from moving from here to Ayah’s bedroom? Is it scary?”

“And we have two angels in our shoulders, don’t we?”
“Yes. They note our good deed and our bad deed.”
“I think I can’t enter Paradise… I’m naughty and always do the bad thing…” kata krucils galau mengingat ‘dosa-dosanya’ semacam rebutan mainan dengan adik-adiknya, kadang pakai memukul, atau mencubit, atau membantah katakata orang tuanya.
Saya pun cuma bilang, “If we ask Allah’s forgiveness by saying istighfar, and make dua, and feel really sorry about that, and do not do the bad thing again in the future, Allah will forgive us and let us enter the Paradise… Allah is the Most Merciful and Most Forgiving, remember?”
“But I don’t know how to be good so I can enter Paradise…”
“That is why we have to learn Islam. So we know more about Allah and what makes Allah happy with us…”

Sebisa mungkin saya menghindari menyampaikan Islam dengan cara yang mengerikan. Dosa-neraka-dosa-neraka belum saya sampaikan dulu. Toh di usia belum baligh, anak tidak akan dihisab. Jadi saya lebih mendorong mereka untuk mengenal bahwa Allah itu Maha Baik, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pemurah, Islam itu mudah, masuk surga itu gampang (untuk anak-anak), dan seterusnya.

Sampai Sabtu pagi saya belum tahu mau berangkat ke Kibar atau tidak. Suami nampak lelah, dan kayaknya ngambek karena saya nyap-nyap melulu di hari-hari sebelumnya. Harap maklum, ibu rumah tangga bete perlu penyaluran. Tapi biarpun nggak yakin akan berangkat, saya keluarkan juga tas-tas travelling. Trus mulai mengepak baju. Nanti kalau nggak jadi berangkat ya dikembalikan lagi ke lemari, pikir saya.

Mungkin karena ngeliat saya packing, jam 9 suami berangkat ngisi bensin sekaligus nyuci mobil. Kami akhirnya berangkat ke Manchester jam 12 siang… Hehehe… Bawa bantal 6 biji dan selimut besar 3 buah 😀 Kayaknya kalau nambah anggota keluarga, kalau ke Kibar Gathering musti pake mini-bus 😀

Di usia ini anak juga lebih mudah mengaitkan hikmah dengan kisah Nabi-Nabi. Dalam perjalanan ke Manchester, kami lewat Peak District yang banyak peternakannya. Di mana-mana terlihat domba. Krucils sangat antusias, dan langsung teringat kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Dari soal domba, kita bicara tentang penyembelihan, juga air zamzam yang menurut krucils adalah the best water in the world.
“Ya nanti kapan-kapan kalau ada rejeki kita ke Zamzam Well,” kata saya, sambil nyolek Pak Supir, “Ya, Yah, ya?”

Pada dasarnya krucils nggak paham tentang Kibar Gathering. Saya hanya menyampaikan, “Kita mau sleepover di Masjid, nanti banyak temannya. Babies, children, and adults, semuanya sleepover di Masjid.”

Sampai di lokasi, Krucils nggak percaya kalau itu adalah Masjid, “No, Bunda, this is a hotel. Because so many people only can sleepover in hotel.”
Mereka baru percaya kalau semua mnginap setelah sekitar 400 orang ini semua sleepover di Ashton Central Mosque, Hillgate Street, Ashton-under-Lyne, OL6 9JA, yang memang cukup megah untuk ukuran masjid di Inggris.

Pertanyaan-pertanyaan baru pun bermunculan sepanjang kami di Masjid, “Why do we sleepover here? Is it only muslim can come in the Masjid? What about Christian?”
“We stay here to learn more about Islam,” kata saya sambil menunjukkan forum di mana Prof Yunahar Ilyas menyampaikan materi, “and to meet more Indonesian Muslim Families, and you can play with more friends.”
Lantas saya menyambung, “It’s not only muslim may come to the Masjid. Everybody may enter the Masjid as long as they follow the rules. Like, having to take off our shoes in the front door, and putting them in the shoe rack.”
“Who are these people?” tanya krucils melihat sekelilingnya.
“We are Indonesian Muslims in England,”
“Why is it only Indonesian here? Can’t other Muslim come too?”
“Of course. But, because there are so many Muslim in England, and the room is too small for so many people, so for today it’s just for Indonesian Muslim. But, we can take our friends and family here although they’re not Indonesian,” Saya sambil menunjukkan keluarga-keluarga Muslim yang pasangan kawin campur, untuk menunjukkan bahwa acara ini adalah untuk Indonesian Muslim Family and Friends.

Ashton Central Mosque, dulunya bernama the Markazi Jami‘a Mosque. Serasa masih nggak percaya bisa bawa 4 krucils nyampai di masjid tertua di Ashton-under-Lyne… Tapi begitu melihat masjidnya… Belum juga masuk ke ruangan resepsionisnya, MashaAllah… Drama-drama menjelang Kibar Spring Gathering seketika berakhir. Semua konflik, komplikasi, dan krisis; bertemu resolusinya di masjid yang mampu menampung 1000 jamaah sholat ini. Masjidnya cantik, terdiri atas 3 lantai yang berhiaskan lampu-lampu kristal bertatahkan 14.000 kristal Mesir, dan mendapatkan penghargaan Building of the Year 2011 dari komunitas Ashton-under-Lyne Civic Society.

Alhamdulillah secara umum acara berjalan lancar. Satu-satunya cobaan adalah ketika Mahdi nggak bisa tidur. Mungkin karena tempat asing, dan harus tidur bersama banyak orang dalam satu ruangan besar, plus capek, dia jadi rewel dan nangis-nangis. Baru tidur setelah dipeluk ayahnya saat sudah lewat tengah malam.

Cuaca cerah, masjid megah, makanan melimpah, bertemu orang-orang yang semua tersenyum ramah, nuansa penuh ukhuwah, semoga acaranya barokah. Dokumentasi foto resmi dari panitia bisa dilihat dengan meng-klik di sini. Dari segitu banyak foto engga ada sebiji pun foto saya dan/atau krucils. Cuma ada foto bapaknya. Ya iyalah… Doi khan salah satu pemeran utama alias salah satu narasumber. Krucils figuran. Dan peran Bunda tentu saja pemeran pembantu yang nggak perlu didokumentasikan 😀

Colchester, 6 April 2016

Advertisements

One thought on “Drama itu berjudul Kibar Gathering (bagian 2 dari 2) (ODOP Day 87 of 99)

  1. Pingback: Daftar Lengkap Nulis Kurikulum 0-5 tahun di Inggris (ODOP Day 99 of 99) – Rumah kecil di seberang universitas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s