Drama itu berjudul Kibar Gathering (bagian 1 dari 2) (ODOP Day 85 of 99)

KAG 2015

Dua kali dalam setahun, Keluarga Islam Britania Raya (Kibar) menyelenggarakan acara silaturahmi. Biasanya diselenggarakan di sekitar liburan Paskah atau Easter Holiday di musim semi dan liburan menjelang Halloween di musim gugur. Karenanya biasa disebut sebagai Kibar Spring Gathering dan Kibar Autumn Gathering.

Kibar diselenggarakan selama 2 hari, Sabtu-Ahad. Acara inti di hari Sabtu adalah mendengarkan ceramah pengajian yang disampaikan oleh tokoh-tokoh seperti Pak Didin Hafidhuddin, Syafi’i Antonio, Elly Risman, dan lainnya. Mulai dari pagi, setelah berbagai sambutan, ceramah berlangsung maraton sebanyak 3-4 sesi dalam sehari. Sementara yang dewasa mendengarkan ceramah, anak-anak dibuatkan agenda tersendiri secara paralel.

Di hari Ahad, acara dimulai dengan sholat Subuh berjamaah yang dilanjutkan dengan kultum atau taushiyah atau perkenalan dengan seluruh peserta. Yang terakhir ini dibuat terpisah antaa jamaah laki-laki dan perempuan. Setelah makan pagi, biasanya akan disambung dengan olah raga, tour bersama, atau Kids Perfomance. Acara penutup adalah bazaar. Dan foto bersama, tentu saja, kalau mau ikut sampai betul-betul berakhir.

Kibar gathering kali ini diselenggaakan di Manchester, 219 miles alias 352 km dari Colchester. Artinya 4-5 jam driving kalau nonstop. Dan bareng 4 kucils, mana mungkin naik mobil 4-5 jam nonstop?
“Pokoknya baru boleh berangkat kalau rumah bersih, rapi, dan semua PR selesai dikerjakan!” saya memberi ultimatum tanpa ampun.
Saya sendiri tentu juga punya banyak PR sebelum bisa kabur ke luar rumah. Saya nggak mau dalam kondisi lelah setelah acara menginap di tempat lain, setelah perjalanan jauh, tiba di rumah yang kotor berantakan, tidak ada makanan, ditunggu setrikaan yang menggunung, dan nggak punya makanan. Duh, jangan, deh.

Hari Rabu semua cucian kotor dicuci. Karena musim hujan jadi nggak mungkin bisa kering dalam sehari. Pasti pakai acara menginap dulu. Sambil masak-masak untuk terakhir kalinya. Acara rutin semacam baca Alquran, baca Iqra’, baca buku, belajar nulis, masih berjalan normal. Kamis mulai spaneng. Sambil menemani anak belajar udah mulai ngomel. Sorenya ke Tesco, belanja dulu.

“Aku belanja sendiri saja nanti tak telpon kalau sudah selesai,” kata saya ke suami.
Setelah sekitar 1 jam suami jemput. Dari jauh keliatan, laaahhh kok cuma bawa Si Bungsu??? Mana yang 3 lagi??? Waduh ternyata sisa anak ditinggal di rumah. Biarpun jarak rumah ke supermarket cuma 5 menit driving, teteup wae melanggar hukum meninggalkan anak di rumah tanpa pengawasan orang dewasa. Tapi mau gimana lagi…

Malamnya lembur nyetrika sampai jam 2 pagi. Bakda sholat subuh tidur lagi dengan harapan suami beangkat agak siang ke kantor… Hehe… Bangun-bangun kaget karena rumah yang sebelumnya sudah berantakan, kelihatan makin ancur. Melongok kamar-kamar yang lain, pengen nyungsep lagi ke bawah bantal. Mainan bertebaran dan cereal bertaburan menutupi lantai. Apakah ketika saya tidur terjadi gempa bumi dan rumahnya upside-down kok bisa berhamburan di karpet?

Refleks, saya nyari mobile phone. Masih belum sadar penuh ketika nelpon ortu.
“Kok suaranya bindeng, lagi pilek?” tanya Mama.
“Habis lembur nyetrika sampe jam 2 pagi,” saya laporan.
“Walaaaahhhh…. Nggak usah semuanya disetrika… Yang dipake di rumah nggak usah disetrika…”

Tentu saja saya nggak pake melaporkan kalau rumah bak Titanic mau karam. Sekadar mendengar suara Mama sudah cukup menenangkan dan membangunkan saya penuh.

“Aku Jumatan,” kata Pakne Krucil, “Anak-anak yang besar kuajak. Yang kecil di rumah saja.”
Saya manyun. Mana bisa Dara dan Mahdi ditinggal? Betul saja. Keduanya memeluk rapat-rapat kaki Si Ayah sambil berseru sambil nangis-nangis, “Can I come too, Ayah? Ayah, please… Can I come too? Ayah, Ayah, can I Come too, please?”
Mahdi nggak mau kalah, “Mau dindom, Ayah! Ayah, dindoooommm! Mau ikut! Mau ikut!” FYI, dindom means gendong in Indonesian.

Dengan tampang bete Si Ayah menghalau Dara dan Mahdi dan menggeret 2 anak terbesar masuk mobil. Revolusi pun pecah. Dara dan Mahdi koor bersahut-sahutan. Saya nyari sahabat baik para ibu rumah tangga beranak banyak dengan usia balita: kopi.

Dulu ketika masih kuliah, biarpun jaga 2 malam tanpa tidur di rumah sakit, saya bisa melek tanpa kopi. Sejak punya anak, minimal sekali sehari saya harus minum susu kopi. Ya, susunya segelas kopinya seujung sendok teh. Dikit saja. Aslinya sih tetep nggak doyan kopi.

Senjata mutakhir dikeluarkan: tablet dan laptop. Duo krucils dikasih gadget satu-satu. Terus diminumi susu hangat dan dikasih cemilan.

Tarik napas dulu sebelum deep cleaning. Sekadar membersihkan satu kamar tidur, ternyata memakan 1 jam. Parah banget. Tiga kamar tinggal ngitung saja.

Dari kamar turun ke dapur yang seperti habis kena topan badai.. Salah satu cemilan favorit krucils adalah kentang goreng (french fries). Hari sebelumnya, Dara dan Mahdi ‘membantu’ saya menggoreng french fries, dengan akibat minyak goreng bukan sekadar muncrat ke lantai tapi menggenang menutupi kompor.

Ngelap meja dapur dan menggosok kompor sudah nggak bisa senyum. Secara teori ketika suami dan anak pulang dari Jumatan, seharusnya disambut dengan senyum paling bahagia, rumah bersih, dan makanan siap.

“Aku ke town dulu. Ada yang mau dibeli,” kata saya ketika rombongan Jumatan tiba di rumah.

Di luar rumah tarik napas dulu… Jadi ibu rumah tangga kadang harus memaksakan diri untuk keluar dari jebakan pekerjaan rumah tangga. Demi kewarasan pibadi dan keselamatan seluruh anggota keluaga.

Di town centre, selain cari coat baru untuk Si Sulung yang pesat masa pertumbuhannya, merasa wajib menginjakkan kaki ke WH Smith, Gramedia-nya Inggris. Kalau refreshingnya Mama adalah ke pasar tradisional beli sayur-daging-ikan-buah, dan refreshingnya Ibu (mertua) adalah beli baju dan segala asesorisnya, maka redreshing saya ya nongkrong di book store.

Jam 6 sore langit masih terang karena menjelang musim panas. Nyampai rumah langsung beberes lagi. Semua mainan dikotak dan dikadus dan dikirim ke gudang belakang rumah.
“Tolong vaccuum, Yah, nanti aku yang ngepel,” kata saya. Dan akhirnya ya nggak sempat ngepel.

Jam 11 malam, masih belum tahu mau jadi berangkat ke Manchester atau tidak.

Rumah memang sudah lumayan bersih, minus ngepel. Tapi packing sama sekali belum mulai. Mobil kotor. Dan bensin habis.

Btw, berikut ini daftar narasumber utama dan lokasi Kibar Sping Gathering (KSG) dan Kiba Autumn Gathering (KAG) sejak kami tinggal di Inggris.

KAG 2008 DR. Didin Hafidhuddin (Nottingham)
KSG 2009 Elly Risman Musa (London)
KAG 2009 Asma Nadia (Manchester)
KSG 2010 DR. Adian Husaini dan DR. Hamid Fahmi Zakasyi (Nottingham)
KAG 2010 Muhammad Fauzil Adhim (Newcastle Upon-Tyne)
KSG 2011 Cahyadi Takariawan (Southampton)
KAG 2011 Unknown alias bukan tokoh nasional jadi… (Manchester)
KSG 2012 DR. Syafi’i Antonio (London)
KAG 2012 Hamza Andreas Tzortzis (Markfield, Leicestershire)
KSG 2013 Shamsi Ali (Aberdeen)
KAG 2013 – (Tidak ada data atau tidak ada kibar gathering)
KSG 2014 Muhammad Fauzil Adhim (Markfield, Leicesteshire)
KAG 2014 Narasumber ustadz lokal Inggris (Glasgow)
KSG 2015 Habiburrahman El Shirazh (Birmingham)
KAG 2015 Salim A Fillah (Markfield, Leicestershire)
KSG 2016 Prof Yunahar Ilyas (Manchester)

Colchester, 5 April 2016

Advertisements

One thought on “Drama itu berjudul Kibar Gathering (bagian 1 dari 2) (ODOP Day 85 of 99)

  1. Pingback: Daftar Lengkap Nulis Kurikulum 0-5 tahun di Inggris (ODOP Day 99 of 99) – Rumah kecil di seberang universitas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s