Lightsaber (ODOP Day 84 of 99)

fahdiy 7

Seperti biasanya, hari itu saya menemani Si Sulung membaca novel yang dibawa pulang dari sekolah. Novel itu berkisah tentang seekor domba remaja bernama Sunny yang baru saja pindah ke peternakan baru. Di peternakan baru ia memiliki teman baru, Sadie. Tokoh antagonis adalah seekor domba betina tua bernama Serafina, yang tidak menyukai kehadiran Sunny. Dikisahkan, Sadie selalu berusaha menengahi percekcokan antara Sunny and Sadie.

“I think Sadie is Sunny’s girlfriend,” kata Fahdiy.
Kening saya berkerut. Bukan karena krucil menyebut gilfriend. Tapi di bagian-bagian awal buku tidak disebutkan apakah Sunny ini domba jantan atau betina. Kami lantas terlibat diskusi tentang girlfriend dan mengapa krucil menganggap Sadie sebagai Sunny’s girlfriend.
“A girlfriend is a friend and she is a girl,” jawab si krucil simpel. Bolehlah. Masuk akal. Saya nanya lagi, “Then how do you know Sadie is Sunny’s girlfriend?”
“Because Sadie is a girl. So she is Sunny’s girlfriend.”
Saya manggut-manggut. Nampaknya saya yang su’uzhan, karena menganggap girlfriend sebagai pacar perempuan sementara krucil mendefinisikannya sebagai teman perempuan. Tidak lebih.
Dan ternyata semua domba di dalam novel itu adalah domba betina. So everysheep is everysheep’s girlfiend… or in this case, female-friend, mungkin begitu.

Milestone lainnya adalah, Krucil-1 meminta kamar sendiri, dan tidak mau lagi berbagi kamar dengan adik-adik perempuannya.
“This is my office,” katanya. Dan entah dari mana pula ia mendefinisikan kamar tidurnya sebagai my office. Kalau sudah mengantuk, dengan tegas ia akan mengusir adik-adiknya, “I’m tired and sleepy, Dinara… Get out of my office, please…”

Ia mulai memerlukan privasi. Sudah mulai punya koleksi pribadi. Benda-benda kesayangannya disimpan baik-baik secara mandiri tanpa harus saya urusi.

Ketika berangkat sekolah pun ia sudah berani berjalan sendiri. Hanya secara legal formal, negara melarang anak berusia 7 tahun ke sekolah tanpa pendampingan ortu atau walinya.

Saat Krucil menanyakan sesuatu yang saya tidak mengetahui jawabannya, maka saya akan mendorongnya untuk meng-google sendiri keterangannya di komputer. Tentu saja dengan pengawasan. Karenanya, akhirnya semakin sering saya bilang, “Aduh, Bunda juga nggak tahu, Mas. Coba cari di google atau di youtube.”

Menjawab ‘nyari gampangnya’ semacam itu sering saya lakukan terutama ketika saya repot dengan pekerjaan lain. Biasanya saya bilang semacam, “Bunda nggak bisa main games, Mas. Tanya Ayah saja. Atau coba cari sendiri di youtube atau google…”

Hari itu undangan party dari salah satu tetangga keluarga Malaysia. Sebenarnya acaranya silaturahmi cuma dikemas menjadi party dengan tema Star Wars supaya lebih seru. Si Sulung sudah siap dengan kaos dengan gambar bertema sesuai sementara dua adik gadisnya sama sekali nggak tertarik dengan Star Wars.
“Can I get a lightsaber, Bunda?” tanya Si Sulung penuh harap.
Saya yang sedang sibuk mencuci piring di wastafel, nggak tega mau bilang, “Apa??? Beli lightsaber??? Buat apa??? Nanti dipake main sebentar juga bosen. Atau jadi sumber berantem karena rebutan sama adik-adik. Lagian ini udah summer kok beli lightsaber!!! Gak usah!!!”.
Demi menolak secaa halus, saya menjawab, “Aduuuhhh, Bunda nggak ngerti lightsaber, Mas. Sana, minta sama Ayah saja!”
Fahdiy pun menjawab tegas, “Okey, Bunda, after you finish washing, I’ll show you lightsaber in my laptop!”
What??? Senjata makan tuan, nih. Lain kali nggak bisa sembarangan pakai alasan ‘Bunda nggak tahu’.

Seusai nyuci piring, Krucil 1 pun menggamit tangan saya menuju ‘his office’ untuk menunjukkan lightsaber di google images. Si Ayah cuma bisa cengar-cengir seolah bilang, ‘Kapok kamu… Sepertinya lain kali ngga bisa menghindar dengan alasan nggak tahu…’
Sambil nonton lightsaber dan Krucil yang mengoceh penuh harapan menceitakan kehebatan si pedang bersinar, Emak mikir bilang apa supaya anak nggak merengek minta dibelikan. Bersyukur tak lama kemudian, Oom Rudy, salah satu tetangga Indonesia yang juga mau ke acara, datang mampir. Hore!!! Hamdan lillah!!! Krucils langsung berhamburan menyambut dan lupa dengan lightsaber-nya.

Yang paling menyenangkan punya anak yang beranjak dewasa adalah anak sudah mulai sadar untuk membantu orang tuanya. Tanpa disuruh Fahdiy akan berusaha menggandeng tangan Dara dalam perjalanan berangkat ke atau pulang dari sekolah meski seringnya malah Dara yang nggak mau karena belum paham bahaya. Si Sulung bisa diminta tolong mengasuh Mahdi untuk beberapa saat. Juga saya minta bantuannya untuk membantu Dara misalnya memasangkan kaos kaki dan sepatu Dara.

Karena perilakunya yang tenang, Si Ayah tak segan mengajak Si Sulung mengajar para mahasiswanya di universitas. Termasuk mengajaknya menemui para mahasiswa S3 bimbingannya. Mungkin, ruangan kerja Si Ayah yang sempit itulah yang mengilhaminya memberi nama kamar tidurnya sebagai My Office.

Kadang bahagia itu sederhana. Ketika sudah ngga ada bayi lagi, setelah sewindu terkurung di rumah dengan never-ending-urusan domestik,  mengamati anak mulai mandiri serasa melihat setitik cahaya di ujung terowongan gelap yang panjang…

Yes, finally the freedom is coming soon.

Colchester, 5 April 2016

Advertisements

2 thoughts on “Lightsaber (ODOP Day 84 of 99)

  1. Pingback: Daftar Lengkap Nulis Kurikulum 0-5 tahun di Inggris (ODOP Day 99 of 99) – Rumah kecil di seberang universitas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s