The Big Short, salah satu film wajib tonton (ODOP Day 80 of 99)

the big short

“Aku download film bagus,” Pakne Krucils cerita.
Saya diem. Tetep nyemil keripik. Kadang definisi film bagus di antara kami bisa sangat jauh berbeda. Sampai sekarang saya nggak paham apa yang spesial dari Avatar. Sementara suami nggak ngerti kenapa Titanic bisa jadi legenda. Padahal kedua film itu director-nya sama-sama James Cameron.
“Yang main Christian Bale…”
Saya mulai masang kuping. Mestinya pemeran Bruce Wayne alias Batman di The Dark Knight Rises ini nggak sembarangan dong nerima tawaran main film.
“Produsernya Brad Pitt…”
Mulai kepo. Dan akhirnya saya bener-bener melek ketika suami bilang, “Ini film dokumenter tentang credit crunch 2008…”

Sembari menggarap dua keranjang setrikaan, sekitar 2 jam saya nonton film ini untuk kali kedua. Ya, kedua. Soalnya yang pertama sambil momong krucils. Sebelumnya suami sudah ngasih peringatan, “Filmnya bagus. Tapi sarat istilah-istilah dalam ekonomi atau kredit perbankan.”

“Aku nggak paham filmnya,” kata saya menjelang makan malam.
“Apanya yang nggak paham?”
“Analoginya khan seperti adegan ketika Selena Gomez main judi di kasino itu… Kenapa kredit perumahan dianalogikan begitu?”
Di salah satu adegan film ada Selena Gomez dan Richard Thaler, PhD, ilmuwan di bidang behavioral finance yang memberikan penjelasan dengan cara populer. Digambarkan Selena Gomez berjudi bertaruh melawan kasino. Orang-orang di sekelilingnya bertaruh atas dirinya. Ketika Selena berkali-kali menang, maka petaruh yang menjagokan dirinya kian banyak dan yang bertaruh menjagokan petaruh yang mendukung dirinya kian bertambah. Saat ternyata Selena kalah, imbasnya banyak sekali yang kalah dalam taruhan.
“Karena sistem keuangan di Amerka ya seperti perjudian itu,” jawab suami.
Saya mengerutkan hidung. Nggak paham.

“Misalnya begini,” Pakne Krucils mencoba memberikan contoh, “Aku mau buka usaha. Biasanya usaha apa pun yang kukerjakan selalu berhasil. Akhirnya Bu Ilen bertaruh melawan Bu Yuli, ‘Saya bertaruh £10 Pak Hadi pasti berhasil lagi. Kalau saya benar beri saya £10’. Di belakang keduanya, ada Rudy dan Mas Dharendra. Rudi bilang ke Mas Dharendra, ‘Saya bertaruh £20 Bu Ilen benar. Kalau saya benar Mas Rendra musti kasih saya £20. Kalau saya kalah, akan sebaliknya’. Di belakang Rudy dan Mas Dharendra ada Bu Rahmi dan Bu Ani. Bu Rahmi bilang ke Bu Ani, ‘Saya bertaruh £40 Rudy menang melawan Mas Dharendra.’ Dan seterusnya. Semakin ke belakang, orang yang bertaruh semakin banyak dan jumlh uang yang dipertaruhkan kian besar. Ketika ternyata aku gagal, yang rugi bukan cuma aku tapi semua orang.”

Saya===> bengong. Sebelumnya akhirnya protes, “Keknya nggak gitu deh…. yang kupahami…”
“Terus kamu memahaminya gimana?”
“Begini,” saya langsung bergaya bak Miss Free wali kelasnya Dinara membawakan storytelling, “Pokoknya intinya begini. Salah satu usaha yang dikerjakan bank adalah memberikan kredit perumahan kepada rakyat. Ketika setiap warga negara yang mampu, kalau di film adalah para pengkredit yang diberi rating A+ dan A, semua sudah mengkredit rumah, maka bank berusaha agar lebih banyak lagi rumah yang terkreditkan.”

Sambil mengingat-ingat film saya bilang, “Kalau pengkredit yang rating A+ dan A ini adalah pengkredit yang prima. Yang setelah dihitung total pendapatan dan pengeluarannya, diperkirakan besar akan mampu mencicil rumah.”

Sekitar 6 tahun lalu kami sekeluarga pernah iseng nanya-nanya soal kredit kepemilikn rumah di Bank Halifax. Kenapa Halifax? Ya karena ini bank yang terdekat dengan rumah kami di Beeston pada waktu itu, selain Natwest. Suami pakai Natwest karena bank ini ada kantor cabangnya di universitas, sehingga saya memutuskan memakai bank selain Natwest biar nggak Natwest dua-duanya.

Dalam wawancara dengan petugas bank, petugas menanyai dengan rinci penghasilan dan pengeluaran kami. Sampai ke pertanyaan apakah Pakne Krucils merokok atau tidak, karena rokok di sini harganya mahal. Dari situ kami baru mengetahui bahwa ternyata bank sangat senang kepada nasabah-nasabah yang memiliki riwayat kredit yang baik, alias memiliki dan menggunakan kartu kredit tetapi mampu membayar kembali bunganya.

Sementara kami berdua pantang menggunakan kartu kredit. Orang tua saya yang keduanya pejabat di PLN mewanti-wanti saya agar jangan sampai terbuai rayuan orang bank dan menggunakan kartu kredit. Alhasil hingga sekarang kami cuma punya kartu debit. Dan bank kurang suka hal itu, karena dengan demikian berarti kami tidak memiliki rekam jejak alias riwayat kredit yang bisa dipertimbangkan.

“Tetapi bank kepingin menjual lebih banyak lagi rumah dalam bentuk kredit. Akhirnya, rumah-rumah juga ditawarkan kepada orang-orang yang riwayat kreditnya tidak baik, yakni pengkredit yang kalau di fil dikasih rating B+ dan B. Ini namanya pengkredit yang subprima, makanya kreditnya dinamakan subprime mortgage.”

Suami menyimak. Saya melanjutkan, “Terus, sebetulnya sudah diperkirakan bahwa orang-orang yang rating subprima ini ‘beberapa’ nggak akan bisa melanjutkan mencicil kreditnya. Hanya saja banknya mikir, ya nggak apa-apa. Kalau mereka kelak ngga bisa melanjutkan mencicil kreditnya, rumah akan disita kembali oleh bank, dan dijual dikreditkan lagi kepada orang lain…”

“Akhirnya beneran, dalam kurun waktu hampir bersamaan, banyak orang-orang dengan rating subprima ini yang gagal mencicil rumahnya. Akibatnya, secara bersamaan, banyak rumah yang disita bank. Sekarang bank punya banyak sekali rumah, tapi nggak punya uang. Bank berusaha menjual rumah-rumah yang kreditnya macet ini. Karena rumah yang dijual banyak banget, akhirnya harga rumah anjlok…”

Suami masih nyimak. Saya melanjutkan, “Trus yang aku nggak paham, kenapa bank sangat agresif menawarkan kredit perumahan? Kenapa orang-orang dengan rating subprima ini akhirnya gagal melanjutkan mencicil kreditnya? Kalau nggak salah nangkap, karena harga rumah yang harus dicicil melambung. Lho, kok bisa, ya? Kenapa begitu?”

Suami mangap mau menjelaskan tapi saya tambahi, “Terus kalo di film itu kenapa Christian Bale bisa bertaruh sama banyak sekali bank? Kok dia punya duit banyak sekali itu duitnya siapa?”

“Kalau kamu nanya sama aku, kamu tidak akan mendapatkan jawaban yang benar,” kata Pakne Krucils. Lantas melanjutkan, “Kamu harus bertanya kepada ahlinya, yakni yang punya ilmu ekonomi atau perbankan.”

Doi lantas menjawab pertanyaan saya, “Si Christian Bale itu perannya sebagai hedge fund, aku juga kurang paham. Tapi sepertinya dia mengelola dana orang-orang kaya yang menyerahkan uangnya ke dia, terserah mau diinvestaskan ke mana atau jadi apa yang penting dapet untung…”

“Bukan bank, ya?”
“Bukan.”

Sebetulnya banyak lagi pertanyaan saya terkait film The Big Short dan credit crunch 2008 di AS. Terlepas dari itu, menurut saya film ini salah satu film yang layak ditonton karena bukan sekadar film hiburan tetapi juga mengajak berpikir. Bukan sekadar berpikir tentang, “Oh, jadi begitu ceritanya krisis subprime mortgage terjadi,” tetapi juga berpikir, “Apakah sistem ekonomi kapitalisme semacam yang digunakan di seluruh dunia sekarang ini masih perlu dipertahankan? Jika iya, kenapa? Jika tidak, kenapa, dan apa penggantinya?”

Saya pribadi merasa tidak sia-sia meluangkan 4 jam (karena nonton 2x… maklum emak lemot) nonton film peraih Box Office yang dinominasikan menggondol 5 Academy Award (Piala Oscar) dalam kategori  Best Picture, Best Director, Best Supporting Actor, dan memenangkan Best Adapted Screenplay ini.

Kalau pun ada kritik terhadap film The Big Short, mungkin hanya satu, yakni adegan-adegan pornografi. Misalnya penari striptease, yang ternyata mengkredit 5 rumah dan 1 kondominium. Tapi ya saya agak bisa memaklumi, soalnya filmnya ‘berbobot’ dan bikin kepala senut-senut. Mungkin adegan-adegan pornografi itu dimaksudkan untuk ‘menyegarkan pemandangan’ sekaligus ‘meringankan pembahasan’, yang tentu saja tidak ada efeknya buat saya.

Colchester, 30 Maret 2016

Advertisements

3 thoughts on “The Big Short, salah satu film wajib tonton (ODOP Day 80 of 99)

  1. Pingback: Daftar Lengkap Nulis Kurikulum 0-5 tahun di Inggris (ODOP Day 99 of 99) – Rumah kecil di seberang universitas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s