Cinta dalam Sepotong Roti Versi Colchester (ODOP Day 78 of 99)

ultahku2

Sejak punya anak 3, yakni sejak 3 tahun lalu, setiap awal Maret saya sudah ribut mengumumkan di rumah bahwa pada bulan itu saya ‘berulang tahun’. Suatu hal yang sebetulnya bukan tradisi keluarga kami.
“Kalau orang Jawa itu ya nggak ada ulang tahun,” komentar suami, “Yang ada ulang bulan. Lha kamu wetonmu apa, kamu saja nggak apal, kok…”
“Aku khan Jawa murtad!”
“Lha iya aku dulu juga gak mbayangkan punya istri yang nggak bisa ngomong bahasa Jawa…”
“Terus kenapa? Sekarang nyesel punya istri kayak aku? Mau di-refund? Pokoknya I want a surprise! Titik!” (refund= mengembalikan barang yang sudah dibeli ke toko yang menjual).

Seperti  tahun-tahun sebelumnya, hari ulang tahun 3 tahun lalu sepi-sepi saja.
“Mana surprise-nya?” tanya saya.
“Nggak ada surprise. Surprise khan?”

Tahun berikutnya saya masih ngotot, “Pokoknya aku mau hadiah!”
“Lha khan udah… Tiap hari…”
“Apa?”
“Zoen…”

Tahun lalu, “Aku mau kado… Dan aku emoh sun…”
“Khan udah hadiahnya… Malah sudah duluan…”
“Apa?”
“Anak…”

Tahun ini saya jabarkan dengan sangat spesifik, “I deserve a present, or presents. Dan aku mau cuti. Cuma di hari ulang tahunku ini aja aku mau cuti!”
Suami tarik napas sebelum bilang, “Ya sudah nanti malam makan ke Albatta saja…”
Albatta adalah salah satu restoran yang menyajikan menu Libanon di Colchester.

Tapi biarpun bilang mau cuti, pengen cuti, dan bangun dengan cemberut, “But, Ayah, today is my birthday… I want a break…” teteup kewajiban jam 8.15 mendampingi 4 bocah ke sekolah harus dikerjakan. Nyampai rumah jam 9.20-an, masih ngos-ngosan habis mendorong Mahdi, sarapan sambil menyuapi Krucil ke-4. Jam 11 sudah harus siap-siap ke sekolah lagi jemput Si Anak PAUD yang sekolahnya bubar 11.30.

Sekitar jam 12 nyampai rumah. Langsung ngebut ngasih makan siang, mandi, dan sholat dhuhur.
“Mbak Dara, ayo ikut ke sekolah. Ada party,” saya membujuk Si Balita Besar.
Yang diajak malah menarik selimut. Saya tahu, dia lelah setelah 4 jam sekolah plus jalan pulang-pergi. Tapi meninggalkan Dara di rumah, bukan pilihan yang baik karena hari itu ada 100% Attendance Party di sekolah.

Yang disebut 100% Attendance Party sebetulnya hanya pembagian piagam/sertifikat bagi siswa Reception, Year 1, dan Year 2 (usia 4, 5, dan 6) yang dalam satu term (sekitar 12 pekan) tingkat kehadirannya 100%. Pakne Krucil sangat malas menghadiri acara-acara sekolah ‘yang tidak penting’ semacam ini.
“Tak jemput nanti, jam 3 ketemu di sekolah,” gitu janjinya.

Akhirnya sambil maksa-maksa Dora… eh Dara, yang grumpy di sepanjang jalan, jam 2.15 nyampailah kami ke sekolah. Dinara duduk bersila di lantai aula, tersenyum, dan melambaikan sertifikatnya. Yeah, saya melewatkan acara utamanya, yakni ketika siswa dipanggil satu per satu oleh Kepala Sekolah untuk diberi piagam. Tapi hanya kali ini saya telat. Biasanya saya engga pernah telat.

Begitul lihat party, Dara langsung tenang. Apalagi reward-nya lollipop (halal).

Hari itu adalah hari terakhir sekolah dalam term ini, sebelum sekolah dan universitas libur panjang dalam rangka Paskah. Biasanya disebut Easter Holiday atau Spring Break.

Catatan penting: Kalau sekolah libur dan kantor libur, Emak justru harus kerja bakti berlipat-lipat dan stok kesabaran harus dilipatgandakan. Hampir bisa dipastikan rumah ancur…

Pekerjaan rumah tangga itu membosankan. Itu-itu melulu. Dan nggak pernah ada reward-nya. Tapi harus dikerjakan. Harus. Kalau mengerjakan rutinitas hanya 2-3 tahun, biasanya masih enjoy. Masih seneng-senengnya. Masih bau pengantin baru.

Konon, tantangannya adalah antara tahun ke-5 dan ke-8. Di tahun-tahun ini, Si Sulung punya adik. Dalam kasus saya, jarak antar anak nggak sampai 2 tahun. Jadi tahun 2007 nikah dan hamil, tahun depan melahirkan. Tahun depannya lagi hamil, tahun depannya lagi melahirkan. Gitu terussss sampai punya anak 4.

Karier suami menanjak kian tinggi. Publikasi paper ilmiah bertambah. Koneksi meluas. Buku diterbitkan penerbit mayor. Undangan menjadi narasumber dan pembicara berdatangan dari berbagai benua.

Krucils juga sama. Adaaa saja piagam/serifikat yang dibawa pulang. Mulai dari 100% Attendance, Star of the Week, Homework Certificate karena mengerjakan 100% PR dalam term tersebut, Certificate for Good Behaviour, Certificate for achieving exellent punctuality, Reading Certificate untuk yang rajin membaca buku, Star of the Week, Writer of the Month, dan entah apalagi, macam-macam.

Dan saya, nggak pernah dapat apa-apa. Dulu sih pas baru menikah suami masih rajin mengucapkan terima kasih. Untungnya saya nggak baper. Kalau saya baper saya pasti nangis kalau baca tulisannya seorang Ibu rumah tangga yang dengan mudah bisa selalu menelepon suami di kantor, “I just wanna say I love you, Pak. Di rumah lagi heboh! Doakan biar mudah ya Pak.”

Nah suami, saya ngga berani nelpon pas jam kantor. Kali aja dia lagi ngomelin salah satu bimbingannya dan nggak mau diganggu. Kalau di-SMS, reply-nya, “Ya,” atau, “Okey,” atau, “Opo, Bu?” atau, “Rapat”. Nggak akan ditanya, “Ada apa di rumah?”

Alasannya, terinspirasi bukunya Ustadz Fauzil ‘Adhim, “Disebabkan oleh cinta kupercayakan rumahku padamu. Khan sudah percaya. Ngapain ngecek lagi. Ya kalau emergency, urusan hidup atau mati, bolehlah nelpon. Atau email aja wis… Email… Aku rajin cek email, kok…”

Jadi sebetulnya saya tidak ingin ulang tahun saya dirayakan. Saya hanya ingin diberi hadiah. Dan diberi hari libur. Cuti. Di dunia ini jarang ada ibu mampu membersamai anak selama 24 jam 7 hari seminggu 365 hari setahun. Mau ibu rumah tangga, buruh tani, karyawati, pasti ada fase ‘me time’ di mana tidak dilekati anak. Entah ‘me time’-nya di sawah, di kampus, atau di kantor, bersama sesama karyawati yang cerdas, bersih, dan wangi. Setelah masa bakti 7 tahun, bukankah saya berhak mendapatkan lebih dari sekadar zoen?

“So what do we get for taking our children in time to school everyday?” tanya seorang ibu dengan nada bergurau kepada Bu Guru ketika kami ngobrol di aula. Saya nyengir. Baru nyadar, anak-anak tidak akan pernah mendapatkan sertifikat-sertifikat itu kalau ibunya tidak disiplin.
“Oh…” Bu Guru memegang dadanya, “We say thank you so much for your effort. Do you want a lollipop now?” tanya Bu Guru yang disambut tawa ibu-ibu di sekeliling saya.

Sebetulnya saya sudah happy dan bersyukur dengan prestasi anak-anak yang normal. Ya, karena sertifikat-sertifikat itu khan reward yang untuk ukuran orang Indonesia normal. Hadir tepat waktu, hadir 100%, mengerjakan semua PR, mengerjakan semua tugas membaca buku, di Indonesia kalau kita mengerjakan itu semua ya normal. Baru nggak normal kalau mayoritas siswa gagal melaksanakan target-target tersebut.

Ditambah lagi pulangnya nggak perlu ngos-ngosan menggembala 4 bocah menuju rumah. Tapi kebahagiaan jadi mengempis sedikit saat Pak Sopir bilang, “Kita nggak langsung pulang. Ke rumah Khairul dulu.”
Langsung pasang tampang suram. Udah capeeee kakak! Pengennya pulang istirahat!!!
“Ngapain?”
“Ada urusan!”
“Masa telpon aja nggak bisa?”
“Ngga sopan.”

Khairul adalah salah satu tetangga warga negara Malaysia. Master alumnus Psikologi Bisnis Herriott-Watt University, sekarang mengasuh putrinya yang umur 2 tahun sambil mendampingi istrinya yang sekolah PhD di sini. Shahila, istrinya Khairul, jago masak. Pikir saya, mungkin karena beda negara, di Malaysia nggak sopan kalau urusan penting dibicarakan via telpon.

Mobil diparkir di atas trotoar dekat rumah Khoirul. Pakne Krucil langsung turun gak pake ngajak-ngajak. Walah, musti siap-siap nih. Bentar lagi pada ribut karena dikurung di dalam mobil, pikir saya.

Beberapa menit kemudian, suami balik ke mobil. Bawa kardus putih. Nggak pake ngomong sedikit pun, kardus langsung diberikan ke saya.

Ya, kali ini surprise betulan. Karena saya nggak menduga akan dikasih party cake.
Krucils langsung heboh, “I WANT TO SEE IT! I WANT TO SEE THE CAKE! IT’S MINE! IT’S MINE!”
“NO!” kata saya tegas, “Today is MY BIRTHDAY. So this is my party cake. Bukanya nanti, di rumah. Kalau dibuka di sini nanti tumpah!”

Di rumah, siapaaaaa yang makan  kuenya paling banyak? Ternyata yang pesan kue. Bukan yang ulang tahun. Dan malamnya kita jadi ke Albatta. Hamdan lillah.

Mungkin, kalau di tahun 1991 sineas Garin Nugroho memproduksi film Cinta dalam Sepotong Roti yang memborong 5 Piala Citra, judul yang tepat untuk tulisan ini seharusnya adalah Cinta dalam Sebuah Kue Ulang Tahun. Atau Cinta dalam Sepotong Roti versi Colchester.

Colchester, 28 Maret 2016

ultahku

ultahku4 ultahku1

Advertisements

One thought on “Cinta dalam Sepotong Roti Versi Colchester (ODOP Day 78 of 99)

  1. Pingback: Daftar Lengkap Nulis Kurikulum 0-5 tahun di Inggris (ODOP Day 99 of 99) – Rumah kecil di seberang universitas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s