Meng-Islam-kan Buah Hati di Negeri Minoritas Muslim (ODOP Day 77 of 99)

bocil

Ada yang bertanya, “assalamualaykum mba, perkenalkan saya saat ini domisili di gothenburg, swedia. terima kasih sharing artikel ini. masyaAllah enak bgt di UK sana ada madrasah seperti ini. kami disini sedang merintis tpa, tapi kadang ngerasa ilmu jg cuma segini2nya, eh ngeliat artikel mba jadi semangat lagi. anak2 enjoy ikutnya mba? gmn menurut mba urgensi ikut madrasah begini? kalo boleh saya pengen ngobrol2 lebih lanjut ttg kegiatan ini mba, siapa tau ada yg bisa kami pelajari disini. masih harus banyak belajar gmn membesarkan anak di negara minoritas muslim begini.. atau malah dibuat tulisannya ttg ini akan senang sekali, dari perspektif orang tua atau jg anak.. jazakillah khayr.”

***

Saya dulu juga tidak pernah membayangkan akan hidup di sebuah tempat di mana muslim menjadi minoritas. Selama 5 tahun saya sudah berada dalam ‘comfort zone’, di Nottingham. Sebagai salah satu kota besar di Inggris, tentu saja jumlah penduduk muslim di Nottingham sangat banyak. Begitu banyaknya sehingga masing-masing bisa membuat komunitas sendiri: muslim IPB (India-Pakistan-Bangladesh), komunitas muslim Arab, komunitas muslim Malaysia, dan komunitas muslim Indonesia. Saking banyaknya kaum muslimin di Nottingham, mereka sudah generasi kedua atau ketiga di kota tersebut. Di sekolah-sekolah negeri sudah banyak yang berhijab. Sudah mapan dengan ‘madrasah komunitas’-nya masing-masing, bahkan sudah ada Primary School Islami dan Secondary School Islami meski sejauh yang saya tahu kualitasnya belum memuaskan. Konon komunitas muslim Malaysia di Nottingham sampai memiliki *penghulu komunitas* untuk segala urusan pernikahan saking banyaknya muslim Malaysia di kota itu.

Tantangan berbeda saya rasakan ketika pindah ke Colchester. Ini terasakan langsung ketika krucils sekolah. Di kelas Dinara (Year 1; usia 5-6 tahun) hanya ada 2 siswa muslim: Dinara dan teman lelaki, keturunan Bangladesh yang ibunya tidak bisa berbahasa Inggris dan ayahnya pelayan restoran. Di kelas Fahdiy (Year 3; umur 7-8) tahun kalau nggak salah ada 3: dua anak laki-laki Indonesia dan satu perempuan yang kalau nggak salah keturunan Pakistan. Kapasitas maksimum satu kelas adalah 30 siswa.

Saya pribadi menghadapi sedikitnya 2 tantangan dalam mengajarkan Islam kepada anak di Colchester. Pertama, tantangan dari dalam keluarga sendiri.

Tantangan dari individu dan keluarga di antaranya adalah:

1) Tidak bisa merancang struktur materi ajar secara mandiri. Bahasa kerennya sih, saya tidak tahu bagaimana membuat kurikulum pendidikan Islami. Saya pribadi berpendapat belajar bisa secara formal, non-formal lewat kursus atau homeschooling, dan informal. Proses belajar dalam keluarga biasanya informal. Tetapi buat saya, transfer ilmu sebaiknya terstruktur. Saya nggak bisa pakai model semacam unschooling yang tidak terstruktur dengan metode *belajarnya bisa dimulai dari mana saja dan kapan saja*. Karena kalau nggak ada target yang harus dicapai, saya jadi bingung apa yang harus diajarkan ke anak.

2) Waktu. Dengan 4 anak (ketika pindah ke Colchester saya punya 4 anak berusia 2 minggu s/d 5,5 tahun) manajemen waktu betul-betul jadi tantangan tersendiri. Faktanya, anak bisa bergantian sakit dan harus dirawat inap di rumah sakit. Atau, gantian, saya yang sakit. Meski alhamdulillah tidak lama, bagaimana pun waktu mengurus anak-anak yang sehat berkurang ketika ada yang sakit. Setelah sehat pun biasanya harus segera mengebut karena banyak pekerjaan rumah tangga menumpuk setelah terbengkalai beberapa hari.

3) Saya tidak mau menjadi satu-satunya sumber teladan yang riil di mata anak. Dengan komunitas, beban ini bisa dibagi-bagi kepada orang dewasa muslim lainnya,misalnya dengan ustadz dan ustadzahnya di madrasah, atau orang dewasa lain di komunitas muslim Indonesia di kota setempat. Minimal dalam hal mengajarkan adab; semacam mencium tangan orang yang lebih tua selain orang tuanya sendiri, mengucapkan salam dan menjawab salam kepada muslim selain orang tuanya sendiri, makan dengan tangan kanan, membiasakan anak mengucapkan kalimah thoyyibah, atau belajar adab majelis di madrasah maupun komunitas muslim Indonesia di kota setempat. Ini semua tidak diajarkan di sekolah formal dan sulit bagi saya mengajarkan kalau tanpa komunitas.

Karena saya tidak memiliki latar belakang ilmu pendidikan yang memadai, kami memutuskan anak harus sekolah. Karena sekolahnya sekuler, praktis akhirnya anak menghadapi banyak pertanyaan terkait identitas keIslamannya. Ini tantangan dari luar rumah yang pasti dihadapi setiap keluarga muslim yang anaknya sekolah di sekolah negeri yang sekuler (tidak meng-homeschool atau menyekolahkan anaknya di sekolah Islam yang swasta). Karena berinteraksi dengan non-muslim, akhirnya secara alamiah banyak muncul pertanyaan semacam, “Mengapa kita muslim? Mengapa muslim tidak boleh merayakan Christmas? Mengapa aku harus vegetarian di sekolah sementara di rumah boleh makan daging? Kenapa aku tidak boleh makan permen sembarangan?”

Ketika punya teman Kristen, anak akan bertanya lagi, “Mengapa muslim masuk Paradise dan Christian tidak padahal Christian juga believe in god and belive in Allah? Bukankah muslim dan Christian sama-sama percaya kepada Jesus?”

Sistem pendidikan ala Barat yang mengajarkan anak untuk berpikir kritis membuat anak sejak usia 5 tahun sudah bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan semacam, “Mengapa Allah bisa melihat kita tetapi kita tidak bisa melihat Allah?  (dengan tambahan komentar, “That’s so unfair…”) Mengapa Allah menciptakan iblis dan syaithon yang menggoda manusia untuk berbuat jahat? Mengapa Allah tidak menciptakan manusia yang baik saja? Mengapa Allah menciptakan ‘bad and dangerous animals’?

Jadi pada usia 5 tahun pun anak sudah tahu dirinya muslim, dan berbeda dengan teman-temannya. Di usia ini biasanya anak juga sudah mulai mengindera betapa *tidak fun*-nya menjadi muslim. Misalnya, yang dialami krucils, karena tidak ada opsi halal menu, harus mendapatkan stiker ‘Vegetarian’ ketika makan siang di sekolah padahal aslinya bukan Vegetarian. Berdasar pengalaman di umur 5-7 tahun teman-teman di kelasnya sudah mempertanyakan mengapa anak ‘Vegetarian’ dan tidak bisa menerima bahwa anak beragama Islam yang hanya mengonsumsi makanan halal.

Christmas adalah momen klasik untuk dicontohkan. Saya memilih tidak mengikutkan krucils di acara Nativity di sekolah setiap Desember. Contoh lain adalah ketika semua teman-temannya menerima secara positif ketika guru mengumumkan bahwa dirinya ‘got engaged’ dengan seseorang. Atau ada guru yang pacar wanitanya melahirkan dan semua menyambut gembira. Atau ketika guru berbeda pendapat dengan anak tentang penciptaan alam semesta (Miss X said that the universe was not created by Allah but by Big Bang Theory…”)

Hal-hal semacam ini kadang membuat anak usia 5 tahun merasa terisolasi karena memandang dengan sudut pandang Islam. Di sinilah peran penting madrasah hadir, bukan untuk menggantikan pendidikan yang diberikan orang tua di rumah, tetapi untuk melengkapi dan menguatkan pendidikan di rumah. Di sisi lain sebenarnya kami juga memerlukan komunitas muslim untuk menumbuhkan dan menanamkan ruh berjamaah dan ukhuwah Islamiyah pada diri anak.

Tentang ilmu yang terbatas

Tantangan membangun komunitas muslim biasanya adalah rasa tidak percaya diri. Terlebih jika tidak pernah membayangkan akan tinggal di wilayah yang ekstrem, misalnya sama sekali tidak ada masjid di kota tersebut, tentu terasa sangat berat memulai membangun komunitas muslim di situ.

Saya pernah setahun di Amherst, Massachusetts, Amerika Serikat; dan berhadapan dengan situasi demikian. Satu hal yang saya simpulkan, kadang di satu kota, bukan jumlah muslimnya yang sedikit. Tetapi muslim yang mau aktif, berkontribusi untuk komunitas, ini yang sedikit. Sebetulnya jumlah yang muslim banyak. Dan semua kepingin ada masjid, ada toko yang menjual daging halal, ada madrasah, ada komunitas muslim. Hanya saja yang mau dan mampu berkhidmad meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran demi mewujudkan keinginan menjadi kenyataan, ini mungkin yang jumlahnya tidak banyak.

Apakah anak-anak enjoy di madrasah?

Biasanya madrasah hanya menerima siswa berusia minimal 5 tahun, dengan materi yang sudah terstruktur secara mingguan seperti 2 posting saya sebelum ini. Bisa dikatakan Si Sulung (7 tahun 8 bulan) menikmati madrasahnya. Sementara adiknya (6 tahun), terus terang saja, muales berangkat ke madrasah. Kalau diberi pilihan mau berangkat atau stay at home, dia pasti akan memilih yang kedua.

Sementara ini saya dan suami menduga, madrasah yang dilaksanakan sepulang sekolah (jam 5-7, sementara bel pulang sekolah jam 3 sore) menguras tenaga krucil. Terutama di musim dingin. Karena hari gelap dan lembab, begitu masuk mobil biasanya langsung tidur.

Nggak saya pungkiri madrasahnya krucils pun jauh dari sempurna. Materi yang terlalu sederhana untuk ukuran muslim Indonesia, waktu yang mungkin kurang baik, juga kompetensi pengajarnya. Mayoritas siswa di madrasah krucils adalah keturunan India-Pakistan-Bangladesh. Teman-teman yang Arab kurang berkenan dengan madrasah tersebut karena menurut mereka bahasa Arab para pengajarnya kurang fasih, yang berimbas kepada tajwid anak-anaknya menurut ortunya, jadi ‘getting worse’ setelah bergabung dengan madrasah.

Khusus untuk tajwid, saya agak beruntung karena suami cukup baik bahasa Arabnya termasuk dalam beberapa ilmu dasar semacam fiqh, hadits, dan kitab-kitab yang klasik. Jadi lrucils ketemu guru di madrasah 2-3x/minggu tapi di-drill sendiri di rumah setiap hari… Prinsipnya, sama seperti sekolah, kita tidak bisa melempar 100% tanggungjawab mendidik anak kepada sekolah atau madrasah. Karena sebetulnya fungsi keduanya adalah melengkapi pendidikan di rumah.

Betapa pun sederhananya materi yang disampaikan oleh Ustadh dan Aunty-nya di madrasah, bagi saya sangat membantu dalam mengajarkan Islam di rumah. Terlebih kalau madrasahnya dikelola secara amanah, memiliki sumber dana rutin, serta memiliki program terstruktur sehingga jelas target yang ingin dicapai.

Dan akhirnya, tulisan ini tentu saja subyektif. Tidak semua keluarga muslim menganggap me-madrasah-kan anak sebagai hal yang urgent (penting dan mendesak). Banyak ibu muslimah tangguh dan hebat yang memilih mengajar buah hatinya secara mandiri, yakni lewat jalur homeschooling.

Hanya saja dengan segala keterbatasan yang saya dan suami miliki, kami memilih opsi berbagi tanggungjawab pendidikan dengan sekolah formal dan madrasah non-formal yang terdekat.

Colchester, 26 Maret 2016

Advertisements

One thought on “Meng-Islam-kan Buah Hati di Negeri Minoritas Muslim (ODOP Day 77 of 99)

  1. Pingback: Daftar Lengkap Nulis Kurikulum 0-5 tahun di Inggris (ODOP Day 99 of 99) – Rumah kecil di seberang universitas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s