Secondary School (ODOP Day 72 of 99)

dream

Ada seorang laki-laki mengejar-ngejarku. Tiba-tiba aku merasa tidak aman. Kupercepat langkah kakiku. Tapi lelaki itu berjalan lebih cepat. Ia menjajariku.

Dari penampilannya kutarik kesimpulan, ia homeless, alias gelandangan. Ia mengeluarkan beberapa lembar kertas dan berbicara yang kedengarannya semacam, “Would you please help us raise the money for this charity, Ma’am?”
Aku cemas dan kuiyakan saja, memberikan sumbangan semampuku.

Bertahun-tahun kemudian, tiba saatnya mencari Secondary School untuk Si Sulung. Ada sebuah Secondary School yang sangat istimewa. Favorit, istilahnya. Salah satu hal yang tak biasa bagi sekolah tersebut adalah, dalam seleksi penerimaan siswa, yang diwawancarai hanya orang tua atau pengasuh utamanya. Sudah banyak tersiar kabar berita bahwa yang diterima menjadi siswa di Secondary School favorit tersebut tidak pernah bisa diprediksi. Sekolah favorit itu melakukan seleksi dengan cara yang misterius. Siswa yang diterima pun beraneka ragam, normal, berkebutuhan khusus, dari keluarga terpandang, dari kalangan rakyat jelata, dengan status ekonomi yang beraneka rupa dari yang orang tuanya papa hingga teramat sangat kaya. Herannya, tak ada satu pun penduduk di kota ini yang bisa menyebutkan siapa alumnus sekolah itu. Tetapi setiap penduduk yang kujumpai selalu menyebut nama sekolah itu dengan nada penuh takzim.

Dan hari itu pun tiba. Aku akan diwawancara untuk menentukan apakah Si Sulung layak diterima di Secondary School Favorit itu atau sebaliknya.

Suamiku sudah lebih dulu masuk. Kami diwawancara secara terpisah. Aku tak melihat wali murid lainnya. Kukira mereka diwawancara di waktu atau tempat yang berbeda.

Kubaca doa dan kutarik napas dalam-dalam sebelum pintu kayu tebal itu terbuka. Langkahku pelan-pelan memasuki ruangan, besar seperti ruang makan para siswa di Hogwart dalam film Harry Potter. Bentuk gedung yang kuno dan atapnya yang tinggi, secara keseluruhan memancarkan kesan formal namun aku sama sekali tidak tegang.

Aku tidak berharap banyak. Kukira aku hanya mencoba keberuntunganku.

Setelah dipersilakan duduk, salah seorang juri penilai bertanya, “What had this mother done?”
Aku bingung, dan berpikir keras, berusaha memahami pertanyaan. Namun tak kuduga, mendadak terdegar suara seorang lelaki, berdiri beberapa meter di sebelah kananku, yang menjawab lugas, “Ia memberikan uangnya untuk charity.”

Aku menoleh ke arahnya, dan menatap sosok homeless alias gelandangan yang kuberi sumbangan bertahun yang lampau. Lidahku kelu. Aku berbicara, namun tak ada suara yang terdengar.

Di belakang lelaki berpenampilan homeless itu, berbaris orang-orang yang mengatakan hal-hal baik yang pernah kukerjakan, yang aku sudah melupakannya, yang aku sangat yakin tak seorang pun menyaksikan aku mengerjakannya. Namun mereka semua bersaksi bahwa aku melakukan hal-hal baik itu.

Sesal merayapi hatiku karena aku tahu banyak sekali kebaikan yang diucapkan orang-orang tersebut tidak didasari pada keikhlasan. Setelah ini aku mampus, pikirku, karena akan hadir orang-orang yang bersaksi bahwa semua hal baik yang kukerjakan tidak sempurna; entah karena niatnya tidak tulus, tidak ikhlas, terpaksa, dan sejenisnya.

Entah dari mana datangnya, mendadak di sebelah kiriku duduk seorang perempuan. Ia berpenampilan dan berhijab sangat rapi. Wajahnya teduh. Saat memandangnya, aku langsung teringat pada sosok Bunda Elly Risman yang keibuan, namun dalam sekali pandang aku yakin setiap orang akan mendapatkan kesan perempuan ini sudah sangat tua. Semacam Professor Minerva McGonagal di Harry Potter, aku yakin orang yang memandangnya akan langsung menarik kesimpulan, “Inilah orang yang berusia minimal 90 atau 100 tahun yang sudah mengalami  banyak hal di dalam hidupnya.”

Ia tersenyum kepadaku. Seolah membaca isi kepalaku ia berbisik lembut, “Ini bukan yaumul hisab. Juri tidak akan mengungkit-ungkit keburukan yang engkau kerjakan. Karena bukan demikian cara kita mendidik anak-anak kita. Kita memfokuskan pada hal-hal baik, hal-hal yang positif yang ada pada diri mereka. Kita tidak memuji hasil pekerjaan mereka, namun kita memuji karena mereka mau bekerja keras dan mencoba untuk lebih baik dari waktu ke waktu.”

Kupikir aku bertanya kepadanya secara telepati karena tak kudengar suaraku keluar dari mulutku. Sementara barisan orang-orang yang membacakan perbuatan-perbuatan baikku masih terdengar berganti-ganti.

“Lantas bagaimana dengan keburukan-keburukan yang kuperbuat dan dilakukan orang-orang lainnya?”
Perempuan tua itu tersenyum kembali, “Sistem peradilan ada dan hukum ditegakkan,” kudengar ia berkata pelan, namun tak kulihat ia menggerakkan bibirnya, “Tetapi itu bukan di sini. Karena forum ini bukan pengadilan dan bukan Hari Penghisaban. Ini adalah sebuah sekolah, di mana orang tua mendaftar agar anaknya diterima menjadi siswa di sini. Penilaian didasarkan salah satunya adalah dari kesaksian orang-orang yang berbaris itu,” katanya mengisyaratkan orang-orang yang membacakan perbuatan-perbuatan baikku. Si Homeless sudah tak kulihat lagi. Barisan orang-orang yang bersaksi semakin pendek tinggal beberapa orang saja.

Ia berkata lagi, “Nanti setelah semua ini selesai, begitu engkau melewati pintu di belakang para juri, engkau akan melupakan semua proses wawancara ini. Itulah sebabnya tak ada orang tua dari siswa di sekolah ini yang mampu menceritakan proses seleksi sekolah ini kepada orang lain.”

Kupikir aku sudah tak antusias lagi kepada Secondary School yang katanya favorit ini. Perempuan tua yang misterius itu lebih menarik perhatianku.

Masih secara telepati aku bertanya lagi, “Kamu siapa?”
Aku ingin menambahkan kalimat, “Nampaknya engkau sudah sangat tua, sangat kaya pengalaman dan amat bijaksana layaknya orang yang sudah hidup ratusan tahun,” namun kalimat itu terlalu panjang untuk kuungkapkan tanpa menggerakkan mulutku.

Ia memahami pertanyaanku. Perempuan nenek-nenek itu menegakkan sikap duduknya, masih dengan menyungging senyum ia lantas berkata tegas, “Akulah waktu yang kau habiskan bersama anakmu. Akulah pengaruhmu terhadap anak-anakmu. Dan akulah saksi yang paling diperhitungkan untuk menentukan apakah kau dan anakmua layak menjadi bagian dari sekolah ini.”

Mendadak kedua pipiku terasa hangat. Terasa ada yang merayap. Lantas kudapati nenek dan ruangan besar ala Hogwart itu lenyap. Sebagai gantinya, tepat di depan mataku, nampak sebuah mulut kecil yang basah oleh liur berusaha mencium hidungku.
“Bundaaaa!!! Wake up!!!”

Colchester, 21 Maret 2016

Advertisements

One thought on “Secondary School (ODOP Day 72 of 99)

  1. Pingback: Daftar Lengkap Nulis Kurikulum 0-5 tahun di Inggris (ODOP Day 99 of 99) – Rumah kecil di seberang universitas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s