Homoseksualitas, Hijab, HAM dan Demokrasi (ODOP Day 53 of 99)

demokrasi

“Di Barat, yang memperjuangkan hak-hak kaum minoritas termasuk minoritas muslim, ya pejuang HAM dan demokrasi itu…” Demikian tanggapan sebagian muslim yang tinggal di Barat, yang biasanya disambung dengan kalimat, “Karena itu kita yang muslim ini wajib berterima kasih kepada HAM dan demokrasi.”

Kalau mendengar atau membaca kalimat semacam itu, saya hanya manggut-manggut. Saya sudah kenyang diteriaki, “Go back to your country!” atau dimaki-maki perempuan di minimarket semacam One Stop, sambil kerudung saya dituding-tuding, “You mustn’t wear THIS here! I’m not allowed to wear hoodie’s in here so you have to open your head! Now!”

Tidak, saya tidak membenci mereka. Saya tidak membenci orangnya, melainkan sistemnya.

Bulan lalu saya sudah nulis bahwa pegiat pegiat homoseksual akan berlindung di balik HAM dan demokrasi (klik Tanggapan Pegiat LGBT yang Cerdas). Di Indonesia Lawyers Club yang mengangkat bahasan LGBT Marak Apa Sikap Kita?, Natalius Pigai dari Anggota Komnas HAM bilang begini (rekaman video klik di sini).

Saya kutip dikit, “Landasan yang digunakan adalah ideologi Pancasila sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Kedua, landasan knstitusional UUD 1945, pasal 28. Yang ketiga (nggak jelas) humanitarian, kebangsaan, kesatuan, Bhinneka Tunggal Ika. Bhinneka Tunggal Ika tidak hanya bicara dalam kerangka etnis dan agama, tetapi bicara bagaimana kelompok-kelompk minoritas diakui, dihrmati, dihargai oleh negara. Negara ada untuk menghormati Hak Asasi Manusia. Kalau berbicara mengenai apakah mereka menginginkan perkawinan sejenis dilegalkan? Saya ingin menyampaikan secara pribadi, mungkin bangsa (Indonesia) ini masih membutuhkan wkatu yang cukup panjang, membutuhkan diskursus yang panjang, tetapi penghrmatan kepada mereka harus mulai sejak saat ini.”

Apa maknanya? Atas nama HAM dan demokrasi, homoseksualitas memiliki peluang dilegalkan. Dan kalau kita melihat ILC, kita mungkin ‘lupa’ bahwa Fahira Idris pun tidak  berasal dari “partai Islam”, karena toh senjata pamungkasnya ya dalil agama lagi. Dokter Fidiansyah juga sama. Jadi benteng terakhir menangkal homseksualitas adalah Islam, bukan HAM dan demokrasi.

Lantas bagaimana dengan hijab di Barat?

Konsekuensi dari HAM dan demokrasi itu, idealnya begini:
– Homoseksualitas dibolehkan, hijab juga dibolehkan.
– Zina (punya anak tanpa menikah) dibolehkan, pernikahan juga dibolehkan.
– Berjudi dibolehkan, menabung juga dibolehkan.
– Riba dibolehkan, jual-beli juga dibolehkan.
– Miras dibolehkan, air putih juga dibolehkan.
– Pornografi dibolehkan, menjaga pergaulan dibolehkan.
– Pacaran dibolehkan, ta’aruf dibolehkan.

Jadi tidak ada amar makruf nahi munkar. Amar makruf mungkin dibolehkan, tetapi nahi munkar dilarang, karena tidak sejalan dengan HAM dan demokrasi. Jadi kalau hijab dibolehkan dalam Islam, ya karena memang diwajibkan. Kalau hijab dibolehkan di Barat, itu normal, karena dari pondasi seharusnya kalau konsisten dengan HAM dan demokrasi, semestinya dibolehkan.

Satu hal penting. Tidak menerima HAM-demokrasi bukan berarti kita harus menerima model pemerintahan otoriter. Ada pilihan ketiga, yakni sistem Islam.

Pilihan bukan hanya HAM-demokrasi VS otoriter. Masih ingat pemilu presiden? Pilihan yang tersedia: Joko Widodo-Jusuf Kalla, Prabowo-Hatta Rajasa dan ada pilihan ketiga yakni tidak memilih keduanya. Dan tidak harus mengikuti model Arab atau ISIS. Kita tidak harus selalu menceburkan diri pada pilihan yang sudah ada.

Satu lagi yang mengganjal pikiran saya. Kenapa ya, kita muslim ini hanya mau menerima Islam sebagian-sebagian? Giliran ada gerakan mendukung homoseksualitas, Islam dipanggil. Kalau sudah soal ideologi, politik, sistem ekonomi, sistem sosial, buang jauh deh Islam…

Saya pikir ada yang salah dengan pemahaman kita terhadap Islam. Kalau kita yakin dan percaya bahwa Islam itu sempurna, apa sih yang ditakuti? Potong tangan cuma ditakuti pencuri. Hukum rajam cuma ditakuti pezina.

Felix Siauw bisa memberikan ilustrasi yang baik lewat dialog dengan ayahnya yang bukan muslim:

1. saya pernah nanya bapak saya yang masih non-Muslim “setuju nggak diterapkan syariat Islam?” | ditanya balik “syariat Islam yang mana?”

2. saya jelasin, “yang mana lagi? syariat Islam yang di Al-Qur’an dan As-Sunnah dong” | bapak saya nanya lagi, “gimana yang nggak Muslim?”

3. saya bilang “justru non-Muslim akan lebih terlindung dalam penerapan syariat, dijamin ibadahnya, nggak kayak sekarang, was-was”

4. saya tambahin, “dan di negara Khilafah, papi cuma bayar jizyah, di masa Khalifah Umar cuma 6-8 dinar setahun (15-20 juta)”

6. “daripada sekarang papi bayar pajak setahun berkali-kali lipet itu, dan kalo syariat Islam tegak orang sulit buat kriminal” pungkas saya

7. bapak saya jawab, “ya kalo gitu lebih enak, nggak papa kalo begitu” | saya nanya lagi, “walau ada hukum rajam dan potong tangan?”

8. bapak saya jawab ringan “ngapain takut potong tangan dan rajam? maling nggak, zina juga nggak?” (sumber klik di sini)

9. begitulah ceritanya bro-sis | yang nolak kalo ditegakkan syariat itu ya kalo nggak maling, biasanya pezina | atau yang demen maksiat

10. yang nggak melanggar apapun mah woles dan adem aja | ngapain takut, wong nggak salah

11. sama kayak sekarang, yang nolak lokalisasi ditutup ya pasti yang maksiat | yang waras akalnya pasti akan setuju

Kalau pemimpin muslim itu memang cerdas dan sholih, insyaAllah ia tetap berpeluang menjadi pemimpin meski negaranya tidak demokratis. Bukan sekadar menutup celah legalisasi homoseksual di Indonesia, tapi juga menjemput rahmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Yuk, siapkan diri jadi pemimpin masa depan. Cerdaskan diri sholihkan diri, bangun generasi cemerlang bersama Islam tanpa HAM dan demokrasi.

Colchester, 1 Maret 2016

Advertisements

2 thoughts on “Homoseksualitas, Hijab, HAM dan Demokrasi (ODOP Day 53 of 99)

  1. Pingback: Daftar Lengkap Nulis Kurikulum 0-5 tahun di Inggris (ODOP Day 99 of 99) – Rumah kecil di seberang universitas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s