Syaikh Atha’ Abu Rasytah dan The Devil (ODOP Day 51 of 99)

devils in the details

Menemukan tulisan di bawah ini dari akun facebok Pak Prima Rustama Makim (PRM) yang mengomentari posting Pak Fahmi Amhar tentang insentif dan disinsentif.

Saya menggarisbawahi penyataan beliau, yang terberat adalah menurunkan rincian-rincian dalam tataran paktis dan teknis. Misalnya, dokter-dokter yang tergabung dalam Dokter Indonesia Bersatu melakukan aksi damai di Jakarta. Sebagian kaum muslimin pasti akan langsung menghina para dokter ini dengan mengatakan para dokter berideologi kapitalis dan bersikap materialistis karena menghendaki peningkatan anggaran di bidang kesehatan, temasuk ya ujung-ujungnya peningkatan kesejahteraan para dokter itu sendiri.

Akan sangat sulit untuk menemukan tulisan yang membedah bagaimana seharusnya Islam memberikan solusi rinci sampai tataran praktis dalam persoalan yang membelit dunia kesehatan di Indonesia. Untuk pesoalan pendanaan dunia kesehatan, Indonesia tidak perlu berkiblat ke Inggris. Lha wong dokter-dokter di Inggis saja beberapa tahun belakangan ini juga gontok-gontokan dengan pemerintah soal duit, ngga ada solusinya (klik Junior doctors’ strike: BMA totally irresponsible – Jeremy Hunt (BBC 7/2/2016Pejabat Kesehatan Kerajaan Inggris Protes atas Kontrak Kerja)

Kalau urusannya cuma ilmu kedokterannya, bolehlah Indonesia bekiblat ke Inggris. Kalau soal pendanaannya, nanti dulu. Kalau dalam urusan sistem keuangan dan sistem ekonomi tidak me-refer ke Barat, lantas mau merujuk ke mana?

Islam pasti memberikan jawaban. Ideologi Islam adalah solusi. Kita semua meyakini itu. Tapi jawaban dan solusi sampai ke tataran praktisnya itu bagaimana? Sistem mata uang emas dan perak itu dalam tataran praktis bagaimana? Meski yakin bahwa sistem keuangan syariah Islam harus berbasis emas dan perak, sampai sekarang saya juga nggak ngerti kalau ada yang bertanya, “Terus kita beli kerupuk pakai keping dinar dan dirham? Bayar angkot pakai dinar dan dirham? Atau bagaimana?”

Orang Barat selalu bilang the devil is in the details. Karena bepikir pada tataran praktis sejatinya memelukan tingkat pemikiran kreatif, problem solver, kalau di kelompok saya mengaji, biasa dibilang, memikirkan uslub (cara) dan wasilah (alat/sarana-prasarana yg diperlukan) itu lebih sulit daripada memikirkan fikrah (ide pokok) dan thariqah (metode pelaksanaan).

Berikut tulisan Pak PRM. Sejatinya, memposting adalah untuk mengingatkan diri sendiri

Ini sebagai qaidah saja:

Syaikh Atha Abu Ar-Rasytah: “Apa yang halal di Darul Islam, juga halal di Darul Kufur.”

Imam Asy-Syafi’i: “Apa yang halal di Darul Islam, juga halal di Darul Kufur.”

Pemahamannya, kebijakan-kebijakan yang bisa diterapkan di dalam Darul Islam karena kehalalannya juga tetap halal dan tidak berubah status hukumnya ketika diterapkan di dalam Darul Kufur. Jadi, suatu kebijakan atau peraturan tidak serta-merta haram hanya karena yang memberlakukannya Darul Kufur. Pandangan kita hendaknya tidak hanya diarahkan pada siapa yang menerapkannya, tapi jauh lebih mendasar diarahkan pada fakta (waqi’) dari kebijakan atau peraturan yang hendak dihukumi tersebut.

Contoh dari sesuatu yang halal penerapannya di dalam Darul Islam maupun Darul Kufur ialah hal-hal berkaitan dengan pencatatan sipil, persyaratan untuk mendapat KTP, pendaftaran kelompok untuk menjadi ormas atau partai politik resmi, persyaratan administratif untuk membuka rumah sakit, peraturan lalu lintas. Dalam hal ini juga peraturan-peraturan yang dapat mendorong dan memfasilitasi masyarakat untuk menjaga lingkungan hidup. Terutama bersifat praktis dan teknis seperti reward bagi mereka yang lebih memilih mengalokasikan sampah anorganik untuk didaur ulang, baik oleh sendiri atau lembaga resmi.

**Catatan:

Bagi pengemban dakwah politis, godaan setan paling berat bukan dalam pemahaman-pemahaman pokok seperti wajibnya menerapkan Syariah, menegakkan Khilafah, kufurnya kapitalisme dan demokrasi, atau wajibnya dakwah secara pemikiran, politik, dan tanpa kekerasan.

Godaan setan yang paling berat terletak pada rincian-rincian untuk menurunkan hal-hal tadi dalam tataran praktis dan teknis. Salah satu contohnya ialah dalam tataran praktis dan teknis untuk meneliti fakta secara objektif dan menyeluruh. Di sini godaan setannya lumayan berat.

Tambahan dari Pak PRM pada kolom komentar di facebook saya hari ini:

Karena statement saya dikutip, saya juga merasa perlu klarifikasi terkait apa yang saya maksud dengan “godaan terberat ada pada detail/rincian”, yang mungkin terjadi pada siapapun tanpa mengenal batas aktivis Islam atau non-aktivias Islam. Salah satu yang kerap terjadi ialah: tergoda untuk mudah memberikan label zalim pada hampir setiap fakta atau aturan hanya karena ada di darul kufur tanpa pandang bulu, tanpa mendetailkan mana sebenarnya fakta dan aturan bersifat ideologis, dan mana yang sebenarnya hanya dalam tataran praktis-teknis (uslub/wasilah). Padahal, boleh jadi fakta dan aturan yang ada di darul kufur memang berada dalam konteks ideologis yang hanya terjadi di sebuah negara yang menganut ideologi kufur. Selain itu, boleh jadi fakta dan aturan itu berada dalam konteks rincian bersifat praktis-teknis belaka yang bersifat universal, sehingga keberadaannnya tidak mengenal batas agama atau ideologi. Di negara dengan ideologi Islam maupun ideologi kufur, dimungkinkan ada fakta dan aturannya.

“Godaan berat dalam hal rinci” setidaknya ada dua bentuk: Pertama, godaan saat menggagas rincian uslub dari pelaksanaan sub-sub-sistem Islam. Contoh real yang pernah saya saksikan yakni ketika 2011 silam saya bertugas menemani atasan di kantor dalam sebuah forum skala nasional yang memiliki misi mengembangkan ekonomi Syariah untuk mendongkrak daya saing Umat Islam saat berkompetisi dengan Barat. Namun, dalam rincian uslubnya mereka menggagas MLM Syariah. Secara filosofis tidak bermasalah, namun dalam rincian uslubnya justru tergoda dan terjebak dalam pelanggaran terhadap Syariah. Kedua, godaan saat mengamati dan menilai rincian-rincian fakta dan aturan yang berlaku di pihak atau institusi yang tidak barazaskan Islam, misalnya negara kapitalistis. Dalam hal ini terjadi pada kasus kantong plastik berbayar. Menurut hemat saya sementara, peraturan kantong plastik berbayar berada dalam konteks rincian bersifat praktis dan teknis (uslub & wasilah). Peraturan semacam ini bukan khas dari wajah kapitalisme atau Islam. Karena itu, saya mengerutkan dahi manakala aturan ini diamati dan dinilai dengan cara mengeluarkannya dari konteks sebenarnya, lalu dibawa ke dalam konteks pembahasan bersifat ideologis (apalagi dengan mengorbankan mental karyawan Ind**art yang ketika melaksanakan aturan ini posisinya hanya sebagai ajir yang terikat dengan aqad ijarahnya, perilaku ini menunjukkan kegagalan dalam merinci terkait “siapa yang bertanggung jawab” dan “siapa yang tidak bertanggung jawab”).

Colchester, 28 Februari 2016

Advertisements

One thought on “Syaikh Atha’ Abu Rasytah dan The Devil (ODOP Day 51 of 99)

  1. Pingback: Daftar Lengkap Nulis Kurikulum 0-5 tahun di Inggris (ODOP Day 99 of 99) – Rumah kecil di seberang universitas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s