Kantong Plastik Berbayar dan 3 Orang Buta Meraba Gajah (ODOP Day 50 of 99)

gamal-pangeran charles

Dokter Gamal Albinsaid dan Pangeran Charles beserta perwakilan Unilever (sumber gambar 4muda.com)

Prof. Ir. Agoes Soegianto, DEA, dosen di Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga, menyatakan bahwa kebijakan plastik berbayar belum dirasa tepat. Cara paling efektif menekan jumlah limbah plastik adalah dengan memperbaiki proses pengolahannya.

Prof. Agoes menyatakan bahwa penumpukan sampah di TPA masih bercampur aduk. Padahal, di beberapa ruang publik tempat sampah telah dibuat terpisah. Sebab, pemisahan sampah menjadi percuma dan limbah plastik akan sulit dipisahkan ataupun didaur ulang.

“Seperti kita tahu, pemisahan sampah di TPA (tempat pembuangan akhir) masih belum dilakukan. Ini murni tanggungjawab pemerintah yang harus mengurusnya,” ungkap Guru Besar bidang Ekotoksikologi FST UNAIR ini, lantas menambahkan, “Di beberapa negara maju, selain pemerintah mengimbau masyarakat untuk memisahkan sampah, mereka juga memiliki teknik pemisahan sampah di TPA. Sampah di TPA itu kemudian diolah hingga menghasilkan energi. Teknik pemisahan dan pengolahan itulah yang belum diaplikasikan di sini.”

Menurut Prof Agoes, kebijakan plastik berbayar tak akan bisa menyelesaikan masalah sampah plastik. Hal ini justru akan membuka peluang penyelewengan dana karena tidak adanya kejelasan aliran uang pengganti plastik.

Permasalahan sampah merupakan tanggungjawab pemerintah yang membutuhkan komitmen dan dukungan masyarakat. Untuk itu, perlu adanya imbauan untuk membuang sampah secara terpisah dan menjaga kebersihan lingkungan bagi masyarakat. Pemerintah juga harus memiliki komitmen dan tindakan untuk mengolah sampah.

“Penelitian mengenai pengelohan sampah telah banyak, dan sudah lama dilakukan. Sebetulnya, Indonesia sudah siap. Pemerintah saja yang belum berkomitmen ke arah sana,” tegas Prof. Agoes

Sementara Prof. Fahmi Amhar dari Badan Informasi Geospasial (BIG) menyatakan, “(Sampah) plastik seperti ini bisa dikurangi kalau orang kembali mau membawa wadah sendiri. Semisal beli susu atau kecap pakai botol sendiri, dan belanja bawa tas kanvas sendiri, seperti zaman tahun 1970-an. Kalau terlanjur ada, plastik-plastik ini juga bisa didaur-ulang, tetapi harus dikumpulkan dulu dengan rapi.

Namun mendorong orang memakai wadah sendiri, atau mengumpulkan untuk didaur-ulang, ternyata tidak cukup dengan himbauan, tetapi studi empiris di banyak negara, efektif dirangsang dengan insentif & disinsentif, berupa uang.

Misalnya, untuk mengurangi penggunaan plastik, mestinya harga barang yang beli tanpa kemasan plastiknya (kita bawa botol sendiri) bisa lebih murah. Atau kalau kita kembalikan kemasan bekasnya, kita dapat voucer discount, sekalipun cuma Rp. 200,-. Pasti orang akan berusaha mengumpulkan sampah plastiknya ke “bank sampah”. Ini namanya INSENTIF.

Sebaliknya, boleh-boleh saja dikenakan DISINSENTIF, misalnya barang dengan kemasan plastik apapun jadi lebih mahal, atau tas kresek plastik dihargai Rp. 200,-. Akhirnya orang akan terdorong untuk beli literan, atau bawa tas kanvas dari rumah.”

Sebetulnya bank sampah sudah (pernah) diberlakukan di Indonesia. Adalah dokter Gamal Albinsaid yang membuatnya pertama kali di Indonesia. Alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang ini penggagas Klinik Asuransi Sampah (KAS) Malang.

Klinik Asuransi Sampah (KAS) tentunya berbeda dengan klinik-klinik kesehatan lainnya. KAS dalam operasionalnya mengandalkan sampah yang dikumpulkan oleh anggotanya yang kini telah mencapai 500 orang (data 2013). Untuk menjadi anggota KAS persyaratannya cukup mudah. Setiap anggota hanya mengumpulkan sampah organik dan atau anorganik selama 1 bulan hingga sampah tersebut mencapai nilai 10 ribu rupiah. Jika sampahnya sudah mencapai nilai 10 ribu rupiah, maka anggota berhak mendapatkan Asuransi Sampah yang berlaku hanya di KAS saja. Karena bentuknya asuransi, maka setiap anggota harus mengumpulkan sampah senilai 10 ribu rupiah setiap bulannya.

Asuransi yang didapatkan setiap anggotanya yaitu asuransi kesehatan primer berupa perawatan dan pengobatan yang dilakukan di KAS tapi tidak sampai ke rumah sakit. Meskipun demikian, penyakit yang ditangani KAS tidak hanya penyakit-penyakit ringan seperti batuk dan pilek, tapi hingga darah tinggi, kencing manis, gangguan jiwa, infeksi, dan jantung. Obat yang didapat anggota adalah obat generik, jika anggota ingin obat bermerek maka petugas hanya memberikan resep untuk ditebus di apotik di tempat lain.

Sampah-sampah yang dikumpulkan dari seluruh anggota ada yang diolah menjadi pupuk dan dijual seharga tujuh ribu rupiah per kilogram, ada yang dijual ke pengumpul. Uang hasil dari penjualan sampah tersebut digunakan untuk biaya operasional KAS yang kini telah ada di 5 tempat.

KAS Malang mengantarkan dr. Gamal Albinsaid meraih penghargaan pertama untuk kategori pemuda Sustainable Living Young Entrepreneurs dari Kerajaan Inggris. Penghargaan Unilever Sustainable Living Young Entrepreneurs Awards ini diselenggarakan dengan kerjasama Universitas Cambridge.

Berkat program KAS inilah Gamal terbang ke Inggris dan bertemu dengan Pangeran Charles di awal tahun 2014. Gamal menjadi juara pertama dari 7 finalis yang diantaranya berasal dari Peru, Nepal, dan Nigeria. Gamal mendapat penghargaan Sustainable Living Young Entrepreneurs dari Kerajaan Inggris, menyisihkan 510 peserta dari 90 negara. Selain penghargaan, Gamal juga memperoleh uang sebesar 50.000 € atau setara dengan kira-kira 800 juta rupiah, dan dukungan dari Cambridge Programme for Sustainability Leadership (CPSL) dan Unilever untuk menjalankan sistem ini dalam beberapa bulan berikutnya.

Polly Courtice, direktur CPSL dan ketua bersama panel juri mengatakan “Kekuatan dan dinamisme finalis yang luar biasa mendorong dan menginspirasi para juri.”

***

Bagaimana membaca tiga berita di atas? Semoga kita tidak menjadi 3 orang buta yang meraba gajah kemudian mengatakan gajah sebagai bentuk yang panjang (karena hanya memegang belalainya), atau hanya bentuk pipih lebar (karena hanya memegang telinganya), atau hanya menganggap gajah sebagai balok tegak yang sangat besar (karena hanya memegang kakinya).

Di beberapa tempat di Indonesia, pemilahan sampah sudah berjalan. Sistem insentif semacam bank sampah sudah ada yang menginisiasi, dan sistem disinsentif baru dimulai seminggu.

Menurut saya tinggal dikuatkan saja kampanyenya. Mudah-mudahan tak lama lagi pemerintah tergerak untuk mengolah sampah menjadi energi. Seperti pendapat Prof. Agoes, “Indonesia sudah siap. Pemerintah saja yang belum berkomitmen ke arah sana.”

Dan pendapat yang ini, “Menurut Prof Agoes, kebijakan plastik berbayar tak akan bisa menyelesaikan masalah sampah plastik. Hal ini justru akan membuka peluang penyelewengan dana karena tidak adanya kejelasan aliran uang pengganti plastik.”

Menurut saya, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan saat ini:
1) Lakukan reduce, reuse, dan repair. Kurangi pemakaian kantong plastik dan sampah. Gunakan barang berulang-ulang, jangan gampang membuang sampah. Dan perbaiki dulu barang yang rusak, jangan langsung dibuang.
2) Secara berkelompok mengubah pola hidup ke arah yang lebih ramah lingkungan (agenda partai atau pengajian, konsumsi jangan lagi pakai styrofoam, mengawal dana pengganti kantong plastik, laporkan jika ada bukti kuat terjadi korupsi atau penyelewengan dana, misalnya memiliki bukti supermarket mempromosikan kantong plastik; foto, lengkapi dengan kronologi kejadian, posting di medsos)
3) Mendorong pemerintah  mengawal dana kantong plastik dan berkomitmen mengolah sampah menjadi energi (recycle).

Sumber tulisan:
Kebijakan Plastik Berbayar Tak Eektif Atasi Persoalan Sampah, Unair News. 23/2/2016
Insentif dan Disinsentif, status facebook Fahmi Amhar, 24/2/2016
Gamal Albinsaid, Dokter Muda yang Dibayar Dengan Sampah, 4muda, 8/5/2015
Klinik Asuransi Sampah raih penghargaan di Inggris, BBC 3/1/2014

Colchester, 27 Februari 2016

Advertisements

4 thoughts on “Kantong Plastik Berbayar dan 3 Orang Buta Meraba Gajah (ODOP Day 50 of 99)

  1. Setidaknya, mulai ada tindakan untuk masalah sampah lewat kantong plastik itu. Sedikit-sedikit supaya masalah sampah berkurang. Kalau buat pemisahan sampah, mungkin masih jauh. Soalnya, walau di tempat umum udah ada tempat sampah terpisah, kebanyakan masih asal buang tanpa melihat labelnya. Ini PR banget. Mesti langsung menyeluruh tapi tanpa bikin syok.

    Like

  2. Pingback: Daftar Lengkap Nulis Kurikulum 0-5 tahun di Inggris (ODOP Day 99 of 99) – Rumah kecil di seberang universitas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s