Plastik Berbayar, Solusi Inggris Si Negara Kapitalis (ODOP Day 49 dari 99)

plastic bag

Model: Krucils 1, krucils 2, Pakne Krucils
Reusable bags: produksi ASDA dan TESCO
Reading folder: produksi Bookstart
Lokasi : di depan rumah

Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Inggris pada tahun 2008, sampai Oktober akhir tahun lalu, saya termasuk orang yang malas membawa kantong atau tas sendiri ketika harus berbelanja baik belanja kecil (eceran) maupun belanja besar semacam sembako. Padahal sudah bertahun-tahun, supermarket seperti ASDA, TESCO, dan Sainsbury’s selalu menjual reusable bags (tas kanvas yang bisa dipakai berkali-kali) di seluruh lorong kasirnya.

Saya lebih memilih memanfaatkan fasilitas kresek gratis yang diberikan oleh toko-toko di Inggris. Dan hasilnya, saya pun menumpuk kresek di rumah. Kalau sudah buanyaaakkk, suami akan membawa kresek-kresek itu ke rubbish bins (lihat gambar di bawah) di setiap supermarket agar plastik-plastik itu bisa didaurulang.

rubbish bins

Sumber gambar: The Rubbish Bins Diet

Begitu seterusnya, sampai pemerintah Inggris memberlakukan bahwa mayoritas tas kresek akan dikenakan biaya tambahan. Tepat tanggal 5 Oktober 2015, pemerintah resmi memberlakukan kebijakan ini. Tas kresek dikenakan biaya 5pence. Sejak saat itu saya pelan-pelan mengubah perilaku. Suami membeli tas-tas kanvas yang konon lebih ramah lingkungan.

Hasilnya, sekarang kami punya sekitar 4 tas belanja ukuran superbesar.

Jadi kalau mau belanja besar, urutannya seperti gambar berikut ini:

tesco 1tesco2
Gambar 1. Persiapan sebelum belanja, bawa tas kanvas besar-besar.
Gambar 2 Selesai belanja, barang-barang belanjaan masuk mobil.
tesco3tesco4
Gambar 3. Di rumah belanjaan dibongkar dan disimpan
Gambar 4. Foto tas kanvas yang bisa dipakai ratusan kali
tesco6tesco5
Gambar 5. Tas kanvas disimpan menunggu belanja hari lain.
Gambar 6. Contoh tas plastik yang lebih kuat. Sekadar info, kalau tas kanvas harganya £1.50 (paling mahal), tas plastik begini cuma 10pence.

tesco7tas ASDA
Gambar 7. Kresek? Masih punya. Tapi sudah jauuuuhhhh berkurang dibandingkan sebelum ada kebijakan tas kresek dikenakan biaya.
Gambar 8. Resusable bag milik saya yang tertua, beli di supermarket ASDA minimal 2 tahun lalu, krn dulu di rumah lama supermarket terdekatnya ASDA. Sudah kusut, tapi masih kuat dan masih dipakai sampai sekarang.

Beberapa pertanyaan yang muncul:

Mengapa pemerintah Inggris tidak mengganti kantong plastik dengan kantong kertas, sehingga pembeli tetap mendapat kantong gratisan?
Jawab: Kebijakan semacam itu justru akan memantik berbagai kontra yang justru akan menggagalkan pemecahan masalah. Beralih menggunakan kantong kertas juga sebaiknya tidak dijadikan solusi, sebab, proses produksi kantong kertas justru mengorbankan lingkungan karena banyak pohon yang harus ditebang, diperlukan sumber energi untuk memproduksinya, dll.

Ke mana perginya uang yang dibayarkan untuk membayar tas kresek setelah 5 Oktober 2015?
Jawab: Di Inggris, Supermarket bekerja sama dengan LSM dan memberikan dananya untuk LSM. Terserah setiap supermarket mau bekerja sama dengan LSM yang mana. Data lengkap bisa diklik di sini Plastic Bag Charge, where will the money go? (The Guardian, 1 Oktober 2015)

Apakah kebijakan ini juga diberlakukan kepada toko-toko kecil?
Jawab: Secara resmi, tidak. Secara resmi, pemerintah Inggris hanya memberlakukan peraturan ini kepada supermarket yang memiliki 250 atau lebih karyawan full-time. Jadi jika sebuah toko adalah salah satu mata rantai dari sebuah supermarket atau toko dengan sistem waralaba (franchise), maka toko itu akan dihitung. Tetapi jika toko tersebut pemiliknya independen, atau waralaba tetapi pemiliknya memiliki karyawan full-time sejumlah kurang dari 250 orang, maka tidak termasuk yang diwajibkan mengenakan biaya terhadap tas kresek. Masih longgarnya peraturan kepada toko-toko ‘kecil’ dimaksudkan untuk membantu dan mendorong wirausaha kalangan usaha kecil dan menengah. Toko yang melanggar dikenakan denda £5,000 (sekitar Rp93 juta) dan nama buruknya diumumkan ke publik (The Telegraph, Okt 2015).

Efektifkah kebijakan ini di Inggris?
Jawab: Pada tahun 2014 saja, setiap orang rata-rata menggunakan 140 kantong kresek, dan artinya hanya untuk tahun 2014 saja, Inggris terbebani dengan 61.000 ton sampah kantong kresek (Independent, 5 Okt 2015). Hanya selang satu bulan setelah diberlakukan kebijakan tas kresek dikenakan biaya, pemakaian kantong kresek di TESCO turun 80-90% (The Independent, The Telegraph, BBC 4-5 Des 2015). Data di atas memang hanya data dari TESCO dan baru sebulan itu. Mungkin bisa membandingkan dengan data dari Negara maju lainnya. Tahun 2001, Irlandia menerapkan kebijakan pajak plastik (PlasTax). Awalnya, ketika kebijakan ini diterapkan, memang masih ada orang-orang yang menggunakan kantong plastik. Solusi berbasis pasar ini akhirnya berhasil menekan penggunaan kantong plastik ketika nominal pajak plastik cukup membebani. Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh Departemen Lingkungan Irlandia, ditemukan bahwa penggunaan kantong plastik telah turun hingga 93,5 persen. Penggunaan kantong plastik menurun dari 328 menjadi 21 kantong per orang setiap tahun (klik di Room for Children)

Mengapa pemerintah Inggris tidak melarang total pemanfaatan plastik?
Jawab: Saya meminjam pendapat Pak Rovicky Dwi Putrohari, “Plastik merupakan bahan modern hasil kajian ilmu kimia material yg menjadi penolong manusia. Banyak bahan bangunan synthetis yg memanfaatkan plastik. Coba kalau tidak ada bahan bangunan berbahan dasar plastik, saya yakin hutan kita sudah amblas dipakai untuk membuat papan kayu. Mungkin kalau tidak ada plastik bisa saja Harimau, Macan, Sapi dll juga sudah punah karena kulitnya dipakai untuk menutup kursi sofa. Plastik memang tidak mudah diurai oleh jasad renik di alam. Tapi kita tahu bahwa bahan plastik itu dapat didaur ulang. Artinya tugas manusia jugalah yg harus menguraikan bahan plastik supaya dapat digunakan lagi. Jadi jangan anti plastik. Tapi budayakan mengelola sampah dengan benar.”

Apa kita bebas membuang sampah jika bahannya bisa didaurulang?
Jawab: Sebenarnya, bukan hanya plastik saja yang sebaiknya dikurangi, penggunaan sampah lainnya pun demikian. Taruhlah kita menggunakan paperbag, jangan sekali pakai terus buang. Simpan, dan kalo kondisinya masih baik, pakai lagi buat belanja berikutnya. Kertas memang bisa didaur ulang, tapi tetep butuh waktu dan biaya. Karena itu tahapannya reduce, reuse, recycle. Jadi mengurangi dulu (reduce), setelah itu baru reuse yang artinya gunakan kembali, kalo sudah tidak bisa baru recycle alias daur ulang. Bahkan ada juga yang menambahkan sebelum recycle, repair dulu. Jadi kalo rusak jangan buru-buru dibuang, selagi bisa diperbaiki, coba diperbaiki dulu, kalau tidak bisa baru recycle. (Mbak Rahmi Aziza)

Mengapa di Inggris kebijakan kantong kresek kena charge bisa diberlakukan tanpa kehebohan, sementara di Indonesia mengundang resistensi sebagian kecil masyarakat?
Jawab: Setiap kebijakan pasti akan mengundang pro-kontra di awal. Tapi kalau mau dibuat tuisan agak panjang, saya pikir karena tiga faktor. Pertama, faktor individu yang belum mampu mengindera dalam jangka panjang mengapa sampah plastik perlu dikurangi. Yang pertama kali mereka indera adalah, pengeluaran tambahan untuk membeli kresek, karena belum terbiasa membangun habit baru memakai reusable bags. Kedua, selama ini di tengah masyarakat Indonesia minim pendidikan terkait pelestarian lingkungan. Bisa dimaklumi, karena bagi sebagian besar rakyat kebutuhan pokok saja belum terpenuhi sehingga sulit diharapkan untuk memiliki kepedulian terhadap isu-isu yang tidak langsung mengancam jiwa atau agama. Ketiga, penegakan hukum di Indonesia yang lemah. Harus diakui, selama ini pemerintah Indonesia sering mengeluarkan kebijakan yang memberatkan masyarakat. Di sisi lain hukum sangat tumpul ketika berhadapan dengan pemegang uang. Misalnya dalam kasus Nenek Asiani (63 tahun) yang dijatuhi sanksi kurung 1 tahun karena mencuri 7 batang kayu VS berbagai kasus megakorupsi, termasuk menguapnya kelanjutan berita penetapan Kapolri terhadap dua belas (12) perusahaan tersangka pembakar hutan dan lahan penyebab kebakaran tahunan di Riau (BBC, 12 Okt 2015).

Karena itu bisa dimaklumi jika lantas muncul kelompok masyarakat yang kemudian terkesan ‘over-kritik’ terhadap pemerintah Indonesia. Pemerintah jelas perlu selalu dinasihati dan dikritik (dimuhasabahi). Meski tentu harus selalu diingat ‘komposisi kritik, indikasi, kontraindikasi, efek samping, dosis, dan bagaimana kritik itu diberikan’.

Maka jika menginginkan kebijakan plastik berbayar ini didukung mayoritas masyarakat, diperlukan lebih banyak individu yang sadar pentingnya menjaga kelestarian lingkungan, kelompok/organisasi yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan hidup, dan setidaknya negara harus menunjukkan bukti mampu mengawal dana pembayaran kresek hingga sampai ke tangan yang berhak misalnya LSM, dan bukan sekadar memperkaya pengusaha ritel.

Akhirul kalam…

Plastik berbayar adalah solusi negara-negara maju Barat termasuk Inggris yang kapitalis. Persoalannya, apakah seluruh yang berasal dari Barat harus selalu kita terima atau harus selalu kita tolak? Di sinilah pentingnya seorang muslim tidak hanya berilmu dalam urusan memfatwakan ‘dalil terkuat’, tetapi juga memiliki pengetahuan untuk ‘memahami fakta yang benar’. Karenanya menjadi penting untuk senantiasa merenungkan firman Allah Swt, “Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan yang diberi ilmu di antara kamu sekalian, beberapa derajat.” (QS Al Mujadalah 11).

Jadi, beriman harus senantiasa dibarengi dengan berilmu.

Colchester, 26 Februari 2016

 

Advertisements

28 thoughts on “Plastik Berbayar, Solusi Inggris Si Negara Kapitalis (ODOP Day 49 dari 99)

  1. Salam kenal mbak, setuju sekali.

    Pertama kali baca thread dr bpk yg protes itu, langsung terpikir kl bpk ini dlm fase denial tanpa berpikir jk pjg. Saat pertama kali di Jerman (ato mkn di negara maju y) br th kl di bbrp supermarket hrus bayar u kreseknya dg harga (5000-15000/kresek), jd memang efeknya org2 sdh bw tas belanja dr awal atau tas punggung. Proyek ttg pengurangan kresek ini jg dicanang o para anak muda yg peduli lingkungan.

    Like

  2. Salam kenal, Mak. Suka sekali sama tulisan ini.
    Setuju sekali. Memang sampah plastik harus dikurangi, juga sampah2 lainnya. Dan terutama, yang suka saya keluhkan adalah perilaku buang sampah sembarangan yang masih saja jadi budaya sebagian orang Indonesia.

    Tak mengapa ada konflik di awal. Pada akhirnya kalau kebijakan ini harus jalan, semua orang akan dan HARUS belajar.

    Terima kasih sudah berbagi 🙂

    Like

  3. ya sedikit-sedikit harus dimulai ya mbak. asalkan pemerintah berani menjamin kebijakan ini tidak akan berganti kecuali sekian puluh tahun kemudian. jangan sampai ganti pimpinan ganti kebijakan.

    dan yang penting adalah adanya proses pengolahan sampah. jangan cuma berhenti di TPA. satu kabupaten satu tempat pengolahan sampah, saya kira perlu

    Like

  4. Detil sekali, sukaa

    Setuju Mb, utk bbrp kebijakan pemerintah terkesan terburu2 dlm mensahkannya, wajar banget rakyat syok,

    Kalau dari awal ada edukasi, dan proses yg bertahap utk mensahkan kebijakan, mungkin responnya gak sereaktif ini, dan bs jd respon tersebut adalah akumulasi dr aksi aksi dari pemerintah kali ini,

    Wallahua’alam,

    Salam kenal Mb

    Like

  5. Sebenarnya tidak sulit cuma orangnya saja yang malas mengubah kebiasaan. Kresek yang masih bagus (tidak koyak) bisa dilipat rapi, dimasukkan ke tas, dompet, dashboard mobil, bagasi motor, bahkan diselipkan ke kantong celana/rok. Jadi kalau di tengah perjalanan tiba2 butuh ke minimarket plastik kresek selipan tadi bisa dipakai. Saya sudah praktekkan dan bahkan bisa bagi-bagi plastik ke ibu-ibu yang sama-sama antre di kasir yang tidak membawa kresek. Sampai di rumah ya dilipat lagi, diselipkan lagi ke tas/dompet, dsb

    Like

  6. Membaca pro & kontra, saya sendiri bisa memahami keduanya. saya pikir yang pro juga jgn terlalu melecehkan yg kontra seolah mereka belum paham lingkungan. Saya setuju juga yang pro mulailah dari hal kecil. Kalau bicara lingkungan byk kok prilaku kita yg secara ga sadar berdampak buruk pada lingkungan, seperti pemakaian tisu, minyak goreng, dll. Saya setuju dengan pendapat di atas bahwa ga usah takut dengan plastik, karena bisa didaur ulang. Diatas juga disebutkan untuk membangun kesadaran masyarakatnya ga secara serta merta langsung diterapkan plastik berbayar. apalagi pada prakteknya byk juga toko disini gy malah memaksa supaya pake plastik berbayar itu.

    Like

  7. Sebaiknya Pemerintah dan retail juga gencar sosialisasi ke mana uang kresek itu agar konsumen tidak suudzon kepada retail atau pembuat kebijakan ya, Mbak.
    Kalau saya biasanya minta kardus aja, selain bisa dimanfaatkan lagi, juga barang lebih aman. Natanya di kendaraan lebih mudah. Hehe

    Like

  8. Nice …

    Sebenarnya kita hanya harus pulang … kembali ke tradisi lama kita. Seperti saat mbah-mbah kita belanja dengan membawa sendiri keranjang belanjjan mereka. Bukan hal aneh atau mengada-ada, karena kita pernah bisa dan terbiasa.

    Like

  9. Halo mbak, salam kenal. Saya juga setuju dengan plastik berbayar. Meski sebelumnya tiap belanja yang bisa dibawa aja atau dimasukkin motor, saya selalu menolak kantong plastik dari mbak kasir. Malas aja ngurusnya di rumah.

    Semoga makin banyak yang sadar dan mau belajar ttg pengolahan sampah. Pemerintah juga moga jujur mengalokasikan duit kantong plastik untuk kegiatan sosial.

    Like

  10. Halo mbak, saya juga setuju dengan plastik berbayar yang di terapkan. Malah sebelum kebijakan ini ada, saya memang suka enggak mau pake plastik kalo belanjaan sedikit. Kalau banyak, ya pake. Tapi sekarang udah bawa canvas bag kemana – mana, biar kalau belanja banyak, ada tempatnya. ^^

    iamvinaeska.blogspot.com

    Like

  11. krn issue plastik berbayar ini, aku ngeliat toko2 online jd pada bnyk jual tas2 kain/kanvas utk blanja :D.. aku jd td baru borong banyak ;p hihihi.. tp memang bnyk org indo yg mindsetnya blm bisa trima mslh bgini sih mba.. mikirnya rugiiii aja krn hrs bayar 200 perak -__-.. hadeuuh, pd ga bisa mikir panjang ke depannya apa efek dr plastik..

    Like

  12. Jujur saya pun (sedang) membuat artikel yang membahas masalah “Diet Kantong Plastik” masih dalam draft, belum rampung karna perasaan masih banyak kurangnya.

    Suka banget ulasannya mba tentang fenomena si kantong plastik ini. Alhamdulillah tambah lagi pengetahuan.

    Makasih share ilmunya ya, mba.

    Salam,
    Zia

    Like

  13. Memang, hierarki penanganan sampah itu bermula dari reduce duluan, baru reuse & recycle pilihan terakhir. Bukan kebalik. Itu yg saya pelajari dari kegiatan lingkungan selama ini,

    Ulasannya mantap, Mbak. Kita bisa belajar dari negeri mana pun sepanjang itu tidak bertentangan dg hukum alam & agama :).

    Like

  14. Pingback: Daftar Lengkap Nulis Kurikulum 0-5 tahun di Inggris (ODOP Day 99 of 99) – Rumah kecil di seberang universitas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s