Pada suatu malam pasca Chinese New Year (ODOP Day 33 of 99)

VB21962466

Rabu lalu saya dan suami menuju supermarket Tesco. Hari gelap dan dingin meski belum tepat jam tujuh malam. Di atas bangunan supermarket, bulan sabit besar menggantung di langit pekat. Langit terang bertaburan bintang.

“I want to do stargazing, now!” krucil merengek. Beberapa hari sebelumnya, salah satu kegiatan stargazing (melihat bintang lewat teleskop) yang sedianya akan diselenggarakan oleh sekolah, dibatalkan karena langit berawan. Sebagai gantinya siswa diberi tugas untuk melihat bintang lewat sebuah aplikasi di komputer atau tablet.

“Nanti kalau pulang ke ITB, ya, kita stargaze di Boscha,” Pakne krucil menjawab asal-asalan sambil tetap menyetir.

“Eh, Tahun Baru Cina itu sebetulnya pas bulan baru gitu atau bukan, sih?” saya membuka percakapan. Senin, para mahasiswa Cina di university menggelar hajatan besar dengan tarian Cina dan meja-meja makanan khas Cina. Sayangnya menurut saya tidak terlalu meriah. Soalnya sudah terbiasa di Nottingham perayaan Chinese New Year dirayakan meriah lengkap dengan barongsai dan kembang api raksasa di malam hari. Persis seperti merayakan Tahun Baru Masehi.

“Ya, iya, tahun barunya, 1 Muharram-nya, ya ketika bulan baru itu,” sambung Pakne krucil. Ia lantas ngetes, “Kamu ngerti nggak pergerakan bulan?”
“Ya khan dari bulan sabit, terus bulan seperempat, separuh, tiga perempat, terus bulan purnama gitu, khan?” jawab saya nggak yakin.”
“Bukan, Bu, posisi bulan setiap harinya. Letak bulan setiap hari itu tidak sama.”
“Maksudnya, kalau hari ini aku berdiri di bawah rambu lalu lintas itu,” saya menunjuk ke luar jendela, “dan hari ini jam 7 malam bulan berada persis menyentuh ujung atas menara Tesco, besok kalau aku berdiri di tempat yang sama dan jam yang sama, letak bulan akan berbeda?”
“Iya,” jawabnya. Agak lega mungkin, karena istrinya nggak sebodoh yang dikuatirkan. Lantas menyambung, “Aku yakin orang-orang yang meributkan metode ru’yatul hilal dan hisab itu pasti mayoritas tidak pernah praktik melihat hilal. Tidak tahu hilal itu bentuknya bagaimana, posisinya di mana, yang disebut ufuk itu apa, definisi dua-tiga derajat di atas ufuk itu maksudnya bagaimana, metode hisab itu ada berapa macamnya, yang penting ribut di media sosial…”

Saya===> langsung buang muka ke luar jendela. Merasa kesindir.

Tapi belakangan saya ‘bertaubat’, cukuplah memilih topik/tema/isu yang saya agak menguasainya. Kalau urusan kekafiran syi’ah, calistung sebelum umur 7 menimbulkan mental hectic, lengan robot Tawan ‘Iron Man dari Bali’, atau pro-kontra kereta cepat Jakarta-Bandung, jujur saya akan mengatakan, “Saya tidak tahu.” Yang saya agak bisa menelusuri referensinya adalah isu terkait dunia kesehatan.

Bagi saya, mengatakan, “Saya tidak tahu,” bukanlah hal yang tabu. Dan saya akan mengajarkan kepada anak-anak hal yang sama.

 

Colchester, 13 Februari 2016

Advertisements

One thought on “Pada suatu malam pasca Chinese New Year (ODOP Day 33 of 99)

  1. Pingback: Daftar Lengkap Nulis Kurikulum 0-5 tahun di Inggris (ODOP Day 99 of 99) – Rumah kecil di seberang universitas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s