Depresi, homoseks, dan selingkuh; salah siapa? (ODOP Day 32 of 99)

123

sumber gambar ilustrasi: google images

Hari itu adalah salah satu hari di mana saya menjalani masa pendidikan di bagian Psikiatri (Ilmu Kedokteran Jiwa). Pasien di hadapan saya adalah seorang mahasiswa universitas negeri di Malang, baru tingkat 2 atau 3. Belum tahun terakhir. Rujukan dari bagian IPD (Ilmu Penyakit Dalam).

Saya membaca sekilas diagnosis dari rekan-rekan di IPD; Tentamen suicide (percobaan bunuh diri).

Saya pun mulai ‘mengobrol’ untuk menggali data pasien. Dimulai dari hal-hal umum semacam nama, alamat, usia, sampai akhirnya saya bertanya, “Mbak, dirawat di rumah sakit, kenapa?”
“Keracunan obat,” jelasnya. Dalam percakapan lebih panjang, terungkap bahwa beberapa hari sebelumnya pasien masuk rumah sakit lewat IRD/UGD karena mengonsumsi paracetamol ratusan butir. Ia mencoba bunuh diri. Alasannya?
“Pacar saya memutuskan saya,” ia mulai terisak-isak.
Dan saya…….. Merasa ingin melompat dari bangku yang saya duduki, mengguncang-guncang bahunya, dan  berteriak di telinganya, “Halo, Mbak, umurmu masih 20 tahunan! Jalan masih panjang! Kalau diputuskan pacar saja sudah ingin mati, bagaimana dengan hidupmu di masa mendatang?”

Tapi tentu saja saya tidak melakukan itu. Yang saya lakukan, sesuai prosedur, adalah meneruskan beliau kepada dosen saya yang memang psikiater.

Ketika masih kuliah saya punya teman mengaji. Cantik, dan sholihah. Mahasiswi fakultas selain kedokteran. Tak banyak yang mengetahui bahwa Si Cantik bersemangat mengaji karena memendam perasaan mendalam kepada seorang ikhwan, teman baik keluarganya, yang sudah sangat jelas hanya menganggapnya sebatas kenalan belaka.

“Kamu ini, lho,” kata saya suatu ketika, “Kalau mau cowok yang lain, yang mana saja, bisa milih. Kok maunya sama Mas yang itu… Mbok yang lain…”
Dan ia selalu ketawa-ketawa kecil mendengar omongan saya. Membicarakan Si Mas selalu membuatnya nampak teramat sangat bahagia. Seolah dunia adalah taman bunga. Sehidup semati, mereka akan susah senang bersama begitu pikirnya.

“Aku seneeeengggg banget,” ungkapnya suatu ketika, “Sudah beberapa bulan ini aku berhenti minum obat antidepresi.”

Saya, yang waktu itu belum lulus sarjana, menganggu-angguk. Tapi sambil mikir, kayaknya tetep ada yang nggak beres denganmu tapi aku juga nggak tahu apa itu. Skizofrenia jelas bukan. Okelah.

Setelah lulus sarjana dan sedang menempuh pendidikan profesi di RS, karena sibuk banget, kami jarang kontak. Hingga suatu ketika HP saya menerima banyak SMS, :
Mas X akan menikah dengan perempuan lain! Hatiku hancur!
Apa yang harus kulakukan? Aku sudah tidak ingin hidup lagi.

Secara kita ‘anak pengajian’, saya pun berusaha sedikit ‘mentaushiyahi’-nya, sambil sesegera mungkin meluangkan waktu mnemuinya. Sayangnya, yang namanya segera itu baru bisa terjadi beberapa pekan kemudian.

Si Cantik memutuskan mundur dari pengajian. Putus hubungan dengan semua teman pengajian. Termasuk saya.

Saya, memutar mundur beberapa ungkapannya, “Kalau malam aku sering nggak bisa tidur. Nyanyi-nyanyi sendiri. Bersih-bersih kamar. Bersih-bersih rumah. Sering sampai bingung, mau ngapain lagi… Sudah bersih semuanya…”

Kalau sekarang, mungkin mirip profil salah satu aktris sinetron yang pernah muncul di Just Alvin dan didiagnosis mengidap gangguan bipolar. Tapi Si Cantik nggak sampai separah itu. Meski oleh psikiater (yakni, salah satu dosen saya), sempat diresepi antidepresi.

Dua orang muslimah adik tingkat juga memutuskan berhenti mengaji. Secara dramatis.

Begini ceritanya. Kedua muslimah yang juga cantik jelita ini sebelumnya sudah menunjukkan gejala sangat mudah terpengaruh lingkungan. Kok ndilalah ketika KKN mereka satu kelompok dengan seorang mahasiswi cerdas dan penampilannya sangat mirip dengan laki-laki. Sejak KKN, keduanya tak bisa lepas dari Si Tomboy. Sampai akhirnya sambil menangis-nangis, keduanya memohon maaf karena memilih berhenti mengaji.

Ketika kami hanya berdua, seorang muslimah seangkatan saya menarik napas dalam sambil berkata, “Punya adik ngaji seperti mereka berdua itu rasanya seperti memegang emas berlian, selalu ada perasaan takut kuatir kehilangan, karena mereka sendiri seperti barang yang tidak bisa menjaga dirinya sendiri…”

Sebetulnya kami curiga kedua muslimah cantik tersebut ‘ada apa-apa’ dengan si gadis perkasa. Tapi… ini kejadian belasan tahun lalu. Dan kami tidak punya bukti apa pun.”Naluri untuk seksual (gharizah an nau’) itu juga bisa terbangkitkan meski dengan sesama jenis,” begitu menurut pengajian, “karena itu meski sesama lelaki atau sesama perempuan, tetap ada batasan aurat. Tidak boleh mandi rame-rame berbarengan semuanya telanjang bulat.”

Setelah bertahun-tahun berumahtangga, saya mendapati kisah rumah tangga dilanda prahara karena istri selingkuh. Sebetulnya sang istri orang baik-baik. Perempuan rumahan. Sayang keluarga. Kita sebut saja namanya Mbak Manis.

Persoalan datang ketika suami harus sering berlama-lama di laboratorium universitas dalam rangka merampungkan studi S3-nya. Setiap kali ada persoalan ‘kecil’ semacam anak sakit, istri sakit, perlu diantar ke suatu tempat, maka yang mengantarkan adalah seorang mahasiswa lain, laki-laki, yang masih single. Komunitas Indonesia di kota tersebut membiarkan hal itu terjadi berbulan-bulan. Bahkan setiap ada persoalan di dalam rumahtangga Mbak Manis, maka seolah sudah lumrah yang ditunjuk untuk menyelesaikan adalah Si Mas Bujangan.

Akhirnya Mbak Manis jatuh cinta beneran dengan Si Mas Bujangan. Persoalan menjadi rumit ketika Mbak Manis mengaku kepada teman saya bahwa dia sudah diapa-apakan oleh Si Mas Bujangan tanpa sepengetahuan suaminya.

Beruntung kasus berakhir cukup damai. Suami lulus PhD. Sekeluarga pulang kembali ke Indonesia. Si Mas Bujangan lulus PhD dan bekerja di mancanegara.

Banyak pula kasus-kasus rumah tangga berantakan karena ‘suami sibuk kuliah PhD’.

Ketika mendapati cerita-cerita demikian yang terlintas dalam benak saya, “Lha wong ditinggal sekolah, kok bisa selingkuh? Kok bisa segitu gampangnya jatuh cinta pada lelaki lain? Lha iya kalau suaminya itu bukan laki-laki baik-baik. Lha ini khan, cuma ditinggal ke university di situ-situ aja…???”

Tapi ada juga, khan, Bu Dokter ditinggal suami sekolah spesialis, jadi ikut Gafatar? Dokter ternyata juga manusia. Bisa batuk, bisa pilek, bisa terpengaruh lingkungan yang rusak…

***
Terus terang sebelum menikah saya sering tidak bisa memahami teman-teman yang menurut saya memiliki ‘ambang batas perasaan yang rendah’. Tapi sepertinya itu bukan melulu kesalahan individunya. Kelihatannya itu bagian dari takdirnya.

“Kalau di kedokteran, nih, Yah,” kata saya kepada suami, “ada anak-anak yang memang terlahir dengan kondisi immunocompromised, imunitas tubuhnya lemah. Ya sudah qadha’ memang dia terlahir begitu. Anak-anak seperti ini nggak bisa divaksinasi, padahal gampang terinfeksi. Yang menolong dia adalah anak-anak di sekelilingnya yang vaksinasinya lengkap. Sehingga komunitas yang memiliki daya tahan tubuh tinggi inilah yang menjadi pagar pelindung  bagi anak-anak immunocompromised…”

Saya baru memahami setelah punya 4 anak dan semua memiliki daya tahan tubuh yang berbeda-beda. Padahal lahir dari ortu yang sama, dididik dengan cara yang sama, diberi makan relatif persis sama, divaksinasikan semua. Tetap saja ada yang mudah capek, ada yang cuma gampang eksema, ada yang kemungkinan berbakat asma, tapi ada yang relatif sangat sehat jarang kelihatan capek dan hampir tidak pernah sakit. Daya tahan tubuh anak saja berbeda-beda.

“Nah, teman-temanku (yang saya ceritakan di atas) itu kelihatannya juga begitu… Harus ditempatkan di lingkungan yang bertakwa. Soalnya mudah banget terpengaruh lingkungan. Orang-orang semacam itu harus selalu berada di lingkungan orang-orang yang bertakwa. Lingkungan yang bertakwa ini yang akan menjaganya karena dia tidak bisa melindungi perasaan dan nalurinya sendiri secara mandiri…”

Terkait homoseksual, Dokter Roslan Yusni Hasan (Ryu Hasan) menganggapnya sebagai faktor bawaan, alias takdir. Pak Salis, yang sedang menempuh pendidikan S3 bidang psikologi klinis di Institute of Neuroscience Newcastle, menyatakan, “Sekali lagi, sampai sejauh ini belum ada bukti dari penelitian causalitas di ranah neurology terkait LGB. Merujuk diatas, dengan demikian tidak perlu saya memaparkan bagaimana banyaknya literatur yang mendukung bahwa orientasi seksual (termasuk LGB) sangat mungkin lebih terkait proses psikologis, bisa jadi factor belajar, trauma masa kecil, masa pembentukan identitas seksual yang bermasalah, atau mungkin saja factor social juga berpengaruh, misalnya sub-culture dan gaya hidup. Pada sisi inilah perilaku LGB bisa menyebar.” (Perlu Suryakanta Untuk Membedah LGBT: Membedah Pandangan Dr. Ryu Hasan, Muhammad Salis Yuniardi)

Jadi untuk teman-teman dan adik-adik yang merasa ada bakat menjadi homoseks, belum ada bukti bahwa homoseksual adalah penyakit yang disebabkan kelainan saraf atau otak. Kecenderungan untuk berorientasi seksual yang salah adalah penyimpangan yang insyaAllah masih bisa diluruskan dengan terapi dengan psikolog, juga bergaul dengan orang-orang yang sholih.

Di sisi lain, bagi orang tua yang menginginkan anak-anaknya tumbuh menjadi insan yang bertakwa, tidak bisa hanya mencukupkan diri menanamkan nilai-nilai moral atau agama kepada anak, tetapi juga harus mengupayakan terwujudnya lingkungan sosial yang bertakwa. Karena depresi, penyimpangan seksual termasuk lgbt, dan perselingkuhan; bukan semata kekhilafan pelakunya, tetapi bisa terjadi karena orang di sekeliling tidak menyadari atau mendiamkan individu yang berpotensi menjadi korban depresi, atau berpotensi menjadi pelaku penyimpangan seksual dan perselingkuhan.

Memang ini menjadi pekerjaan sangat keras karena dunia saat ini tidak diatur dengan sistem yang dilandaskan pada ketakwaan. Tetapi ada yang harus memperjuangkannya. Bukan saja untuk diri kita sendiri, tetapi juga untuk anak cucu kita di kemudian hari.

Colchester, 11 February 2016

 

Advertisements

5 thoughts on “Depresi, homoseks, dan selingkuh; salah siapa? (ODOP Day 32 of 99)

  1. Pingback: Daftar Lengkap Nulis Kurikulum 0-5 tahun di Inggris (ODOP Day 99 of 99) – Rumah kecil di seberang universitas

  2. Pingback: Cantik, Ganteng, Pinter, Kaya… Kok Bunuh Diri??? (ODOP Day 29 of 99) – Rumah kecil di seberang universitas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s