Jadi pasien kelas rakyat jelata di rumah sakit Inggris… (ODOP Day 23 of 99)

????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????

Queen’s Medical Centre, Nottingham, United Kingdom

Bagaimana rasanya jadi pasien kelas 3 di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di Indonesia? Saya hampir bisa memastikan, tidak akan ada yang mau. Sehat atau sakit, nggak akan kerasan. Karena itu kemudian muncul pertanyaan, bagaimana ‘rupa’ rumah sakit di dalam sistem pemerintahan Islam (khilafah)?  Apakah ada sistem kelas 1, kelas 2, kelas 3? Apakah setiap pasien harus memiliki ruangan sendiri, minimal seperti di kelas 1-nya RSUD?

Sebetulnya saya juga tidak tahu jawaban dari pertanyaan semacam itu. Barangkali yang terdekat sebetulnya mengambil contoh bagaimana ‘rupa’ rumah sakit di negeri-negeri Islam yang kaya-makmur saat ini, yang sayangnya saya juga belum pernah masuk ke dalamnya.

Kalau pengalaman saya sebagai pasien kelas rakyat jelata, yang saya pahami terapi yang saya terima sebetulnya sama dengan pasien kelas 3 di RS Pemerintah (minimal semacam di RS Saiful Anwar Malang belasan tahun lalu… hehe). Perbedaannya barangkali ada pada fasilitas penunjangnya.

Misalnya, sebagai pasien, tentu saya mendapatkan tempat tidur (bed) sendiri, tidak harus berbagi dengan orang lain. Pada pasien dewasa, pasien lelaki dan perempuan dipisahkan *bangsalnya*. (Soal ada pasien yang butuh perawatan khusus, misalnya menderita penyakit menular berbahaya sehingga perlu ditaruh di ruang isolasi, itu beda bahasan, ya).

Begitu pun soal bangsal. Di Inggris juga sama, kalau sakitnya nggak yang menular serius semacam tetanus atau TBC, pasien ditempatkan di  bangsal. Di satu bangsal yang besar itu dibagi beberapa *bilik* yang dipisahkan tirai. Sepertinya di ruang UGD/IRD Indonesia sudah diberlakukan begini, khan, ya?

Berikut ini gambar ilustrasi bangsal rumah sakit di Inggris. Yang pernah saya tempati ya mirip seperti ini, satu ruangan besar, lantas cuma disekat-sekat dengan kelambu untuk memisahkan antar bed pasien.

ruang rawat inap

Tentu saja privasi pasien bukan hanya dijaga oleh tirai, tapi juga peraturan di RS (misalnya pasien hanya boleh ditunggui satu kerabat, pasien dan keluarga tidak boleh merokok, diwajibkan menjaga ketenangan, tidak boleh melakukan tindakan rasis, dan sebagainya), dan tentu saja tingkat pendidikan umum masyarakat. Jadi walaupun ruangnya berupa bangsal yang dipakai ‘beramai-ramai’, dengan tingkat pendidikan pasien dan keluarga pasien yang *cukup tinggi*, perbandingan jumlah pasien dan tenaga kesehatan yang rasional, penghasilan tenaga kesehatan yang menenangkan, ini saja sudah cukup membuat RS Pemerintah manusiawi pelayanannya. Soal satu bangsal diisi sekian ‘bilik’ dengan hanya 1 toilet, 1 TV, 1 wastafel, di sini yang saya rasakan kondisinya juga sama seperti itu. Kalau di RS Swasta, baru bisa memilih, pesan mau kamar sendirian. Tapi kalau jadi pasien negara, ya nggak ada pilihan.

Yang berbeda barangkali adalah fasilitas untuk ibu melahirkan.

Saya jadi pasien melahirkan sebanyak empat (4) kali di Queen’s Medical Centre (QMC) Nottingham, sebuah teaching hospital alias rumah sakit pemerintah di Notingham.

Pasien yang sudah pembukaan 3 lebih, langsung ditempatkan di satu ruangan tersendiri, seperti gambar berikut ini

ruang bersalin di uk

Secara umum fasilitas di dalam kamar bersalin adalah:

  1. Hospedia – alat monitor dan komunikasi pasien, ada TV, radio telefon internet (bedside entertainment and communication system. Provides TV, radio, telephone and internet to patients.)
  2. Gas – gas and air, salah satu alat untuk mengurangi rasa sakit tetapi pasien tetap sadar. (gas and air is available for pain relief in all of the labour rooms, your midwife will show you how to use it.)
  3. Bed – tempat tidur yang punggungnya bisa dinaikturunkan (the bed height can be lowered and raised, which is useful to lean over for support when having contractions.)
  4. Bean Bag – bantal besar untuk membantu kalau pasien merasa lebih nyaman melahirkan di lantai (can be used on the floor or the bed to provide support when getting into different positions, it can also be useful for backpain.)
  5. Mat – matras (provides soft padding for standing, kneeling or sitting on.)
  6. Birth Ball – bola besar untuk diduduki, dengan harapan membantu mengurangi nyeri dan membantu bayi turun ke jalan lahir sehingga mempercepat proses persalinan (a large soft ball to use in labour. You can sit on it or lean over it. Pelvic rocking on the ball can help with pain relief and help your baby to move down the birth canal)

 

delivery room in uk1) Trolley – tempat meletakkan bayi yang baru saja dilahirkan untuk dibersihkan (on here is a small delivery pack, so it is available when your baby is born.)
2) Baby Resuscitaire – alat bantu pernapasan, sangat jarang dipakai jika kehamilan berjalan normal (at most births this is not used, but if required by the midwives or paediatricians (baby doctor), this equipment provides support at all levels for the baby, once born.)
3) Cot – tempat tidur bayi yang sudah dibersihkan dan diselimuti (can be used for your baby when not having skin to skin contact with, or feeding.)


delivery room in uk2 

Toilet yang menyatu dengan ruangan bersalin. Fasilitas yang pasti ada sih WC, wastafel, shower. Kayaknya saya dulu nggak dapet yang ada bathtub-nya… Kalau handuk saja, pasti ada…

delivery room in uk3

Birthing pool, alias kolam kalau mau melahirkan di dalam air

Pasien berhak menggunakan ruangan ini sampai bayi dilahirkan. Setelah melahirkan, jika tidak ada penyulit lainnya, kedua pasien (ibu dan bayi) bisa langsung dipindahkan ke bangsal seperti gambar di atas dan dirawa gabung, sama seperti penatalaksanaan di RSUD Indonesia.

Soal ‘kekejaman’nya, Inggris sama seperti di Indonesia. Kalau semua normal, ibu dan bayi diharapkan secepatnya keluar dari rumah sakit. Ketika melahirkan Fahdiy, saya menginap 2 malam, karena harus belajar menyusui dan baru dipulangkan setelah kelihatan bisa menyusui. Saat melahirkan Dinara, menginap dua malam, karena dokter jaga agak nggak yakin akan detak jantung Dinara dan perlu konsultasi ke dokter spesialis anak. Dara lahir pagi dan sorenya kami dipulangkan. Mahdi lahir sekitar jam 7 malam. Jam 9 malam sebetulnya saya sudah bisa pulang, tapi menunggu administrasi beres, sehingga baru keluar dari RS jam 12 malam. Kejam, banget, ya? Hehehe… Ya gimana, merawat pasien di RS itu juga perlu duit, bukan daun. Semakin cepat pasien ke luar semakin rendah biaya yang harus dikeluarkan oleh negara.

Kebijakan vaksinasi pun sebetulnya Indonesia sama persis dengan Inggris. Sedikit perbedaan mungkin dari sisi jenis vaksin yang diwajibkan oleh pemerintah, ini tentu mengikuti hasil penelitian terkait penyakit apa yang banyak diderita di setiap negara. Perbedaan yang lain, tentu saja soal fasilitas di lapangan, penghasilan tenaga kesehatannya, dan penegakan sanksi oleh aparat pemerintahan misalnya terhadap tenaga kesehatan yang menjual susu formula, yang ini sebetulnya bukan domain ilmu kedokteran murni.

Sebagai muslim, sebetulnya sulit menyerang sistem kapitalisme-liberalisme-sekulerisme dari sisi sistem pelayanan kesehatannya. Karena menurut saya sebagian besar adalah sains dan teknologi yang tidak terikat ideologi. Kalau di Indonesia sistem kesehatannya bisa diserang dari aspek pendanaannya, artinya dari sistem keuangan/ekonominya. Misalnya dalam kasus Jamkesmas, BPJS, dan sejenisnya

Tidak dipungkiri memang banyak kebijakan dalam sistem kesehatan Inggris yang berkaitan erat dengan ideologinya. Misalnya:
1) Legalisasi alkohol. Di dalam islam alkohol sudah jelas haram. Titik. Jadi tidak perlu menghabiskan banyak dana utk riset demi menentukan berapa dosis alkohol yang *aman bagi ibu hamil*, misalnya.

2) Kewajiban vaksinasi HPV bagi remaja putri dan gratis untuk perempuan usia remaja sampai 18 tahun. Vaksinasi ini diwajibkan dan digratiskan dalam rangka mencegah kanker leher rahim (kanker serviks) yang disebabkan Hman Papilloma Virus (HPV). Virus ini penularannya lewat aktivitas senggama. Dengan kata lain yang berpotensi besar ketularan virus ini dan jadi kanker serviks adalah mereka yang berganti-ganti pasangan seksual. (please correct me if i’m wrong)

Kalau pergaulan bebas/seks bebas diharamkan seharusnya nggak perlu negara mengeluarkan dana untuk vaksinasi HPV (ini pendapat yang musti diriset lagi kalau sistem pergaulan Islam berhasil ditegakkan sempurna).

3) Soal bank sperma, di mana perempuan boleh beli sperma dan punya anak tanpa menikah

4) Bank ovum untuk membantu perempuan lain yang bermasalah sehingga tidak memiliki rahim atau tidak menghasilkan sel telur.

5) Surrogate mothers (ibu tumpang) di mana embrio bayi tabung ditanamkan ke rahim perempuan yang bukan istri.

6) Penatalaksanaan pasien HIV/AIDS. Menurut saya pribadi, selama lesbian-gay-biseksual-transgender-pelacuran-perzinahan tidak dihapuskan dari muka bumi, sulit mengatasi sebaran HIV/AIDS. Secara konsep, hanya sistem Islam yang mampu menghapuskan HIV/AIDS dari muka bumi. Soalnya di negara maju yang teknologi vaksinasi dan kedokterannya canggih sekali pun, HIV/AIDS tetap ada seiring dengan eksisnya LGBT+PP yang saya tulisan di atas.

Jadi kalau menurut saya, sudah semestinya para tenaga kesehatan muslim memiliki kepedulian dan kontribusi untuk menegakkan syariah Islam. Soalnya, sejauh ini sih, saya nggak melihat solusi persoalan kesehatan secara komprehensif di dalam sistem selain Islam.

Sumber gambar:
Nottingham Post
Worcester Acute Hospital NHS Trust

Colchester, 31 Januari 2016

Advertisements

One thought on “Jadi pasien kelas rakyat jelata di rumah sakit Inggris… (ODOP Day 23 of 99)

  1. Pingback: Daftar Lengkap Nulis Kurikulum 0-5 tahun di Inggris (ODOP Day 99 of 99) – Rumah kecil di seberang universitas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s