Buku sastra klasik untuk anak SD di Inggris (ODOP Day 2 of 99)

novel klasik

Matematika adalah puisi logika (Hadi Susanto, Tuhan Pasti Ahli Matematika, Bentang 2015)

Sebelum menikah saya sempat kepikiran, “Oh My God, masa sih saya musti berjodoh dengan orang yang hobi nulis puisi galau dan nulis pengantar Ayat-ayat Cinta? Please ya Allah, ubahlah judul novel itu menjadi ayat-ayat yang lain, apa pun, selain cinta…”

Baca novel cinta? Enggak gue banget! Tapi orang bilang nobody perfect, bukan? Dan demikianlah kami menikah dengan kado mungkin ratusan buku dari para sahabat dan kerabat yang sayangnya buku-buku tersebut sebagian terpaksa kami hibahkan karena tak mungkin kami bawa ke Amerika Serikat saking buanyaknya.

Sebetulnya pihak sekolah, di mana pun sekolah itu berada, sudah memberikan semacam panduan agar kita bisa membaca dan menulis. Alias melek literasi. Di tingkat sekolah dasar dan menengah, ini adalah bagian fundamental dari mata pelajaran bahasa dan sastra.

Di Inggris juga sama. Pelajaran bahasa (Inggris) memiliki derajat sama pentingnya dengan matematika. Bahkan bisa dikatakan induk dari semua mata pelajaran ya cuma dua itu, yang belakangan lebih dikenal dengan calistung (membaca, menulis, dan berhitung).

Target pelajaran bahasa dan sastra untuk siswa SD di Inggris dan Indonesia kelihatannya hampir sama, meliputi: 1) Kekayaan kosakata (breadth of vocabulary), 2) Ejaan (Spelling), 3) Tata bahasa dan tanda baca (grammar and puncuation), dan 4) Mengarang (writing skill).

Cara termudah untuk memahami pelajaran bahasa dan sastra adalah dengan membaca sebanyak-banyaknya, terutama sastra klasik. Karena itu secara pribadi saya juga membuat target krucils juga harus membaca karya-karya sastra sebagai bagian dari pembelajaran literasinya.

Teorinya sih begitu.

Prakteknya lain lagi. Anak SD di zaman sekarang, kalau dihadapkan dengan novel klasik anak-anak setebal 120 halaman, yang disandingkan dengan desktop, laptop, tablet, dan/atau smartphone, kira-kira mana yang dipilih?

Tapi ya jangan cuma menyalahkan anaknya.

“Ini khan gara-gara kamu laptop-an melulu,” saya nyari kambing hitam. “Anak khan niru orang tua di sekelilingnya. Kalau Bapaknya nggak pernah baca buku, gimana anak laki-laki mau hobi baca buku?”
“Bu, paperku di tas itu lho seabreg-abreg,” suami pasang tameng.
“Paper khan bukan buku!”
“Yang penting itu aktivitas membacanya!”

Bersyukur pihak sekolah memberikan jalan keluar. Setiap hari krucils diwajibkan membaca buku yang dipinjamkan sekolah. Wajib. Dicatat di dalam Reading Diary atau Reading Journal.

Setelah beberapa pekan menjalani kewajiban tersebut, ternyata sekarang jadi habit. Ada sih bolong-bolongnya… Tapi kita khan nggak harus sempurna 100% dalam melaksanakan sebuah program. Menurut saya sih kalau jalan sekitar 80-90% sudah lumayan.

Saya ingat ketika menghadiri salah satu pengajian Al Ikhlas di London dan melihat kedua remaja putri Mbak Nurani Susilo membaca novel. MasyaAllah, suatu hari nanti mudah-mudahan krucils juga seperti itu. Di jalanan, ketika melihat ada kakak kelasnya berjalan di trotoar sambil membaca Black Beauty-nya Anna Sewell (terbit pertama kali tahun 1877) saya nggak segan-segan menunjukkan kekaguman di hadapan anak-anak, “Eh, Mas, coba lihat Mas itu… MasyaAllah, Mas, dia baca buku, Mas! Dia baca buku yang bagus sekali!”

Tetapi sekolah tidak (atau belum) meminjamkan novel sastra klasik untuk krucils. Untuk mengetahui seperti apa sih rupa novel klasik anak-anak versi Inggris, beberapa bulan terakhir saya meminjam buku-buku jenis tersebut di local library.

Berikut beberapa novel klasik anak-anak yang saya khatamkan satu catur wulan terakhir:
The Phoenix and The Carpet (E. Nesbit, 1904)
James and The Giant Peach (Roald Dahl, 1961)
Charlie and Chocolate Factory (Roald Dahl, 1964)
Matilda (Roald Dahl, 1988)
George’s Marvellous Medicine (Roald Dahl, 1981)
The BFG (Roald Dahl, 1982)

Sempat minjem The Jungle Book-nya Rudyard Kipling yang pertama kali diterbitkan di tahun 1894(!!!) tapi muales banget mau baca. Terlalu maskulin… ehehehe…

Dulu sebelum punya anak sudah pernah mengkhatamkan serial Little House on The Prairie-nya Laura Ingalls Wilder (terbit pertama tahun 1932-1943) dan sekarang sedang berusaha menamatkan The Chronicle of Narnia-nya CS Lewis yang diterbitkan pertama kali di tahun 1949.

Ke depan, sebelum menyodorkan ke krucils, berikut ini daftar yang kayaknya saya musti baca:

The Road to Wigan Pier – George Orwell (old style paper) (pub date 1937) The Adventures of Tom Sawyer – Mark Twain (pub date 1876)
Jane Eyre – Charlotte Bronte (pub date 1847)
Kipps – H. G. Wells (pub date 1905)
Far from the Madding Crowd – Thomas Hardy (pub date 1874)
Tobermory – H. H. Munro (pub date 1909?)
Silas Marner – George Eliot (pub date 1861)
The Snow Geese – William Fiennes (pub date 2002)
The Mill on the Floss – George Eliot (pub date 1860)
Tess of the d’Urbervilles – Thomas Hardy (pub date 1891)
The Destructors – Graham Greene (pub date 1954)
Longitude – Dava Sobel (pub date 1995)
Bleak House – Charles Dickens (pub. date 1852-1853)
Hard Times – Charles Dickens (pub. date 1854)
Captain Corelli’s Mandolin – Louis de Bernières (pub date 1994)
Atonement – Ian McEwen (pub date 2001)

Sebetulnya kenapa kita ‘wajib’ membaca karya sastra klasik? Terus terang saya juga nggak tahu. Hanya saja saya merasa saya lebih bisa memahami keindahan novel klasik anak-anak berbahasa Inggris, setelah membacanya sekarang. Baru terasa bahwa novel klasik kata-katanya dirangkai dengan elok dan memiliki unsur seni yang tinggi. Gaya bahasanya, amanatnya, alurnya, ternyata indah. Dan sudah pasti bahasanya anti-alay.

Dulu pas zaman SMP-SMU, muales banget kalau dikasih tugas membaca karya sastra mengarang, atau menulis puisi. Sekarang, baru deh harus belajar lagi tentang bahasa dan sastra. Mana bahasa Inggris pula!!!

Jujur saya menyesal, kenapa dulu ketika masih tinggal di Indonesia nggak menyempatkan banyak membaca karya klasik sastrawan Indonesia. Tapi zaman saya sekolah SMP sampai kuliah, memang sulit sekali mencari novel klasik di toko buku. Novel klasik Indonesia mulai bangkit setelah Rangga (Nicholas Saputra) membawa buku Aku karya Sjuman Djaja ke mana-mana di Ada Apa dengan Cinta?. Film yang melambungkan Dian Sastro itu, membuat buku yang berjudul lengkap AKU : Berdasarkan Perjalanan Hidup dan Karya Penyair Chairil Anwar itu bertengger di toko buku-toko buku papan atas di Surabaya dan Malang selama beberapa pekan.

Barangkali kita tidak selalu sepakat dengan muatan yang disampaikan oleh penulis di novelnya. Dan barangkali karya klasik Indonesia yang cocok untuk anak SD, memang belum banyak. Tantangan nih untuk para penulis cerpen dan novel anak.

Tetapi kalau mulai berpikir untuk membaca novel sastra klasik Indonesia, mungkin bisa dimulai dari beberapa di bawah ini. Ngomong-ngomong, Ayat-ayat Cinta ternyata termasuk di dalam daftar… hehe…

100 Buku Sastra Indonesia yang Patut Dibaca Sebelum Dikuburkan

 

  • 1.  Student Hidjo karya Mas Marco Kartodikromo (1919)
  • 2. Azab dan Sengsara karya Merari Siregar (1920)
  • 3. Hikayat Kadiroen karya Semaoen (1920)
  • 4. Sitti Nurbaya (Kasih Tak Sampai) karya Marah Rusli (1922)
  • 5. Tanah Air karya Muhammad Yamin (1922)
  • 6. Salah Asuhan karya Abdoel Moeis (1928)
  • 7. Melawat Ke Barat karya Adinegoro (1930)
  • 8. Kalau Tak Untung karya Selasih (1933)
  • 9. Kenang-Kenangan karya Dokter Soetomo (1934)
  • 10.Lajar Terkembang karya Sutan Takdir Alisjahbana (1936)
  • 11. Nyanyi Sunyi karya Amir Hamzah (1937)
  • 12. Patjar Merah Indonesia karya Matu Mona (1938)
  • 13. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya HAMKA (1939)
  • 14. Belenggu karya Armijn Pane (1940)
  • 15. Dari Ave Maria ke Jalan lain ke Roma karya Idrus (1948)
  • 16. Polemik Kebudayaan karya Achdiat K. Mihardja
  • 17. Atheis karya Achdiat Karta Mihardja (1949)
  • 18. Yang Terampas dan Yang Putus dan Deru Campur Debu karya Chairil Anwar (1950)
  • 19. Tiga Menguak Takdir karya Chairil Anwar, Rivai Apin, dan Asrul Sani (1958)
  • 20. Jalan Tak Ada Ujung karya Mochtar Lubis (1952)
  • 21. Surat Kertas Hijau karya Sitor Situmorang (1953)
  • 22. Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei (I-IV) karya H.B.Jassin (1954-1967)
  • 23. Priangan Si Jelita karya Ramadhan KH (1956)
  • 24. Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis (1956)
  • 25. Si Doel Anak Djakarta Karya Aman Dt. Madjoindo (1956)
  • 26. Malam Jahanam karya Motinggo Busye (1958)
  • 27. Pulang karya Toha Mohtar (1958)
  • 28. Ramayana karya R.A. Kosasih (1960)
  • 29. Empat Kumpulan Sajak karya WS Rendra (1961)
  • 30. Matinja Seorang Petani karya Agam Wispi
  • 31. Pagar Kawat Berduri karya Trisnojuwono (1961)
  • 33. Angkatan 66 Prosa dan Puisi karya H.B. Jassin (1968)
  • 34. Gairah untuk Hidup dan untuk Mati karya Nasjah Djamin (1968)
  • 35. Duka-Mu Abadi karya Sapardi Djoko Damono (1969)
  • 36. Ziarah karya Iwan Simatupang (1969)
  • 37. Heboh Sastra karya H.B. Jassin (sebagai penyunting) (1970)
  • 38. Pariksit karya Goenawan Mohamad (1971)
  • 39. Dari Suatu Masa dari Suatu Tempat karya Asrul Sani (1972)
  • 40. Karmila karya Marga T (1973)
  • 41. Pada Sebuah Kapal karya N.H Dini (1973)
  • 42. Sajak-sajak 33 karya Toeti Heraty Noerhadi (1973)
  • 43. Godlob karya Danarto (1975)
  • 44. Khotbah di Atas Bukit karya Kuntowijoyo (1976)
  • 45. Meditasi karya Abdul Hadi WM (1976)
  • 46. Ali Topan Anak Jalanan karya Teguh Esha (1977)
  • 47. Laut Biru Langit Biru karya Ajip Rosidi (1977)
  • 48. Raumanen karya Marianne Katoppo (1977)
  • 49.  Upacara karya Korrie Layun Rampan (1978)
  • 50.  Dan Perang Pun Usai karya Ismail Marahimin (1979)
  • 51.  Manusia Indonesia karya Mochtar Lubis (1980)
  • 52.  Tetralogi Pulau Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer (1980-1980-1985-1987)
  • 53.  Kuantar ke Gerbang karya Ramadhan KH. (1981)
  • 54.  O Amuk Kapak karya Sutardji Calzoum Bachri (1981/1973-1977-1979)
  • 55.  Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi AG (1981)
  • 56. Burung-burung Manyar karya YB Mangunwijaya (1982)
  • 57. Sastra dan Religiositas karya Y.B Mangunwijaya (1982)
  • 58. Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk  karya Ahmad Tohari (1982-1985-1986)
  • 59. Anak Bajang Menggiring Angin karya Sindhunata (1983)
  • 60. Olenka karya Budi Darma (1983)
  • 61. Abad yang Berlari karya Afrizal Malna (1984)
  • 62. Hamba-hamba Kebudayaan karya Dami N. Toda (1984)
  • 63. Dari Pojok Sejarah (Sebuah Renungan Perjalanan) karya Emha Ainun Nadjib (1985)
  • 64. Sakerah karya Djamil Soeherman (1985)
  • 65. Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer (1987)
  • 66. Antologi Puisi Indonesia Modern: Tonggak  karya Linus Suryadi AG (penyunting) (1987)
  • 67. Sumur Tanpa Dasar karya Arifin C Noer (1989)
  • 68. Wiro Sableng karya Bastian Tito (1990)
  • 69. Catatan Pinggir karya Goenawan Mohamad (1991)
  • 70. Para Priyayi karya Umar Kayam (1991)
  • 71.  Seri Cerpen Pilihan Kompas 1991-2007
  • 72.  Saksi Mata karya Seno Gumira Ajidarma (1994)
  • 73.  Dan Kematian Makin Akrab karya Soebagio Sastrowardojo (1995)
  • 74. Al-Qur’anul Karim Bacaan Mulia karya H.B. Jassin (editor) (1995)
  • 75. Asal Usul Karya Mahbub Djunaidi (1996)
  • 76. Pendekar Super Sakti karya Asmaraman S Kho Ping Hoo (1996)
  • 77.  Senjakala Kebudayaan karya Nirwan Dewanto (1996)
  • 78.  Ketika Mas Gagah Pergi karya Helvy Tiana Rosa (1997)
  • 79.  Saman karya Ayu Utami (1998)
  • 80. Aku Ingin Jadi Peluru karya Wiji Thukul (1999)
  • 81.  Celana karya Joko Pinurbo (1999)
  • 82. Di Atas Umbria karya Acep Zamzam Noor (1999)
  • 83.  Kali Mati karya Joni Ariadinata (1999)
  • 84. Madura Akulah Darahmu karya D. Zawawi Imron (1999)
  • 85.  Memorabilia karya Agus Noor (1999)
  • 86.  Sampek dan Engtay karya Nano Riantiarno (1999)
  • 87.  Angkatan 2000 karya Korrie Layun Rampan (2000)
  • 88.  Nonsens karya Sitok Srengenge (2000)
  • 89. Kesastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia Jilid 1 karya Marcus A.S. dan Pax Benedanto (penyunting) (2001)
  • 90. Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan (2002)
  • 91.  Area X Hymne Angkasa Raya karya Eliza V Handayani (2003)
  • 92.  Cala Ibi karya Nukila Amal (2003)
  • 93. Kill The Radio karya Dorothea Rosa Herliany (2000)
  • 94. Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan karya Ignas Kleden (2003)
  • 95.  Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur karya Muhidin M Dahlan
  • 96.  Ayat-Ayat Cinta  karya Habiburrahman El Shirazy (2004)
  • 97.  Cintapuccino karya Icha Rahmanti (2004)
  • 98.  Puisi-puisi Mbeling karya Remy Silado (2004)
  • 99. Sastra Cyber Polemik Sastra Cyberpunk karya Saut Situmorang (Ed.) (2004)
  • 100.Laskar Pelangi karya Andrea Hirata (2005)

Colchester, 10 Januari 2016

 

 

Advertisements

3 thoughts on “Buku sastra klasik untuk anak SD di Inggris (ODOP Day 2 of 99)

  1. Mbak Fira, dulu aku seneng baca novel2 klasik dunia maupun indonesia, tapi bbrp tahun belakangan malah lebih mengerucut pada children literary. Tetep klasik sih. Atau kalopun ga klasik, hunting judulnya dari list penerima anugrah Newberry, dll. Buku anak penerima penghargaan itu bagus2, jadi kenal banyak nama penulis “baru”.

    Like

  2. Pingback: Tantangan Hidup Tanpa MedSos (ODOP Day 98 of 99) – Rumah kecil di seberang universitas

  3. Pingback: Daftar Lengkap Nulis Kurikulum 0-5 tahun di Inggris (ODOP Day 99 of 99) – Rumah kecil di seberang universitas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s