One Day One Post (ODOP) for 99 Days (Day 1)

DSCF2765

Ide dasar bikin tulisan ini adalah karena membaca postingnya Mbak Shinta Rini tentang One Day One Post di blog buahhatikusurgaku.

Krucils baru saja masuk sekolah sepekan setelah sebelumnya libur 2 minggu dalam rangka Christmas-New Year. Liburan terakhir kali ini saya sengaja tidak membuat agenda tidak ke luar kota. Alasan utamanya, males, karena summer kemarin sudah puas berlibur di Indonesia. Hari pertama liburan (19 Des 2015) masih tertolong karena ada acara silaturahmi di rumah tetangga, Bu Murniati Mukhlisin. Hari kedua, karena suami ngisi pengajian di Newcastle, supaya nggak bikin kerusuhan di rumah, saya bawa krucils ke Castle Park di Town. Hari itu juga saya putuskan membuat mind mapping kegiatan liburan bocah untuk 2 minggu berikutnya.

Secara kasar kegiatan yang wajib krucils selama liburan adalah sebagai berikut:
1. Bangun tidur terus makan. Makan dulu, apa saja. Boleh roti, nasi, susu, pokoknya yang penting makan dulu. Winter ini soalnya.
2. Mandi bergiliran.
3. Baca Iqra’
4. Belajar menulis huruf latin
5. Belajar matematika
6. Bermain di luar rumah
7. Makan siang
8. Acara bebas. Sebagian ada yang tidur siang dan ada yang tidak.
9. Baca buku.
10. Sholat maghrib berjamaah
11. Mengerjakan PR dari sekolah atau PR ngaji dari TPA.
12. Belajar matematika
13. Makan malam
14. Main komputer dan gadget masing-masing
15. Baca doa-doa pendek dan surat-surat pendek dalam juz 30.

Tentang Iqra’. Program One Day One Page buku Iqra’ ini sudah berjalan satu tahun. Sebelum mudik ke Indonesia summer lalu, Fahdiy sudah Iqra’ 5. Eh di Indonesia malah nggak sempat buka buku. Alhasil, nyampai UK diulang lagi dari awal Iqra’ 4. Sekarang sudah di pertengahan Iqra’ 6. Dinara di sepertiga awal Iqra’ 4. Dan Dara…. dalam setahun ini akhirnya mampu membedakan alif dan ba’… Sampai leceeekkkk halamannya soalnya dia maksa ikut ngaji tapi begitu masuk ta’ mulai ngarang dia bacanya…

Tentang menulis huruf latin. Cuma untuk Fahdiy. Targetnya supaya melemaskan jari tangan saja. Jadi cuma nulis sekitar 4 baris setiap kali. Secara Si Sulung nggak hobi menggambar seperti Dinara. Urusan menulis Latin ini sebetulnya siksaan batin juga buat ibunya yang harus menatap tulisan bak cacing-cacing menggeliat di buku latihan krucil.

Matematika. Targetnya simple, pokoknya asal setiap hari ngadep. Materi yang dikerjakan, karena niatnya have fun saja, latihan soal-soal dari bab yang sudah dilewati. Jadi di bawah kurikulum yang diajarkan sekolah.

Main di luar rumah. Pilihannya ya cuma 3: Playground, park, dan library. Selain memanfaatkan playground di sekitar rumah, ke local dan town library, Castle Park, dan Highwood Country Park.

Main di rumah. Bebas mau main apa saja terserah. Biasanya sih akan berakhir dengan ada yang nangis…

Target membaca buku sebetulnya berlaku untuk semua anak. Untuk Mahdi (2 tahun) dan Dara (3 tahun) sebetulnya pengennya One Day One Book. Sementara untuk Fahdiy (7 tahun) dan Dinara (5 tahun) karena bukunya novel, targetnya One Day 10-20 pages tergantung bukunya.

Nyicil menggarap PR dari sekolah dan PR dari TPA. PR dari sekolah cuma untuk Fahdiy. Liburan kali ini PR-nya adalah membuat proyek dengan tema Extreme Weather. Bentuknya bebas; essay, gambar, lukisan, puisi, video, booklet, poster, dan sebagainya. Secara saya dan anak-anak nggak kreatif ya akhirnya cuma bikin buku sederhana 12 halaman, dengan gambar hasil ngeprint-nggunting-nempel, plus penjelasan yang ditulis dengan tulisan cakar ayam dari yang punya PR.

PR dari TPA, sebetulnya bukan PR. Cuma baca-baca, cerita-cerita, dan diskusi ringan tentang hal-hal semacam thoharah dan istinja (apa itu istinja? apa itu wudhu? kapan harus wudhu? dan ajaibnya untuk anak Year 3 yang umurnya 7-8 bulan sudah diajari teori mandi besar…).

Anyway…

Sebetulnya dalam eksekusinya, saya merasakan betul betapa susahnya hal-hal berikut ini:

Pertama, sulitnya menginternalisasikan Islam ke dalam benak anak. Ini bukan sekadar membiasakan anak membaca Alquran, sholat, menghafal doa dan surat-surat di dalam Alquran, dan sejenisnya.

Tahun lalu tantangan kami adalah menunjukkan kepada anak bahwa mereka muslim. Sehingga setiap kali mereka bertanya, “Why don’t we celebrate Halloween? Why don’t we celebrate Christmas? Why do we have to eat halal food?” saya selalu menjawab, ya karena kita muslim. Karena agama kita Islam. Tahun ini pertanyaannya sudah berkembang menjadi, “Why can’t my friends and my teachers get in to paradise?”

“Kubilang kalau teman-teman dan gurunya bukan muslim ya ngga bisa masuk surga. Iya gitu nggak sih, Pak?” tanya saya ke suami ketika kami -akhirnya- punya kesempatan ngobrol berdua saja.
“Ya tergantung,” jawab suami, yang nggak melepaskan pandangan dari laptopnya, “Kalau dia nggak pernah menerima informasi tentang Islam, dia akan dihukumi sesuai dengan agama dan keyakinannya. Kalau dia bukan muslim dan menerima informasi yang salah tentang Islam, dia akan dihukumi sesuai apa yang diketahuinya. Kalau dia menerima informasi yang benar tentang Islam dan menolak, ya nggak masuk surga. Makanya dia harus menyampaikan Islam ke teman-teman dan gurunya.”
“Ya aku juga bilang gitu, sih…” kata saya, sembari tarik napas panjang. Mengingat pemerintah Inggris sedang menggalakkan aksi memberantas bibit-bibit *radikalisme* sampai guru-guru PAUD (nursery) pun dikerahkan untuk mewaspadai anak-anak dari keluarga muslim.

Kedua, ternyata mengajarkan matematika level TK nol besar (TK B) itu sulit. Berkali-kali saya mengibarkan bendera putih dan mendelegasikan tugas ini ke suami.
Pada bahasan sequence, berhadapan dengan soal semacam:
Write the missing number: 19–21–?–25–?–?–? saya masih bisa menyampaikan ke krucils.
Tapi begitu masuk ke ?–?–55– 50–?–40–? saya kesulitan menerangkan kalau ini counting dengan pattern dikurangi 5. Kalau saya nanya, “What is the difference between 55 and 50?” Fahdiy nggak paham.
“Kenapa pake difference? Dia ngerti take away, kok,” komentar pakne krucils.
“Karena soal-soal di soal cerita ngga semua pakai take away,” jawab saya. Ini salah satu contoh, yang jagoan matematika di rumah adalah suami. Tapi yang lebih ngerti kurikulum pendidikan anak-anak, ya saya. Jujur saja suami nggak bisa diharapkan untuk mengikuti perkembangan urusan krucils.

Contoh soal cerita yang berhubungan dengan penjumlahan dan pengurangan untuk usia 6-7 tahun adalah sebagai berikut:
What is 18 take away 7? Find the difference between 16 dan 9. What is the total of 8 and 7? Subtract 5 from 13. What is 15 minus 7. What is 9 more than 4? What is 8 less than 22?

Paul buys a pack of socks costing £6. How much change from £20 does he get?

27 people are on the bus. 9 get off. How many people are on the bus now?

42 people are on the bus. 7 more get on. How many people are on the bus now?

Atau berbunyi begini dalam pembagian dan perkalian:
Share 40 between 10. What is 5 times 5? Multiply 6 by 2. Divide 30 by 10. What is 50 shared between 5? How many is 7 lots of 5? What is 11 multiply 2?

Kim plants 20 trees into five identical rows. How many in each row?

Mr Smith shars equally £24 between his two children. How much do they get each?

Hamdan lillah Fahdiy bisa memahami soal-soal semacam itu? Super? Nggak juga. Karena, ini soal latihan untuk usia 6-7 tahun sementara Fahdiy mengerjakan di umur 7,5 tahun Desember lalu.

‘Keajaiban’ lainnya adalah, Fahdiy tidak menganggap mengerjakan soal matematika dalam bentuk cerita sebagai matematika. Dia menganggap itu sebagai  bagian dari pelajaran literacy. Untuk sementara saya biarkan saja, soalnya saya juga nggak paham hehehehe…

Kegagalan saya yang lain ada pada bab fraction (pecahan). Kalau cuma 1/2, 1/3, 1/4, 2/3, 3/4 gitu Fahdiy sudah khatam.

Yang saya tidak mampu menjelaskan adalah jika soalnya begini:

Carilah nilai dari (?)

0–?–1–?–2–?–3–?–4

0–?–*(tidak ditanyakan)–*–1–*–*–?–2–*–*–*–3–?–*–*–*–4

Kibar bendera putih, sodorin buku ke pakne krucils…

Saya harus belajar lagi tentang 3D shapes karena tidak yakin berapa jumlah edges (rusuk) yang dimiliki cone dan cylinder.

Ketika di pembahasan comparing measures, siswa diminta untuk write < or >.
Sejak jauh-jauh hari sudah sudah memperingatkan pakne krucils kalau saya nggak sanggup ngajar beginian ke anak umur 7 tahun

Contoh soalnya di antaranya:

Write < or >:
50 centimetres dan 1 metre
2 metres dan 150 centimetres

101 centimetres dan 1 metre

150 grams dan 1 kilogram
2 kilograms dan 300 grams

2 litres dan 300 mililitres
4000 mililitres dan 3 litres

Sebagai alat peraga, saya pinjamkan meteran jahit sepanjang 150 cm. Pas ngintip mereka berdua, saya melihat suami sedang merentangkan meteran jahit di hadapan Fahdiy sambil berkata, “Mas, this is one metre, Ok?”
Saya langsung nyolot, “Itu satu setengah meter kok, Pak!”
Doi langsung naruh meteran jahit sambil ngomong, “Kamu atau aku yang ngajar?”
Weleh… Ya wis mari kita ke dapur lagi…

Ketidakmampuan saya menggantikan peran guru ini yang membuat saya bertahan bahwa krucils harus sekolah meskipun sekolahnya sekolah sekuler. Soalnya saya betul-betul nggak sanggup meng-homeschool.

Sekilas, kelihatannya target pendidikan TK dan SD di Inggris lebih tinggi daripada di Indonesia. Tapi saya nggak yakin. Soalnya sekolah di Inggris nggak ada beban menghafal materi agama semacam rukun Iman, rukun Islam, nama-nama Nabi dan Rasul, kisah sahabat, doa harian, juz 30, atau materi semacam PMP/PPKn. Jadi kurikulum PAUD-TK Islam-Madrasah Islam dan Junior School di Inggris memang ada plus minusnya.

Colchester, 9 Januari 2016

Advertisements

One thought on “One Day One Post (ODOP) for 99 Days (Day 1)

  1. Pingback: Daftar Lengkap Nulis Kurikulum 0-5 tahun di Inggris (ODOP Day 99 of 99) – Rumah kecil di seberang universitas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s