Fokus kepada karier, apa salahnya?

vivienne

Namanya Vivienne Durham. Akhir November lalu ia resmi mengumumkan pengunduran dirinya setelah belasan tahun menjabat sebagai kepala sekolah sebuah sekolah putri bergengsi, Francis Holland School in Regent’s Park, London. Francis Holland School di Regent’s Parks London memiliki siswi sebanyak 450 orang. Saat ini, sekolah khusus putri ini adalah salah satu dari 30 sekolah dengan hasil tes GCSE (hasil Ebtanas SMP?) terbaik se-Inggris, dan termasuk 100 sekolah dengan hasil tes A Level terbaik se-Inggris. Sekolah ini memiliki 90 jenis ekstrakurikuler.

Dalam sebuah wawancara dengan Absolute Magazine, Vivienne Durham mengungkapkan bahwa ia tidak pernah menganggap Francis Holland School sebagai sebuah sekolah, melainkan sebagai sebuah perusahaan yang harus dikelola secara profesional.

Vivienne menikah dengan kepala sekolah Kenneth Durham dan memutuskan pensiun Januari ini untuk berkonsentrasi merawat suaminya yang sakit, setelah masa bakti 33 tahun di dunia pendidikan. Vivienne Durham memutuskan untuk tidak memiliki anak untuk berkonsentrasi kepada karier yang dicintainya. Secara sadar, ia memilih untuk tidak memiliki anak, karena merasa tidak akan mampu membuat komitmen sama besar antara keluarga dan full-time job. (She made a conscious decision not to have any children, partly because she felt she could not commit to a family and a full-time job.)

Dia menegaskan bahwa gadis-gadis remaja seharusnya diberitahu bahwa mereka memiliki batasan usia produktif, dan seharusnya tidak dikritik ketika memilih memprioritaskan kariernya.

“Maaf, saya bukan feminis. Saya percaya bahwa ada atap kaca (untuk wanita karier, ada hambatan yang tidak nampak tetapi tidak bisa ditembus bagi perempuan yang ingin mencapai posisi puncak dalam karier), jika kita mengatakan kepada para remaja putri bahwa hambatan ini tidak ada, kita mengatakan kebohongan kepada mereka,” ungkap Miss Durham dalam wawancaranya dengan majalah Absolutely Education, “perempuan tetap harus punya rencana untuk urusan biologis, misalnya urusan motherhood.” (redaksi lengkapnya: “I’m sorry, I’m not a feminist. I believe there is a glass ceiling – if we tell them there isn’t one, we are telling them a lie. Women still have to plan for a biological fact – ie motherhood.”)

Apa semua wanita Barat yang sukses dalam karier tidak punya anak?

Nggak juga. Shirley Sandberg (lahir 28 August 1969), Chief Operating Officer-nya Facebook, punya 2 anak. Sebelum bergabung dengan Facebook, Sandberg adalah research assistant to Lawrence Summers at the World Bank; management consultant at McKinsey; chief of staff to Summers at the Treasury Department; dan 6,5 tahun di Google.

Sangat WOW sekali, bukan?

sandberg

Di bulan Desember 2010, Sandberg memberikan ceramah di hadapan khalayak organisasi nonprofit TED (Technology, Entertainment and Design) dengan judul Mengapa Pemimpin Perempuan yang Kita Miliki Terlalu Sedikit? (Why we have too few women leaders) yang mengkritik banyaknya mahasiswi yang dinilainya kurang ambisius dalam karier sehingga kalah dengan laki-laki. Pada tahun 2012 Sandberg dinobatkan sebagai salah satu dari 100 tokoh dunia berpengaruh versi Time Magazine.

Pada tahun 2013, Sandberg merilis buku pertamanya, Lean In: Women, Work, and the Will to Lead. Buku ini berisi tentang business leadership and development, isu tentang sedikitnya perempuan yang memimpin di bidang pemerintahan dan bisnis, dan feminisme. Lean In adalah buku bagi para perempuan profesional, yang membantu mereka meraih target-target di dalam kariernya, dan buku ini membantu para laki-laki untuk berkontribusi dalam membangun masyarakat yang lebih setara antara laki-laki dan perempuan.

Sandberg melahirkan anak pertamanya di tahun 2005, ketika ia berusia 36 tahun. Anak kedua lahir dua tahun kemudian.

Sebagai orang kedua terpenting di Facebook setelah Mark Zuckerberg, bagaimana Sheryl Sandberg mengasuh kedua anaknya?

Sandberg tidak bercerita tentang itu di dalam Lean In. Secara umum Sandberg tidak banyak berbagi kepada media tentang bagaimana ia mengasuh dan mendidik anak-anaknya. Ia hanya menyatakan keluar dari kantor jam 5.30 petang sejak menjadi ibu. Ia tidak pernah mengungkapkan berapa banyak waktunya di kantor, sebelum ia memiliki anak, sebelum ia menduduki posisi top di berbagai perusahaan papan atas Amerika tersebut.

Dalam berbagai kesempatan, Sandberg menyatakan, keinginan untuk bersama anak dan pemikiran bahwa anak akan lebih baik jika ia membersamai anak adalah pemikiran yang based on “pure emotion, not hard science.” Sandberg merujuk kepada sejumlah riset yang membuktikan bahwa anak tidak lebih buruk jika diasuh oleh pengasuh yang kompeten. Dengan kata lain, memnjam kalimat Caitlin Flanagan di Time, Sandberg berpendapat bahwa berada di rumah dan mengasuh anak sama sekali bukan hal terpenting; atau tidak lebih penting dibandingkan menduduki jabatan top di salah satu perusahaan terkemuka di Amerika Serikat (In other words, staying home to raise one’s children really isn’t that “important” after all, or certainly not more important than making it to the top of corporate America.).

Menanggapi polemik dilema karier dan rumah tangga, Sandberg selalu menekankan, “Pilihan karier terpenting yang akan Anda pilih adalah dengan siapa Anda akan menikah.” (“The most important career choice you’ll make is who you marry.”)

Saya nggak bisa lebih setuju lagi dengan pendapatnya.

***

Pasar bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2016 menandai masuknya para tenaga kerja asing di Indonesia. Jika kita adalah working-moms dan masih berambisi untuk menjadi working-moms, saya menyarankan untuk lebih banyak membaca tulisan para working-moms masa kini yang sukses dalam karier seperti Sheryl Sandberg.

Indonesia memerlukan lebih banyak workers yang profesional dan ambisius. Nggak masalah apakah laki-laki atau perempuan. Baik lajang maupun sudah menikah. Yang penting, profesional.

Lantas apa arti MEA untuk stay-at-home-mom (SAHM)? Para SAHM terutama yang muslimah, tidak perlu berkecil hati. SAHM yang muslimah harus memiliki keyakinan bahwa ar rizqu minallah, rezeqi itu dari Allah, bahwa keberhasilan dalam membangun rumah tangga sakinah-mawaddah-rahmah itu bukan ditentukan dari banyaknya harta yang dimiliki suatu keluarga; dan bahwa ketakutan akan kemiskinan itu sudah ada sejak zaman dahulu kala.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. (QS. 2:155-156)

Satu hal yang barangkali tidak banyak dibahas adalah, salah satu dampak dari perdagangan bebas MEA, bukan hanya tenaga kerja asing yang akan lebih mudah masuk ke Indonesia. Tetapi juga hal-hal negatif semacam perilaku menyimpang semacam minuman keras, narkoba, perzinaan, pedofilia, lesbian, gay, biseksual, transjender, pornografi, dan pornoaksi. Ekses ini menjadi nampak minimal dibandingkan dengan perhitungan materialistik semacam besarnya *dampak positif MEA* semisal perluasan lapangan pekerjaan bagi masyarakat berpendidikan tinggi. Mungkin karena pendidikan saya kurang tinggi, makanya saya melihat MEA dari sudut pandang berbeda… Hehe…

Pada akhirnya semua akan kembali kepada prioritas utama kita masing-masing, mana yang terpenting di antara banyak hal yang kelihatannya sama-sama pentingnya. Termasuk dalam hal memilih karier: bekerja di luar rumah, atau menjadi SAHM. Atau keduanya. Sudah seharusnya kita menjalani karir yang kita pilih secara profesional. Tak ada yang salah dalam fokus kepada karir yang dipilih. Menurut saya, yang salah adalah ketika kita menjalani karier tersebut secara tidak profesional.

Colchester, Essex, 8 Januari 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s