Janet tidak merayakan Christmas…

janet

(Foto Janet G Smith. Sumber foto website International Academy University of Essex)

Beberapa pekan terakhir saya ikut kursus bahasa Inggris gratis di University. Kursus gratis ini diselenggarakan untuk staf dan keluarga staf yang bekerja di universitas. Biasa disebut ECDIS, singkatan dari English Course for Dependant International Students and Staffs. Sebagaimana biasa, saya mengikuti kursus dengan semangat ‘di mana ada gratisan di situ aku berada’.

Hari itu adalah pertemuan terakhir kami sebelum libur Christmas-New Year. Sekitar tiga pertemuan terakhir materinya sudah seputar perayaan Christmas. Misalnya, di kelas Conversation, kami saling bercerita tentang perayaan Christmas di negara masing-masing.

Eudora, yang berasal dari Cina, mengatakan, “Kami di Cina tidak terlalu ramai merayakan Christmas. Lebih semarak perayaan Tahun Baru Cina…”, disambung dengan penjelasan ringkas tentang Hari Tahun Baru Cina yang jatuh di tanggal Masehi berbeda-beda setiap tahunnya. Anyway, teman-teman Chinese biasanya memiliki dua nama; nama asli dan nama berbahasa Inggris. Jadi Eudora ini bukan nama asli. Dia memakai nama ini karena nama aslinya yang berbahasa Cina biasanya sulit diucapkan oleh orang yang tidak bisa berbahasa Cina.

Hiromi Tanaka menerangkan, “Mayoritas rakyat Jepang adalah Buddhis. Jadi kami juga tidak terlalu ramai merayakan Christmas. Tapi pada prinsipnya, orang Jepang senang party. Jadi ya tetap saja ada perayaan Christmas Party.”

Saat sesi Reading, Janet Smith, mentor kami, membagikan bahan bacaan. Judulnya The Symbols and Traditions of Christmas. Bagian pertama berujudul The Date of Christmas. Disebutkan, “The idea to celebrate Christmas on December 25 originated in the 4th century. The Catholic Church wanted to eclips the festivities of a rival pagan religion that threatend Christianity’s existence. The Romans celebrated the birthday of their sun god, Mithras, during this time of year. Church leaders decided that in order to compete with the pagan celebration they would themselves order a festival in celebration of the birth of Jesus Christ. Although the actual season of Jesus’s birth is thought to be in the spring, the date of December 25 was chosen as the official birthday celebration as Christ’s Mass so that it would compete head on with the rival pagan celebration. Christmas was slow to catch on in America. The early colonists considered it a pagan ritual.”

Penjelasan semacam itu kontan membuat saya tertegun. Jadi, perayaan Christmas itu ‘nggak ada dalilnya’, toh? Bahkan di ajaran Kristen sendiri, engga ada gitu dalil dari agamanya akan ‘wajib atau sunnah’-nya merayakan Christmas? Jadi, tradisi perayaan Christmas murni buatan manusia, demi berusaha menyaingi ritual menyembah matahari?

Lantas tentang The Christmas Tree, “The Christmas Tree originated in Germany in the 16th century. It was common for the Germanic people to decorate fir trees with roses, apples, and colored paper. It is believed that Martin Luther, the Protestant reformer, was the first to light a Christmas tree with candles. While coming home one dark winter’s night near Christmas, he was struck with the beauty of the starlight shining through the branches of a small fir tree outside his home. He duplicated the starlight by using candles attached to the branches of his indoor Christmas tree.”

Lagi-lagi saya melongo. Jadi pohon Natal itu engga ada dalilnya? Jadi itu bukan ajaran Kristen? Jadi itu murni tradisi buatan manusia?

Begitu juga sejarah Sinterklas. Konon berasal dari nama seorang baik hati bernama St. Nicholaus. St. Nicholaus, yang kemudian lebih dikenal sebagai Santa Clause, mengabdikan dirinya untuk agama Kristen dan sangat dermawan kepada rakyat miskin. Menurut kisah yang dibagikan Janet, “But the Romans held him in contempt. He was imprisoned and tortured.”

Jadi Santa Klaus ini nggak ada juga dalilnya dalam Injil. Please correct me if I am wrong.

Trus sosok Sinterklas gendut dengan baju khas merah-putih yang biasa dikenal dengan ucapan “Ho ho ho,” itu datang dari mana?

Ceritanya, di tahun 1882, Clement C. Moore menulis puisi terkenal berjudul A Visit from St. Nick. Puisi ini di kemudian hari diterbitkan dengan judul The Night Before Christmas. Moore is credited with creating the modern image of Santa Clause as a jolly fat man in a red suit.

Saya semakin terbengong-bengong membaca sejarah daun Mistletoe dan daun Holly yang biasa digunakan sebagai dekorasi Christmas. Menurut bacaan yang diberikan Janet gereja bahkan pernah melarang penggunaan daun Mistletoe karena berasal dari ritual pagan. Konon, 200 tahun sebelum kelahiran Yesus, kaum pagan Druids menggunakan mistletoe untuk merayakan kedatangan musim dingin. Mereka menghias rumah dengan tanaman parasit ini, yang dipercaya memiliki banyak khasiat; mulai dari menyembuhkan infertilitas sampai anti keracunan. Tradisi ciuman di bawah dekorasi daun mistletoe datang dari Skandinavia, di mana mereka percaya mistletoe sebagai lambang kedamaian dan harmoni, dan diasosiasikan dengan dewi cinta, Frigga.

Mistletoe

(foto dekorasi Christmas daun mistletoe)

Buat yang baca atau nonton Harry Potter, ada adegan di mana Cho Chang mencium (atau ciuman) bibir dengan Harry Potter di bawah daun mistletoe. Ya gini ini ceritanya.

Karena berasal dari tradisi pagan, dan menurut Janet karena urusan ciumannya juga, gereja melarang penggunaan mistletoe sebagai dekorasi Christmas. Sebagai gantinya, para gerejawan menyarankan penggunaan daun holly sebagai pengganti mistletoe.

holly

(foto tanaman Holly)

Jadiiiiii, lagi-lagi, ini tentang tradisi. Mistletoe dan Holly ngga ada dalilnya dalam ajaran Kristen.

poinsettias

(foto tanaman poinsettia)

Poinsettia, alias Kastuba, juga idem. Tanaman yang diasosiasikan sebagai simbol the Star of Bethlehem ini, namanya diambil dari nama duta besar Amerika untuk Meksiko, Joel Poinsett, yang membawa tanaman ini ke AS pada 1828.

Candy cane, permen berbentuk tongkat berwarna belang merah-putih, datang dari mana? Murni dari pabrik. Di akhir 1800-an, sebuah pabrik permen di Indiana memproduksinya. Warna putih sebagai lambang kesucian Yesus, tiga baris warna merah adalah lambang Trinitas sekaligus ‘darah’ Yesus yang konon disalib. Kenapa bentuknya tongkat? Karena Yesus dipercaya adalah penggembala ternak, dan bentuk ini kalau diputer akan menjadi huruf J bermakna Jesus.

candy cane

(foto candy cane)

Di akhir sesi, Janet meminta kami belajar menulis kartu Christmas. Saya menulis:

Dear Janet,
Have a happy holiday

Dia lantas menerangkan bahwa kata ‘Dear’ hanya digunakan secara tidak formal, hanya jika kita mengenal dekat dengan yang bersangkutan. Secara formal adalah, “To Janet.”

Janet lantas menunjukkan sebagian kartu-kartu Christmas koleksinya. Di sinilah saya melihat Season’s Greeting Cards.

Blue and Pink Floral Display

(Season’s Greeting Card)

“What cards are these?” tanya saya.
“Oh,” terang Janet, “That is because I don’t celebrate Christmas. So my relatives, my best friends, they sent me Season’s Greetings Cards instead of Christmas Cards.”
“So… What is a Season’s Greeting Card?” tanya saya lagi.
“Well… If you don’t want to send a Christmas Card, you can send a Season’s Greeting Card. It’s just a neutral card for all seasons,” jelasnya lagi.

Saya manggut-manggut. Menurut Wikipedia, penggunaan Season’s Greeting Card berasal dari Amerika Serikat. Kalimat Happy Holidays dan Season’s Greeting mulai dikenal luas di akhir abad 20-an, atau beberapa dekade terakhir. Happy Holidays dan Season’s Greeting digunakan karena bermakna umum, tidak spesifik Christmas dan Christianity.

Kritik tentu saja ada. Banyak yang menyebut mereka yang tidak mau mengucapkan Merry Christmas dan/atau tidak mau mengirimkan Christmas Cards sebagai kalangan yang materialistic, consumerist, atheistic, indifferentist, agnostic, politically correct and/or anti-Christianity (wikipedia). Tetapi semakin besarnya populasi non-Kristen membuat keberadaan kartu-kartu ini semakin eksis.

Jadi, sejauh yang saya pahami sampai hari ini, Christmas-nya saja juga belum tentu fakta. Bisa jadi sekadar tradisi, buatan manusia. Karena kapan Yesus lahir pun masih terus diperdebatkan sampai hari ini. Dekorasi-dekorasi Christmas juga belum tentu ada dalilnya menurut ajaran Kristen sendiri. (sumber klik di sini: Jesus was born years earlier than thought, claims PopeNativity donkeys and cattle are a myth, says Pope).

Di Barat, tidak ada yang mengharuskan seorang muslim untuk ikut merayakan Christmas, mengucapkan Merry Christmas, atau mengirimkan Christmas Cards. Ini juga berlaku untuk Imlek, Diwali, Hanukkah, dan sejenisnya.

InsyaAllah Donat Mungil Malang tidak akan bangkrut hanya lantaran menolak menerima orderan donat yang bertuliskan ucapan natal. Dan kalau jadi student di Barat, jangan khawatir akan berpengaruh terhadap urusan akademik. Suami saya sudah membuktikan bahwa sekolah dan bekerja di Barat selama 15 tahun insyaAllah tetap lancar meski tidak ikut merayakan Christmas dan mengucapkan Merry Christmas.

Selamat bermuhasabah untuk teman-teman sesama Muslim. Maulud Nabi yang jatuh di akhir tahun barangkali bisa menjadi momen yang tepat untuk mengevaluasi sudah sejauh mana kita betul-betul mencintai dan meneladani Nabi Muhammad Saww.

Untuk teman-teman yang beragama Kristen, silakan merayakan Christmas dan Tahun Baru. Mohon dimaklumi jika ada Muslim yang tidak bersedia terlibat dengan perayaan Christmas dan New Year, seperti saya misalnya… Hehe..

Colchester, Essex, 23 Desember 2015

Sumber tulisan yang dibagikan Janet:
The Symbols and Traditions of Christmas,  http://wilstar.com/xmas/xmassymb.htm

Advertisements

9 thoughts on “Janet tidak merayakan Christmas…

  1. Waa….bagus juga nih. Jadi pakenya season’ greeting yaa. Ah semoga saja di Indonesia paham, bahwa menghargai yaa bukan berarti ikut serta gitu. Dengan menjaga keamanan dan ketentraman saja sudah partisipasi…gitu kali ya. Merdeka!! *ehe ehe ehe*

    Like

  2. aku sdh menduganya.. banyak celebration dan ceremonial buatan manusia di kehidupan ini, termasuk dalam agama lainnya.
    Trims pencerahannya 🙂

    Like

    • Betul. Tapi setidaknya, umat Islam bisa bersepakat soal KAPAN dan DI MANA Nabi Muhammad Saww dilahirkan. Umat Islam juga sudah tidak memperdebatkan apakah Tuhan beranak, diperanakkan, satu dua, atau tiga yang menjadi satu dan sebagainya.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s