Di Luar Jawa Ngga Ada Fasilitas Pendidikan Canggih?

DSC00073

 

Ada 2 orang Ibu Dokter. Keduanya berdomisili di luar Jawa. Mungkin Kalimantan atau Sulawesi. Ibu Dokter pertama mengajak semua anaknya tinggal bersamanya. Ibu Dokter kedua memilih menitipkan buah hatinya kepada Sang Nenek di Jawa.

Salah satu alasan yang digunakan oleh Ibu Dokter kedua adalah, karena di luar Jawa nggak ada fasilitas apa pun untuk belajar. Fasilitas yang bagus semua ada di Jawa.

Saya, yang membaca pernyataan Ibu Dokter kedua, cuma bisa bengong. Soalnya, anak kami bertiga masih kecil-kecil. Maksimum SD. Konon, menurut para psikolog, sih, umur kurang dari 10 tahun itu, anak lebih memerlukan orang tuanya daripada fasilitas fisik apa pun.

Umur 11 atau 12 bolehlah anak di-kost-kan, dititipkan, atau diasramakan. Tentu saja dengan menimbang psikologi anaknya juga. Faktanya ngga ada boarding school utk anak usia sekolah dasar di Barat. Kalau yg akrab dengan buku-bukunya Enid Blyton semacam serial Malory Towers dan The Twins at St. Clare yang settingnya sekolah asrama perempuan, tokoh-tokohnya adalah anak remaja.

Beberapa pekan sebelum kami mudik ke Indonesia, krucils sering merengek agar dibelikan KUCING. Sampai mengajak ke pet shop segala. Dinara bahkan menggambar kucing-kucing impiannya, lengkap dengan nama2nya.

Di desa, saya nggak perlu berjuang memisahkan mereka dari tablet, komputer, smartphone, dan sejenisnya. Kalo TV sih emang sejak menikah sudah bertekad hidup tanpa TV.

Di desa, krucils mengenal banana tree dan bukan cuma buah pisang. Jackfruit tree, dan bukannya nangka dalam kaleng. Pisangnya pun ada berjenis-jenis. Mangga ada bermacam-macam. Semangka ada kuning dan merah.

Krucils terkagum-kagum melihat jagung-jagung dijemur di sepanjang jalan. Mata mereka membesar dan selalu bertanya-tanya tentang ayam, sapi putih, sapi coklat, kambing, cicak, suara jangkrik, atraksi reog, dangdut yang disetel keras-keras, hingga bedug yang ditabuh sebagai penanda waktu sholat.

Krucils heran dengan pepaya, salak, jambu, srikaya, rambutan, dan kelapa utuh lengkap dengan sabut batoknya. Selama ini mereka nggak pernah atau sangat jarang melihat buah-buahan tropis semacam itu.

Mereka nggak paham ketika saya bilang, “Itu namanya pohon padi, rice trees…”. Mereka tahunya beras di Inggris, ya sudah di dalam karung begitu. Sekali beli 20 kg. Beli di toko Asia.

Kendaraan favorit Fahdiy adalah becak. Sementara Dinara lebih memilih motor.

Kami pun menunjukkan sekolah TK dan SD di mana ayah dulu bersekolah. SD suami persis berada di sebelah pasar. Meski nama resminya adalah SDN Kunir Kidul 1, masyarakat lebih umum menyebutnya sebagai SD Pasar. SD di desa mengingatkan saya kepada Waldorf School di kawasan elit Silicon Valley, Amerika Serikat.

***
“Silicon Valley terkenal sebagai tempat berkumpulnya perusahaan-perusahaan teknologi dunia. Namun, para petinggi perusahaan-perusahaan di Silicon Valley justru menyekolahkan anak mereka di sekolah yang tidak memiliki komputer sama sekali di Waldorf School of The Peninsula”. 
(Kompas.com, 2 November 2011)

Katanya sih, Pendidikan itu mempunyai tiga domain utama yaitu kognitif, psikomotorik, dan afektif.

Kognitif berkaitan dengan penggunaan otak untuk mendapatkan pengetahuan, mulai dari hal yang sederhana, yaitu sebatas mengetahui, sampai yang kompleks yaitu kreativitas dalam pemecahan masalah dan evaluasi. Psikomotorik berkaitan dengan gerak fisik seperti berjalan, berlari, memukul, menendang. Ringkasnya berkaitan dengan gerak tubuh dari yang sederhana seperti berjalan hingga yang kompleks seperti atletik atau koreografi. Sedangkan afektif berkaitan dengan perilaku, perasaan, dan emosi. Bukan sekadar pada sesamanya melainkan juga pada lingkungan alam dan makhluk lainnya. Memang betul tidak mungkin proporsi yang diterima oleh anak (dari kecil hingga dewasa) sama persis namun akan sangat riskan ketika mengabaikan salah satunya.

Katanya, sih, sekarang ini banyak anak pintar angka-angka, hitungan, hafalan, dsb. Ringkasnya dia pintar “anak sekolahan” dan secara akademik diakui sebagai berprestasi. Tetapi banyak dari anak-anak ini tidak ada kepedulian atau minim kadar kepeduliannya terhadap lingkungan, keluarga, atau sesamanya.

Di sisi lain, banyak kasus anak-anak dengan psikomotor bagus. Dia enak diajak main, olahraga dsb..namun sisi kognitifnya kosong alias “nggak ada isinya”. 

Pengemban dakwah tentu wajib memiliki tsaqofah Islam memadai (aspek kognitif). Tapi bagi yang sudah ‘terjun ke masyarakat’, pasti memahami bahwa banyaknya atau tingginya tsaqofah berupa pengetahuan akan fakta dan dalil tak berarti apa-apa tanpa keterampilan ‘memahami hati ummat’.

Kembali lagi ke petinggi eBay, Yahoo, Google, Apple, dan Hewlett-Packard yang memilih menyekolahkan anak-anaknya Waldorf School di kawasan elit Silicon Valley yang tidak menyediakan komputer di dalam kelas. Memang Sekolah Waldorf di Silicon Valley adalah sekolah tanpa teknologi canggih. Sementara sekolah lain memenuhi ruang kelas dengan kabel, sekolah ini justru hanya berhiaskan papan tulis dengan kapur warna-warni, rak buku ensiklopedi, meja kayu penuh workbook, dan pensil-pensil. Murid-muridnya diajari untuk melakukan keterampilan merajut, membuat kain, sampai membuat kaus kaki. Anak-anak juga diajari berhitung dengan cara-cara unik, seperti memotong buah menjadi beberapa bagian dan kegiatan lainnya yang menuntut kreativitas guru dan siswa.

Mungkin, para pejabat komputer dan smartphone ini punya pertimbangan bahwa kebutuhan pendidikan dalam aspek kognitif akan mudah terpenuhi di rumah atau lingkungan rumahnya terlebih paradigmanya sekarang adalah “dari brick ke click“, artinya dengan tinggal pencet, semua aspek kognitifnya terpenuhi. Sehingga mereka memilih sekolah yang memiliki konsep mengedepankan kemampuan bersosialisasi dan memberikan fasilitas bagi anak untuk melatih dan mengembangkan motorik kasar dan halus sehingga mereka lebih sehat, dan kuat. Barangkali para teknokrat sekaligus pebisnis ini menyadari betul persoalan teknologi dan kepedulian terhadap lingkungan sehingga menjaga agar sisi humanis anak-anak mereka tidak hilang.

Terlepas dari pro-kontra pemanfaatan teknologi canggih dalam pendidikan dasar, barangkali ada baiknya kita tidak terburu-buru mengatakan bahwa, “Di luar Jawa tidak ada fasilitas pendidikan dasar yang canggih…”.

Ngomong-ngomong, ada 3 target liburan saya bersama krucils; mengajak mereka sholat berjamaah di masjid (sudah berjalan), dan yang belum terlaksana adalah mengajak mereka ke pantai Kenjeran Surabaya dan ke Kebun Binatang Surabaya. Soalnya di desa ngga ada gajah, jerapah, buaya, kuda nil, dan ular.

Lumajang, 30 Juli 2015

 

Advertisements

6 thoughts on “Di Luar Jawa Ngga Ada Fasilitas Pendidikan Canggih?

  1. Ada benarnya juga tuh mba keputusan para petinggi perusahaan2 elit di Silicon Valley. Urusan humanisme anak memang perlu dikedepankan. Klo soal teknologi ntar gedean dikit gampang ngajarinnya. Bawaan anak2 tuh klo soal tekno kan cepet banget nyantelnya. Tp klo sisi afeksi itu sebaiknya dari kecil diarahkan agar lebih menghargai lingkungan sekitar.

    Like

  2. ustadzah,Ini foto waktu di jembatan yang baru dibangun di desa pandanwangi ya(di daerah lumajang)? Waktu itu saya juga disitu ustadzah.
    😊😊

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s