Pak Presiden Jokowi, Saya Tidak Membenci Anda. Tetapi…

jokowi

(Penandatanganan nota kesepahaman bersama (Memorandum of Understanding/MoU) di Great Hall of The People oleh para pejabat Indonesia dan Tiongkok dan disaksikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Presiden Xi Jinping, Kamis (26/3/2015), sumber Teras Jakarta)

Badan Pusat Statistik (BPS) memprediksi angka produksi padi pada 2015 akan meningkat 6,64% atau sebanyak 75,55 juta ton dibandingkan tahun sebelumnya. Menurut data BPS, angka ini merupakan yang tertinggi dalam 10 tahun terakhir.

“Kenaikan 6,64 persen ini merupakan yang tertinggi dalam 10 tahun terakhir. Produksi padi gabah kering giling 2014 sebanyak 70,85 juta ton atau turun 0,43 juta ton dibanding 2013,” ujar Kepala BPS Suryamin di kantornya, Rabu (1/7/2015). (bisniskeuangan.kompas, 2 Juli 2015)

Demikian berita gembira dari tanah air yang banyak di-share oleh teman-teman yang pada pilpres 2014 lalu mendukung Pak Jokowi sebagai presiden.

Bapak Presiden Jokowi, saya tidak membenci Anda. Hanya saja saya teringat, dulu, di bawah pemerintahan Presiden Suharto, Indonesia sudah pernah swasembada beras. Terlepas dari pro-kontra Orde Baru, harus diakui masa kegemilangan Orba adalah masa-masa *murah sandang pangan, seger kuwarasan* sampai-sampai Indonesia diibaratkan sebagai baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur, negeri subur makmur, adil dan aman.

Saya berada di tengah pusaran kejayaan itu ketika badai krisis ekonomi 1997 menyapu bersih kejayaan Orde Baru. Dari yang sebelum2nya 1 dollar berada di kisaran Rp2,000,- terus merangkak naik tak terkendali. Sampai menembus 1 dollar Rp16,000-an.

Saya baru masuk kuliah tingkat pertama. Lantas salah satu kakak tingkat saya sering ngajak saya ngaji. Secara saya tipe visual, ngaji hanya jadi tempat pindah tidur buat saya yang sudah sangat lelah praktikum seharian.

Beruntung kakak tingkat itu jeli melihat kalau saya gemar membaca. Dimulai dari meminjamkan buletin. Lantas berdiskusi. Lantas meminjamkan buku. Kemudian mengajak datang ke seminar ekonomi yang berbicara bagaimana Islam menyelesaikan krisis ekonomi.

Dua dari narasumber seminar di Fakultas Ekonomi itu adalah dosen fakultas ekonomi Unibraw. Ketika saya lulus kuliah, keduanya pun lulus menjadi guru besar (profesor) di FEUB.

Satu narasumber adalah seorang insinyur. Narasumber yang semula saya remehkan karena latar belakangnya bukan ilmu ekonomi.

Tetapi justru narasumber terakhir inilah yang omongannya saya ingat sampai sekarang. Ia mengatakan bahwa krisis ekonomi akan terus berlangsung, berulang-ulang. Ia menyebut-nyebut bubble economy yang akan pecah satu per satu akibat sistem ekonomi kapitalis yang berbasis riba. Ia mengatakan bahwa Indonesia akan terus menerus menderita dihantam satu krisis ke krisis yang lain.

Dan akhirnya, narasumber terakhir ini mengajak audiens untuk kembali kepada sistem mata uang berbasis emas dan perak (dinar dan dirham), untuk menyelamatkan Indonesia.

Sebuah ajakan yang dipandang sepi oleh para mahasiswa FE saat itu. Wajah kedua dosen ekonomi pun tak kalah lempengnya. Mungkin dari 1000 mahasiswa yang hadir di forum, hanya saya yang secara tak sengaja menyimak penjelasan narasumber terakhir yang kelihatannya lebih banyak menjadikan forum sebagai ‘forum pengajian’.

Waktu berlalu. Awal 2008 saya baru saja menginjakkan kaki di Inggris. Ekonomi Eropa meriang sejak dimulainya krisis di pasar perumahan (subprime mortgage) Amerika Serikat pada Agustus 2007. Lantas badai krisis benar-benar menghantam Barat ketika bursa-bursa utama dunia mengalami goncangan dan kejatuhan harga saham mereka setelah Bank Lehman Brothers pada hari Rabu 14 September 2008 resmi mengumumkan kebangkrutannya.

Saat itu, banyak orang memuja Asia sebagai kekuatan ekonomi baru. Tetapi, Ustadz Insinyur yang ngisi seminar ekonomi belasan tahun silam, saat itu menyampaikan prediksinya, “Dunia telah mengenal Sogo Sosha Jepang dan Chaebol Korsel sebagai perusahaan kelas dunia. Gelombang besar internasionalisasi perusahaan-perusahaan besar Cina dan India bakal menyusul. Begitu juga dengan negara-negara lain seperti Singapura, Malaysia, Qatar dan Uni Emirat Arab mulai aktif mengembangkan perusahaan transnasional.”

“Namun, kekuatan negara-negara Asia tersebut masih harus dibuktikan,” tulis beliau. “Apalagi sistem ekonomi yang diterapkan tetap menggunakan ekonomi kapitalis. Bisa jadi, negara-negara Asia akan bernasib sama dengan negara AS dan Uni Eropa.”

Maka, saya tak lagi kaget ketika Yunani terpuruk.

Dan saya sudah sangat tak terkejut saat membaca berita-berita berikut ini.

***
Giliran Tiongkok yang Menghantui Ekonomi Indonesia (bisniskeuangan.kompas, 9 Juli 2015)

JAKARTA, KOMPAS.com – Ekonomi Indonesia kembali mendapat cobaan. Kali ini, datangnya dari Tionglok. Adalah, pasar saham China yang mengalami koreksi tajam belakangan ini. Setelah menggelembung atau bubble, pasar saham China mulai memecah dengan terjadinya koreksi yang cukup dalam. Kondisi ini diperburuk adanya eksposure pemerintah China pada surat utang Yunani yang gagal bayar (default).

Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan, ekonomi China sangat dekat dengan Indonesia. Risiko yang menimpa China lebih tinggi dampaknya dibanding krisis finansial di negeri para dewa, Yunani. Saat ini, kondisi yang terjadi di China efeknya bukan hanya akan menimpa pasar keuangan, namun juga perdagangan Indonesia.

Agus bilang, saat ini pasar saham China sedang terkoreksi. Dalam satu bulan terakhir, pasar saham Tiongkok terkoreksi hingga 30 persen. “Kita harus antisipasi karena China menjadi pusat bagi pertumbuhan regional dan dunia,” ujarnya, Rabu (8/7/2015).

Jika koreksi pasar modal China terus terjadi dan cukup tajam, lanjut Agus, dampaknya berantai. Dampak yang langsung terasa adalah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Sebab itu, Agus mengingatkan, dalam kondisi seperti ini, Indonesia harus menjaga fundamental ekonomi. Inflasi yang terkendali dan defisit transaksi berjalan lebih sehat ke arah 2,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) harus terus dipantau. “Daya tahan ekonomi Indonesia harus dijaga,” kata Agus.

Ekspor bisa makin drop

Kekhawatiran Agus tak berlebihan. China adalah negara tujuan ekspor keempat Indonesia setelah AS, India, dan Jepang. Sebab itu, BI telah merevisi proyeksi penurunan pertumbuhan ekspor Indonesia tahun ini lebih dalam dari 11 persen menjadi 14 persen.

Berdasarkan data Badan Pusat Statitik (BPS), ekspor pada 2014 tercatat sebesar 176,29 miliar dollar AS atau menurun 3,43 persen dibanding periode yang sama 2013. Jadi, jika BI memperkirakan ekspor drop hingga 14 persen, berarti tahun ini kumulatif nilai ekspor Indonesia Januari-Desember 2015 hanya 151,61 miliar dollar AS.

Salah satu penyebab kinerja ekspor yang lebih buruk ini diakibatkan perekonomian China melemah. BI memperkirakan ekonomi China hanya tumbuh 7,1 persen di 2015.

Sasmito Hadi Wibowo, Deputi Statistik Bidang Distribusi dan Jasa BPS mengakui, tren pelambatan ekonomi China telah berdampak terhadap ekspor Indonesia di tahun ini. Sasmito bilang, dengan gejolak ekonomi di China saat ini, ekspor Indonesia bisa semakin turun lebih dalam.

***
Dibanding Yunani, Pemerintah Pilih Antisipasi Krisis Tiongkok (ekonomi.metrotvnews, 8 Juli 2015)

Greek crisis is nothing compared to Tiongkok. Pasti (krisis Yunani tidak ada pengaruh ke Indonesia). Lebih ke krisis Tiongkok,” ujar JK, sembari memperlihatkan artikel CNNMoney, kepada wartawan, di kantornya, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Rabu (8/7/2015).

Sekadar diketahui, Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Tiongkok, yang merupakan ekonomi terbesar kedua di dunia, akan terus mengalami perlambatan dan nantinya memiliki dampak terhadap negara-negara berkembang termasuk Indonesia.

Hal ini tentu sangat mengkhawatirkan mengingat Tiongkok memiliki singgungan yang tinggi terhadap perekonomian Indonesia, utamanya dalam aspek mitra dagang. Jika perekonomian Tiongkok melambat, otomatis permintaan barang-barang dari Indonesia akan melambat.

***
Pasar Saham China Bubble, Sofyan Djalil: Tinggal Tunggu Pecahnya (detik, 9 Juli 2015)

Sofyan mengakui, dengan kondisi ekonomi global saat ini, begitu ada satu saja pasar saham di suatu negara mengalami kritis, tentu akan berpengaruh pada pasar saham banyak negara.

Selain kejatuhan bursa saham, China saat ini juga tengah mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi, yang terendah sejak krisis keuangan 2008. Kedua kondisi tersebut membuat ekonom khawatir.

***

Pengusaha RI Cemas Amati Perkembangan Ekonomi China (finance.detik, 10 Juli 2015)

***
Pak Presiden, saya tidak membenci Anda. Sama sekali tidak. Begitu pula dengan teman-teman saya para aktivis Islam di berbagai kelompok Islam; NU, Muhammadiyah, Tarbiyah PKS, Salafy, LDII, dan lain sebagainya. Kami tidak membenci Anda. Kami sungguh mengapresiasi keberhasilan Anda meningkatkan produksi beras. Tetapi Bapak dan para pendukung bapak -terutama yang muslim-, juga harus tahu, bahwa Indonesa bersiap dihajar krisis berikutnya. Bukan efek dari Yunani tetapi dari Tiongkok.

Ini bukan semata-mata kesalahan Bapak Presiden. Ini kesalahan sistem ekonomi kapitalisme yang ribawi. Allah Swt sudah berfirman, “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila.” (QS Al Baqarah 275)

Pak Presiden, sistem ekonomi yang berdiri di atas riba, ibarat orang gila kemasukan setan. Tidak pernah berdiri secara kokoh dan jejeg. Selalu doyong, dan selalu ketar-ketir akan jatuh. Dan inilah yang akan selalu kita saksikan kalau kita tetap menerapkan sistem ekonomi ribawi.

Ustadz Insinyur yang tak jemu-jemunya berdakwah ke mana-mana itu menuturkan, “Penyebab krisis ekonomi dunia ada empat. Pertama, sistem ekonomi kapitalis telah menyingkirkan emas sebagai cadangan mata uang, kemudian menjadikan dolar AS sebagai pendamping mata uang di negara-negara dunia. Akibatnya, goncangan ekonomi sekecil apapun di AS akan menjadi pukulan yang telak bagi perekonomian negara-negara lain. Sebab, sebagian besar cadangan devisa negara-negara di dunia di-cover dengan dolar AS yang nilai intrinsiknya tidak sebanding dengan kertas dan tulisan yang tertera. Karena itu, selama emas tidak menjadi cadangan mata uang, krisis ekonomi seperti ini akan terus terulang.”

“Kedua,” lanjut beliau, “Hutang-hutang ribawi alias bunga-berbunga telah menciptakan masalah perekonomian yang besar. Bahkan kadar hutang pokoknya terus menggelembung sesuai dengan prosentase bunga yang berlaku sehingga menyulitkan negara/individu mengembalikan pinjamam. Krisis pengembalian pinjaman itu membuat roda perekonomian berjalan lambat.”

Penyebab ketiga menurut beliau, adalah cacatnya sistem yang digunakan di bursa dan pasar modal, yakni transaksi jual-beli saham, obligasi dan komoditi yang tidak disertai dengan adanya syarat serah-terima komoditi yang bersangkutan; bahkan bisa diperjualbelikan berkali-kali tanpa harus mengalihkan komoditi tersebut dari tangan pemiliknya yang asli. Ini adalah sistem yang jelas menimbulkan masalah. Semuanya itu memicu terjadinya spekulasi karena untung-rugi melalui cara penipuan dan manipulasi.

Dan yang terakhir, adanya produk derivat (turunan) seperti obligasi kolateral dari hutang (collateralised debt obligations), obligasi hutang pembelian rumah (mortgage debt obligations), penukaran kredit jatuh tempo (credit default swaps), semuanya itu, merupakan sumber terjadinya kegagalan kredit yang makin memperumit keadaan.

Maka, beliau pun menyampaikan solusi Islam agar Indonesia terhindar dari krisis ekonomi. Yakni 1) Menghapuskan riba; 2) Menggunakan mata uang berbasis emas dan perak; 3) Menerapkan sistem ekonomi Islam secara sempurna dalam negara khilafah islamiyah.

***
Bapak Presiden Joko Widodo, Ustadz Insinyur itu tidak membenci Anda. Saya pun tidak membenci Anda. Tetapi, kami, dan ribuan muslim Indonesia lainnya, baik yang bergabung dengan NU, Muhammadiyah, Persis, Tarbiyah PKS, Salafy, Jamaah Tabligh, dan lain sebagainya ini, hanya mengajak Anda untuk menyelamatkan Indonesia dengan Syariah. Karena kalau bukan dengan sistem Islam, yang datang dari yang Maha Penyayang lagi Maha Mengetahui, dengan sistem yang mana lagi Bapak akan menyelamatkan Indonesia? Setelah terbukti IMF, Masyarakat Uni Eropa, dan Jerman, gagal dalam menyelesaikan persoalan Yunani. Bapak pasti paham krisis perbankan Spanyol, Italia, dan Amerika Latin tinggal menunggu waktu untuk meledak. Bubble-bubble itu, suatu saat pasti akan meletus juga. Indonesia tanpa Islam, sangat mungkin lebih parah di masa mendatang.

Mari, Pak, kita terapkan Islam. Agar Indonesia terhindar dari efek domino krisis ekonomi global. Agar Indonesia benar-benar menjadi baldatun thoyyibatun wa robbun ghafur. Agar Anda dirahmati Allah dan dicintai umat. Agar kita semua hidup dalam keberkahan-Nya.

Oh, ya, Pak Presiden, just for your information, Ustadz Insinyur yang saya ceritakan itu namanya Ismail Yusanto.

Colchester, Essex, 11 Juli 2015

Advertisements

2 thoughts on “Pak Presiden Jokowi, Saya Tidak Membenci Anda. Tetapi…

  1. kalo saya jln2 ke mall, saya sering sedih (makanya saya jarang ke mall), melihat kapitalis merajalela. Seanainya sistem keuangan kita berbasis pada Islam, negara kita akan menjadi negara baldatun thoyyibatun wa robbun ghafur, saya sangat yakin itu

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s