Larangan calistung sebelum umur 7 adalah PEMBODOHAN?

krucil buku

Namanya Bu Dwi Estiningih. Saya nggak kenal dengan beliau dan beliau nggak kenal saya. Tapi karena postingnya yang berjudul Kebohongan Publik dalam Sistem Pendidikan: Larangan Calistung di TK sudah menyebar ke seluruh dunia (yep, beliau di Yogyakarta, saya di Colchester), dan secara saya punya anak TK dan anak PAUD, ya akhirnya ikutan baca, deh…

Lengkapnya postingan beliau itu bisa diklik di sini.

Saya menggarisbawahi pernyataan beliau yang ini, “Saya banyak sharing dengan teman2 yg hidup di luar negeri dan anak2 mereka sekolah di sana sejak usia dini. TK disana, tujuan pembelajarannya ‪#‎psikologis‬, frameworknya: mendidik jd confident learner, punya wellbeing yg bagus, berkomunikasi dg baik. Proses pembelajaran dan latihan terkait dengan latihan motorik kasar dan halus, pre reading, pre writing. Latihan tdk terlepas dari pekerjaan membaca & menulis, meskipun tdk ada tuntutan utk lancar membaca & menulis. Tdk ada output akademik.

Tahukah anda usia berapa anak di kindergarten / TK ~> usia 3 – 4 tahun!!! Bukan usia 5/4 – 6/7 seperti di Indonesia! BEDA umur!! Adopsi yg parsial, TK disana beda dengan disini!

Kemudian umur anak masuk SD disana adalah 5 tahun! Bukan 6 atau 7 tahun seperti di Indonesia! BEDA!!

Anak sd yang berusia 5 tahun tadi diajari CALISTUNG, dan masuk kelas 0 (NOL). Mereka sudah SD lho, sama seperti kakak2 kelasnya. Umur 6 tahun, mereka naik kelas 1 SD dengan kondisi sudah mahir calistung dan siap menerima pelajaran / informasi yg lbh kompleks.

***

Pernyataan Bu Dwi Estiningsih membuat saya membuka kembali lembar-lembar pekerjaan sekolah dan homework Fahdiy dan Dinara. Pendidikan wajib di United Kingdom (UK) dibagi sebagai berikut:

Usia 3-4 tahun : Nursery
Usia 4-5 tahun : Reception
Usia 5-7 tahun : Infant School Year 1 & Year 2
Usia 7-11 tahun : Junior School Year 3, 4, 5, dan 6
(Di beberapa sekolah, Infant dan Junior dijadikan satu disebut Primary School)
Usia 11-16 tahun : Secondary School
Usia 16-18 tahun : Sixth Form atau College

Fahdiy (akan 7 tahun) duduk di Year 2 Infant School, sementara Dinara yang bulan lalu umur 5 tahun, sekarang di kelas Reception. September nanti Fahdiy masuk Year 3 dan Dinara Year 1.

Secara umum, anak-anak di kelas Reception sudah bisa membaca, dan menulis sederhana. Untuk usia 4-5 tahun, targetnya sudah bukan lagi sekadar bisa membaca, tetapi bisa mencongak, alias bisa menulis apa yang didiktekan gurunya. MIsalnya pekerjaan Dinara di sekolah berikut ini:

tulisan dinara

Dinara menulis: The boat can float on the lake
Gurunya memberikan penjelasan seperti ini:

In letters & sounds we have been revisiting some of the digraphs we have learnt. We have been ‘quick writing’ words & then applying some into a sentence.
Dinara adapted the basic sentence to make it more interesting!
She started with the basic sentence ‘the boat can float’ to ‘The boat can float on the lake.’
We are working on writing accurately on the lined paper- especially thinking of descenders (letters that go below the line: ypfqgj)

Well done Dinara!

Jangan tanya kepada saya apa maksudnya. Kira-kira sih Dinara dan temen2nya sedang belajar penulisan dan pengucapan ‘oa’ seperti di boat, float, gitu. Mungkin, lho, ya…

Tentu saja Dinara banyak salahnya. Misalnya tulisan berikut ini

tulisan dinara

Dinara menulis, “My best fren in the hoal werld is Alana bicose she can smile”.
Gurunya nulis komentar, “Dinara continued the sentence ‘my best friend in the whole world is’ on her own. Target tugas ini adalah menggunakan capital letter dan fullstop independently.

Bagaimana dengan Fahdiy?

Ini salah satu PR Fahdiy, mengarang. Ya, mengarang, untuk kelas Year 2 (usia 6-7 tahun).

pr fahdiy

Bagi saya dan suami, belum umur 7 bisa mengarang, itu sudah canggih. Faktanya, Fahdiy ketinggalan dalam hal writing. Dalam PR di atas, misalnya. Ia keliru memahami perintah. Ia juga belum bisa menempatkan huruf besar dan kecil, serta menggunakan titik dan koma dengan benar. Padahal itu semua target untuk Year 1 (umur 5-6 tahun).

Bagaimana dengan matematika?

Tugas di sekolah dan PR Dinara sudah melibatkan penjumlahan. Dibuat misalnya seperti gambar di bawah ini. Siswa diminta menggambar titik dengan jumlah yang sama dengan titik di sayap kiri kepik. Di bagian bawahnya sudah ada kotak  _+_=_  yang harus diisi angka oleh siswa. Tujuannya mengajarkan penggandaan, alias doubling.

doubling1

doubling2

Fahdiy dan Dinara selalu punya homework (PR) yang diberikan hanya di hari Jumat. PR English Dinara (kelas Reception) biasanya diminta menulis kalimat singkat, misalnya tentang kegiatan rutin keluarga di akhir pekan. Untuk Fahdiy (Year 2) ya sudah sampai tahap mengarang seperti gambar di atas.

PR Matematika Dinara terakhir sampai penjumlahan, misalnya:
9+5=
10+9=
2+10=

Matematika Fahdiy mengenal perkalian semacam:
3 x 2 =
20 = _ X 2

Secara umum United Kingdom masih menempatkan diri pada 10 negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia. Menurut hasil test Pisa dari the Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), pada tahun 2012, negara-negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia yang masuk 10 besar adalah:

1. Finland
2. South Korea
3. Hong Kong
4. Japan
5. Singapore
6. UK
7. Netherlands
8. New Zealand
9. Switzerland
10. Canada

Di tahun 2014, hasil ini bergeser. Finlandia tidak lagi menempati peringkat pertama. Asia merajai 4 posisi teratas dengan 10 besar:

  • 1. South Korea
  • 2. Japan
  • 3. Singapore
  • 4. Hong Kong
  • 5. Finland
  • 6. UK
  • 7. Canada
  • 8. Netherlands
  • 9. Ireland
  • 10. Poland

Di Barat, saya pribadi memperhatikan, UK (Inggris) dan negara-negara Barat umumnya tidak terlalu risau dengan Korsel, Jepang, Singapura, dan Hong Kong. Karena hasil penelitian itu sendiri sudah menyatakan bahwa skill yang bernilai tinggi seperti kreativitas dan kemampuan untuk memecahkan masalah (problem solving) lebih sulit untuk diukur dan di-ranking-kan. Kalimat lengkapnya, “The report also notes that highly-prized skills such as being creative and problem solving are much harder to measure and put into such rankings.” (BBC, 8 Mei 2014)

Kalau diperhatikan, UK selalu berada di bawah Finland. Menariknya, kedua negara ini memiliki kebijakan berbeda dalam menetapkan usia formal anak masuk sekolah.

Kebijakan Inggris mewajibkan anak usia 4 tahun sudah belajar calistung, bukannya bebas kritik. Professor Lilian Katz misalnya, menyatakan bahwa anak-anak di UK/Inggris belajar membaca terlalu dini. Prof Katz, profesor di bidang pendidikan di the University of Illinois in the USA, menyatakan bahwa, “Model pendidikan British yang memaksakan anak-anak untuk belajar sebelum mereka siap, dapat menimbulkan bahaya.”

Ia menjelaskan, “Hasil penelitian menunjukkan bahwa jika anak-anak memulai formal teaching of reading di usia sangat dini, mereka mendapatkan hasil tes yang baik pada saat itu. Tetapi jika Anda mengikuti perkembangan mereka hingga usia 11 dan 12, anak-anak ini tidak lebih baik dari anak-anak yang memulai membaca secara informal. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa memulai pendidikan formal di usia terlalu dini, menimbulkan kerusakan (damage) lebih besar bagi anak-anak lelaki daripada anak perempuan. Anak lelaki biasanya aktif dan asertif, tetapi dalam pendidikan formal, mereka akan dipaksa untuk pasif, bukan aktif. (Maksudnya pasif adalah kemampuan duduk dengan tenang untuk mendengarkan dan menerima perintah— Fira). Di banyak budaya, anak-anak perempuan bisa diajarkan untuk pasif lebih awal, tetapi tidak dengan anak laki-laki,” (BBC, 22 November 2007)

Dr. Bethan Marshall, senior lecturer di King’s College London juga menyatakan bahwa anak tidak mendapatkan keuntungan tambahan dari membaca terlalu dini (independent, 6 Desember 2007).

Kapan sebaiknya anak mulai belajar secara formal sudah bertahun-tahun diperdebatkan di UK. Belakangan mulai dikampanyekan, bahwa “Too much too soon”. Tahun 2013, David Whitebread, Senior Lecturer in Psychology of Education di University of Cambridge, menyatakan hal yang senada dengan Prof Lilian Katz dan Dr Bethan Marshall.

Ketiga ilmuwan ini menyatakan bahwa mengajarkan membaca (dan menulis dan berhitung) secara formal di dalam kelas seperti konsep UK saat ini, bukan hal yang tepat. Alasannya bermacam-macam. Tapi ya secara umum, karena anak memerlukan banyak waktu untuk tumbuh dan berkembang, karena anak memerlukan lebih banyak bermain di usia dini bukan belajar formal, dan bahwa mengajarkan calistung di usia dini berpotensi menimbulkan ‘kerusakan (damage) lebih besar di kemudian hari. Salah satu bahaya memaksakan calistung di usia dini adalah di kemudian hari bisa membuat anak ‘menjauh’ dari buku seumur hidupnya

Kalau mau baca, bisa diklik di link yang saya share di bagian bawah ini.

Lantas, bagaimana sikap pemerintah UK sendiri? Pemerintah sendiri kelihatannya masih mengkaji perdebatan ini sehingga masih menerapkan kurikulum lama.

Saya pribadi bisa memaklumi. Ya nggak bisa dong, tiap kebijakan, asal dikritik, trus langsung ganti. Pak Anis Baswedan saja bilang bahwa mengubah kurikulum pendidikan seperti mengubah arah kapal tanker sepanjang 500 meter. ”Untuk membelokkan arah laju kapal tanker itu, tidak bisa langsung. Butuh berjalan 10 km dulu, baru benar-benar terlihat beloknya.”

Terus Indonesia bagaimana?

Menurut saya, Indonesia tidak harus meniru model UK. Model Finland juga baik. Negara yang mewajibkan pendidikan formal sejak usia 5 tahun adalah UK (Inggris) yang memang Year 1-nya umur 5 tahun. Selain UK adalah Scotland, Cyprus, dan Malta.

Negara-negara yang baru memulai pendidikan formal di usia 6 tahun di antaranya Austria, Belgia, Denmark, Perancis, Jerman, Norwgia, Italia, Belanda, Spanyol, Swiss, dan Turki.

Yang mengawali pendidikan formal di umur 7 adalah Bulgaria, Finlandia, Swedia (BBC, 12 September 2013).

Jadi, kalau menurut saya yang nggak paham ilmu psikologi dan ilmu pendidikan ini, sebetulnya pemerintah Indonesia tidak melakukan PEMBODOHAN ketika menetapkan larangan mengajarkan calistung secara formal sebelum anak berusia 7 tahun. Landasan ilmiahnya ada.

Tetapi, saya pribadi menilai maksud Bu Dwi Estiningsih itu bagus. Hanya saja saya ingin memperjelas dua (2) hal. Pertama, kelihatannya ada perbedaan maksud antara Bu Dwi Esti dengan pemerintah. Pemerintah melarang calistung secara formal di kelas. Kalau bahasa Inggrisnya sih, yang dilarang itu formal reading-formal writing yang diwajibkan untuk diajarkan di kelas. Sementara pemerintah UK justru mendorong masyarakat untuk MENSTIMULASI anak agar gemar membaca, salah satunya dengan menyediakan perpustakaan gratis berkualitas dengan lokasi terjangkau. Kalau saya membaca twit-twit Bu Dwi Esti, kelihatannya ini yang diinginkan beliau, yakni MENSTIMULASI  anak agar mengenal huruf dan angka sebelum usia 7 tahun. Coba baca posting-posting beliau setelahnya.

Misalnya posting beliau berikut ini:

Ponakan 2 th & adik saya:
P: Raup ping piro yah? (Basuh muka berapa kali *wudlu)
A: Ping telu le. (Tiga kali nak)
P: Allah ping piro yah? (Allah *maksudnya sholat* berapa kali?)
A: Ping limo sedino. (Lima kali sehari)

2 bersaudara. (usia 4 & 2 thn).
A: Kelerengku 20 dek.
B: Kelerengku 2 mas.
Ayahnya: Bagi yg rata, masing-masing 11 biji.

Dulu kecil banyak yg suka DAKON. Tiap lobang 36 biji. Yg dapat terbanyak menang.
Eh, BERHITUNG lagi..

Krempyeng, kelereng, petak umpet, halma, kasti, etc.
Semua BERHITUNG. Betul?

Nah, semua yang dicontohkan Bu Dwi Estiningsih, kalau di UK/Inggris, namanya pendidikan informal. Dan sejauh yang saya tahu, pemerintah Indonesia tidak mempermasalahkan hal ini. Berbeda dengan jika yang dimaksud adalah menjadikan calistung dalam bentuk pelajaran formal seperti yang diterima Fahdiy dan Dinara. Kelihatannya, Pemerintah Indonesia memang  tidak mengadopsi sistem pendidikan ala UK. Dan pilihan pemerintah belum tentu salah, karena Finlandia dan Swedia, misalnya, memilih mengajarkan calistung secara formal setelah anak berusia 7 tahun.

Yang kedua, saya melihat, pilihan mana pun yang diambil, model UK yang memulai pendidikan wajib (compulsory school) sejak usia 5 tahun, atau ikut Finland yang baru wajibnya di umur 7, sebaiknya diikuti dengan melibatkan sistemnya. Misalnya, di UK di mana umur 4-5 tahun anak sudah lancar membaca dan bisa menulis, maka, sebaiknya hal-hal ini juga diusahakan:

1. Penyediaan library gratis berkualitas yang mudah diakses masyarakat
2. Penyediaan children’s centre gratis berkualitas yang mudah diakses masyarakat
3. Penyediaan PAUD dan sekolah berkualitas di banyak tempat sehingga tidak perlu berebut untuk bisa sekolah di sekolah yang baik. Ini sekaligus menghapuskan berbagai macam tes dan psikotes demi masuk SD favorit.
4. Rasio guru dan siswa yang masuk akal. Di kelasnya Fahdiy dan Dinara, dalam satu kelas jumlah siswa maksimum 30, dengan jumlah guru minimal 3 orang. Kalau ada anak yang berkebutuhan khusus, disleksis, speech delay, autis, maka pemerintah memberikan guru khusus untuk mendampinginya selama di kelas. Jadi anak tidak perlu dipisahkan di Sekolah Luar Biasa (SLB).
5. Dan seterusnya.

Bagaimana kalau ikut Finlandia? Ya diikuti saja semuanya sampai ke sistemnya.

Jadi *secara teori* saya tidak melihat ada yang salah dengan melarang formal reading and writing sebelum umur 7. Menstimulasi anak lewat bermain yang sifatnya tidak formal, seperti penjelasan Bu Dwi Estiningsih pun, juga tidak keliru. Yang barangkali perlu didorong adalah, penyediaan fasilitas-fasilitas pendukung agar terwujud sistem pendidikan minimal seperti UK atau Finland.

Saya pribadi optimis Indonesia bisa. Perpustakaan gratis berkualitas misalnya, di Jakarta sudah ada Perpustakaan Provinsi DKI Jakarta di TIM, Cikini. Memang masih kurang sangat banyak. Tetapi awal yang baik ini harus diapresiasi, khan? InsyaAllah Indonesia bisa menjadi lebih baik di masa mendatang.

Colchester, Essex, 3 Juni 2015

Sumber tulisan:

Formal school lessons should start ‘above age of five’, http://www.bbc.co.uk/news/education-24058227

UK children ‘reading too early’, http://news.bbc.co.uk/1/hi/education/7107798.stm

School starting age: the evidence, http://www.cam.ac.uk/research/discussion/school-starting-age-the-evidence

Bethan Marshall: Children are not helped by reading too early, http://www.independent.co.uk/news/education/schools/bethan-marshall-children-are-not-helped-by-reading-too-early-763182.html

Advertisements

37 thoughts on “Larangan calistung sebelum umur 7 adalah PEMBODOHAN?

  1. Subhanallah… lengkap sekali penjelasannya mak..
    Emm.. mungkin lebih ke bagaimana cara mengajarkan dan menilai kali ya mak…
    Beberapa anak di sini kan takut sekolah, karena “takut tidak bisa”, “takut nilainya jelek”, “takut dimarahi bu guru”, dll. Jadi terkesan anak “ditekan” untuk bisa calistung. Kalau tidak nanti tinggal kelas dan jadi bahan olok2an. Secara psikologis tidak baik. Jadi yang disalahkan kurikulumnya. Padahal mungkin cara mengajar dan menilainya yang kurang tepat.
    Dan, tentu peran orang tua di rumah untuk pendidikan informalnya. Misalnya di rumah sudah ada perpustakaan. Pengalaman teman, mengajarkan anak yang bahkan belum masuk play group mengenal huruf & angka lewat flash card & sambil bermain. Dan, anaknya sedikit2 bisa membaca ABACA dan berhitung tanpa tertekan 😀

    Maaf ya mak, kalau komennya kepanjangan & kurang tepat sama artikelnya. Sambil curcol soalnya. Xixi 😀

    Like

  2. info yang menarik…jadi mengurangi rasa bersalah saya krn ngasih pelajaran calistung dibawah 7 thn. . gara-gara saya takut anak saya telat paham calistung. makanya umur 3 tahun anak saya diajar calistung dan mengaji oleh guru privat yang datang ke rumah. alhasil umur 4,5 tahun sdh lancar calistung dan mengaji alquran besar. umur 5 tahun masuk SDit favorite yang ngetes calistung. sy merasa ada manfaatnya belajar usia dini, ngajarnya pelan tapi pasti, tulisan anak saya rapi jali dan tidak mengalami kesulitansoal calistung di sekolah.

    Like

  3. Kalo saya sih masih edisi lama Kali ya, masih mau nanti anak saya puas main nya, sampe dia kepengen sekolah/belajar formal.
    Jadi, calistung usia dini secara formal Kayanya ga saya terapkan. Hehehe

    Like

  4. Wah makasih sudah sharing Mba. Pro kontra ini memang bikin galau. Enak kalau dibahas panjang lebar dan lebih objektif. Sekarang jd lebih pede ngambil keputusan. Hehe

    Like

  5. mengutip saran mba, jadi dengan kondisi indonesia yang saat ini belum memadai fasilitas pendukungnya lebih baik tidak diajarkan secara formal begitu mba sebelum usia 7 tahun seperti di UK yang memang masuk kurikulum?

    Like

  6. Uwaaaw aku bener-bener kagum yah sama anak-anak Indonesia yang belajar di luar negeri kayak Fahdiy dan Dinara, ckckck
    Aku nggak terlalu paham soal pendidikan sih, manggut-manggut aja buat nambah pengetahuan. 🙂

    Like

  7. Anak sy sjk 2 th tertarik dg buku,akhirnya sambil bermain dy belajar huruf,hijaiyah n angka. Skrg 3 th hafal semua huruf,mule mengeja 2 suku kata..semua dilakuka. Sambil bermain..menghitung anak tangga,menghitung truk di jalan mengasikkan bagi dy. Kl anak mampu menerima sambil bermain knp harus tgg 7 tahun? Tp semua hrs disesuaikan dg kemampuan anak

    Like

  8. Menurut saya, pembelajaran calistung sejak dini itu tidak menjadi masalah.
    Yang jadi masalah itu cara mengajarnya.

    Ada TK tertentu yg demi prestise, “menghalalkan” segala cara agar anak bisa membaca. Bukan menstimulasi dengan permainan.

    Kalau anak2 bisa diajak bermain dan bonusnya bisa membaca, itu saya kira yang bagus.

    Saya sendiri banyak melatih guru2 agar bisa seperti itu.

    Disamping itu, ada paradoks di lapangan. Anak2 boleh mengenal huruf arab/ hijaiyyah secara dini. Tapi mrk tidak boleh mengenal aksara latin sejak dini.

    Itu menurut saya. Trims

    Like

  9. playgroup di indonesia sekarang ini saja (usia 2.5 th-3 tahunan), sudah diajarkan menulis. Saat selesai playgroup sudah ditest, paling tidak sudah bisa tulis huruf a-z besar kecil dan 1-10 dan namanya sendiri. TK A nanti belajar membaca dan menulis kalimat. TK B sudah menulis bersambung dan menjumlah-berkurang sampai puluhan.
    Masalahnya mengajarkan anak yg belum cukup umur mentalnya itu susah bgt loh. Karena kurikulumnya spt itu makanya jd terkesan dipaksakan ke anak. Karena umur nya belum pantas sebenarnya menerima hal2 kognitif yg berat itu, jd terkesan bodoh dan dipaksakan les ini itu (padahal masih TK/playgroup T_T)
    Di Indonesia jd bertaburan les2 bahasa inggris, les kumon, les sempoa, les mandarin,dll dimana pangsanya itu dr umur 3 tahun.
    Pemerintah musti tegas deh soal ini.

    Like

  10. Menurut saya mengajarkan atau memperkenalkan anak dengan calistung bukanlah suatu masalah selama cara mengajarkannya dengan cara yg sesantai mungkin dan selama kita bukan menjadikan kemampuan calistung itu sebagai suatu keharusan bagi anak kita sehingga dapat menciptakan tekanan buat anak-anak kita.sah-sah saja mengajarkan calistung bagi anak di bawah 7 thn asalkan disesuaikan dengan kemampuan berpikir anak dan tidak menciptakan tekanan bagi mereka

    Like

  11. Pingback: Inilah Cara Mencerdaskan Emosi Anak

  12. Pingback: Pengantar Kurikulum 0-5 tahun di Inggris bagian 1 dari 2 (ODOP Day 3 of 99) | Rumah kecil di seberang universitas

  13. Pingback: Akhirnya selesai nulis kurikulum 0-5 tahun di Inggris (ODOP Day 59 of 99) – Rumah kecil di seberang universitas

  14. saya lebih memilih untuk mengembangkan rasa ingin tahu alami anak. rasa ingin tahu ini jadi lifeskil penting menghadapi persaingan abad 21. alhamdulillah rasa ingin tahu ini juga yang menuntun anak saya belajar membaca mandiri (pada usia 5 tahun 11 bulan). sebelumnya memang saya paparkan alfabet. tapi tidak memaksanya membaca. setiap malam juga saya bacakan buku. intinya saya ingin menanamkan cinta buku dahulu daripada hanya sekedar bisa baca.

    Like

  15. Pingback: Daftar Lengkap Nulis Kurikulum 0-5 tahun di Inggris (ODOP Day 99 of 99) – Rumah kecil di seberang universitas

  16. anak saya cerebal palsy,USIA 2,5thn uda bs warna Dan USIA 2,8thn uda kenal hurup abjad besar kecil serta huruf hijahiyah,skrg uda USIA 3,6thn masih belajar membaca.sy kurang setuju kalo USIA dini tdk boleh calistung,gimana kita mo tau kemampuan anak kalo tdk mencoba ajarin anak dirumah,lebih anak spesial,selama ini sy ajarkan sndiri dirumah kr belum bisa jalan sampai skrg.sy bingung ama Indonesia SD negeri hrs 7thn dituntut hrs bisa calistung,sdgkan disisi lain pemerintah TDK setuju dg pembelajaran calistung dibawah dini.skrg paud hny diajarinnya aiueo n angka 1-5..di TK juga byk anak yg lulus TK cuma bisa mandiri n nyanyi sdgkan calistung nya ga bisa,jd byk org tua jaman skrg uda masukin anak ke paud tk masih masukin kursus lagi,itu bagi yg punya duit,kasihan org tua yang ga punya duit maka akan susah masuk langsung SD kr sudah dituntut bisa calistung,.guru SD negeri skrg enak ga mo capek kalo dipikir pikir,bukannya gaji guru skrg uda dinaik ya lebih lebih yang dikota…maaf sebelumnya atas komen saya jika ada pihak yg merasa tersinggung

    Like

  17. Wah..tulisan mba nurismafira memaparkan perbandingan sistem pendidikan dengan negara lain, membuat melek mata saya dalam memutuskan untuk pengembangan mendidik anak saya dirumah.
    Saya juga setuju dengan komen mb iffaty, bahwa apapun itu yang mau di capai, tergantung cara mengajarkannya pada anak, sesuai dengan masa usia nya, bukan di paksa demi alasan apapun apalagi buat keren-kerenan dari kepintaran anak tetangga sebelah.
    saya sendiri, baru saja menuliskan pengalaman saya ketika anak saya bisa membaca sendiri tiba-tiba di usia 4,1th, tahun lalu. saya menulis ini lebih untuk catatan kehidupan saya, dan ketika saya coba searching google u pengalaman orang lain, saya ketemu link mb nurismafira ini. monggo ya…
    http://hariyatisukma.blogspot.co.id/2016/10/bisa-membaca-sendiri-di-usia-4-tahun.html
    http://hariyatisukma.blogspot.co.id/2016/10/plus-minus-anak-balita-bisa-cepat.html

    nice sharing mb…tq

    Like

  18. Assalamu’alaikum, salam kenal mbak Fira 🙂 izin follow yah..
    Artikel ini cocok bgt sama pekerjaan sy sekarang ini sbg guru paud, walaupun masih baru 10 bulan.. 🙂 di awal, sebenarnya sepemahaman sy untuk usia dini itu memang tdk diperbolehkan calistung, itu ya karna apa yg sy dapat selama kuliah di Psikologi dulu seperti itu.. tp memang faktanya di lapangan guru tetap menyisipkan materi calistung krn nanti saat lulus & akn masuk SD rata-rata tes masuknya pasti ya calistung, jd otomatis ya harus dipersiapkan.. nah, setelah sy baca beberapa artikel mbk Fira soal ini jadi dapat pemahaman baru sekaligus menguatkan apa yang selama ini sudah sy lakukan (meskipun sebenarnya jg masih belajar krn msh newbie.. ~,~ ).. jadi menurut sy dgn teori Piaget ttg perkembangan kognitif anak usia dini yg masih pada tahap pra-operasional itulah seharusnya guru dituntut kreatif utk mengajarkan calistung lewat benda2 yg real yg bisa disentuh dgn warna-warni yg menarik.. kata ‘pembodohan’ memang bagaikan lecutan utk membuat pembaruan..heheehe.. bagaimanapun ilmu terus berkembang kan.. semoga pendidikan di Indonesia terus semakin membaik..aamiin ^-^

    Like

  19. Putra saya malah umur 2 tahun 7 bulan sdh bisa membaca. Umur 4 tahin sdh baca komik Conan, Asterix, Donald Bebek dll. Malah dia kelihatan lebih happy dibandingkan anak seusianya krn lebih banyak yg bisa dia lakukan. Kelas 1 SD sdh bisa mengerjakan buku mat kelas 3 SD. Ini hanya krn dia sdh bisa membaca lebih dini.
    Menurut saya…ibu yg tinggal di UK ini betul. Untuk anak harus sdh di planning jauh hari sebelum dia lahir. Jadi sdh tau apa yg akan dilakukan untuk anak. Jgn pernah takut untuk anti mainstream jika kita punya tujuan yg jelas. Putra saya sdh lulus SMA umur 16 tahun..dan sdh jadi sarjana umur 19 tahun. Semoga anak anak kita jauh lebih bahagia dibandingkan kita

    Like

  20. Pingback: Larangan calistung sebelum umur 7 adalah PEMBODOHAN? | paudanggrekbacan

  21. Pingback: Larangan calistung sebelum umur 7 adalah PEMBODOHAN? | Anggrek

  22. Sampai saat ini saya masih nggak paham kenapa nggak boleh ngajarin anak baca sebelum usia 7. Soalnya kata bapak saya sendiri bisa baca umur 3 tahun. Dan sepertinya sampai saya umur 27 sekarang, saya nggak mengalami hal-hal buruk yg katanya gara-gara belajar terlalu dini. 😀

    Like

  23. Artikel yang menarik dan bermanfaat. ijin copas.
    Menurut saya, kita sangat tertinggal dalam hal ilmu calistung, solusinya, diperkenalkan sedini mungkin, bukan diajarkan. Jadi masalahnya adalah sistemnya yang harus diganti.
    Bagaimana mungkin calistung dilarang, sedang gadget dibiarkan bebas di tangan anak usia dini? Sangat tidak masuk akal.
    http://www.bimbel-qubaca.com/

    Like

  24. Kalo d bilang pembohongan agak berlebihan ya..kebanyakan anak2 di paksa calistung Krn biasanya diantara ortu ada saingan.kurasa hrs dilihat kesiapan anak.toh ga ada beda anak bisa baca umur 4 ato 7 th.kalo di luar negeri anak kelas 1 umur 5th..setahu saya (maaf kalo saya ga salah)belajar membaca nya di kelas 3 .

    Like

  25. Sy sdh mengenalkan huruf, angka, dn hrf hijaiyah pd anak sy sjak umur 1 th..sy tempelkan poster2 bergambar. Anak sy sngt senang. Meskipun dia blm bisa bicara. hanya bisa menunjuk sj. Dr situ sy ajak dia bermain dg ppster2 tsb. Akhirnya umut 19 bl dia hafal alfabet, 22 hafal angka dn hrf hijaiyah. Skrg umur 4 th bisa membaca dn penjumlahan dn pengurangan smpai 100. Anak sy suka blajar dn tnpa tnpa tekanan.
    Artikel yg bagus…trima ksih

    Like

  26. anak” itu tergantung kepada kesiapan masing”. kalaupun mau sedini mungkin bisa baca ya ga masalah asal emosi anaknya dah stabil? intinya ga boleh dipaksa aja,. kalo saya kok prefer anak itu sebaiknya belajar sosialisasi yang baik dulu yah…belajar berbagi kepada sesama, bertata krama yang baik, belajar mengantri, dll yang berhubungan dengan emosi anak..pembentukan karakter guna terciptanya anak yang berakhlak baik..Karena saya yakin usia emas itu ga hanya sampe 5 tahun tapi nyampe 13 tahun..yuk kita arahkan anak” kita menjadi anak yang berilmu dan bisa beramal..daripada berilmu tapi egois?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s