Kebohongan Publik dalam Sistem Pendidikan: Larangan Calistung di TK (Oleh Dwi Estiningsih)

calistung pembodohan

Bismillahirrahmanirrahim

Kebohongan Publik dalam Sistem Pendidikan: Larangan Calistung di TK

Beberapa hari yang lalu saya twit demikian: Larangan calistung di TK / PAUD merupakan suatu pembodohan massal.

Pembodohan massal yg sungguh menyesatkan.


———————————-
Pernyataan saya ini bukan tanpa dasar.

Saya telah melakukan asesmen pada sekian banyak siswa TK dan SD.

Masalah yang muncul pada anak-anak adalah gangguan konsentrasi, gangguan pada perkembangan motorik kasar dan motorik halus serta gangguan komunikasi dg orang dewasa dan teman seusia, dan gangguan perilaku lainnya.

Gangguan2 tsb menyebabkan anak jadi under achiever, yaitu menampilkan kemampuan akademik & umum jauh dibawah potensi dasar yg sesungguhnya.

Pada siswa SD kelas 1-3, setelah melalui proses pemeriksaan menyeluruh, secara umum ternyata penyebabnya ada 2 (dua) yaitu Penyebab “lemahnya” anak2 kita…

Pertama adalah TV, Video, dan Game.
Kedua adalah persiapan pembelajaran di TK yg tidak tuntas.

Penyebab pertama sdh kita bahas panjang lebar beberapa waktu lalu ~> #TV #Game#Video ~ Penghambat kecerdasan

Penyebab kedua, belum kita bahas tuntas.

Banyak yg protes ketika saya menyatakan bahwa saya tidak setuju larangan belajar calistung di TK.

Saya tegaskan…

“Larangan belajar calistung di TK adalah PEMBODOHAN.”

Anda yg percaya anak TK dilarang belajar CALISTUNG, juga termasuk korban yg sukses dibodohkan.

Mengapa?
Kita lanjut nanti setelah Isya 🙂

———————————-

#Pembodohan #Pertama, ada sebuah kenyataan yang kalau semua orang tahu pasti bakal terpekur. Apa itu?

Kurikulum pembelajaran sekolah2 kita sejauh ini masih banyak mengadopsi barat, sayangnya proses tiru2nya bersifat parsial. Apa maksudnya?

Baik, saya akan mencontohkan TK dan SD di barat.

Kurikulum SD yg selama ini dianggap “sulit” adl acuan dr barat, oke ~ Ortu & guru mengeluh bahwa anaknya stress bahkan menghindari sekolah.

Penyebabnya jelas, karena belum tuntas persiapan belajarnya ~ Tidak ada calistung di TK, kalaupun ada calistung dilakukan sembunyi2 oleh guru dan tidak jadi fokus utama ~ Masuk SD kelabakan.

Tadi contoh pertama adopsi yg parsial ~ mengadopsi kurikulum SD tanpa memikirkan persiapannya.

Contoh kedua adopsi yg parsial adalah mencontoh TK / kindergarten di Barat.

Saya banyak sharing dengan teman2 yg hidup di luar negeri dan anak2 mereka sekolah di sana sejak usia dini.

TK disana, tujuan pembelajarannya #psikologis, frameworknya: mendidik jd confident learner, punya wellbeing yg bagus, berkomunikasi dg baik.

Proses pembelajaran dan latihan terkait dengan latihan motorik kasar dan halus, pre reading, pre writing…
Latihan tdk terlepas dari pekerjaan membaca & menulis, meskipun tdk ada tuntutan utk lancar membaca & menulis.

Tdk ada output akademik.

Tahukah anda usia berapa anak di kindergarten / TK ~> usia 3 – 4 tahun!!! Bukan usia 5/4 – 6/7 seperti di Indonesia!

BEDA umur!!

Adopsi yg parsial, TK disana beda dengan disini!

Kemudian umur anak masuk SD disana adalah 5 tahun!
Bukan 6 atau 7 tahun seperti di Indonesia!

BEDA!!

Anak sd yang berusia 5 tahun tadi diajari CALISTUNG, dan masuk kelas 0 (NOL). Mereka sudah SD lho, sama seperti kakak2 kelasnya.

Umur 6 tahun, mereka naik kelas 1 SD dengan kondisi sudah mahir calistung dan siap menerima pelajaran / informasi yg lbh kompleks.

Bagaimana dengan anak2 Indonesia yg tidak diajari calistung di TK?
Umur 7 tahun mereka belum bisa calistung!
Sangat memprihatinkan!

Apa akibatnya bagi anak-anak Indonesia yg sudah 7 tahun dan baru belajar calistung?

Akibatnya anak-anak Indonesia banyak yang mempunyai masalah calistung pada saat kelas 1 sampai kelas 3.

Naik kelas 4, seharusnya anak sudah terkondisi mandiri belajar. Namun keadaan tidak demikian, kls 1-3 dia tidak enjoy belajar di sekolah..

… Kelas 4 & seterusnya anak sulit memahami materi pelajaran.
Pola2 ini sangat mungkin berlangsung seterusnya… smp, sma, kuliah, dst frown emoticon

Bermula dari pembelajaran PAUD / TK yang tidak tuntas. #Pembodohan #1

———————————-

Untuk yang masih ngeyel, kultwit dibaca dari awal, anda juga korban frown emoticon
#Selingan

———————————-

#Pembodohan #Kedua, Kenyataan yg akan membuat kita terhenyak karena sudah dibohongi habis2an. Apa itu?

Pernah saya bahas bahwa perkembangan kecerdasan anak sangat pesat di usia dini.

Usia 4 tahun perkembangan kecerdasan sdh 50%, usia 8 th perkembangan kecerdasan sdh 80%, dan usia 18 sdh mencapai titik kulminasi 100%.

Setelah usia 18 tahun, seseorang TIDAK akan bertambah CERDAS, hanya penambahan pengetahuan dan perbaikan pola belajar.

Pada usia dini, modalitas yang paling besar bagi pengembangan kecerdasan adalah kemampuan integrasi visual motorik perseptual.

Secara umum bisa dikatakan sbg kemampuan visual, motorik dan perseptual yg diolah otak sehingga membentuk kecerdasan.

Semakin anak mendapatkan banyak stimulus melalui visual, motorik dan perseptual maka otaknya akan berproses membentuk kecerdasan.

Proses pelatihan reading dan writing adalah stimulus yang paling hebat dalam membentuk kecerdasan.

Seorang anak yg sudah dapat membaca, akan melalui perkembangan belajar apa saja, yg sangat cepat dibandingkan sebelumnya.

Bisa membaca, menulis, berhitung…
Semakin meningkatkan kemampuan perkembangan kecerdasan anak!

Larangan membaca, menulis, berhitung di TK ~ Menghambat kecerdasan!

Bermula dari pembelajaran PAUD / TK yang tidak tuntas. #Pembodohan #2

———————————-

Masih mau dibodoh-bodohin, ditipu-tipu secara massal?

Masih nekat melarang calistung di TK? #mikir

———————————-

Mohon maaf bila ada kesalahan dan pilihan kata yg agak galak. Sesungguhnya ini bentuk kepedulian saya. InsyaAllah sahabat semua mengerti 🙂

Allahu Akbar!

Advertisements

11 thoughts on “Kebohongan Publik dalam Sistem Pendidikan: Larangan Calistung di TK (Oleh Dwi Estiningsih)

  1. setuju mbaaakkk. aku entah kenapa selalu mikir larangan calistung di tk cuma karena guru2nya (dan ortu ya) terlalu malas mengajari. -__- padahal pas mau masuk SD, banyak SD yang mewajibkan calon siswanya bisa calistung.

    mbak, terus gimana soal masuk SD harus 7 tahun dengan alasan psikologis anak baru siap umur segitu? aku masuk SD di usia 4 tahun 10 bulan, nggak merasa ada tekanan psikologis apapun. malah ranking 1 dari kelas 1 sampai kelas 6. ketuaan kan masa baru mulai SD di umur 7 tahun. :S

    sukaaa tulisanmu mbak! :*

    Like

    • @ Annisa Steviani : Sama. Aku juga masuk SD di usia belia, 4 tahunan. Sekolah ya lancar-lancar aja. Menurutku, usia muda bukan hambatan untuk memulai suatu pembelajaran. Malah, kalo sudah tua baru belajar, kayaknya jadi tambah kesulitan nangkap ilmunya. ^_^

      Like

  2. Pingback: Larangan calistung sebelum umur 7 adalah PEMBODOHAN? | Rumah kecil di seberang universitas

  3. saya sekolah TK dan SD di jepang. dan saya tidak diajari membaca dan menulis di TK. saya baru belajar membaca menulis di SD. saya ketika di Indonesia saya TK besar di umur saya yang ke 4. begitu saya pindah ke Jepang saya diturunkan menjadi TK Kecil, karena peraturan di Jepang hanya usia 7 tahun yang boleh masuk SD.

    saya memiliki pengalaman sekolah yang sangat menyenangkan dengan bermain di TK dan SD. dan saya pribadi ketika saya punya anak, saya akan mencari sekolah yang tidak mengajari anak saya membaca dan menulis di usia TK

    Like

  4. Sangat tidak setuju dengan tulisan ini. Menurut teori perkembangan Piaget, usia TK masih tahap pra operasional. Anak2 it belum punya logika yang memadai. Akibat yg ada jika anak2 TK belajar calistung adalah anak2 tidak tahu esensi dari calistung. Mereka hanya ‘kalkulator’ hidup. Saya juga sangat tidak setuju dgn pernyataan ‘di umur 18 tahun, seseorang tidak bertambah cerdas.’ Bisa beri saya penelitian atau sumber yg terpercaya yg mengatakan hal demikian?

    Like

  5. Tidak akan pernah jadi kalkulator hidup jika early literacy yg diterapkan “benar”. Indonesia masih sangat tertinggal dalam penerapan early literacy dan sangat setuju: jadi korban pembodohan massal tentang calistung. Calistung hanya bagian kecil dari Early Literacy.
    Framework pendidikan Jepang: disiplin dan tanggung jawab, tapi pendidikan Eropa unggul dalam mendidik anak2 menjadi anak2 yg kritis dan kenal diri sendiri.
    Anak2 Indonesia? Mereka jauh lbh unggul. Mereka happy survivors. Cerdas dan beradab budaya tinggi….kalau mau adopsi budaya indonesia beneran lho.
    Cukup jadikan negara lain wawasan, tapi bukan ACUAN. Karena Indonesia jauh lebih bisa menciptakan framework pendidikan yg lebih unggul.
    Salam Early Literacy 🙂

    Like

  6. Tidak akan pernah jadi kalkulator hidup jika early literacy yg diterapkan “benar”. Indonesia masih sangat tertinggal dalam penerapan early literacy dan sangat setuju: jadi korban pembodohan massal tentang calistung. Calistung hanya bagian kecil dari Early Literacy.
    Framework pendidikan Jepang: disiplin dan tanggung jawab, tapi pendidikan Eropa unggul dalam mendidik anak2 menjadi anak2 yg kritis dan kenal diri sendiri.
    Anak2 Indonesia? Mereka jauh lbh unggul. Mereka happy survivors. Cerdas dan beradab budaya tinggi….kalau mau adopsi budaya indonesia beneran lho.
    Cukup jadikan negara lain wawasan, tapi bukan ACUAN. Karena Indonesia jauh lebih bisa menciptakan framework pendidikan yg lebih unggul.
    Salam Early Literacy 🙂

    Like

  7. izin bertanya,
    apakah kedepannya akan berpengaruh terhadap psikologis anak ketika sejak dini anak belajar harus membaca, menulis, berhitung? dikarenakan umur 2 tahun sampai 7 tahun anak masih pada tahap operasional kongkrit, dimana pembelajaran pengenalan kata-kata harus menggunakan simbolik dll. sharing dengan teman berkaitan ini, share pengalaman dlapangan (kareka kami orang lapangan) terdapat titik jenuh datang lebih awal ketika anak semasa pra operasional sudah belajar calistung. mungkin kalo pengenalan alfabet, angka, dll tidak jadi masalah.
    jangan sampai kita merampas salah satu hak anak…salah satu hak anak yang saya maksudkan adalah bermain. bermain sebagai proses belajar.
    setuju jika formal reading-formal writing tidak boleh diberikan kepada anak pra operasional, berarti memang pengemasannya harus secara perlahan dan dikemas dalam sebuah bermain.
    Menurut saya anak bisa membaca dan anak bisa menulis harus dengan cara pembiasaan dan ketika datang minat si anak tersebut.
    Dengan adanya artikel bisa juga membuat guru SD di Indonesia membebankan kepada guru PAUD agar siswanya harus bisa membaca lulus dari PAUD tersebut, malah ada di salah satu SD di Indonesia yang menerima murid baru dng sebuah tes membaca dan menulis. Orang tua pun menuntut hal yang serupa kepada guru PAUD agar anaknya bisa calistung ketika lulus dari PAUD. Ketika anak tidak bisa, dibebankan kepada anak agar ikut les yang menyita waktu bermainnya.
    bukan maksud untuk berdebat, akan tetapi ini menjadi renungan bagi kita semua, bahwa anak bukanlah miniatur orangtuanya. Ada masanya anak akan bisa ini itu, selama kita selalu menjaga, membimbing, dan mendidiknya penuh kasih sayang.
    Terima Kasih

    Like

  8. Pingback: Akhirnya selesai nulis kurikulum 0-5 tahun di Inggris (ODOP Day 59 of 99) – Rumah kecil di seberang universitas

  9. Pingback: Larangan calistung sebelum umur 7 adalah PEMBODOHAN? | Anggrek

  10. sangat setuju bu dgn statement itu.karena saya mengalami sendiri bahwa anak2 yang sudah bisa calistung akan berkembang lebih pesat dr anak yg tdk bisa dan secara tidak langsung anak yg mahir calistung akan menjadi anak yg gemar membaca.Nah dari pengalaman ini saya sendiri malah kewalahan dlm memenuhi buku2 yg di ingin ananda baca.Hanya saran bila anak sudah bisa baca wajiblah kt menyiapkan buku2 cerita yg tepat buat putra/I kita.Selamat n terus mencoba.Ingat usia 0-6 tahun the golden age jgn sia sia ya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s