Syaithon does bullying and Allah asks him to go to Pluto!

krucil

Akhir tahun lalu, tepatnya pada saat liburan 2 minggu dalam rangka liburan Natal dan Tahun Baru, saya mulai mengenalkan huruf Hijaiyah kepada krucils. Caranya, dengan mengajak membaca buku Iqra’-nya KH As’ad Humam. Pekan ini krucils liburan seminggu. Liburan rutin alias halfterm. Jadi kira-kira sudah 5 bulan kita bac Iqra’.

Setelah 5 bulan, hasilnya adalah sebagai berikut. Fahdiy yang hampir umur 7 (tepatnya 6 tahun 10 bulan) sudah sampai Iqra’ 5. Dinara (5 tahun) Iqra’ 3. Dan Dara-zayna (3 tahun 3 bulan), secara mengejutkan berhasil membaca halaman pertama Iqra 1 sampai selesai. Ya, Dara bisa mengenali alif dan ba, tapi begitu masuk ke halaman berikutnya, ia belum bisa membedakan ba dan ta.

Tidak perlu menjadi psikolog dan pakar pendidikan untuk memahami mengapa 3 anak memiliki capaian berbeda dalam hal membaca huruf Hijaiyah. Setiap petang sepulang sekolah seusai makan, kalau diajak, “Mas, ayo ngaji,” atau, “Mas, ayo baca Iqra’,” Fahdiy akan duduk di pangkuan saya dan membaca dengan tertib. One day one page.

“Mbak Dinara, ayo ngaji…”
“Noooooo…. I don’t like ngaji, Bunda…”

Bagi saya pribadi, membaca buku Iqra’ seharusnya dikerjakan dengan fun. Sebagai bagian dari ‘bonding’ dengan anak. Saat mereka duduk di pangkuan, saya bisa memeluknya, dan menciumnya. Dengan dosis yang cukup, anak usia 5 dan 7 tahun, masih memerlukan pelukan meski tidak sebanyak bayi dan batita.

Lantas suami menciptakan masalah baru. Suami menuntut agar Iqra’ dibaca dengan sempurna. Dengan makhraj yang fush-ha (fasih), dan pada setiap halaman, dari baris pertama sampai baris terakhir, harus dibaca sempurna, serta semua harus tepat panjang pendeknya.

Mengaji menjadi momok menakutkan untuk Fahdiy dan Dinara. Padahal membaca Iqra’ dengan Sang Ayah, seharusnya membawa benefit tersendiri, diterjemahkan ke bahasa Inggris karena lughah Arabiyah bapaknya lebih baik dari emaknya.

“Dinara itu baru 5 tahun, Yah,” kata saya ketika anak-anak sudah tidur. “Belajar Islam itu seharusnya menyenangkan. Bukan menjadi momen yang menimbulkan trauma dan rasa benci. Apa nggak bisa baca Iqra’ nggak pakai nangis? Ngga usah dipaksa. Kalau anaknya cuma mau baca sebaris, ya gak apa-apa. Asa tiap hari dibuka, targetnya itu saja, sudah cukup.”

Sambil nyengir suami menjawab, “Aku khan cuma akting.”

Jangankan krucils. Saya aja, kalau baca surat panjang satu kalimat, koreksi dari suami pasti banyak sekali.

Dara mengaji karena imbas spill-over effect. Setiap kakak-kakaknya selesai melafal, “Alhamdulillah,” dan dengan napas lega kabur dari pangkuan, dia akan bilang, “My turn,” lantas duduk di pangkuan saya. Mula-mula hanya memegang buku Iqra’. Lantas berpura-pura membaca. Lima bulan akhirnya Dara khatam satu halaman. Tanpa paksaan. Tanpa air mata.

Krucils mulai mengenal huruf Hijaiyah setelah lancar membaca, dan bisa menulis kalimat dalam bahasa Inggris. Dara sudah mengenal huruf dan angka. Sama seperti Fahdiy dan Dinara, saya tidak tahu persis kapan ia mulai melek huruf. Saya hanya sering membacakan buku, mengajak berbicara, dan bermain. Pokoknya tiba-tiba Fahdiy dan DInara bisa membaca. Begitu saja, tanpa saya dengan sengaja harus mengajarkannya.

Belakangan, Fahdiy dan Dinara mulai bertanya-tanya, Where is Allah, Ayah? Is He high? Is He tall? How tall is He? Is He big?”

Bapaknya menjawab sebisa-bisanya meski di belakang kadang nggerundel juga, “Eh, nanyanya ke ke Ustadz Safaru saja… Ayah khan bayar Ustadz Safaru buat menjawab pertanyaan-pertanyaanmu…”

“Shaython is very bad, isn’t it, Bunda? He does bullying and all the bad things,” kata Dinara suatu ketika.

Saya cuma iya-iya saja.

Dua hari lalu kami ke London. Paspor perlu diperbarui. Pulangnya, di dalam train, saya memangku Mahdi sementara Dinara duduk di sebelah saya.

“Let me tell you story about Allah, Bunda,” katanya.

Saya pun mendengarkan.

Kisahnya begini. Saya terjemahkan ke bahasa Indonesia, “Once upon a time, there was Allah. Allah created angels and shaython. Angels selalu baik, shaython selalu jelek. Allah menciptakan manusia. And then Allah meminta semua to bow (untuk menyembah) kepada Allah. Shaython tidak mau. And Allah said, ‘Shaython, you are naughty. Go to your own planet.’ And shaython goes to Pluto.”

Saya cuma bisa bengong. Antara pengen ketawa, sambil terkagum-kagum kepada imajinasi anak-anak TK yang seringkali di luar mainstream. Tapi ya didengarkan saja dulu.

Turun dari train, dari stasiun, di dalam mobil dalam perjalanan dari stasiun ke rumah, saya bilang, “Sekarang Bunda mau cerita The Story of Allah.”

“Once upon a time,” saya mulai cerita, “Allah created Malaikat, or angels, from light. Malaikat is alwas good, they always obey Allah. And then Allah created shaython from fire. Shaython is always bad. And then Allah said, ‘Kun, jadilah. Fayakun, maka jadilah. Be, and it is. That was how Allah created earth, and mountains, and sea, and oceans, and rivers, and trees, and sky, and sun, and moon, and stars, and rainbow…”

“And telephone?”

“Ya jaman segitu telepon belum ada, Mbak… Bunda lanjutkan, ya… And then Allah took soil and created a man, the first man from the soil. His name was Adam. And Allah asked to malaikat, and shaython, and earth,  and mountains, and sea, and oceans, and rivers, and trees, and sky, and sun, and moon, and stars, and rainbow, to bow to Adam. But the naughty shaython didn’t do that. Shaython disobeyed Allah and didn’t bow to Allah as well…”

“And He went to Pluto!”

Sambil membatin, cape deh… Pluto lagi Pluto lagi, Bunda melanjutkan, “Because shaython disobeyed Allah, Allah decided that shaython must leave jannah, or paradise. Shaython had to go to jahannam, or hell, forever…”

“So He didn’t go to Pluto?”

“No. Shaython was agree… But, He wanted one thing, just one thing. He asked Allah’s permittion to mislead Adam, and His children, and his grand, grand, grand, grand children, to accompany Him in jahannam in the end of the world… And Allah said He got it. But Allah always protects us from shaython as long as we remember Allah. That is why we say Audzubillahi minassyaithonnirrajiim. It means, I seek shelter in Allah from the rejected Shaython…”

“And bismillahirrahmanirrahim?”

“Yes… Do you know what it means?”

“Allah is the most merciful?”

“Yes… In the name of Allah, the most Gracious, the most Merciful…”

Moral of the story-nya, kelihatannya meski selisihnya hanya 21 bulan, secara normal, usia tetap berpengaruh. Kalau liburan Fahdiy (6 tahun 10 bulan) bisa menyelesaikan Iqra’-nya sampai 2-3 halaman sehari. Tetapi tidak dengan Dinara.(5 tahun).

Berhubung ‘memaksakan calistung’ kepada anak yang belum berumur 7 adalah *kejahatan*, sepertinya saya harus mengubah metode mengajarkan Islam untuk Dinara.

Umur segini belajar yang santai-santai saja. Nggak perlu dikompetisikan. Meski pernah sih ngerayu suami, “Si Musa aja umur 5.5 tahun udah hafal 30 juz, lho, Yah…”

Jawaban bapaknya? “Ya bapaknya Musa khan bukan ilmuwan, Bu?”

“Mumpung anaknya masih kecil, khan lebih gampang diajak menghafal…”

“Justru nanti kalau kalau lebih besar lebih mudah diajak menghafal. Aku saja hafal Al Baqarah, Ali Imran, Yasin, dan surat-surat panjang justru ketika sudah kuliah di ITB…”

“Kok bisa?”

“Ya pokoknya setiap mau shalat Jumat di masjid, datang lebih awal. Menghafal dulu. Begitu saja.”

“Aku kok nggak hafal, lho?”

“Percayalah, menghafal itu gampang.

Haduh, kalau sudah begini saya terpaksa nyerah. Nggak deh kalau saya harus baca Taxonomy Bloom (yang disempurnakan Anderson dan Krathwohl) yang menyatakan menghafal atau mengingat adalah pembelajaran pada tingkat terendah.

“Fahdiy and Dinara are fine, mashaAllah,” kata Aunty Rajina, guru ngajinya di islamic School. “But please make sure they read their homework. They don’t need to memorize, just read together the duas before and after eaating, sleeping, and some kalimah tayyibah….”

Ya, kalau baca doa harian dan kalimat thoyyibah saja, sih, oke, lah… Mari kita kerjakan…

Colchester, Essex, 31 Mei 2015

Advertisements

2 thoughts on “Syaithon does bullying and Allah asks him to go to Pluto!

  1. aih lucunya Dinara subhanalloh. saya juga ga maksa anak-anak saya (6 & 5 tahun) utk ngaji iqro mbak. lha diajari nggak mau. baru dua huruf udah pergi. sholat pun baru saya ajak pas maghrib dan bacaannya baru takbir sama al fatihah dan tiga qul saja.
    belum tujuh tahun ya gpp lah. yg penting mereka lihat saya sholat terus dan ngaji. semoga akhirnya mereka bisa meniru dan mengokohkan keimanan dalam hati mereka tanpa paksaan.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s