Menimbang daycare untuk batita

raising babies

Bisa jadi buku ini menjadi best-selling karena faktor kontroversinya. Di dalam buku ini, Steve Biddulph (lahir tahun 1953) yang telah menjadi psikolog selama 30 tahun menyimpulkan bahwa tidak seharusnya anak berusia kurang dari 3 tahun dititipkan di daycare (tempat penitipan anak).

Ia memulai bukunya dengan fakta, seiring banyaknya perempuan yang harus segera kembali ke kantor beberapa bulan setelah melahirkan bayinya, bisnis daycare semakin menjamur bak cendawan di musim hujan. Ia menuliskan perasaan dilematis yang dihadapi ibu-ibu yang terpaksa harus menitipkan bayi-bayinya di daycare, di mana para ibu ini dihadapkan pada persimpangan jalan; to return to work or stay at home? Ia menyatakan, orang lain memaksa para ibu ini untuk berjalan ke arah yang mereka kehendaki, tetapi apa yang sebenarnya betul-betul diiinginkan oleh para ibu ini? Biddulph menyatakan, “Hal pertama yang harus Anda sadari adalah, Anda memiliki pilihan.”

Jika memilih untuk menitipkan anak di daycare, Biddulph memberikan saran untuk melihat dan merasakan langsung suasana daycare-nya.

“Lupakan brosurnya. Lupakan propagandanya yang berkilauan. Lupakan kalimat-kalimat yang berusaha mempersuasi bahwa segala sesuatunya baik-baik saja,” demikian sarannya. Kunjungan untuk mengevaluasi daycare hendaknya bukan kunjungan singkat yang hanya melihat fasilitas di dalam daycare, soal kebersihan, keamanan, dan kenyamanannya. Tetapi berupa kunjungan sekitar satu jam dan minimal dilakukan dua kali untuk mengobservasi kondisi daycare yang dipilih.

Secara umum ia menunjukkan kelemahan daycare:

  1. Tidak ada ketenangan

Secara umum suasana daycare yang penuh dengan anak-anak kecil adalah selalu ramai. Anak-anak balita memang bisa diajak untuk bermain secara tenang; bermain games, mengobrol, dan melakukan aktivitas dengan tenang. Tetapi di lingkungan daycare tidak mudah bagi anak-anak untuk bisa diharapkan selalu tenang: mereka akan berlari, berebut mainan, dan saling bersaing untuk mendapatkan perhatian pengasuhnya.

  1. Adanya anak-anak yang rapuh

Anak-anak batita sebetulnya terlalu muda untuk diasuh di dalam kelompok. Mereka terlalu muda untuk bisa berteman lebih dari beberapa menit. Biasanya anak-anak yang lebih besar atau lebih jahat akan mendominasi secara fisik dan emosional. Ini sering menjadi masalah jika kepribadian anak pada dasarnya adalah pemalu, pendiam, atau sebaliknya dominan. Dan di daycare, tidak ada tempat untuk bersembunyi atau melarikan diri dari anak-anak yang lain. Mau tak mau anak harus menerima kondisi tersebut sepanjang hari.

  1. Kurangnya rasa kepemilikan individual

Di daycare, semua adalah milik bersama. No personal space. No quiet corner. Dan tidak ada mainan atau barang yang betul-betul bisa diakui sebagai ‘ini milikku’ atau ‘itu miliknya’.

  1. Rasio dewasa dan anak

Staf daycare tentu saja berusaha melakukan yang terbaik. Tetapi penelitian Department of Education (1999) menunjukkan bahwa pengasuhan 1:1 yang diterima setiap anak di daycare, rata-rata hanya 8 menit per hari.

  1. Ada anak-anak yang memerlukan perhatian lebih

Ada anak-anak yang selalu berada di pojok, berusaha menenangkan diri sendiri dengan bermain sendiri berulang-ulang, memandang sekeliling dengan cemas, berusaha berbaur, tetapi lantas kembali menyendiri. Anak-anak ini tidak merasa ‘in group’ dengan yang lainnya. Mereka sering melamun, seolah-olah berada di tempat lain. Anak-anak ini tidak happy. Tetapi bagi sebagian karyawan daycare, bisa jadi anak-anak ini ‘good children’ karena tidak menuntut banyak perhatian. Anak-anak ini cenderung terlupakan, tertutupi oleh anak-anak lain yang lebih menuntut perhatian para staf daycare.

  1. Tidak semua staf adalah orang yang peduli.

Tentu saja ini juga berlaku untuk orang tua. Tidak semua orang tua adalah orang yang peduli. Tetapi, jika ini menyangkut tentang anak kita sendiri, tentunya kita lebih termotivasi untuk memberikan yang terbaik.

  1. Staf daycare peduli, bukan mencintai

Interaksi yang dibangun antara staf daycare dan anak adalah ‘hubungan profesional’. Kontak mata pengasuh dengan anak tentu tidak sama dengan kontak mata ortu dengan anak. Yang diberikan oleh daycare adalah perawatan, tetapi bukan cinta.

  1. Aktivitas mekanis

Toileting, makan bersama, istirahat, mengganti popok, mencuci tangan, aktivitas satu ke aktivitas lain, semua dikerjakan secara massal layaknya pabrik. Sangat jarang stad daycare memiliki waktu untuk berinteraksi dengan satu orang anak secara personal, misalnya menyanyi dengan satu anak, atau menggelitik perut anak saat mengganti popoknya, sebagaimana yang sering dilakukan oleh orang tua. Di daycare, semua adalah kehidupan institusional.

  1. Kehadiran bayi nampak salah

Anak batita memiliki kemampuan adaptasi lebih rendah daripada anak-anak yang lebih tua. Anak batita umumnya belum bisa bermain secara berkelompok, dan belum mampu mempertahankan dirinya sendiri. Mereka mampu melewati hari-hari di daycare dengan selamat tapi tidak benar-benar bahagia. Anak-anak yang lebih tua bisa diharapkan menikmati daycare, sementara bagi anak-anak batita, mereka ‘menoleransi daycare’.

  1. Waktu berjalan begitu lambat

Bagi orang dewasa yang biasanya sibuk dan aktif, di daycare, waktu berjalan terasa begitu lambat. Pekerjaan mengurus anak-anak kecil adalah rutinitas. Lambatnya waktu berjalan sebenarnya juga dirasakan anak-anak. Satu hari terasa begitu panjang bagi anak berusia dua tahun, bahkan jika si anak adalah anak yang bahagia sekali pun. Hari di rumah juga bisa terasa begitu panjang, tetapi ditandai dengan saat-saat menjadi bagian dari kehidupan orang tua—pergi berbelanja, aktivitas ke luar rumah, kegiatan rumah tangga, terlibat aktivitas yang dikerjakan orang tua. Ada lebih banyak variasi kegiatan pada kehidupan anak di luar daycare daripada anak yang berada di dalam pagar atau tembok daycare centre.

Apakah daycare (tempat penitipan anak) berbahaya bagi batita?

Setelah melewati berbagai penelitian, di akhir 1980 ditemukan bahwa anak-anak berusia 3-8 tahun yang menghabiskan banyak waktu di tempat penitipan anak sejak bayi ternyata mengalami peningkatan tingkat agresifitas. Secara sederhana, anak-anak ini lebih sering terlibat perkelahian dengan anak lain, dan sulit diminta mengikuti aturan.

Di awal 1990, disimpulkan bahwa tiga faktor risiko, yang jika dikombinasikan bersamaan, terbukti meningkatkan perilaku bermasalah anak:

1. Diasuh di daycare pada saat terlalu muda

2. Menghabiskan banyak waktu di daycare (lebih dari 20 jam/minggu)

3. Melewatkan masa kanak-kanak di daycare selama bertahun-tahun

Ringkasnya, menitipkan anak di daycare bisa menimbulkan masalah jika anak terlalu muda, terlalu sering, dan terlalu lama.

Ringkasan hasil penelitian:

1. Adanya problem perilaku pada anak

Pada kelompok anak yang menghabiskan waktu di daycare 10 jam/minggu ditemukan 6% anak dengan perilaku bermasalah. Pada kelompok anak yang menghabiskan 30 jam/minggu di daycare, ditemukan 17% anak dengan perilaku bermasalah.

Definisi perilaku bermasalah adalah; tidak mematuhi aturan sekolah, membantah kepada guru, sering berkelahi, jahat kepada anak lain, pelaku bullying, menyerang orang lain secara fisik, emosi mudah meledak dan perilakunya sulit diprediksi. Tingkat masalah ini tidak selalu tinggi, tetapi ada pada sejumlah besar anak.

  1. Meski daycare berkualitas baik, tidak bisa menghambat munculnya perilaku bermasalah

Hasil penelitian the Effective Provision of Pre-school Education (EPPE) menyatakan bahwa daycare berkualitas baik bisa mengurangi perilaku yang mencemaskan (antisosial), tetapi tidak mengeliminasi perilaku ini.

Penelitian yang lebih mutakhir menemukan cinta orang tua kepada anak menghasilkan sesuatu kepada anak, yang mana (cinta ini) tidak bisa digantikan oleh staf daycare. Meski kualitas daycare sangat penting, hal itu bukan panacea (obat segala sesuatu) yang bisa diharapkan: daycare tetaplah ‘pengasuhan dari orang asing’, dan pengasuhan lebih banyak dalam bentuk kelompok daripada individual, dan hal ini berimbas terhadap perasaan aman dan non-agresif pada diri anak.

3. Yang paling bermakna adalah kualitas pengasuhan orang tua

Hal yang paling penting dari diikutkan atau tidak diikutkan daycare adalah pengasuhan orang tua. Faktor terpenting dalam membentuk mental sehat pada diri anak dinyatakan dalam bentuk ‘maternal sensitivity’ yakni kemampuan untuk merespon kebutuhan anak secara hangat dan sensitive.

Meskipun pengasuhan orang tua adalah faktor terpenting, hal ini dan pengasuhan di daycare saling memberikan imbas dan mempengaruhi satu sama lain. Orang tua yang menggunakan jasa daycare untuk bayi-bayinya dalam jangka panjang (terlalu dini, terlalu sering, dan dalam jangka waktu terlalu lama) menyebabkan orang tua tidak memiliki kesempatan cukup untuk menjalin kedekatan dengan anak, dan hal ini berpengaruh terhadap hubungan di antara keduanya seumur hidup.

4. Lebih sedikit lebih baik, tetapi tidak ada batas aman

Belum ditemukan batas aman dalam pemanfaatan daycare untuk anak batita. Pada waktu yang sama, hasil penelitian hanya menyatakan bahwa bagi batita lebi sedikit waktu mereka berada di daycare, itu lebih baik.

5. Pentingnya umur anak

Hasill penelitian National Institute of Child and Health Develompment (NICHD) menemukan bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara batita yang diasuh di daycare baik pada anak usia 0-1 tahun maupun 1-2 tahun. Dampak buruknya sama. Anak berusia 18 bulan sama rapuhnya dengan bayi 4 bulan.

Anak usia 2-3 tahun biasanya takut terhadap orang asing, memiliki keterikatan kuat dengan satu-dua orang dewasa yang dipercayanya, belum mampu bermain dalam kelompok, memerlukan banyak perhatian, menuntut banyak dipahami, dan membutuhkan bantuan untuk belajar mengendalikan perilakunya.

Dampak buruknya moderat tetapi tersebar luas

Perlu ditegaskan bahwa pengasuhan daycare untuk batita memiliki dampak negative sebagaimana hasil penelitian yang sudah dipaparkan. Tetapi, meski dampak negatif ini jumlahnya kecil, ditemukan terjadi pada banyak anak. Dr Penelope Leach menyatakannya sebagai, “A small but significant difference in a large group of children.”

Professor Jay Belsky, salah satu peneliti di NICHD menyatakan bahwa dampak negatif ini terlalu kecil untuk diperhatikan. Ia mengobservasi dampak ini pada keluarga dengan karakteristik luas di mana faktor-faktor pembiasnya (compounding factors) dihilangkan dengan teknik statistic: keluarga kaya dan miskin, orang tua tunggal atau menikah, kulit hitam, Hispanik, atau kulit putih; semua terkena dampak negative ini. Sehingga ia membuat kesimpulan dampak negatif pemanfaatan daycare untuk batita adalah hal yang nyata, dan tidak mudah untuk dihilangkan.

Professor Jay Belsky menunjukkan persoalan sosial yang muncul tatkala banyak anak mengalami masalah perilaku akibat dampak negatif daycare di usia terlalu muda, meskipun masalah perilaku ini sebetulnya kecil saja. Anak-anak dengan masalah perilaku ini membanjiri sekolah. Meski masalah perilakunya kecil, tetapi jika yang bermasalah adalah banyak anak, imbasnya adalah muncul persoalan sosial di masyarakat.

Misalnya di sekolah. Di dalam suatu kelas di mana terdapat 1-2 anak dengan sedikit masalah perilaku, maka kelas masih bisa dikendalikan oleh guru. Tetapi kelas dengan 8-10 anak yang mengalamai sedikit persoalan perilaku, menjadi kelas yang unmanageable.

Sisi Prositif Daycare

Daycare tidak selalu memberikan dampak buruk. Hasil penelitian the Effective Provision of Pre-school Education (EPPE) menemukan bahwa untuk kelompok anak berusia 3-5 tahun, daycare dan segala bentuk pre-school memperkaya kemampuan kognitif anak, yakni kemampuan berpikir, dan keterampilan mengaitkan alasan dan sebab-akibat. Bagi anak di kelompok usia ini, daycare sangat bermanfaat, terutama untuk anak-anak yang berasal dari keluarga miskin. Meskipun demikian, hasil maksimal hanya dicapai dengan pemanfaatan daycare maksimum 20 jam/minggu. Tidak ada keuntungan tambahan dari mengasuhkan anak di daycare lebih dari waktu tersebut.

Bagian 2 buku berisi proses pertumbuhan otak anak yang dibagi dalam beberapa sub bab; pentingnya cinta dalam pertumbuhan otak anak, membentuk otak sosial, serta pentingnya tahun kedua dalam tumbuh kembang anak dalam kaitan dengan kecerdasan emosi.

Di bagian ini juga menjelaskan bahwa daycare adalah tempat yang memicu stress bagi bayi dan batita. Ini diketahui dari kadar hormone kortisol dalam air ludah.

Mengapa bayi dan batita mengalami stress di daycare? Karena bayi dan batita tidak memiliki sense of time. Mereka tidak memahami bahwa ‘ibu akan datang kembali setelah 8 jam’. Sebaliknya, tubuh mereka didesain untuk mengasumsikan jika pengasuh yang dipercayanya pergi, mereka berada dalam bahaya. Tubuh mereka panik, dan memproduksi lebih banyak hormon kortisol yang membuat mereka siaga.

Memilih Nanny (pengasuh tetap)

Keluarga yang lebih sejahtera mampu mempekerjakan nanny. Ini memberikan dua keuntungan sekaligus; anak tinggal di rumah, dan menerima pengasuhan 1:1 atau 1:2.

Tetapi mempekerjakan nanny juga bukan tanpa masalah. Jika nanny bekerja dengan baik, anak akan mencintainya. Semakin banyak waktu yang dihabiskan antara nanny dan anak, semakin besar keterikatan dan kecintaan di antara keduanya, sehingga bisa jadi anak lebih mencintai nanny daripada orang tuanya sendiri. Semakin baik nanny bekerja, semakin besar peluang ia menggantikan peran ibu. Penulis buku ini memberikan pertanyaan, “Is this really what you want?”

Penulis menyarankan pengasuhan anak oleh keluarga besar atau teman keluarga sebagai lebih baik daripada jasa nanny dalam jangka panjang.

Love and Money

Di bagian akhir buku, Steve Biddulph menutup dengan mengajak semua pihak untuk memperbaiki kondisi yang ada. Ia menyatakan, “Di dalam kehidupan ini, tidak ada yang lebih penting selain dari membangun hubungan yang baik dengan orang lain.”

Mayoritas orang akan setuju dengan pendapat ini. Tetapi faktanya saat ini manusia hidup lebih kesepian dari orang-orang sebelumnya.

“Kita menonton sinetron Neighbours dan bukannya berbicara langsung dengan tetangga kita. Kita memiliki masalah dengan mempertahankan bahtera rumah tangga. Banyak lansia hidup sendirian. Keluarga besar sangat jarang bisa berkumpul. Ornag-orang jompo berada jauh di dalam nursing homes (panti jompo). Kita membeli music dan bukannya membuat music bersama. Kita banyak berbelanja tetapi bukan bersosialisasi. Kita menonton TV dan bukannya berbicara satu dengan yang lain. Kita lebih banyak makan dan bukannya berhubungan intim. Dan kita masih saja bertanya-tanya mengapa kita tidak berbahagia…”

Kita bisa memilih

Hari ini, pilihan besar bagi kita adalah kemampuan memilih antara love and money. Kita semua memerlukan uang, tetapi ada perbedaan besar antara memerlukan dan diatur oleh uang. Trik di dalam hidup ini adalah meletakkan prioritas. Kita mengatur, kalau tidak, maka kita yang akan diatur.

Jika kita memilih love, dan meletakkan love sebagai prioritas utama, maka semua hal-hal yang kecil-kecil akan ikut berubah. Jika kita memilih love (dan bukannya money) sebagai pilihan prioritas, hidup akan berjalan melambat. Hal-hal yang sifatnya materi akan bermakna lebih kecil. Sebaliknya, komunitas menjadi lebih berarti. Dengan cinta, kita akan mulai menemukan komunitas yang lebih baik, ketergantungan kepada uang berkurang, lebih banyak terlibat dengan orang lain, dan kita akan mulai merasakan bahwa hidup kita ternyata memiliki jiwa.

Biddulph menulis, “Buku ini tidak akan memberikan petunjuk bagaimana Anda harus menjalani hidup. Tetapi buku ini menjanjikan: when love becomes the guiding principle of your life, then everything changes. You will not regret it.

Jika cinta yang menjadi prinsip utama di dalam hidup Anda, semua akan berubah. Anda tidak akan menyesalinya.

Dalam sistem yang lebih luas, penulis juga menghimbau pemerintah untuk memberikan perhatian terhadap persoalan ini. ia menyebutnya the big three:

1. Cuti pasca melahirkan selama mungkin (1-2) tahun, dengan tetap menerima gaji. Cuti diberikan kepada kedua orang tua sehingga mereka bisa bergantian mengambil cuti.

2. Jam kerja yang fleksibel, yakni adanya pilihan kerja part time baik bagi ibu dan ayah.

3. Adanya jaminan bisa kembali bekerja setelah menjalani masa cuti.

Negara terbaik dalam contoh adalah Swedia. Dengan pemberian cuti yang panjang jumlah batita di daycare tidak banyak. Amerika Serikat dan Inggris adalah contoh yang buruk di mana pemerintah justru kian pelit terhadap berbagai tunjangan dan sebaliknya malah menambah jumlah daycare alih-alih memberikan gaji bagi orang tua yang cuti pasca persalinan.

Colchester, Essex, 22 Mei 2015

Advertisements

4 thoughts on “Menimbang daycare untuk batita

  1. Tapi mempekerjakan babby sitter atau nanny jaman sekarang juga beresiko tinggi, banyak temuan rekaman CCTV menemukan nanny yang berlaku kejam pada balita saat orang tua tidak ada di rumah. Itulah mengapa orang tua memilih, lebih aman menitipkan pada baby day care, tentunya setelah dipilih yang paling manusiawi perlakuannya pada anak-anak

    Like

    • Ada pengalaman tetangga belakang rumah yang menitipkan anaknya di day care. Hidung anaknya digigit oleh pengasuh day care-nya hanya dengan alasan si bayi menggemaskan! Nah, kalau sudah seperti itu, betul apa isi artikel ini bahwa interaksi antara pengasuh day care dg bayi tdk ada jaminan akan baik terus.

      Tapi, saudara ipar saya menitipkan anaknya ke day care, anaknya jd lebih cepat mandiri dibanding dg anak sy saat seusia dia. Dan kata adik ipar sy, kemandirian itu didapat dr program2 di day care.

      Nah, ngga ada jaminan day care akan bagus terus atau jelek terus kan? Resiko, itu yg mmg harus ditempuh saat memilih. Tp, meminimalkan resiko, bs dibantu dg menjalin komunikasi yg baik dg anak saat si ibu sdh plg kerja.

      *maaf mak, komen sy kepanjangan 😀

      Like

  2. Kedua anak saya dirumah bersama nenek dan ayahnya sering dirumah karena suami wiraswasta. Banyak teman saya yang menitipkan anak di daycare bahkan sejak usia 4 bulan, dan mereka sekarang sudah besar2, ada yg sma, kuliah atau bekerja. Dan menurut pengamatan saya anak2 mereka baik2 saja, kuliah lancar, sekolah di sekolah favorit dan tidak nakal. Malah, banyak anak tetangga yang tinggal bersama Ibu dirumah, banyak bermasalah disekolahnya. Memang lebih baik jika ortu yang merawat anak sendiri, tapi asal kualitas bertemu dan komunikasi di keluarga baik, semoga semua baik2 saja. Makasih sharingnya mbak 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s