Ketika kita tua nanti…

**hi res** Elderly woman sitting in wheelchair painting water color by window

**hi res** Elderly woman sitting in wheelchair painting water color by window

(Sumber gambar The Telegraph)

Namanya Mbak Asri Supatmiati. Beliau jurnalis di surat kabar Radar Bogor. Beliau menulis status renungan:

Cermin Toilet Training

Memang repot ngajari toilet training anak. Harus sabar dan telaten. Akmal baru mulai belajar toilet training umur 2 tahun. Ada ibu-ibu yg sudah mengajari anaknya sejak sebelum usia 1 tahun. Wah, hebat!
Kalau saya nunggu Akmal bisa bicara. “Dik Akmal kalau mau pipis bilang ya,” jadi nanti dia bilang.
Dan, kemandirian anak-anak soal urusan toilet ini memang beda-beda. Ada yg cepat, ada yg lambat. Ada yg sampai SD masih ngompol. Sama saja dengan pertumbuhan lainnya. Makanya nggak bisa dipaksakan.
Di situlah konsistensi dan kesabaran kita diuji. Anak sekecil itu masih sangat membutuhkan bantuan.

Saya jadi termenung, kelak ketika kita tuapun (jika umur mengizinkan), akan kembali layaknya bayi. Yang selalu membutuhkan uluran tangan orang lain untuk mengurusnya. Siapa lagi tumpuan kita kalau hukan anak-anak.
Maka, merawat dan memperlakukan mereka dengan sabar, telaten dan penuh kasih sayang sebenarnya juga cermin bagi kita. Kelak ketika tak berdaya, kitapun inginnya diperlakukan dengan sabar, telaten dan dikasihi.

Membacanya membuat saya teringat status Ustadz Fauzil Adhim, “Kalau masih ada umur, apakah yang engkau harapkan dari anak-anakmu di tengah malam saat engkau terjaga, 40 tahun yang akan datang? Apakah yang paling engkau rindukan dari mereka tatkala langkah sudah gemetar karena uzur? Apakah yang telah engkau semai pada diri mereka?”

Lantas kembali kepada pertanyaan Mbak Asri, “Kelak ketika kita tuapun (jika umur mengizinkan), akan kembali layaknya bayi. Yang selalu membutuhkan uluran tangan orang lain untuk mengurusnya. Siapa lagi tumpuan kita kalau hukan anak-anak.”

Dan saya jadi teringat kepada salah satu teman sekantor Mama saya.

Kita sebut saja namanya Tante Nia. Beliau keturunan Jerman, sangat cantik jelita. Memiliki dua putra. Putra pertama, Mas Pras, selain luar biasa tampan juga sangat cerdas. Mas Pras ini kuliah double degree di ITS dan di UNAIR dan dua-duanya lulus cumlaude. Beliau runner up Cak dalam perhelatan tahunan Cak dan Ning, yang lantas melanjutkan pendidikan di Amerika Serikat. Istrinya adalah teman kuliah waktu di ITS.

Mas Pras tetap berdomisili di Surabaya, di salah satu perumahan elit (lupa namanya… udah 4 tahun gak mudik…). Sementara putra kedua berkarier di Jakarta.

Satu ketika Tante Nia menelpon Mas Pras, “Pras, Mami sakit. Mbok kamu ke sini-o…”
Jawabannya?
“Aku lagi sibuk, Mi, sedang banyak pekerjaan di kantor. Nanti kukirim pembantuku ke rumah…”

Di negara-negara maju, orang-orang tua yang sudah sangat tua dan memerlukan perawatan khusus, banyak yang dimasukkan ke Old Age & Elderly Care Homes, semacam Tempat Penitipan Lansia. Atau mungkin panti jompo.

Melihat semakin banyaknya Tempat Penitipan Anak alias Daycare di Indonesia, saya kok punya feeling 40 tahun lagi akan banyak Old Age & Elderly Care Homes di Indonesia.

Lahan bisnis baru, ini. Prospeknya insyaAllah cerah, karena umur harapan hidup manusia cenderung memanjang.

Tapi kembali lagi ke pertanyaan Ustadz Fauzil Adhim, “Apakah yang engkau harapkan dari anak-anakmu di tengah malam saat engkau terjaga, 40 tahun yang akan datang? Apakah yang paling engkau rindukan dari mereka tatkala langkah sudah gemetar karena uzur? Apakah yang telah engkau semai pada diri mereka?”

Saya sering kali galau dengan masa depan anak-anak dan selalu merasa tidak memberikan bekal yang cukup bagi mereka untuk menghadapi tantangan dunia 40 tahun yang akan datang. Dan biasanya suami akan menjawab dengan begini, “Anak-anak adalah masa depan, sekarang, dan masa lalu. Masa depan: kepada mereka kita menaruh harapan. Masa sekarang: kita sedang membentuk jiwa-jiwa mereka. Masa lalu: kita membesarkan dengan pengalaman. Ketiga bagian garis waktu hanya dapat diselaraskan oleh Dia yang tidak mengenal masa. Karena itu kuasa kita atas anak-anak kita hanyalah doa.”

Ya, masa lalu sudah terlewat, tidak bisa diulang lagi. Masa depan masih misteri. Yang bisa dikendalikan adalah masa sekarang. Kalau kita diberi umur yang panjang dan barokah, semoga kelak anak-anak kita sabar menghadapi kita sebagaimana sabarnya kita merawat mereka saat mereka masih kecil. Seperti doa yang kita ajarkan kepada mereka, “Allahumaghfirli dzunubi waliwalidayya warhamhuma kama robbayani shogira…. Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan Ibu Bapakku, sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku di waktu aku kecil.”

Colchester, Essex, 12 Mei 2015

Advertisements

11 thoughts on “Ketika kita tua nanti…

  1. Makjleb! Sy belum menikah dan punya anak. Tapi baca ini bikin sy berfikir ttg apa yg harus saya lakukan kepada anak2 sy nanti. Bahwa apa yg kita lakukan kepada anak akan anak lakukan kepada kita nanti. Trima kasih sdh berbagi ya Mbak ^_^

    Like

  2. memang kiat pasti berharap banayk dg anak kita. yang serin jadi kebdala saat kiat berjauhan dg orang tua. banayk orang tua yang gak mau diajak tinggal dg kita dg alasan sudah nyaman di rumahnay sendiri.. kadang jadi serba salah. Aku juga berdoa kelak anak-anakku gak terllau jauh bekerjanya sehingga bsai membantuku kalau ada apa-apa

    Like

  3. Love this post, mak..sangat inspiratif.. Semoga saya diberi kesempatan utk melahirkan dan mmembesarkan anak2 yg shalih dan shalihah serta berbakti pada kedua orangtuanya..aamiin ya Allah..

    Salam kenal dan salam hangat ya, mak.. 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s