Di Kristen Ada Jehovah Witnesses, di Islam Ada Hizbut Tahrir?

jw

(Para aktivis Jehovah Witnesses di Oxford Circus, salah satu underground terpadat di London. Sumber gambar dari The Times)

“Aku ke One Stop,” kata saya, “Susu habis.”
Kamis, 7 Mei 2015. Jam belum lagi genap 08.15 ketika saya keluar rumah. Krucils libur lantaran sekolahnya dipakai pemilu sehingga pagi yang biasanya sibuk jadi terasa agak longgar.

Di depan minimarket One Stop yang berjarak 3 gang, sudah berdiri papan Jehovah Witnesses. Lengkap dengan berbagai majalah, brosur, dan 3 orang yang terdiri atas 2 perempuan dan 1 lelaki. Hebat, pikir saya dalam hati. Sepagi ini sudah rapi dan siap menyambut customer.

Keluar dari One Stop, salah satu perempuan Jehovah Witnesses mengangsurkan majalah The WatchTower, majalahnya Jehovah Witnesses.
“Thank you,” saya menolak secara halus. “I already got one,” kata saya lagi.
Ia mengamati saya sejenak, lantas berkata, “Yes, I’m sure you already got one.”
Mata kami berpandangan. Sejurus kemudian kami saling melempar senyum tulus.

Sabtu sebelumnya, saya dan keluarga bersilaturahmi ke rumah salah satu keluarga Indonesia di Birmingham. Keluarga muslim, pasangan suami istri dosen dengan 3 anak. Di mejanya ada majalah The WatchTower.

“Itu lho, Mbak, sainganmu…” katanya sambil cengar-cengir.
Sebut saja namanya Mbak Rini. Beliau seorang dosen yang sedang menempuh pendidikan S2 di University of Nottingham. Penelitiannya tentang Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Entah apa judulnya.

Hari itu tanpa sengaja kami bertemu di pasar Hyson Green, daerah di Nottingham yang banyak muslimnya. Dia selesai berbelanja dari ASDA Supermarket, sementara saya menunggui Pakne krucils yang membeli daging halal. Karena ruangan toko yang sempit, saya dan anak-anak menunggu di halaman.

Saya mengikuti ekor matanya. Dua aktivis Jehovah Witnesses sedang membagi-bagikan selebaran kepada orang-orang yang lewat.

“Lha kok sainganku, toh, Mbak…” tanya saya ikutan nyengir.
“Ya, kalau Jehovah Witnesses khan militan gitu, Mbak,” terang Mbak Rini lagi. “Mereka rajin mendatangi orang, mendatangi pintu ke pintu. Terus kalau musim panas begini berdiri di pinggir jalan untuk mengajak orang-orang yang lewat ‘ngaji’ dengan mereka…”

Mau nggak mau saya senyum mendengar penjelasannya.

“Nah, di Islam, yang rajin berdiri di sini khan teman-teman Hizbut Tahrir,” katanya lagi.

Memang di perempatan sekitar Radford Road-Gregory Boulevard sering jadi tempat mangkal para brothers dari Hizbut Tahrir untuk pasang meja kalau musim semi dan musim panas. Terutama Sabtu-Ahad. Lokasinya memang strategis. Di situ ada ASDA Supermarket, toko-toko halal semacam toko sayur-buah-makanan Madinah dan Sharif&Sons, warung takeaway halal Desi Express, dan berbagai warung takeaway halal lainnya.

“Jadi, kalau di Kristen ada Jehovah Witnesses,” sambung Mbak Rini, “Di Islam kita punya Hizbut Tahrir… Hehehe…”

“Ya nggak saingan, lah, Mbak,” kata saya masih sambil cengengesan. “Sama kayak sampeyan dan saya. Sama-sama perempuan, tapi khan pasar dan sasarannya beda. Sampeyan pinter, aku ndak. Sampeyan ayu, aku ndak. Sampeyan jomblo, aku ndak…”

Di depan toko daging halal Haron yang persis bersebelahan dengan toko es krim halal Yumi, tawa kami bertebaran di udara. Mbak Rini sudah menyelesaikan masternya dan sudah kembali ke Indonesia. Sementara saya sekeluarga boyongan pindah rumah ke Colchester.

Kejadian dengan Jehovah Witnesses membuat saya mengenangnya kembali. Sekaligus membuka memori akan satu tulisan lawas yang barangkali masih bisa diambil hikmahnya hingga saat ini. Berikut tulisan 4 tahun lalu:

Sigrid dari Jehovah Witnesses

Friday, 1 July 2011

Waktu itu Senin sore dan saya sedang berusaha membereskan semua barang2 yg tersisa sebelum kami pindah rumah. Ayah, dan krucils ke warung untuk membeli makanan karena dapur sudah ditutup. Perkakas dan bumbu sudah dikardus. Mendadak pintu diketuk.
“Yes, wait please…” kata saya sambil terburu-buru memakai jilbab dan kerudung.

Ternyata tamunya Sigrid. Kejutan, pikir saya. Terakhir kali Sigrid datang adalah sebelum Dinara lahir.
Setelah ber-hai how are you good thank you, saya terpaksa meminta maaf karena tidak bisa mempersilakan Sigrid duduk. Rumah sudah sangat berantakan. Sigrid yg datang bersama temannya yang berkulit hitam memaklumi.
“We know you’re moving,” katanya sembari menunjuk papan bertuliskan TO LET yg dipasang agen perumahan di depan rumah.

Sigrid perempuan berkulit putih yang sudah tua. Sudah nenek-nenek. Umurnya barangkali sudah 60 tahun lebih. Saat pertama kali datang, ia menolak dipersilakan masuk dan duduk. Hanya bertanya, “Excuse me, are you expecting?”
Itu lebih dari 3 tahun yang lalu.

Sejak saat itu Sigrid selalu datang. Berkhotbah dan membawakan berita gembira dari kitab Injil. Juga membawakan buku-buku yang diterbitkan Jehovah Witnesses. Sekali waktu saya bilang, “I already chose a religion and I’m a muslim. I’m not interested in Jehovah Witnesses. Isn’t it better if you give these books to someone else who really needs them?”
Sigrid lantas menerangkan bahwa tujuannya hanya menyampaikan. Sehingga ia tidak membatasi aktivitasnya hanya kepada kalangan tertentu.

Berikutnya ketika berkesempatan ketemu Pakne krucils, diskusi makin berkembang. Sesuai peraturan di dalam ajarannya yang hanya membolehkan aktivitas ‘dakwah tatap muka’ hanya kepada sesama jenis, Sigrid mengenalkan Hugh kepada kami.
Hugh juga sudah sangat tua. Sepuh, orang Jawa bilang. Karena dia dulu juga dosen di Trent University, suami bisa mengobrol lebih gayeng. Doi dan Hugh, sebagaimana saya dan Sigrid, bertemu seminggu sekali.

Setelah Fahdiy lahir, melihat kesibukan saya, Sigrid jadi jarang datang. Sementara Pakne krucils dan Hugh tetap rutin bertemu.

Mula-mula suami hanya duduk manis dan mendengarkan. Di pertemuan2 berikutnya doi mulai nanya macam2.
Salah satu yang diperdebatkannya dengan Hugh adalah tidak adanya konsep takdir dalam agama Jehovah Witnesses. Tuhan hanya memberikan yang baik dan indah saja, Bila ada hal buruk menimpa maka itu mutlak bukan dari tuhan.
Sampai suatu ketika suami menantang Hugh agar juga diberi kesempatan untuk menjelaskan Islam.

Sayangnya di tengah-tengah diskusi, Hugh digantikan orang lain. Karena ia harus merawat istrinya yang sakit-sakitan. Penggantinya seorang pemuda berkulit hitam yang hanya datang 2-3 kali.
Setelah itu ketiganya tak pernah datang ke rumah. Saat Dinara lahir, Sigrid hanya mengirimkan kartu.

“I’m sorry I didn’t come earlier,” kata Sigrid. “As I think you’re busy with your new baby I decided to come after you’re a little bit free.”
“Yes, we’re a bit free now… that’s why we’re moving…” kata saya sambil cengengesan.
Setelah ngobrol macam2, termasuk memberitakan bahwa istri Hugh meninggal beberapa hari sebelumnya, dan Hugh sedang mengurus kremasinya (“He’s very devastated as his wife is his center of life…” kata Sigrid) maka masuklah Sigrid ke maksud dan tujuan kedatangannya hari itu.

Yakni untuk memberikan buku-buku Jehovah Witnesses dalam bahasa Indonesia pada saya. Yang menurutnya dia sudah menjanjikan itu sejak lama. Yang saya sendiri sudah nggak ingat kami pernah membicarakan itu.

Faktanya adalah, saya beralasan tidak bisa berbahasa Inggris demi menghindari khotbah dan ceramahnya Sigrid. Jadi tiap Sigrid minta saya baca leaflet, buku, majalah, juga Bibel yang diberikannya (semua gratis!), saya selalu ngeles bilang nggak ngerti bahasa Inggris.

Maka di sore yang cerah itu saya belajar sebuah ketulusan dan kerja tanpa pamrih dari nenek tua bernama Sigrid. Dia yang bukan muslim, ajarannya jelas2 salah dan nggak masuk akal, pasti sering ditolak saat mengetuk dari pintu ke pintu (thanks to Ebiet G Ade), dicela dan dihina. Bahkan mungkin ia dan Jehovah Witnesses dianggap agak kurang waras. Yang begitu saja, punya semangat yang tak lekang oleh matahari musim panas dan tak lapuk oleh salju musim dingin utk menyampaikan apa yang diyakini sebagai kebenaran.

Bagaimana dengan kita yang muslim?
Bagaimana lagi dengan para pengemban dakwah?

Prof. Dr. Fahmi Amhar, di dalam sebuah komentarnya menulis, “Dulu ada surat dari Amir Hizb: ‘Andaikan kalian mendatangi ahli Nushroh, terus ahlu Nushrohnya masih bertanya, “Man anta?” – nah ini berarti, sebenarnya kalian belum dikenal oleh si ahli nushroh. Aktivitas anda belum dikenal, reputasi anda belum dikenal, bagaimana ini akan dikasih dukungan?’

“Karena itu kawan, kontak-kontak-kontak! Jangan hanya berkumpul dengan sesama syabab! Kalau gaulnya hanya sesama syabab, seakan-akan Indonesia sudah full syariah, dan seakan-akan Khilafah bisa ditegakkan besok pagi. Pakai bumbu “ini janji Allah” lagi! Allah itu menjanjikannya pada orang-orang dengan kualitas seperti apa? Apa yang seperti kita sekarang? Ayo bangun! Bekerjalah, dan Allah, malaikatnya, dan orang-orang mukmin akan menyaksikan.”

Mari kita sampaikan Islam, syariah, khilafah. Kepada siapa saja. Jangan kalah semangat dengan para aki dan nini seperti Hugh dan Sigrid. Allah, malaikatnya dan orang-orang mukmin akan menyaksikan. Dan pinjem kalimat Pak Fahmi, “Biar tahu realitas lapangan. Biar lebih siap. (Dan) Biar Allah menganggap kita pantas untuk dilimpahi nushroh.”

Insya Allah…

Nottingham, 1 Juli 2011

***

Nambahi dari statusnya Pak M Ihsan Abdul Djalil yang menulis, “Proses berdirinya khilafah itu lebih mirip proses turunnya salju, bukan seperti turunnya hujan es. Hujan es yang turun menimbulkan suara gaduh, dan bisa merusak benda apa saja yang ditimpanya. Berbeda dengan salju. Turunnya salju tidak menimbulkan kerusakan benda apapun, bahkan tidak menimbulkan kegaduhan sedikit pun. Tahu-tahu, seluruh permukaan bumi sudah diselimuti hamparan salju.”

“Begitu pula nanti kedatangan khilafah rasyidah. Tanpa kegaduhan di sana sini, dan tidak merusak apa-apa. Tahu-tahu, kekuasaannya sudah melingkupi seluruh bumi. Insya Allah…”

Untuk teman-teman Hizbut Tahrir Indonesia, semoga Rapat Pawai Akbar membawa barokah bagi semesta alam. Tetap semangat, dan jangan lupa, kontak-kontak-kontak… 😀

Colchester, Essex, 10 Mei 2015

Advertisements

16 thoughts on “Di Kristen Ada Jehovah Witnesses, di Islam Ada Hizbut Tahrir?

  1. Wah saya baru tahu nih Mbak kalau di Kristen juga ada kegiatan begini. Yang dilakukan di Sigrid ‘mendatangi rumah’ untuk menyampaikan ‘kebenaran’ itu mengingatkan sama kegiatan yang dilakukan jamaah Tabligh ya. Bedanya, jamaah Tabligh mendatangi keluarga-keluarga Muslim untuk mengajak para lelaki shalat di Masjid.

    Like

  2. Subhanallah.. iya saya pribadi merasa kita kalah dgn semangat mereka dlm “berdakwah”

    Semoga postingan mbak bisa memberi semangat utk teman2 seiman, aamiin..

    Makasih ya mbak.. 🙂

    Like

  3. Di indonesia juga ada lho. Saya pernah didatangi dua perempuan. Itu sekitar 7 tahun yang lalu. Di hari jumat siang, saat rumah sepi karena suami sholat jumat, dua perempuan ini meminta waktu untuk menjelaskan agamanya. Padahal mereka jelas2 melihat saya pakai jilbab. Saya juga diberi majalah dan leaflet tentang saksi jehovah. Tapi hanya sekali itu saya bertemu mereka, karena setelah itu kami pindah kota.

    Like

  4. pesan yang perlu ditindaklanjuti “jangan hanya berteman/bergaul dengan para syabab”. para syabab memang harus mampu bergaul dengan banyak lini biar dakwah semakin cepat menyebar. dan yg perlu diingat, tetap jaga kualitas diri agar tidak tergerus arus. maunya mewarnai tapi malah terwarnai 🙂

    Like

  5. Wowgh.. sangat inspiratif teh..
    Fitri jd malu pdhl masih singgle tp blom bisa sejiddiah itu dlm berdakwah smga bsa mnjdi api pmntik tungku… 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s