Anak hanya cerminan orang dewasa

11073839_10152872201902730_178437479_n

(“Wis jarno ae mbokmu iku, sing penting awake dhewe wareg iso turu onok klambi resik babahno sing nang pawon iku ben sak kareppe… Ngono lho, Le, dadi wong lanang iku, gak usah kakehan omong… Pokoke iya, iya, iya…”)

Pak Rahman adalah kader dakwah sejati dari sebuah kelompok Islam yang visinya adalah memastikan terlaksananya ‘Ubudiyyah Lillahi Wahdah’, yakni manhaj Allah ditegakkan di muka bumi ini. Beliau memiliki satu putra berusia 5 tahun, Hanif.

Satu ketika Hanif bertanya kepada ayahnya, “Yah, mobil-mobilanku yang merah hilang… Ayah melihatnya?”
“Itu lho, di bawah meja,” jawab ayahnya yang sedang menonton berita penting di TV.
“Mana, Yah?”
“Itu, lho…”
“Mana, Yah, nggak ada…” Hanif mencari-cari di bawah meja di antara tumpukan koran.
“Mana, mana, mana-mana melulu,” Pak Rahman mengambilkan mainan Hanif. “Mata segede jengkol mobil segini besarnya enggak kelihatan…” imbuhnya lagi.

Hari itu Pak Rahman mendapatkan amanah penting, yakni menjemput seorang ulama kenamaan dalam rangka mengisi kajian yang diselenggarakan kelompok dakwahnya. Bersama Hanif, beliau menjemput Sang Ustadz di bandara dan langsung menuju lokasi acara dengan mobil.

Di tengah perjalanan, Hanif yang duduk di bangku belakang tiba-tiba menuding ke luar jendela, “Ayah! Yah! Lihat, Yah, ada mobil sport! Bagus, Yah, bagus!!!”
Pak Ustadz yang sudah tua ikut celingukan, “Mana mobilnya, Nak?”
“Itu…” Hanif berusaha menunjukkan.
“Mana mobilnya, anak sholih?” tanya Pak Ustadz yang duduk di kursi sebelah Pak Rahman yang sedang mengemudi.
“Itu, lho… Di belakangnya jeep hitam…”
“Mana, ya? Kok Bapak nggak kelihatan, ya…” ujar Ustadz lagi.
“Mana, mana, mana-mana melulu,” tanggap Hanif kesal. “Mata segede jengkol mobil segitu besarnya enggak kelihatan!”
Pak Rahman kaget bukan kepalang. Ia sangat malu dan berkali-kali meminta maaf kepada Sang Ustadz. Sambil tersenyum-senyum simpul Ustadz menepuk bahunya sambil berkata, “Anak hanya cerminan orang dewasa di sekitarnya…”

Ustadz Ilham dan istrinya adalah pasangan dosen sekaligus pengemban dakwah. Keduanya aktif menyerukan kewajiban menegakkan syariat Islam dalam kerangka khilafah Islamiyah. Mereka memiliki tiga buah hati. Yang tertua Rania, berusia 7 tahun dan sangat cerdas.

Rania akan mengikuti lomba menghafal Alquran. Karena Ustadz Ilham dan istrinya berhalangan, yang mengantar adalah khadimat (asisten rumah tangga) mereka.
“Bagaimana lombanya, Mbak?” tanya Ustadz Ilham ketika mereka berkumpul di rumah.
Rania tidak memberikan jawaban jelas. Ia hanya mengatakan yang kurang lebih ditangkap Ustadz Ilham sebagai lombanya dibatalkan.
Belakangan Sang Khadimat bercerita kalau lombanya tidak batal. Rania sendiri yang akhirnya membatalkan dirinya, tidak jadi ikut lomba tersebut.
Ustadz Ilham dan istrinya sangat prihatin. Batal lomba bukan masalah, pikir keduanya. Tapi mengapa anakku sampai berbohong? Pasangan suami istri ini segera mengevaluasi cara mereka mendidik anak-anaknya.

Lantas mereka menemukan Sang Khadimat sering berbohong dalam rangka membujuk anak-anak. Khadimat ini sebenarnya khadimat yang baik. Amanah, dan sudah mennutup aurat sesuai yang diajarkan istri Ustadz Ilham. Tetapi dalam mengasuh anak, ia memilih cara yang mudah.

Jika anak-anak merengek ingin membeli roti, sementara di rumah masih banyak roti yang belum dimakan, Sang Khadimat akan mengatakan, “Tokonya sudah tutup,” atau, “Hari ini tokonya nggak jualan.” Sementara anak-anak tahu Indoma*** dan Alfama*** di sekitar rumah mereka buka 24 jam.

Saat Ustadz Ilham dan istrinya meninggalkan rumah untuk belanja suatu keperluan atau hal lainnya, dan anak-anak merengek minta ikut, khadimat mengatakan, “Bapak dan Ibu ada urusan di kantor. Anak-anak nggak boleh ikut.”

Sejak itu Ustadz Ilham dan istrinya meminta khadimat untuk sealu berters terang kepada anak-anak.
“Mau beli roti?” tanya Ustadz Ilham saat Rania dan adik-adiknya merengek. “Itu, di meja banyak roti. Dihabiskan dulu. Baru boleh beli yang baru.”
“Bapak dan Ibu mau menengok teman yang sakit di rumah sakit,” begitu terang Ustadz Ilham ketika anak-anak merengek minta ikut. “Ada teman Ibu yang sakit dan opame di rumah sakit. Rumah sakit banyak kumannya. Daya tahan anak-anak kurang kuat. Kata Pak Dokter anak yang sehat nggak boleh ke rumah sakit.”

Tentu saja berterus terang begitu lebih merepotkan daripada berbohong saja kepada anak. Tapi bukankah anak hanya cerminan orang dewasa di sekelilingnya?

Diceritakan kembali oleh Fira

Colchester, Essex, 6 Mei 2015

Advertisements

3 thoughts on “Anak hanya cerminan orang dewasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s