Setara dengan seribu ibu

ustadz habib

(Bersama Ustadz Habiburrahman El Shirazy di Birmingham)

Panglima Amr bin Ash gundah gulana. Sudah berbulan-bulan Mesir dikepung, namun benteng belum juga berhasil dibuka. Ia pun mengirimkan surat kepada Khalifah Umar Bin Khatab, meminta tambahan personil.

Alih-alih mengirimkan pasukan berjumlah besar sebagaimana yang diminta Amr bin Ash, Khalifah hanya mengirimkan sepucuk surat. Di dalam surat itu Khalifah Umar berpesan yang intinya adalah meminta Amr bin Ash dan seluruh pasukan Islam untuk bertaubat kepada Allah Swt, banyak-banyak beribadah, dan berhenti melakukan maksiat.

Bersama surat, Khalifah Umar mengirimkan 4 orang veteran perang Badar.

“Empat orang ini,” demikian kira-kira penjelasan Khalifah Umar, “Satu orang setara dengan seribu orang.”

Dengan melaksanakan isi surat Khalifah Umar, Mesir berhasil dibuka. Amr bin Ash menjadi gubernurnya.

Sekadar penyegaran, dalam perang Badar jumlah pasukan Rasulullah hanya 313 orang sementara pasukan Qurays 1000 orang. Dan pasukan umat Islam menuai kemenangan yang super sekali di dalam perang tersebut. Sebaliknya, dalam Perang Hunain di mana jumlah pasukan kaum muslimin sangat banyak yakni sekitar 10.000-12.000 orang, ternyata kaum muslimin sempat mengalami kekalahan.

“Kemenangan itu tidak selalu berbanding lurus dengan jumlah yang besar atau kemajuan teknologi,” demikian kira-kira simpulan dari Ustadz Habiburrahman El Shirazy di hadapan kami, Keluarga Islam Britania Raya (KIBAR). “Kita bisa melihat banyak orang yang usianya 30 tahun, tapi bisa membuat karya yang kualitas dan kuantitasnya seolah-olah ia berusia 90 tahun. Imam An Nawawi, misalnya. Beliau hidup hanya 40 tahun tetapi jumlah karya-karyanya seolah beliau selama 90 tahun.”

“Di dunia ini juga begitu,” lanjut Ustadz Habib, “Kita bisa menemukan orang-orang yang satu orang setara dengan 10 orang. Atau 1 orang setara dengan 100 orang. Atau 1 orang setara dengan 1000 orang.”

Di deretan audiens nyaris paling belakang, mata saya berkaca-kaca.

Ya, ada ibu-ibu yang memang satu ibu setara dengan sepuluh ibu. Anaknya sebelas tapi semua pekerjaan rumahnya beres. Semua anak tumbuh sehat, sholih, dan sholihah. Tanpa asisten rumah tangga. Praktisi homeschooling, pula. Entah gimana repotnya. Contohnya Bunda Lenggogeni Faruk.

Ada ibu dengan 10 anak yang semua bintang Alquran. Siapa lagi kalau bukan Bunda Wirianingsih.

Ada lagi ibu istri wakil walikota Bandung. Kebayang gimana sibuknya. Nyatanya anaknya 7, mengurus rumah tangga tanpa asisten, sehari khatam 3 juz. Dialah Bunda Siti Muntamah.

Ada ibu rumah tangga yang satu ibu setara dengan 1000 ibu. Karena dia bukan hanya mendidik 3 anaknya. Tapi membuka Sekolah Ibu Profesional yang mencerdaskan ratusan ibu, baik lewat pertemuan tatap muka, dialog online, juga buku.

“Ibu profesional adalah ibu yang bersungguh-sungguh menjalani tugas utama dan pertamanya sebagai pendidik anak-anaknya, pengelola keluarganya, menjalankan aktivitas produktif sesuai passion-nya, mandiri finansial tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya,” demikian kata Muslimah yang menyandang gelar Inspiring Women Award dan Kartini Award versi majalah Kartini tahun 2009 itu.

Dialah Bunda Septi Peni Wulandari. Mungkin kita juga bisa bilang beliau 1 ibu yang setara 10.000 ibu. Karena Saat ini tercatat anggota Institut Ibu Profesional hampir 8.500 member online aktif dan lebih dari 8.000 member offline aktif di antaranya tersebar di 35 kota/kabupaten dan 4 negara yang memiliki diaspora Indonesia di dalamnya.

Mungkin Ustadz Habiburrahman El Shirazy ada benarnya. Yang penting bukan saja jumlahnya, banyaknya, atau kecanggihannya. Tetapi juga barokahnya. Bukan sekadar siapa suaminya, berapa besar penghasilan suaminya, dan berapa jumlah anaknya. Yang juga harus terus menerus didoakan dan diusahakan adalah  adanya barokah dalam pernikahan. Barokah dalam rumah tangga. Barokah dalam harta. Barokah dalam waktu yang dimiliki. Dan memandang anak-anak sebagai berokah.

Memandang anak bukan sebagai beban yang selalu harus dikeluhkan. Tetapi sebagai berkah, sebagai barokah. Mengubah sudut pandang pekerjaan rumah tangga bukan sebagai tugas dan kewajiban, tetapi sebagai barokah yang harus disyukuri karena tak semua perempuan bisa menikmati.

Sekadar catatan kecil pasca Kibar spring gathering tahun ini. Tak bisa mengikuti seluruh acaranya. Tetapi yang secuil itu, semoga tetap ada barokahnya.

Colchester, Essex, 5 Mei 2015

Advertisements

2 thoughts on “Setara dengan seribu ibu

  1. Pingback: Setara dengan seribu ibu (May 5, 2015 by nurismafira) | yuniarti fazri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s