Ibuku, IRT Perempuan Akar

simbah

(Simbah, gurunya krucils, dan krucils ketika Mahdi belum lahir)

Suami saya berasal dari keluarga miskin. Sudahlah, nggak perlu disembunyikan lagi. Lha wong wawancaranya dengan berbagai media sudah tersebar ke mana-mana, kok.

Akmal Naser Basral, saat masih menjadi jurnalis di Koran Tempo, mewawancarai suami saya. Ia bertanya, “Anda terlihat begitu mudah meniti karier. Berpindah-pindah dari Belanda, Amerika Serikat, Inggris, sebagai doktor matematika, padahal usia Anda belum lagi 30 tahun. Apakah semua ini memang semudah yang terlihat?”

“Tidak. Dua tahun pertama saya kuliah di ITB, kondisi saya sulit sekali. Saya tak bisa hidup hanya dari beasiswa, harus kerja juga. Uang kerja dan beasiswa yang saya dapatkan dibagi tiga untuk kebutuhan saya di Bandung, keperluan orang tua di Lumajang, dan biaya kuliah adik,” jawab suami saya. “Tiap Sabtu-Minggu saya keliling hotel dan gedung resepsi di Bandung bermodal pakaian rapi. Tanpa tahu siapa yang punya hajat, saya masuk saja ke pesta orang-orang kaya, yang penting bisa makan. Pernah juga setelah libur Lebaran, ketika kembali ke Bandung saya tak punya cukup uang untuk membeli karcis kereta ekonomi. Akhirnya, saya naik kereta barang, duduk di lantai gerbong bersama sekitar 100-an orang. Perjalanan sekitar 12 jam itu berlangsung malam hari dan tanpa lampu di gerbong saya. Gelap sekali. Mungkin kalau dituliskan bisa jadi Laskar Pelangi versi orang Jawa. Itu beberapa contoh besar. Kalau penderitaan lainnya banyak sekali.”

Pak Akmal bertanya lagi, “Bagaimana Anda melewati masa-masa sulit itu untuk bersinar di ITB?”

Suami menjawab, “Berkat dukungan dan doa banyak orang. Ketika dosen kuliah agama Islam saya, Ustad Asep Zaenal Ausof, akan berangkat umrah, saya datangi dia dan minta didoakan khusus. Saat itu kehidupan saya sedang di bawah sekali. Usaha orang tua saya yang berjualan kain dan baju di pasar bangkrut total. Kami terjebak rentenir sehingga harus jual sawah, dan akhirnya satu-satunya rumah yang kami punya persis menjelang saya lulus SMA.”

Suami lantas mengemukakan hal yang buat saya penting, “Begitu lulus SMA, saya sudah memutuskan untuk tidak kuliah, tapi keluarga saya, terutama ibu, tidak setuju. Saya harus terus kuliah. Alhamdulillah, saya lulus UMPTN dan diterima di ITB, tapi untuk membayar uang masuk yang beberapa ratus ribu saja kami tak mampu. Akhirnya, saya putuskan lagi untuk tidak mendaftar. Tapi ibu saya berjuang terus sampai detik terakhir. Akhirnya ketika saya bisa berangkat ke Bandung, dalam hati saya cuma ada satu tekad untuk berhasil dan membahagiakan keluarga.”

Hasil wawancara itu sudah dimuat di Koran Tempo edisi Minggu, 18 Mei 2008.

Awal Maret, Alhikmah.co kembali memuat profilnya. Di situ disebutkan, “Prestasinya yang kian moncer di pengujung SMA, membuat doi berhasil lulus dengan memuaskan. Namun, di saat yang sama, bahtera usaha orang tua yang tengah oleng, nyaris membuat dia tak bisa berkata-kata. Sebagai anak pertama, tentu saja Pakne Krucils harus ikut memikirkan kelangsungan napas kehidupan mereka. Maka di satu kesempatan, dia berkata, ”Pak,… bu, biar saya ndak usah melanjutkan sekolah. Saya mau cari kerja biar bisa bantu-bantu.”

Mendengar perkataan anaknya, keduanya membisu. “Mereka seolah tak rela jika saya harus berhenti di tengah jalan. Maka dengan dukungan penuh keluarga, terutama ibu, yang tiada putusnya,  saya  pun kemudian memutuskan mendaftar Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN), lalu berhasil diterima di ITB,”

Masalah baru muncul. Usai dinyatakan lulus UMPTN, calon mahasiswa wajib membayar uang masuk, termasuk Pakne krucils. Meski hanya beberapa ratus ribu, namun uang sejumlah itu tetap terasa berat bagi mereka.

Suami pun nyaris mengubur impiannya dalam-dalam untuk bergabung di ITB. Namun kembali, sang Ibu pantang menyerah. Hingga detik terakhir, dengan mengais sisa-sisa modal usaha,  wanita paling berjasa dalam hidupnya itu terus berjuang agar sang buah hati tetap bisa menuntut ilmu.

“Karena itu, ketika pertama kali meninggalkan kampung halaman menuju ke Bandung, dalam hati cuma ada tekad untuk berhasil dan membahagiakan keluarga.”

Dalam berbagai kesempatan, suami saya selalu menegaskan, orang paling berjasa di dalam hidupnya adalah IBUNYA. Dan nama ibunya, tidak pernah tercantum di dalam media-media yang mewawancarainya.

Yang ada adalah nama istrinya.

Ibu suami saya tidak tamat SD. Beliau memiliki banyak karier, di antaranya sebagai buruh tani dan pedagang pakaian di pasar tradisional.

Saat masih menjalani pasca sarjananya di Belanda, majalah Annida mewawancarai suami saya. Bukan ibunya.

Ketika menjadi dosen di University of Nottingham, Koran Tempo memuat profil suami saya. Tanpa mencantumkan nama ibunya.

Sekarang, berposisi sebagai Senior Lecturer di University of Essex, sebuah penerbit mayor, mengejar-ngejar bapaknya krucils. Merayunya agar menulis naskah yang insyaAllah akan terbit di Hari Pendidikan . Penerbit buku itu akan menjual buku yang mengisahkan tentang suami saya. Bukan ibu dari bapaknya krucils.

Padahal, berkali-kali suami menegaskan, wanita paling berjasa di dalam hidupnya adalah ibunya.

Kalau berhadapan dengan ibu (mertua), saya selalu tahu, dialah ‘kompetitor’ saya yang sebenarnya. Bukan mahasiswi-mahasiwi bule mulus jelita di ruang kuliah suami. Bukan mbak-mbak PhD students asal Arab yang semlohai itu. Bukan pula para perempuan berotak berlian yang menjadi rekan kerjanya sesama dosen.

Saya yakin sejuta persen, kalau ibu meminta bulan dan bintang, suami saya pasti berangkat mengambilkan. Jika ibu menyuruh suami untuk nguras laut, suami pasti melaksanakan. Semua yang kelihatan tak mungkin, bila ibu merestui, maka suami akan mengerahkan segalanya untuk mendapatkannya.

Tapi, tidak ada jurnalis yang mewawancarai ibu mertua saya. Tidak ada koran atau majalah yang memuat profil ibu mertua saya. Tidak ada penerbit buku yang tertarik menulis bagaimana ibu seorang perempuan tak tamat SD mengantar kedua anaknya menuju perguruan tinggi, di tengah himpitan ekonomi pasca krismon 1997.

Perempuan-perempuan seperti ibu mertua saya adalah perempuan akar. Teramat sangat mudah bagi kita untuk mengagumi kokohnya batang, rimbunnya dedaunan, cantiknya bunga, dan lebatnya buah, tetapi mungkin sangat sedikit sekali yang berpikir apalah itu semua tanpa akar yang kokoh.

Ibu mertua saya tidak pernah membuat ‘karya nyata’. Beliau tidak menulis, Beliau bukan aktivis. Beliau tidak terkenal seperti anaknya. Beliau jelas tidak punya akun facebook, twitter, instagram, ataupun WA. Beliau perempuan rumahan. Perempuan akar yang tak terlihat di permukaan.

Tapi apa kita bisa bilang beliau tidak berprestasi?

Colchester, Essex, 1 Mei 2015

Advertisements

24 thoughts on “Ibuku, IRT Perempuan Akar

  1. kayak di three idiots yg nyari makan lewat kondangan mbak.

    btw, post nya bikin penasaran. gmn resep ibu mertua buat mendidik anak hingga secerdas itu mbak?

    Like

  2. Subhanallah mbaaa hebat sekali daya juang ibu mertua mba. Tentu cinta & penghargaan dari anak2nya & keluarga lebih berharga dari publisitas di media.. Tapi kalau mba mau, mungkin lewat tulisan2 mba lah beliau bisa dikenal org lain, bukan supaya jd ngetop, tp supaya bisa menginspirasi ibu2 lainnya 🙂

    Like

  3. Sama seperti ibu mertua saya mbak. Beliau juga wanita desa yang tak berpendidikan tinggi, tetapi mampu mengantarkan ketiga putranya menjadi sukses, suami saya menamatkan pendidikan S2 di Jepang, dan kakak suami saya menamatkan S3 di Jepang juga.
    Btw, ibu saya (ibu kandung) juga asalnya Lumajang mbak. Salam buat ibu. 🙂

    Like

  4. Setuju mbak dengan tulisannya, ibu mertua itu perempuan akar yang tak pernah terekspos di media mana pun. Dan memang mereka tak ingin terekspos, karena hati yang merendah 🙂
    Sangat menginspirasi tulisannya, makasih udah berbagi 😀

    Like

  5. Subhanallah, super sekali Ibu mertuanya Mbak. Inspiratif sejali perjuangannya untuk anaknya. Saya pikir maha karya nyata-nya sudaha terbukti: mendidik dan mengantar anaknya menajdi orang hebat seperti suami Mbak. Semoga beliau selalu mendapat keberkahan dari Allah, aamiin.

    Like

  6. Sma seperti mertua sya termasuk slahsatu ibu hebat , rela menjadi tKw ke luarnegri hingga belasan tahun demi pendidikan anaknya yg lebih baik

    Like

  7. Subhanallah, anak tidak perlu disuruh patuh, nurut, hormat, sayang kepada orang tua. Cinta yang terlaksana dari ibu tanpa pamrih mendapatkan balasannya. salam buat ibu mertuanya ya mak

    Like

  8. titip salam dunk mba sama ibu mertua nya, dari ibu baru yang sedang dan harus banyak belajar.. semoga amal kebaikan ibu jadi pemberat timbangan di akhirat.. lain kali share bagaimana ibu mendidik anak nya ya mba? ditunggu loh 😀 (idih maksa)

    Like

  9. Mertuamu bener2 luar biasa berjasa ya mak.. Apapun yg diachieve suami dan yg kalian rasakan sekarang adalah dari jasa ibunda si bapaknya krucils.

    Salam kenaal.. 🙂

    Like

  10. Ma Syaa Allah…
    Salam kenal mb fima…
    Maaf mb kok aku jadi penasan se..
    Aku orang lum jang juga lho mb…
    Lumajang mana mb?!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s