Mamaku Wanita Karier…

P1040084

(Foto pas terakhir kali mudik tahun 2011… Masih punya anak dua biji… Moga-moga lebaran tahun ini bisa menjemur Dara dan Mahdi di Surabaya… hihi)

Setiap April, selalu saja ada perdebatan mana yang lebih baik, wanita bekerja di luar rumah atau menjadi ibu rumah tangga penuh waktu. Yang terakhir, ribut lagi gegara video yang diunggah Suria Mohd yang menyimpulkan 74% of maids had more correct answers than the mothers.

Mama saya ibu bekerja. Karyawati, alias wanita karier. Mama saya nggak pernah kuliah. Di umur 19 tahun, dengan modal ijazah SMA, beliau jadi karyawati di PLN, kantornya di Jalan Embong Wungu Surabaya. Posisinya menanjak terus, pindah kantor ke PLN Surabaya Utara, kalo nggak salah di Jalan Gemblongan. Lantas kantornya makin jauh karena beliau menjadi orang nomor 2 (Asisten Manajer, eh?) di PLN Gresik, salah satu PLN tambang uang yang pemasukannya besar karena Gresik adalah Kota Industri.

Papa saya juga karyawan PLN. Mula-mula kantornya bersebelahan dengan Mama, di Jalan Embong Trengguli. Selama bertahun-tahun kami berangkat ke kantor dan sekolah bersama-sama.

Mama saya pernah bilang, “Jadi ibu wanta karier itu membawa beban ganda. Pertama, beban mengasuh dan mendidik anak. Bagaimana pun, masyarakat akan menyorot lebih tajam para wanita karier yang anak-anaknya gagal. Mereka akan lebih mudah menuduh, ibunya sibuk terus di kantor, anaknya nggak keurus. Ibunya mengejar karier, wajar kalau anaknya terlibat narkoba. Ibunya sekolah tinggi-tinggi, tapi nggak becus memintarkan anak sendiri. Dan seterusnya.”

“Beban kedua ada di kantor,” kata Mama. Saya lupa bagaimana tepatnya petuah beliau. Mungkin kira-kira seperti cerita suami saya ini.

Suami saya pernah bilang, “Ada bapak-bapak ketua jurusan yang cerita sama aku, jurusan saya sulit maju, Pak. Kebanyakan dosen kami adalah perempuan, jadi sulit sekali diajak bekerja keras memajukan jurusan. Dosen-dosen perempuan ini sulit sekali diminta sekolah tinggi apalagi meninggalkan keluarga. Kalau pun sudah lulus dan kembali, dosen-dosen perempuan yang berkeluarga memang pengajar yang baik, tapi sulit untuk diminta melakukan riset.”

Seorang ibu karyawati sukses yang saya kenal pernah berkata, “Karyawati harus bekerja lebih keras dua kali lipat daripada karyawan laki-laki. Harus lebih pintar dua kali lipat daripada karyawan laki-laki. Perusahaan mana pun, kalau pelamar kerja laki-laki dan perempuan kompetensinya sama seimbang, sementara yang diperlukan hanya satu, yang diambil adalah yang laki-laki.”

Bagaimana Mama menjalani hari-harinya sebagai ibu sekaligus karyawati?

Pertama, harus cerdas. Bukti ibu saya cerdas adalah bisa jadi karyawati berprestasi dan asisten manajer di PLN hanya dengan modal ijazah SMA, di saat karyawati lain punya gelar sarjana. Cerdas ini mutlak diperlukan dalam manajemen aktivitas dan membuat prioritas kegiatan.

Kedua, harus sehat dan kuat. Kuat fisik dan spiritual. Mama saya atlet tenis meja. Beliau selalu berseloroh, “Kalo nggak keburu hamil kamu, mama udah maju mewakili PLN Jawa Timur, ke Jakarta…”
Setiap tahun RT kampung saya selalu menggondol juara 1 untuk tenis meja putri antar RT saat perayaan 17 Agustus.

Sebelum subuh sudah bangun dan sholat tahajjud. Kalau Ramadan jam 2 pagi sudah bangun. Setiap hari tidak pernah terlewat sholat tahajjud dan sholat dhuha di kantor. Di bulan Ramadhan, taraweh berjamaah di masjid kampung, plus tadarrus sampai malam. Bakda subuh tadarrus lagi sampai sekitar jam 7 pagi sebelum berangkat ke kantor.

Ketiga, pilih sekolah anak di dekat kantor. Jadi anaknya bisa sering-sering ditengok. Setiap pulang sekolah anak dijemput, diantar ke halte bus.

Keempat, suruh anak pulang sendiri ke rumah. Saya dulu berangkat sekolah bareng ortu, sejak kelas 3 SD pulangnya naik bis. Bawa adik, menempuh jarak 10 km. Kalau sekarang tega nggak ortunya melepas anak SD naik bis umum sejarak 10 km?

Kelima, selalu punya pembantu rumah tangga yang mengabdi. Asisten rumah tangga kami bekerja minimal 8 tahun. Kalau pulang dan nggak kembali (misal karena mboknya sakit, atau ngga diizinkan suaminya), tetangga atau kerabatnya yang menggantikan jadi ART, dan bertahun-tahun juga di rumah kami. Kalau sering ganti pembantu, kasihan anaknya kalau anak masih kecil.

Keenam, tidak pernah bawa kerjaan kantor ke rumah.

Ketujuh, tidak pernah kerja lembur di kantor.

Kedelapan, tidak ngoyo menargetkan harus naik jabatan.

Kesembilan, tidur malam sekasur dengan anak-anak yang masih di bawah 9 tahun. Kalau di tengah malam anak demam, mengigau, rewel, nggak bisa tidur, pipis, tidak pernah membangunkan pembantu. Padahal nggak ada pampers, lho… Hebat, khan?

Kesepuluh, kerja 6 hari seminggu Senin-Sabtu, jam 08.00 s/d 14.00. Mama masih punya waktu dan tenaga untuk ikut arisan RT, arisan PKK, jadi bendahara ini-itu di kampung, ngurus pengajian kampung, dan sebagainya. Seringkali ibu-ibu masak dan bikin kue di rumah saya. Soalnya karyawan PLN listriknya gratis, jaman tahun segitu, sih. Biasanya Mama menyediakan adonan khusus untuk saya, supaya saya nggak ngerecoki beliau dan ibu-ibu lainnya. Satu wadah adonan spesial, yang boleh saya bentuk sesuka hati.

Kesebelas, selalu sarapan dan makan malam bersama keluarga, di rumah. Bukan di restoran. Karyawati hebat di kantor dan jagoan di dapur.

Keduabelas, hari libur acaranya belanja ke pasar, masak, bikin kue, arisan, bersosialisasi dengan tetangga. Saya berkesempatan melihat bagaimana Mama bersosialisasi dengan para tetangga. Saya ikut membantu (lebih tepat sebetulnya mengganggu) saat Mama menyiapkan arisan. Teman-teman pengajian Mama di kampung, anak-anaknya adalah teman-teman saya ngaji di Masjid kampung. Masjid yang takmirnya adalah mahasiswa IAIN, dan berhaluan NU. Mama dan ibu-ibu kampung memanggil takmir dengan, “Dik Hamzah,” sementara saya dan teman-teman memanggil beliau, “Pak Hamzah”.

Saya ngintil (mendampingi) ketika Mama melayat tetangga yang meninggal, menengok bayi yang baru dilahirkan, menjenguk tetangga yang sakit, ngurus konsumsi pengajian kampung (minumnya selalu Teh Botol Sosro), menjual kupon jalan sehat kampung, membeli dan membungkus hadiah jalan sehat (hadiah termewah adalah deterjen, sisanya alat tulis…. hadiah murahan asal banyaakkkk… biar yang menang banyak….), membersihkan rumah saat kebanjiran dan seusai disemprot dalam rangka membasmi jentik-jentik nyamuk demam berdarah, dan menunggui beliau saat nonton Losmen, Oshin dan Berpacu dalam Melodi.

Sekali lagi, ini setting karyawati PLN tahun 1980-1990.

Lantas  kebijakan PLN berubah menjadi lima hari kerja, 8 jam sehari. Sabtu-Ahad libur.Ketika peraturan itu diberlakukan, saya sudah remaja. Mungkin sudah SMP, yang artinya tidak terlalu memerlukan pendampingan orang tua secara fisik. Mama pensiun dini, di usia 50 tahun, menyusul Papa yang pensiun tepat pada waktunya.

Terus kenapa saya jadi ibu rumah tangga penuh waktu? Ya, saya juga pengen, kok, kerja di luar rumah. Part time, misalnya. Tapi nanti, nanti, besok, kalau anak bungsu sudah umur 12. Saya nggak tega menitipkan anak yang masih kecil di penitipan. Soalnya saya juga nggak mau kelak krucils menitipkan saya di panti jompo.

Khan, sesuai doa, “Sayangilah kedua orangtuaku sebagaimana keduanya menyayangi aku ketika aku masih kecil… warhamhuma kama robbayani shogiro…”

Gitu aja, sih.

Colchester, Essex, 25 April 2015

 

 

Advertisements

8 thoughts on “Mamaku Wanita Karier…

  1. Saya jg pengen bgt jadi ibu rumah tangga penuh wktu sprti mba, ya..minimalnya smpai anak2 agak besar. Tp sy blm dapat “restu” dari ibu saya, beliau wanita karir jg & wktu sy bilang mau berhenti bekerja ibu sy marah, katanya kl gt jd sia2 udah nyekolahin sy smpe kuliah. Duh…gimana ya mba (ups..maaf malah curhat 😊). Jdnya sy sering berdo’a aja mudah2n suami sy pindah kerja k luar kota biar ada alasan berhenti kerja, he…he…

    Like

  2. akupun jg kerja mba… masalahnya kalo di jkt itu udh ga mungkin utk bisa pulang jam 5, apalagi kalo kantor di daerah segitiga emas… -__- dan rumah di jakarta timur.. macetnya ga kuat… pulang jam 5, udh pasti bakal kejebak macet ampe 2 jam-an… pulang sebelum jam 5, alamat ditegur ama bos lah :D… Jadi otomatis, aku slalu pulang setelah magrib, even kdg jam 9 kalo emg kerjaan lg numpuk.. Alasan pertama, ya mending aku sholat magrib di kantor drpd ga keuber kalo ttp pulang cepet… Alasan kedua, nunggu jalanan ga sepadat jam 5 mba -_-.

    aku masih bersyukur krn baby sitter ankku org kepercayaan kita berdua.. dia kebetulan tetangga rumah yg sebelum ngasuh ankku, dia jg baby sitter di rumah tetangga lain sampe 8 thn. so, kita udh yakin dia emg tulus kok ngasuh ank kita. Anakku pun sayang bgt ama dia.. Buatku ga masalah sih mba, anak deket ama babysitternya. Krn akupun dulu diasuh baby sitter ampe 17 thn krn ortuku jg super sibuk. Jadi aku selalu diajarin, mamaku itu ada 2, mama kandung dan si mbok.. biar gimana si mbok yg ngasuh aku dr kecil, tapi tetep, ini ga ngerubah sayangku buat mama kandungku sendiri. Hubungan kita ttp deket bgt 🙂

    Dan itu juga yg aku ajarin ke ankku.. bahwa mamanya ada 2. Dan sesibuk apapun kerjaanku, dia jg hrs tau, kalo mama kndungnya juga sama sayangnya ke dia 🙂

    Like

  3. “Saya g tega menitipkn krucils ke tempat penitipan soalnya saya g mau kelak krucils menitipkn saya ke panti jompo”

    tertohok bgt sy dgn kalimat itu mb fir..

    Like

  4. Mamaku juga wanita karier, dosen di universitas negeri di Malang, tapi aku dan adikku merasa punya masa kecil yang super bahagia, gak merasa kurang kasih sayang atau kurang perhatian. Ternyata memang mamaku dulu menjalankan semua poin2 di atas, kecuali no 9, hehe…. jadi kangen mama nih, thanks for sharing 🙂

    Like

  5. Whoaaa… Mbaak, aku ini baru menjadi wanita karier dan baru menjadi ibu. Sekarang sedang galau apakah bakal tetap menjadi working mom atau menjadi ibu rumah tangga. Tapi kalau aku tetap diposisiku sekarang, tips dari mama mbak harus aku terapkan. Bismillah.

    Like

  6. Kalau pulang jam14 masih sanggup kayaknya seperti yg diatas. Tapi kalau kerja di jakarta? Berangkat jam5 pulang jam8 paling cepat. Memang harus ada yang direlakan..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s