Full day school dan peran keluarga

fds

(gambar ilustrasi full day school untuk Sekolah Dasar)

Ummu Nahria nulis status, “Di era kapitalisme saat ini banyak para ibu yang bekerja untuk membantu perekonomian keluarga.Karena ia seorang ibu bagaimana pengasuhan anak2nya jika Ibu full bekerja yg tak memungkinkan anaknya ikut serta? Maka dipilihlah sekolah2 yang full day juga dengan dalih ‘sekalian nitipin anak’. Duh saya miris mendengarnya. Peran ibu digantikan oleh lembaga sekolah. Dan pagi ini disamping saya ada 2 orang ibu telah memutuskan anaknya akan disekolahkan ke sekolah full day agar ibu leluasa bekerja. Biar ga repot sayanya bu, ucapnya. Pergeseran fungsi ibu semakin nyata.”

Jadi inget Prof Daniel M Rosyid yang menulis sebagaimana berikut ini:

Walau berat hati, saya terpaksa mengatakan bahwa sekolah adalah predator keluarga di rumah. Guru dan sekolah, antara lain melalui PR, berusaha keras untuk memberikan pesan dan kesan sebagai satu-satunya tempat belajar. Banyak orang tua yang kemudian percaya pada pesan dan kesan itu. Apalagi sekarang muncul istilah ’’pendidikan karakter’’ dan ’’full-day school’’. Peran mendidik dalam keluarga secara perlahan tapi pasti diambil alih sekolah. Banyak keluarga yang mulai ’’menitipkan’’ anak-anak mereka ke sekolah, tentu untuk harga yang cocok.

Pendidikan karakter dan budi pekerti hanya mungkin berkembang di rumah dan di luar sekolah. Sekolah hanya lingkungan buatan yang sering dimanipulasi. Bahkan, anak belajar ketidakjujuran di sekolah. Di banyak sekolah, sing jujur malah ajur (yang jujur malah hancur). Karakter hanya tumbuh subur dalam kehidupan nyata yang penuh tantangan, kegetiran dan kepedihan. Menyerahkan pendidikan seluruhnya kepada sekolah merupakan bentuk sikap orang tua yang tidak bertanggung jawab.

Kurikulum hanya resep makan siang seragam di warung dekat rumah yang disebut sekolah. Anak yang sarapan dan makan malam bergizi yang disiapkan ibu di rumah tidak terlalu membutuhkan makan siang seragam di sekolah. Hanya anak yang tidak sarapan yang mengharapkan makan siang di sekolah.

Keluarga harus merebut kembali tugas-tugas mendidik karakter anak-anak dengan membiasakan mereka melakukan sendiri pekerjaan-pekerjaan di rumah. BKKBN perlu menyediakan tunjangan bagi ibu hamil dan menyusui serta merawat balita di rumah. Itu jauh lebih efektif daripada PAUD. Kehadiran Pembantu Rumah Tangga (PRT) bisa berdampak buruk bagi pembentukan karakter anak. Pekerjaan-pekerjaan di rumah adalah bagian penting dalam pembentukan karakter anak-anak kita dan dalam rangka home-makings. Barat menggantungkan keberlanjutannya pada sistem persekolahannya. Kita menggantungkannya pada keluarga di rumah.

Pekerjaan Rumah, Prof. Daniel M Rosyid, http://www.jawapos.com/baca/artikel/283/Pekerjaan-Rumah

Colchester, Essex, 19 April 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s