Dia Umur Lima, dan “Pandai Berdusta”

DSCF1871

“Tadi waktu aku sholat, aku dengar Dinara ngomong gini ke Dara,” Pakne Krucils memulai parents meeting malam itu.
“Dia bilang, ‘Dara let me hold the scissors… Come on, give it to me…’. Tapi setelah dua rakaat dia ngomong ke adiknya, ‘Dara, when Ayah finish sholat, you hold the scissors, oke?'”

Selain pisau yang sudah jelas kami tetapkan sebagai benda terlarang untuk dipegang krucils, gunting adalah barang yang kami umumkan sebagai barang ‘dangerous’. Kalau untuk latihan menggunting kertas, berkali-kali kami beritahukan ke krucils, boleh dipakai dengan pengawasan orang tua.

Kenapa nggak pakai gunting kertas anak TK yang ujungnya tumpul? Kami menyesuaikan dengan PAUD-nya krucils yang juga pakai gunting biasa untuk latihan memotong kertas, tentu under supervision. Sayangnya, ada beberapa saat kami lengah, dan ternyata dua anak terbesar sudah bisa mengeluarkan gunting dari tempat penyimpanannya yang saya pikir sudah cukup tinggi.

“Terus?” tanya saya.
“Berkali-kali dia mengulang ke Dara, ‘Oke Dara, when Ayah finish sholat, you hold the scissors. Not me.'”
“Terus?”
“Waktu aku salam, Dinara langsung merebut gunting dari tangan adiknya. Dia lari ke dapur, guntingnya dikembalikan ke laci.”
“Kamu bilang apa?”
“Aku gak ngomong apa-apa. Lha waktu aku selesai sholat anaknya sudah lari ke dapur, kok.”

Di lain waktu, saya mendengar Fahdiy dan Dinara bertengkar rebutan sesuatu. Sebetulnya saya sudah tahu Dinara yang salah. Tapi sesuai prosedur, saya menyidang keduanya, “Who read the book first?”
“Me!” jawab Fahdiy dan Dinara bareng. Padahal saya tahu Fahdiy yang lebih dulu memegang buku cerita itu.

Di lain waktu, “Who ripped the book? Ayo ngaku!!!”
“Mas did!” tukas Dinara cepat.
“I didn’t!” jawab Fahdiy.

Di sisi lain, daya imajinasi Dinara memang luar biasa. Kalau sudah berkhayal bisa jadi bermacam-macam. Dia pernah mengkhayalkan keluarganya sebagai Octonauts Team, dengan dia sebagai Captain Barnacle, Fahdiy sebagai Kwazii, salah satu asisten Sang Kapten. Dara sebagai Peso Si Penguin Perawat, dan Mahdi sbagai Turnip. Ayah adalah gurita Professor Inkling dan Bunda sebagai Dr. Shellington.

Kalau sudah bercerita dan ditanya-tanya, ceritanya bisa panjang dan ke mana-mana. Kalimat-kalimatnya sudah panjang dan sudah bisa ngobrol dengan orang dewasa asing. Selain hobi menggambar untuk memvisualisasikan imajinasinya, Dinara mulai hobi membaca novel.

Tentu saja saya nggak bisa membiarkan anak-anak terus-terusan berbohong.
“Eh, Bunda nggak marah. Khan kita sudah janji baca bukunya gantian. We have to take turn, don’t we?” kata saya berusaha menjiplak logat dan ekspresi Miss Wood, wali kelasnya. “Jadi tadi siapa yang baca buku pertama kali? Atau bukunya mau Bunda bacakan? Atau kita baca bersama-sama?”

“Bunda nggak marah. Tapi ini bukunya perpustakaan. Kalau sobek, ya harus ditambal pakai sticky tape. Siapa yang menyobek bukunya tadi? Hayo, yang nyobek bukunya, ambil sticky tape, ya… Kita perbaiki bukunya bareng-bareng…”

Memarahi anak balita karena berbohong itu mudah. Yang sulit adalah mencontohkan untuk selalu mengatakan yang benar, walaupun pahit rasanya.

“Where are we going, Bunda?”
“To school… Khan hari Senin sekarang…”
“Noooooo…. I don’t want to go to school…”
“Mau ke playground?”
“Yes!”
“Oke. Ayo mandi dulu.”
Ke playground-nya ya nanti. Sepulang sekolah.

“Nooooo…. I don’t want to go to Islamic school…”
“Lha terus gimana?”
“I want to go to the zoo! Now!!!”
“Lho… ya ngga bisa sekarang, Mbak. Nanti kalau liburan halfterm, kalau ngajinya libur…”
“But I WANNA GO to the zoo NOW!!!”
“Ya sudah bilang Ustadz Safaru dulu, ya, hari ini Dinara nggak ngaji… Habis dari Ustadz Safaru kita ke zoo…”
Sampe sekarang belum ke zoo juga. Padahal udah pegang tiket. Etapi, lha anaknya sudah lupa nggak nagih lagi.

“Is coke healthy or unhelathy?”
“Unhealthy.”
“But I want coke!!! It’s healthy!!!”

Kadang saya nyerah juga, “Ya wislah terserah sak karepmu…”
Lah gitu pun masih keliru juga, “Bunda you are not listening! Listen to me!”

Kemarin Dinara genap umur 5 tahun. Sekarang sedang hobi baca novel serial Rainbow Fairies, dan di dalam fantasinya di adalah Dinara The Potion Fairy. Kalau ditanya kenapa mau jadi Potion Fairy, jawabannya panjang dan aneh-aneh, semacam, “Because I want to pour water and sugar in a pan and stir them and make them bla bla bla…. so i can bla bla bla… and then bla bla bla…”

“Potion?” saya mengerling ke suami. “Muridnya Severus Snape, dong?”

Sejak bulan Maret Dinara sudah ribut ingin Birthday Party.
“I want a party and I want four presents.”
“Apa saja?”
Sekarang bulan April dan dia sudah nggak bersemangat bikin party. Berkali-kali bilangnya, “I want to make potion. Bunda can I make potion, NOW?”
“Tuh Bunda udah bikin di atas kompor… Namanya Gule Potion…”
“But… I want to make by myself…”
“Bikin mi instan aja ya?”
Dari belakang Bapaknya menyahut, “Sudah tak ajak bikin rasmalai saja…”

Sekarang keduanya sedang bertengkar, entah ngapain lagi…

Sekali waktu saya curhat ke suami, “Lah, umur 5 tahun saja sudah banyak omong kasyak gini, Pak… Gimana nanti kalau umur 15?”

Bertengkar, berbantah-bantahan dengan anak balita, khan jelas nggak level. Herannya, malah bapaknya yang suka terjebak bertengkar dengan Si Gadis. Kalau sudah gitu biasanya saya mengingatkan suami dengan kalimat, “Saya terima nikahnya Dinara binti Hadi Susanto dengan mas kawin…”

Ya, betapa pun beratnya mengasuh anak-anak, semua ini akan berlalu. Sekarang, dinikmati sajalah. Perjalanan masih sangat panjang. Jangan sampai lengah dan kehabisan kesabaran sekarang. Masa panen masih lama

Colchester, Essex, 18 April 2015

Postscript:
status 2,5 tahun yang lalu. Kelihatannya Anak Gadis Ayah yang ini memang banyak omongnya…===>

Kalau nganter Masnya berangkat sekolah tiap pagi, semua ikut masuk mobil. Di sekolah, yg turun bukan cuma Si Mas dan Ayah. Tapi semuanya. Mas sekolah, Ayah langsung ke kantor. Bunda dan gadis2 pulang jalan kaki. Awalnya itung2 biar cewek2 nggak bosan di rumah. Juga sekalian berusaha ngurangi bobot badan hehehe… Jalan dgn 2 batita dari sekolah ke rumah 30 menitan. Sepanjang jalan Dinara (2,5 tahun) akan ngoceh dan nyanyi gak berenti2. Hari ini iseng2 diingat2 diantaranya dia ngomong gini:

Ada orang pakai jaket, ada orang pakai topi
Ada Mbak pakai kerudung, ada orang naik bicycle
Ada puddle genangan air, jangan lompat
Ada the birds are sitting on the roof

Mas sekolah, Ayah di kantor
Mobil-mobil kotor
Mobil is washed

Suara apa itu?
Itu suara trem

Daun-daun coklat, kuning, hijau
Daun-daun jatuh
Daun-daun berguguran
Daun-daun berlarian tertiup angin

Berjalan di atas daun-daun
Ada double decker green bus

Bunda capek
Sudah hampir sampai di rumah
Cari nomer lima puluh tiga

Nottingham, 13-11-2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s