Tes Finger Print Menurut Ust Fauzil Adhim dan Prof Sarlito Wirawan

stifin

Ustadz Fauzil Adhim menulis di dalam posting fanspage-nya, “Fingerprint, satu lagi industri mitos. Tidak pernah ada evidence. Sebagaimana pseudoscience lainnya, comot sana comot sini dan mengepas-ngepaskan dengan isu terkini hal yang selalu terjadi. Sidik jari hanya bisa menunjukkan siapa yang mencuri jambu di belakang rumah kita, tapi bukan mengapa seseorang mencuri jambu. Apalagi sampai menelisik karakter, bakat dan sejumlah istilah wah lainnya. Uang itu hijau, meskipun warnanya merah.” (status fanspage, 1 Maret 2012)

Beliau mengulang lagi di dalam opininya Kebijakan Panik Bidang Pendidikan, “Ketika orang sedang mengalami kebingungan, maka kita juga dapati para trainer memanfaatkan kebodohan ini dengan membawa kebodohan yang lebih besar. Mereka menawarkan tes sidik jari dan sejenisnya yang sungguh amat sangat tidak dapat dipertanggungjawabkan. Ini pseudoscience! Sidik jari hanya dapat mengungkap siapa yang mencuri jambu di belakang rumah kita. Bukan mengapa ia mencuri jambu.
Tes sidik jari hanyalah contoh dari sekian banyak produk training yang merusak. Nanti kita juga akan melihat training asal-asalan tentang karakter. Ada yang menyajikan 20 Karakter Dasar, tetapi yang dimaksud bukan karakter. | Diam-diam bertanya, apakah para trainer karakter itu tak membaca literatur tentang karakter?” (hidayatullah, 1 Oktober 2012).

Ustadz Fauzil Adhim menentang keras pseudoscience tes sidik jari, juga teori otak tengah. Beliau bahkan menyatakan percaya kepada hal-hal tersebut sudah sangat dekat kepada syirik/ Saat ada yang bertanya, “kalau macam STIFIn, sama juga, ustadz?

Beliau menjawab, “Ihsan Syabani apa pun namanya. Ada sebuah buku terbitan Solo yang bahkan secara sangat ngawur mengaitkan dengan Islam. Jika kita terbiasa mempelajari aqidah, dari back-covernya saja seharusnya kita telah tersadar bahwa buku itu menawarkan fitnah syubhat. Uang memang menggiurkan, terutama di zaman ketika kita dihasung untuk sangat bersyahwat pada dunia sehingga sedekah pun untuk dunia. Padahal ini termasuk syirik niat. Bershalawat pun untuk dunia, bahkan dengan menciptakan syari’at sendiri, menetapkan jumlah berapa kali kita harus membaca shalawat tatkala menginginkan sesuatu. KIta mencampakkan dalil dan menjadikan seseorang sebagai Asy-Syari’ (Pembuat Syari’at) yang sesungguhnya merupakan hak Allah Ta’ala semata.”

“Setiap tahun, atau bahkan setiap bulan, akan ada mitos-mitos baru yang didaur ulang dan ditrainingkan,” terang beliau. “Karena meyakini ucapan kita mempengaruhi molekul air, maka dengan mudah kita masuki wilayah syirik. Tetapi semua itu akarnya sama, Gerakan Zaman Baru atau New Age Movement (NAM). Banyak variannya, tapi sama akarnya. Ditilik dari aspek dien, artikel berikut dapat kita kaji dan renungi: http://www.drber.com/ar/articles/cat-992/content-1078.aspx Lebih-lebih jika ditilik dari segi pembuktian ilmiah. Salah satunya dapat dibaca di buku Science and Pseudoscience in Clinical Psychology karya Scott O. Lilinfield, PH. D., Ph.D., dkk. Link ini menarik untuk dibaca http://manistebu.wordpress.com/2012/02/21/industri-mitos/ atau link mantan hypnotherapist yang sekarang menjadi clinical forensic psychologist di Sheffield, Inggris: http://www.mheap.com/”

“Khusus mengenai NAM dan cabang-cabang, silakan lacak kajian Dr. Fouz binti Abdullatif Kurdi yang ia mendalami dari sejarah, cabang-cabang NAM (termasuk hypnosis maupun NLP) hingga detailnya. Di bagian akhir, barulah ia jelaskan bahayanya bagi kerusakan aqidah. Dan ini mengingatkan kita pada peringatan Nabi saw, ‘Tidak akan terjadi hari Kiamat hingga beberapa kelompok dari umatku mengikuti kaum musyrikin dan hingga mereka menyembah berhala, dan sesungguhnya akan ada pada umatku tiga puluh orang pendusta, semuanya mengaku bahwa ia adalah seorang Nabi, padahal aku adalah penutup para Nabi, tidak ada Nabi setelahku.’ (HR. Abu Dawud & At-Tirmidzi). Jika kita periksa literatur yang dikeluarkan oleh Esalen, lembaga yang menggodok penyebaran berbagai cabang NAM ini sekaligus menjadi penyelenggara berbagai pelatihan, tidak bisa kita pungkiri bahwa NAM merupakan gerakan paganisme baru. Ini juga bisa kita telusuri pada berbagai literatur lain. Yang paling kita khawatiri adalah batalnya keislaman kita tanpa sadar. Kita merasa muslim, tapi aqidah kita yang sesungguhnya adalah NAM yang masuk melalui proses meyakini asumsi dasar, kredo atau apa pun istilahnya, sementara kredo atau asumsi tersebut secara fundamental bertabrakan dengan aqidah Islam.”

Salah satu tokoh(?) pendidikan Indonesia yang pro dengan tes sidik jari adalah Ayah Edy. Tapi saya nggak punya buku beliau yang memuat pernyataan itu. Yang ada ini, “Untuk memetakan potensi unggul anak, dalam buku ini sudah dilengkapi dengan dua metodologi yang bisa dipilih baik secara terpisah ataupun bersamaan yakni dengan menggunakan metode Finger Print Test dan Mapping Multiple Intelligence,” (sumbernya diklik di sini).

Dan akhirnya, berikut ini adalah tulisan Prof Sarlito Wirawan Sarwono, guru besar di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (bener gak nih nulisnya?) yang menegaskan bahwa sidik jari sebagai penentu kecerdasan sebagai bentuk PENIPUAN.

Terus  STIFIN gimana?

Saya cuma bisa bilang allhua’lam. Ini bidang psikologi, yang jujur tidak saya kuasai sedikit pun. Saya cuma ngasih second opinion saja terkait tes sidik jari…

Mohon maaf lahir batin kalau ada salah khilaf…

***

SIDIK JARI

Sarlito Wirawan Sarwono

Setelah kasus Otak Tengah, yang akhir-akhir ini sering ditanyakan kepada saya adalah tentang Test Sidik Jari untuk mengetahui kepribadian anak. Saya sendiri yang sudah 43 tahun malang-melintang di dunia psikologi, belum pernah tahu sebelumnya tentang keberadaan test tersebut dan tidak mau ambil pusing. Paling-paling penipuan lagi, pikir saya.

Tetapi beberapa hari yang lalu, anak saya yang kebetulan juga psikolog, berceritera kepada saya bahwa dia diajak temannya (baca: dikejar-kejar) temannya untuk bergabung dengan usaha dia dalam usaha test Sidik Jari.
Lumayan, kata temannya itu. Captive market-nya ibu-ibu yang punya anak kecil, dan sekolah-sekolah, dan biayanya Rp 500.000,-per anak.

Sebagai psikolog professional anak saya meragukan validitas dan reliabilitas (keabsahan dan kesahihan) test itu. Apalagi dengan job dan statusnya yang sudah mapan dan gajinya yang sudah berlipat-lipat di atas UMR, dia tidak mau ambil risiko, karena itu ia minta pendapat saya.

Saya langsung saja menyatakan bahwa saya pun tidak percaya, tetapi saya penasaran. Maka saya pun browsing semua jurnal Psikologi (hampir seluruh dunia yang berbahasa Inggris) yang bisa diakses oleh mesin searcher dari Asosiasi Psikologi Amerika (APA) dimana saya menjadi salah satu anggotanya.

Hasilnya menakjubkan, sekitar 40.000 tulisan yang mengandung kata “finger print”. Langsung saya cari judul-judul yang kira-kira terkait dengan sidik jari dalam hubungannya dengan bakat, kepribadian, atau kecerdasan anak. Hasilnya: NIHIL!

Sedangkan kalau saya gunakan kata kunci Dermatoglyphic (Dermato artinya kulit, Glyphs artinya ukiran, jadi kulit yang berukiran) ada satu keluaran, yaitu tulisan berjudul “Neurodevelopmental Interactions Conferring Risk for Schizophrenia: A Study of Dermatoglyphic Markers in Patients and Relatives”, oleh Avila, Matthew T.; Sherr, Jay; Valentine, Leanne E.; Blaxton, Teresa A.; Thaker, Gunvant K. dalam Schizophrenia Bulletin, Vol 29(3), 2003, halaman 595-605. Jadi tulisan yang satu ini pun hanya tentang hubungan antara gejala sakit jiwa skhizoprenia (yang dipercaya merupakan penyakit turunan) dengan pola sidik jari (yang juga merupakan bawaan),

Sebaliknya, dari Google saya mendapat banyak sekali keluaran setelah memasukkan kata kunci “sidik jari”. Bahkan ada website-nya sendiri. Hampir semuanya berceritera tentang ke-ilmiahan metode analisis kepribadian dengan test Sidik Jari ini. Bahkan ada iklan promo yang menawarkan test Sidik jari “hanya” untuk Rp 375.000 per anak. Sisanya adalah testimoni dari orang-orang yang pernah mencoba test yang katanya pelaksanaannya sangat mudah. Sedangkan salah satu kalimat promosi mereka adalah bahwa “Analisa sidik jari memiliki tingkat akurasi lebih tinggi daripada metode pengukuran lain. Klaim akurasi 87%!.

Luar biasa kalau test itu benar. Kalau seorang ibu sudah mengetahui seluruh “rahasia” kepribadian anaknya melalui sidik jari anak, maka dia tinggal ongkang-ongkang kaki dan dia hanya perlu mengatur anaknya sesuai dengan petunjuk hasil test Sidik Jari, dan anaknya akan menjadi orang yang pandai, jujur, kreatif, berbakti pada orangtua, beriman, bertakwa, saleh/salehah. Lebih senang lagi anggota Densus88. Tidak perlu berpayah-payah lagi mereka. Cukup dengan memeriksa sidik jari, mereka bisa mengidentifikasi pembom bunuh diri menangkapnya dan memasukkannya ke penjara.

Tetapi faktanya kan tidak seperti itu. Upaya manusia untuk mempelajari jiwa sudah berawal sejak zaman Socrates, 400 thn sebelum Masehi, dan melalui perjalanan sejarah yang panjang sekali, serta mendapat masukan dari berbagai ilmu, termasuk ilmu faal dan kedokteran, serta matematika, Wilhelm Wundt baru menyatakan Psikologi sebagai Ilmu yang mandiri pada tahun 1879 di Leipzig, Jerman (versi Amerika oleh William James, di sekitar tahun yang sama di Universitas Harvard).

Pasca kelahirannya, Psikologi berkembang terus, termasuk mengupayakan berbagai teknik dan metode untuk mengukur berbagai aspek kepribadian, termasuk test IQ, minat, sikap, bakat, emosi dan seterusnya. Kemajuannya sangat langkah-demi-langkah, tidak ada yang langsung meloncat, dan sebagaimana ilmu pengetahuan lainnya, setiap kemajuan, temuan atau kritik selalu dilaporkan dalam jurnal-jurnal dan seminar-seminar psikologi seluruh dunia. Karena itulah maka langkah pertama saya adalah mengecek jurnal ilmiah Psikologi untuk memastikan apakah test Sidik Jari ini termasuk metode yang diakui dalam Psikologi atau tidak.

Di sisi lain, teknik analisis sidik jari juga sudah berembang sejak 1800-an. Tahun 1880 Dr Henry Faulds melaporkan tentang sistem klasifikasi yang dibuatnya untuk mengidentifikasi seseorang. Tahun 1901 teknik yang disebut Daktiloskopi ini digunakan di Inggris, 1902 di Amerika digunakan di kalangan pegawai negeri, 1905 di Angkatan darat AS, dan sejak 1924 mulai dipakai oleh FBI. Tetapi semuanya adalah untuk menentukan identitas fisik seseorang. Misalnya, apakah benar sidik jari yang ditinggalkan pelaku di TKP (Tempat Kejadian Perkara) perampokan adalah milik si Fulan. Sebelum ditemukan system DNA, Daktiloskopi lah yang menjadi andalan Polisi.

Namun di kemudian hari, nampaknya teknik analisis Sidik Jari yang awalnya hanya untuk identifkasi fisik, berkembang menjadi teknik identifikasi psikis (kejiwaan) juga. Ilmuwan Inggris Sir Francis Galton yang masih sepupu Sir Charlis Darwin adalah penganut teori evolusi. Dia percaya bahwa kepribadian ditentukan oleh bakat-bakat yang dibawa sejak lahir dan bakat-bakat itu terukir di sidik jari srtiap orang. Maka ia menerbitkan buku “Finger prints” (1888) dan memperkenalkan klasifikasi sidik jari yang dihubungkan dengan klasifikasi kepribadian.

Pasca Galton, nampaknya Dermatoglyphs semakin berkembang dan diyakini sebagai ilmu pengetahuan yang sahih, lengkap dengan buku-buku dan jurnal-jurnal “ilmiah” mereka sendiri. Kalau kita cari di Google, dengan kata kunci Dermatoglyphs akan keluar lebih dari 70.000 informasi, tetapi semuanya di luar komunitas ilmu psikologi. Dengan demikian Dermatoglyphs sebenarnya adalah pseudo science (ilmu semu) dari psikologi.

Ilmu semu lain dalam psikologi yang banyak kita kenal adalah Astrologi (banyak di majalah-majalah wanita dan remaja, tetapi tidak pernah ada di Koran SINDO), Palmistri (ilmu rajah tangan, yang ketika saya mahasiswa sering saya pakai untuk merayu mahasiswi-mahasiswi Fakultas Sastra sambil meraba-raba tangannya), Numerologi (meramal atau menjodohkan orang dengan menggunakan angka-angka tanggal lahir dsb.), Tarrot (dengan menggunakan kartu-kartu) dan masih banyak lagi. Semua itu mengklaim diri sebagai ilmu, lengkap dengan literatur dan teknik masing-masing, dan memang nampaknya sahih dan canggih betul (ada yang putus dari pacar gara-gara bintangnya tidak cocok).

Tetapi ada satu hal yang tidak bisa dipenuhi oleh semua ilmu semu, yaitu tidak bisa diverifikasi teorinya. Dalam Astrologi, misalnya, tidak pernah bisa dibuktikan hubungan antara singa yang galak, dengan bintang Leo. Apalagi membuktikan manusia berbintang Leo dengan sifatnya yang galak (banyak juga cewek Leo yang jinak-jinak merpati, loh!).

Dalam hal ilmu Sidik Jari, sama saja. Tidak bisa diverifikasi bagaimana hububnannya antara sidik jari (bawaan) dengan sifat, minat, perilaku, apalagi jodoh dan karir, bahkan kesalehan seseorang yang merupakan hasil dari ratusan variable seperti faktor sosial, ekonomi, budaya, pendidikan, lingkungan alam, dan sebagainya, walaupun juga termasuk sedikit faktor bawaan.

Pandangan bahwa kepribadian ditentukan oleh fator bawaan (nativisme) sudah lama ditinggalkan oleh Psikologi . Teori yang berlaku sekarang adalah bahwa kepribadian ditentukan oleh pengalaman yang diperoleh dari lingkungan. Karena itu untuk memeriksanya diperlukan proses yang panjang (metode psikodiagnostik, assessment) dan duit yang lumayan banyak.

Karena itu saya tidak pernah menyarankan orang untuk ikut psikotes kalau hanya untuk ingin tahu. Buang-buang duit. Tetapi lebih sia-sia lagi kalau buang duit untuk tes Sidik Jari.
Jakarta, 11 Mei 2011

Di facebook-nya Prof Sarlito Wirawan menulis, “Tulisan ini dimuat di Koran SINDO 15 Mei 2011. Atas permintaan banyak pihak, saya muat ulang di sini.”

Colchester, Essex, 30 Maret 2015

Advertisements

17 thoughts on “Tes Finger Print Menurut Ust Fauzil Adhim dan Prof Sarlito Wirawan

  1. Menurut saya, semakin lama Jonru semakin gak jelas. Sebagian orang memang menyukai hal yang instan. Saya dan teman-teman psikologi malah sampai saat ini belum berniat memberikan tes psikologi kepada anak-anak kami, kecuali memang ada permasalahan. Kalau perkembangan anak baik-baik saja kita tinggal menstimuli dan memantaunya.

    Like

  2. Nice share, Mak. Jadi pembelajaran buat kita untuk tidak gampang percaya bila belum terbukti ilmiahnya. Di sini juga sempet booming tes sidik jari & otak tengah. Kebanyakan memang menjaring anak2 sekolah dan ortunya.

    Like

  3. saya menemukan laman ini dengan mengetik “stifin hoax” di google. dan saya 100% sependapat dengan tulisan di atas.

    yang membuat saya tergerak untuk mencari frasa “stifin hoax” karena tes sidik jari ini didukung oleh mereka yang selama ini dikenal “paham” dengan agama islam.

    ini sama aja dengan tes rambut untuk menunjukkan kepribadian/bakat, atau tes rongga hidung untuk melihat apakah seseorang cocok jadi pebisnis atau polisi. otak awam saya jelas menolak ide-ide yang tidak masuk akal seperti ini.

    ini sih menurut saya tidak beda dengan keimanan pada shio dan zodiac.

    ya, betul, bahwa allah swt memberikan bakat/potensi khusus kepada setiap orang. tapi bakat/potensi itu tidak ada kaitannya dengan sidik jari, sidik bibir, belahan rambut, jumlah pusaran rambut, panjang jempol kaki, atau bulan dan tanggal lahir.

    Like

  4. Assalamu’alaykum wa rahmatullahi wa barakatuh.

    Mbak, terima kasih atas posting-annya yang menarik. Baru tahu kalau hal-hal semacam ini adalah bagian dari Gerakan Zaman Baru (New Age Movement; kira-kira ini siapanya New World Order, ya? hehehe).

    Saya ada pertanyaan nih, Mbak. Bagaimana dengan golongan darah, apakah termasuk ke dalam NAM juga? Karena di Jepang marak sekali perjodohan melalui golongan darah, karena golongan darah ini bisa cocok dengan golongan darah itu. Tak jarang juga golongan darah dijadikan standar (tidak baku) dalam menilai kepribadian seseorang. Masih galau perihal ini nih, Mbak, karena ada benarnya dan ada salahnya juga.

    Jazakillah khayran katsiran. 🙂

    Wassalamu’alaykum wa rahmatullahi wa barakatuh.

    Like

  5. Saya menemukan sebuah pernyataan yg kontradiktif “Luar biasa kalau test itu benar. Kalau seorang ibu sudah mengetahui seluruh “rahasia” kepribadian anaknya melalui sidik jari anak, maka dia tinggal ongkang-ongkang kaki dan dia hanya perlu mengatur anaknya sesuai dengan petunjuk hasil test Sidik Jari,” diartikel tersebut dikatakan dia sudah brpengalaman puluhan tahun di bidang psikologi. Bukankah hasil definisi karakter carl jung/mbti juga mendeskripsikan karakter seperti tersebut diatas.(“rahasia”)

    Like

  6. bilangnya bukan ahli psikologi, tapi langsung memberikan second opinion dg men-judge bhw suatu teori tidak ilmiah bahkan musyrik?.. bagaimana itu pak Ustadz? barangnya belum jelas apa sudah diberi label?

    Like

    • Sepertinya mbak/mas ini kurang teliti bacanya. Yang menyatakan psikologi bukan bidangnya itu Mbak Nurisma, bukan kutipan dari ustadz Fauzil. Kalau ust Fauzil setahu saya memang lulusan psikologi UGM

      Like

  7. Cek http://smartbrain.co.nr ini situs yg saya kelola ttg test sidik jari, saya sdh merasakan manfaat hasil test sidik jari. Test sidik jari tdk bs mendeteksi kepribadian hilir ( fenotip ) secara tepat, tapi mendeteksi kepribadian hulu (materi dasar seseorang) tepat. Kepribadian hilir yg biasa dilihat dgn paper test tdk maksimal dlm memecahkan masalah psikologi seseorang. Contoh : org type sensing dan type feeling jika py masalah hrs dilakukan pendekatan yg berbeda sekalipun masalahnya sama.

    Like

  8. Saya yakin seluruh alam semesta beserta isinya saling berkaitan termasuk manusia sebagai salah satu isinya, hanya saja penjelasannya yang masih banyak samar-samar. Masalah keuntungan ya kembali pada manusianya, yang jelas manusia bijak selalu ambil keuntungan.

    Like

  9. keanehan:
    1. yang baca sistem IT, berarti memang algoritmanya sdh di desain spt yg di logikakan okeh STIFFIN, alias comat comot teorinya..
    2. sy melihat yg terjadi justru justifikasi atas pola perilaku, contoh: krn sensing maka harus begini begitu….padahal kata kunci makhluk hidup kan menyesesuaikan dengan lingkungan… terlebih menggunakan istilah takdir dll….
    3. Ini dagangan….

    Like

  10. Saya rasa STIFIn itu bukan menjustifikasi, tapi lebih kepada melihat potensi alamiah yang ada di dalam.

    Adapun sikap, perilaku yang tampak di luar, memang akan sanget tergantung dengan pola hidup dan lingkungan.

    Contoh.
    Sejak alam kandungan, ketika Allah SWT meniupkan Ruh kepada janin bayi, Si janin bayi secara fitrahnya adalah seorang Muslim/Muslimah. Saat itu pula Allah SWT telah menentukan garis takdirnya. Takdir ini pun ada yang mutlak dan ada yang bisa berubah.

    Jadi, bukan hal yang tidak mungkin seseorang itu memiliki potensi alamiah tertentu yang ada dalam dirinya sejak lahir.

    Perkara kenampakannya di luar (sikap, perilaku, dll), itu tergantung lingkungan.
    Seorang bayi yang dilahirkan dari keluarga muslim, mendapat pendidikan agama islam yang baik, maka Insya Allah akan tetap menjadi seorang muslim, bahkan menjadi mukmin yang taat.

    Lain hal jika Si Bayi dilahirkan di keluarga Non Muslim, Si bayi itu meski secara fitrah adalah seorang muslim, tetapi lingkungan keluarganya membuat ia jauh dari islam dan ketika dewasa menjadi seorang Non Muslim.

    Wallahu’alam.

    Like

  11. Saya bukan seorang ahli psikolog atau ahli apapun, saya hanya seorang ibu rumah tangga yang salah satu kewajibannya adalah membentuk karakter anak mulai dr kandungan sampai dia dewasa.
    Minggu lalu, saya di undang sekolah putra saya (kls 3 smp) untuk menghadiri pembacaan karakter melalui hasil test sidik jari yg mmg sdh di fasilitaskan oleh pihak sekolah.
    Pertama : untuk kepentingan pemilihan jurusan SMA, jurusan untuk kuliah kelak ,serta pemilihan profesi.
    Sbg orang awam saya menganggap nggak ada yg salah dengan itu.
    Banyak terobosan ahli (bukan penipu kl saya yah, saya mah nggak mau suudzon dulu) yang awalnya pasti bertujuan mencari cara untuk memudahkan orang lain dalam menentukan masa depannya (dengan bertawakal pula).
    Dengan mengetahui tambahan karakter anak, paling tidak sebagai orang tua kita bisa mengambil sikap terbaik dalam menghadapi “bakat” yg mungkin bisa saja ada yg terlewat dr pantauan orang tua..
    Musryik? Saya rasa tidak lah, saya bukan type orang tua yg plek percaya total dengan hasil mesin..apalgi model zodiak lah, test2 yg suka ada di media lah..
    Bukan jadi pegangan utama, tetap percaya proses, hal yg positif bisa dimaksimalkan, yg negatif bisa diminimalis.
    Jadi akan lebih bijak kalo para kaum ulama, ilmuwan lain dan ahli2 hebat tidak menghakimi dengan kata2 yg buruk terlebih dahulu.
    Komentari dengan bijak sertakan nasehat bijak..jadi kesannya tidak seperti menjatuhkan “dagangan” orang..
    Jadi orang bisa mengambil keputusan tidak mau pake sistem “finger print” bukan karena judgemen buruk para ulama dan ahli lain..tapi karena pertimbangan yg bijak..tanpa harus bersuudzon..
    Kita juga kan tidak tau kalo ternyata mmg banyak orang terbantu dengan sistem ini..

    Like

    • Kerenn… ini baru komentar yang bijak. saya sepakat seharusnya tidak perlu menjatuhkan, atau menjelek2an dagangan orang lain. Meskipun bisa jadi tujuannya adalah untuk menipu orang, tapi siapalah kita bisa menjudge orang tersebut (yang menawarkan jasa sidik jari)? Polisi saja untuk menetapkan seseorang sebagai tersangka membutuhkan 2 alat bukti. kalau kita yang orang awam sudah langsung mengatakan bahwa itu kebohongan atau sebuah penipuan, tanpa adanya sebuah bukti yang bisa di pertanggung jawabkan, maka bisa saja jadinya fitnah.

      Sangat mudah untuk melihat kejelekan atau keburukan seseorang, dan sangat sulit untuk mengakui kebaikan orang lain, ini manusiawi. maka dari itu untuk menumbuhkan pikiran yang positif, dari setiap hal yang baru, ambil dan simpanlah hal2 yang positif, dan tinggalkan lah atau buang hal2 yang negatif.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s