Fundraising Dinner for Syria

syria2

(Dara dan Bu Yuslenita)

Kamis lalu ada malam amal pengumpulan dana untuk para pengungsi Syria, atau Suriah. Sebetulnya ragu mau datang karena acaranya malam (menjelang maghrib) dan hari kerja. Tetapi akhirnya saya putuskan untuk hadir dengan beberapa hal.

Bagi saya ini bukan sekadar charity dinner atau fundraising. Tapi juga bagian dari home-education, mengajarkan hal-hal yang tidak diajarkan sekolahnya anak-anak. Krucils belajar bagaimana ketika berada di forum orang dewasa, berinteraksi dengan orang dewasa, dan mengenal budaya muslim dari belahan dunia lain.

syria5(Flyer Syria Four Year On Fundraising Dinner)

Acara diselenggarakan di gedung Hexagon University of Colchester. Di flyer (selebaran undangan) ditulis harga tiketnya £7 tapi panitia sepertinya menerima seikhlasnya ketika saya nanya, “Two adults and four children. How much is it?”
Kayaknya panitianya (semua tampangnya mahasiswa) juga bingung ngasih harga… Hehe…

Hamdan lillah ternyata berbarengan dengan Bu Yuslenita (Bu Ilen), Mas Rudy, dan di Hexagon ketemu Mbak Hasna. Mbak sudah memilih tempat duduk semeja dengan mbak-mbak muslimah students lainnya. Sementara Bu Ilen dan Mas Rudy dengan setia ngintilin supervisornya as known as Pakne Krucils…. xixixi…

syria1(Mbak Hasna, Bu Ilen, dan Dara)

Kami berdelapan dapat meja nomor 5. Setelah sambutan dan pembacaan puisi tentang Syria, acara dimulai dengan makan malam. Menu makanannya khas Arab seperti berikut ini.

syria1(Menu dinner-nya)

Nasi, dengan lauk ayam panggang. Yang segitiga itu samosa (saya memilih meat samosa, pilihan lainnya vegetable samosa), yang bunder-bunder falafel, dan yang dibungkus daun adalah dolma yakni nasi dibugkus daun anggur. Piring sebelah kanan berisi salad dan khumus, semacam saus teman makan nasi.

Setelah makan ada semacam kuis dari pembawa acara. Lantas ada yang menyanyikan lagu berbahasa Arab.

syria4

Setelahnya acara dilanjutkan dengan lelang lukisan dinding yang dibuat oleh seorang penduduk Aleppo… Lupa nggak ambil gambar lukisan dan acara lelangnya…

Dan akhirnya, ada band The Ta’alu.

Tepatnya kuartet The Ta’alu. Kuartet ini spesial untuk suami dan saya dengan alasan yang berbeda.

“Perkusinya ampuh,” suami yang nggak puas dengan duet sebelumnya, kali ini memuji.

the ta'alu

(The Ta’alu)

“Yang niup seruling cantik, pula…” kata saya.
“What is seruling?” tanya Dinara.
“Ehm… flute…”
“No, Bunda… It is not flute… It’s clarinet…”
“Oke, then… they are playing clarinet, guitar, drum, and trumpet…” kata saya.
“No, Bunda… It isn’t trumpet,” kata krucils lagi. “It’s trombone…”

Aduuuhhh, emaknya dulu waktu SD di Indonesia engga ada pelajaran musik, jadi salah melulu. Yang kayak gini, mau nge-homeschool? Home-education saja, deh.

Hebatnya, The Ta’alu yang semua personilnya bule dan didatangkan dari London itu, memainkan musik Arab.

Karena krucils sudah ngantuk, dan besoknya musti sekolah, terpaksa niat mewawancarai panitia yang berkebangsaan Syria urung dilakukan.

syria3

(Foto bareng salah satu panitia yang asal Syria, Sister Ameera)

 Cochester, Essex, 26 Maret 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s