Nggak jadi operasi testis

hospital

(Rumah Sakit Pendidikan Norfolk dan Norwich, Inggris)

“I’m not happy with his testicles…” kata Ibu Health Visitor pelan-pelan. Lantas bertanya, “What do you think?”
“I.. I don’t know…”
“Do you mind if I make him appointment with the GP?” Ibu bidan yang sudah tua itu menawarkan bantuan sekaligus meminta izin untuk mendaftarkan Mahdi ke surgery (puskesmas) untuk diperiksa General Practitioner alias dokter umum.Tentu saja saya tidak keberatan.

Dari surgery Mahdi dirujuk ke General Hospital alias RSUD untuk diperiksa pediatrist alias dokter spesialis anak.

“Kamu punya kendaraan?” tanya Bu Dokter yang rambutnya sudah putih semua. “Karena kami tidak bisa melakukan operasi di sini… Harus di rumah sakit yang agak jauh dari sini…”

Mahdi harus operasi. Testisnya harus diturunkan. Soalnya kalau nggak turun, besar kemungkinan dia jadi mandul. Dan testis yang masih tetap di perut, yang tidak turun, bisa berpotensi jadi kanker. Tapi kami nggak bisa langsung minta ditangani.

Sama seperti pasien BPJS di Indonesia, prosedurnya harus bertingkat dari puskesmas, ke rumah sakit lokal, baru dirujuk ke rumah sakit pendidikan alias University Hospital. Nggak bisa sembarangan langsung mau ditangani dokter spesialis dan buru-buru langsung operasi.

Eh tapi, semuanya gratis…

Meski gratis, tentu saja saya sedih bukan main ketika Mahdi didiagnosis undecensus testis, alias testisnya dinyatakan kurang turun. Padahal saya tidak pernah lupa memeriksakan semua bayi-bayi saya sesuai waktunya. Kalaupun nggak berangkat ke puskesmas, Health Visitor yang akan datang ke rumah.

Semua saya kerjakan lengkap. Umur beberapa hari, bayi akan diambil darah di bagian tumit (heel prick test alias Guthrie test) untuk memeriksa adanya fenilketonuria, hipotiroid kongenital, sickle cell disease, cystic fibrosis. Bidan akan datang ke rumah untuk menimbang bayi sekaligus mengambil sampel darahnya. Untuk pemeriksaan pendengaran, dikerjakan di rumah sakit, disebut automated otoacoustic emission (AOAE) test.

Umur 6-8 minggu, akan diperiksa bagian-bagian berikut ini:
– Pinggul, untuk mengecek adanya dislokasi atau displasia
– Testis dan genitalia, termasuk memeriksa kalau ada yang tidak beres dengan bentuk dan ukuran testis
– Jantung (murmur, sianosis, femorals)
– Mata (katarak, pergeraka bola mata)
– Pemeriksaan umum ubun-ubun (fontanella), bagian-bagian mulut (palate), dan tulang belakang (spine)
– Pendengaran
– Locomotion (tone head control)
– Speech/language (social smile)
– Behaviour (parental concern, sleep, feeding

Saya memeriksakan Mahdi untuk review 6-8 minggu di dokter umum. Setelah itu, tidak da pemeriksaan rutin lagi. Lantas akan diperiksa lagi setelah usia 1 tahun. Health Visitor-lah yang mencurigai kalau testis Mahdi belum turun ketika melakukan 1 year review-nya.

Sebagai pasien BPJS yang gratisan, kami menurut saja saat disarankan harus ke rumah sakit pendidikan yang jauh, sekitar 2 jam dari Colchester. Datang pertama kali, hanya diperiksa sebentar, lantas diberi tahu akan dimasukkan ke jadwal operasi.

“Kapan operasinya?” tanya saya.
“Karena dia sudah usia satu tahun lebih, kita usahakan dalam 2-3 bulan ke depan… Nanti jadwalnya dikirimkan ke rumahmu…”

Ya sudah, pulang lagi, nunggu dikabari.

Dua bulan kemudian, awal Maret ini, surat kami terima. Mahdi dijadwalkan operasi tanggal 17. Beberapa hari sebelum hari-H, nurse ‘mewawancarai’ alias menganamnesis kami lewat telepon tentang beberapa hal termasuk adanya penyakit lain yang diderita Mahdi.

“Wheezing,” jawab saya dan suami. “Diberi inhaler salbutamol dan ipatropium bromide (Atrovent)…”
“Mungkin operasinya bisa langsung dilakukan kepada kedua testisnya,” terang nurse. “Mungkin juga harus satu-satu. Kalau dia bisa pipis setelah operasi, bisa langsung pulang. Tapi melihat dia punya riwayat penyakit pernapasan, mungkin harus menginap. Tolong disiapkan saja kalau harus menginap…”

Selasa kemarin, setelah menitipkan Fahdiy dan Dinara ke keluarga Indonesia terdekat, kami berangkat ke Norwich. Perjalanan memakan waktu sekitar 2 jam.

Berhari-hari sebelumnya kami mengerahkan orang tua agar mendoakan Mahdi.

“Mama mendatangkan ibu-ibu Masjid untuk doa bersama, hari Selasa,” cerita Mama lewat telepon.
Sementara suami berkali-kali berusaha menelpon paranormal rujukan Mbah Putri.

“Lebih mujarab kalau nelpon langsung,” terang Mbah Putri. Lha tapi susah bener nyambung ke telpon dukunnya.

Sesuai waktu yang ditulis di surat pengantar, kami sudah tiba di lokasi jam 12.30. Ruang tunggunya seperti children centre.
Sementara Dara bermain, saya mendampingi Mahdi diperiksa oleh dokter.

“Ada perubahan?” tanya Bu Dokter senior. Dokter satu lagi kayaknya co-ass, deh… Hehehe… Abis gak ngomong apa2 senyum-senyum doang…
“Saya kira tidak,” jawab saya nggak yakin.
Bu Dokter lantas memeriksa kedua testis Mahdi, “Posisinya sudah bagus,”
Hah? Masa? Batin saya.
“Saya konsultasikan dulu, ya…” kata Bu Dokter.

“Eh, Yah, katanya posisinya udah bagus… Mungkin gak perlu operasi,” kata saya ke suami yang menemani Dara main. “Nelpon gih ke Ibu dan orang pinternya biar ditambahi doa…

“Posisi testisnya sudah baik, dan kami menghindari unnecessary surgery,” terang Bu Dokter yang sudah memakai surgical cap-nya. “Kita buatkan pengantar supaya nanti diperiksa 6 bulan lagi…”

Horeee.. Alhamulillah nggak jadi operasi…

Setelah makan di warung, kami pulang. Menempuh 100 km (96 koma sekian persisnya), menuju rumah. Jadi seharian bolak-balik menempuh sekitar 200 km, hanya untuk menerima jawaban, “Engga jadi operasi.”

Nah, buat tambahan ilmu, berikut sedikit tentang undecensus testis, atau bahasa kedokterannya kriptorkidismus.

Kriptoskismus berarti satu atau kedua kantong buah zakar (skrotum) dalam keadaan kosong, alias tidak terisi buah zakar (testis) karena belum turunnya testis.

Apa penyebab kriptoskismus ini?
Penyebab pasti kriptoskismus belum diketahui, diduga peranan genetik, kesehatan ibu selama hamil, dan faktor lingkungan yang memperngaruhi produksi hormon selama kehamilan dapat mempengaruhi perkembangan testis. Kriptoskismus / testis tidak turun biasanya terjadi pada bayi yang lahir prematur (kurang dari 37 minggu), walaupun tetap terjadi pada 3-4 % bayi yang lahir cukup bulan. Selain itu, kriptoskismus juga sering terjadi pada bayi dengan berat badan lahir rendah (kurang dari 2,5kg).

Faktor lain yang merupakan faktor resiko termasuk:
– Riwayat terjadinya kriptoskismus di dalam keluarga kandung
– Kondisi yang dapat menyebabkan terhambatnya perkembangan secara menyeluruh, misalnya sindroma Down.
– Konsumsi alkohol pada ibu hamil
– Ibu yang merupakan perokok pasif
– Ibu yang menderita diabetes melitus
– Paparan berlebihan dari obat pembasmi serangga (pestisida)

Apa tanda dan gejala dari kriptoskismus ini?
Biasanya tidak memberikan gejala, namun ditemukan skrotum dalam keadaan kosong jika diraba pada posisi duduk bersila. Untuk membantu menegakkan diagnosa, mungkin diperlukan pemeriksaan USG, MRI, atau CT scan. Pada orang dewasa biasanya juga disertai kemandulan.

Apa pengobatan untuk kriptoskismus ini?
Biasanya testis turun sendiri sebelum usia 9 bulan. Jika testis belum turun sampai usia 1 tahun, diperlukan pemeriksaan lebih lanjut, bahkan mungkin diperlukan tindakan operasi untuk memeriksa dan memastikan diagnosa, serta untuk mencegah kerusakan lebih lanjut pada testis jika tidak berada pada tempat yang seharusnya. Penempatan testis di tempat yang tepat (di kantong sktrotum) dapat memaksimalkan produksi sperma dan meningkatkan kemungkinan untuk kesuburan. Hal ini karena testis hanya dapat berfungsi secara optimal pada suhu yang sedikit lebih rendah dari suhu tubuh, yaitu di kantong skrotum. Dapat juga tidak ditemukan adanya testis, walaupun sudah dilakukan pembedahan, biasanya terjadi karena bawaan dari lahir, dimana terjadi gangguan proses perkembangan sejak di dalam kandungan. Bila lokasi testis ditemukan, walaupun bukan di kantong, dokter akan memberikan terapi hormon bila anak belum mencapai 2 tahun. Terapi pembedahan juga mungkin diperlukan untuk mencegah mandul, terpelintirnya testis, maupun efek psikologis dan kosmetik.

Apa komplikasi yang mungkin timbul akibat kriptoskismus ini?
Dapat terjadi kemandulan dan terpelintirnya testis (torsio testis) bila tidak diterapi. Terdapat peningkatan resiko terjadinya kanker testis pada orang dengan riwayat kriptoskismus.

Bagaimana mencegah terjadinya kriptokismus?
Sampai saat ini belum ada metode khusus untuk mencegah Kriptoskismus. Namun dapat menurunkan resiko terjadinya Kriptoskismus dengan mencegah kehamilan prematur dan lahir dengan berat badan rendah. Serta menghindari konsumsi alkohol dan rokok selama kehamilan.

Sumber tulisan: http://www.tanyadok.com/penyakit/testis-tidak-turun-alias-kriptoskismus

Colchester, Essex, 19 Maret 2015

Advertisements

2 thoughts on “Nggak jadi operasi testis

  1. beberapa bagian yang menjadi perhatian saya :
    1. Sementara suami berkali-kali berusaha menelpon paranormal rujukan Mbah Putri.
    “Lebih mujarab kalau nelpon langsung,” terang Mbah Putri. Lha tapi susah bener nyambung ke telpon dukunnya.
    ==> paranormal/dukun yang dimaksud apa ya? Soalnya setahu saya di sini bermakna negatif (tidak syar’i).

    2. Warga asing yang tinggal di Inggris dapat fasilitas gratis periksa kesehatan juga? Adyik dong….

    Liked by 1 person

  2. Wah syukurlah ga jd operasi ya mba… almarhum adik ipar saya sejak kecil ada masalah jg ama testisnya.. yg hrsnya ada 2 kan ya, dia cuma 1 dari lahir.. saya ga gitu tau apa efeknya kalo testis cm 1, krn adik ipar saya jg ga berumur panjang 😦

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s