Krucils kena cacar air alias chickenpox…

varicella2

(Pasien chickenpox say, “Cheeeeeesee…”)

Jam di mobile phone masih menunjuk waktu 02.45 siang. Masih 15 lagi sebelum sekolah bubar. Tapi John dan ibunya sudah ada di trotoar dengan tangan penuh belanjaan dari minimarket terdekat dari sekolah.

“He got chickenpos so I have to take him earlier,” terang ibunya John saat kami berpapasan. Kami ngobrol berbasa-basi sejenak lantas berpisah, “Bye, John… Get well soon…” ucap saya dan Dara.

John adalah salah satu teman terdekat Fahdiy di kelas. Dari info di pagar sekolah, hari itu saja ada sekitar 4-5 siswa di kelas Fahdiy yang tidak masuk sekolah karena kena chickenpox alias cacar air.

Sekitar 2 pekan lalu, sekira jam 12.00 siang suami nelpon dari kantor, “Fahdiy kena chickenpox, Bu… Bisa jemput?”
“Duh, Mahdi lagi sesak nih, Yah…”
“Ya sudah aku saja yang jemput…”
Hari itu hari Kamis. Fahdiy baru kembali ke sekolah hari Selasa.

“Dinara kena chickenpox,” kata suami ke saya yang sedang menyusui Mahdi di kasur, Sabtu pagi.
Saya menarik napas. Tidak mengherankan. Dan sudah bisa diprediksi. Cacar air penularannya sangat cepat, seperti penyakit selesma (batuk pilek).
“Ya sudah dia nggak usah ngaji,” kata saya. “Fahdiy saja yang ke TPA. Dara kena juga?”
Ternyata Dara juga kena cacar air.

“Itchy, Bundaaaaa…” seru Dinara dari atas kasur. Nafsu makan menurun. Lebih lemah dari biasanya. Dan memerlukan paracetamol sirup.
“Jangan digaruk terus, Mbak…”
“Chickenpox hurts me…”
“Sabar, Sayang… Anak sholihah sabar disayang Allah….”
“This chickenpox won’t go away…”
“Nanti hari Senin kamu sembuh insyaAllah…”
“”This chickenpox will stay foooorrrrr eeeeveeeeerrrrr….”
Minimal saya tahu tidak terjadi penurunan kesadaran…

“Lho, Mbak dara mau ke mana?” seru saya.
Dara berjalan menuju toilet. Di pintu dia melepas semua bajunya, ritual menjelang mandi.
“Mbak, tadi kahn sudah mandi…” saya mengingatkan.
“Dia gatel mungkin, Bu,” kata Si Ayah, “Sudah mandikan lagi saja…”

Selain di kulit, Dinara dan Dara juga mengeluh tidak enak di lidahnya. Ya, lidahnya juga ada benjolan-benjolannya. Mau gimana lagi. Cacar air juga bisa terbentuk di tenggorokan, mata, selaput lendir uretra, anus, dan vagina. Sedih banget melihat krucils kena cacar air…

varicella1

(Cacar air di wajah Dara)

chickenpox3

(ilustrasi anak kena chickenpox…. Dara juga begini badannya…. Kasihan, yaaa…)

Ahad sore, muncul blister di leher dan pipi Mahdi.
“Tak kasih aciclovir aja,” kata saya. Masih ada persediaan aciclovir sirup sedikit. Akhir November 2014, Mahdi opname dengan diagnosis viral induced wheezing. Dia sesak dan tachypneu. Di hospital, di perut dan punggungnya muncul blister (mlenting) kecil-kecil. Pediatrist-nya memberi aciclovir. Sisanya masih saya simpan.

“Kamu ngantor, Yah?” tanya pagi ini. Membayangkan harus ngurus 3 pasien anak sendirian. Mengasuh 3 balita sakit dengan 3 balita sehat, bebannya beda.
“Aku berangkat habis dhuhur saja,” jawab suami.

Cacar air pada anak sering dianggap remeh. Padahal komplikasinya bisa begini:

  • Infeksi Kulit. Infeksi sekunder di kulit oleh bakteri Staphylococcus atauStreptococcus, yang dapat mengancam jiwa.
  • Pneumonia (infeksi paru-paru). Terjadi pada satu dari 400 orang dewasa dengan cacar air, dengan angka kematian 10-30%.  Jarang sekali terjadi pada anak-anak.
  • Komplikasi neurologis. Dapat terjadi encephalitis atau radang otak dengan gejala demam dan kejang. Angka kematiannya 10-15% dan bila sembuh hampir selalu meninggalkan gejala sisa.  Jarang terjadi pada anak-anak.
  • Pada wanita hamil. Dapat menyebabkan cacat janin bila ibu terkena infeksi pada usia kehamilan antara 8 sampai 20 minggu.  Pada kasus berat dapat menyebabkan anak lahir buta, keterbelakangan mental, dan kelainan tumbuh lengan dan tungkainya. Kasus ringan dapat menyebabkan abnormalitas pigmen pada bayi atau bekas (scarring) pada kulit karena janin juga terkena cacar air di dalam kandungan. 25% kematian terjadi pada bayi dengan Ibu penderita cacar air saat kehamilannya.
  • Lainnya. Walau pun jarang, menyusul setelah infeksi cacar air pada dewasa dapat terjadi hepatitis, penyakit ginjal, ulkus pada saluran pencernaan, dan orchitis atau peradangan pada testis.

Cacar air, alias chickenpox, di dalam dunia ilmiah dikenal sebagai Varicella Zoster Virus VSV. Kalau sudah sembuh, belum tentu virusnya pergi dari tubuh. Bisa jadi, virusnya cuma lemah dan tidur. Kelak, biasanya kalau sudah lansia, ketika daya tahan tubuh melemah, virus bisa bangun lagi dan menyebabkan penyakit shingles atau cacar ular.

shingles

(ilustrasi penyakit shingles atau cacar ular)

Kenapa Inggris nggak mewajibkan vaksinasi cacar air, ya? pikir saya.

Eh, ternyata BBC News juga berpikiran sama.

Professor Adam Finn, konsultan penyakit infeksi bagian anak di Bristol Royal Hospital for Children, menyatakan, “Chickenpox adalah penyakit yang menyebabkan anak tidak bisa pergi ke sekolah, artinya orang tua harus cuti nggak bisa ke kantor, dan untuk anak-anak yang sebelumnya daya tahan tubuhnya sudah lemah, chickenpox bisa berdampak serius. Untuk menanggulanginya kita hanya memerlukan sedikit biaya.” (Kalimat aslinya begini: “Chickenpox is a disease which stops children going to school, means parents have to take time off work, and for children who are already sick can be very severe. And for a small cost we could be rid of it.”)

Masalahnya sudah jelas: biaya. Kalau negara mewajibakn vaksinasi suatu jenis penyakit, negara wajib menyediakan vaksin dan segala fasilitasnya secara gratis. Dengan keterbatasan anggaran, Inggris sudah mewajibkan vaksinasi sejumlah penyakit, belum termasuk cacar air.

Di samping itu, ada kendala lain dalam ide vaksinasi cacar air. Yakni gerakan antivaksinasi. Belakangan ini gara-gara gerakan antivaksinasi yang menolak vaksinasi MMR karena takut autisme, penyakit measles jadi wabah di Inggris. Mumps (gondongan), measles (campak) dan rubella (campak Jerman), jauh lebih berbahaya daripada chickenpox.

Pemerintah Inggris saat ini sedang berusaha keras menaikkan angka cakupan vaksinasi MMR.

“Kita semua tentu saja ingin ada program vaksinasi chickenpox, dan saya pikir itu akan dilaksanakan oleh pemerintah,” komentar Dr David Elliman, pakar imunisasi dari the the Royal College of Paediatrics and Child Health (RCPCH).
“Sayangnya, saya pikir masyarakat belum siap kalau harus muncul perdebatan pentingnya vaksinasi cacar air. Yang menjadi prioritas untuk dimenangkan sekarang adalah mengembalikan angka cakupan vaksinasi MMR ke angka yang seharusnya. We need to win that one first.

Pemerintah Inggris tentu saja tetap menyediakan vaksinasi cacar air. Tapi tidak gratis, musti membayar.

Kalau tahu angka kejadian cacar air di Inggris masih tinggi, saya pasti lebih memilih memvaksinasi krucils, meski harus membeli. Misalnya vaksin hepatitis B, yang tidak diwajibkan di Inggris. Saya beli, karena di Indonesia vaksinasi hepatitis B termasuk wajib, karena angka kejadiannya tinggi, dan kami masih akan tinggal di Indonesia. Sekarang, Dinara bosan di rumah dan berantem dengan Dara. Dara bopeng wajah, badan, punggung, bahkan tangan dan kakinya. Dan Mahdi besok dijadwalkan operasi orkidektomi. Allahua’lam moga-moga masih bisa dilaksanakan.

Sesal memang selalu datang belakangan. Tetapi masih bersyukur, karena ‘hanya’ cacar air. Bukan cacar, difteri, pertusis, TBC, polio, dan sebagainya.

Mohon doanya supaya krucils lekas sembuh, ya… Untuk yang punya baby, berikan ASI, dan jangan lupa lengkapi imunisasinya…

Salam sehat dari kami…

Colchester, Essex, 16 Maret 2015

Advertisements

11 thoughts on “Krucils kena cacar air alias chickenpox…

  1. Gerakan antivaksin juga mewabah di Indonesia Mak. Saya cuma bisa ngelus dada kalau lihat postingan/komentar dari tokoh AV & followernya. Untung masih banyak juga yang care & ada dokter2 yang tegas sekali soal AV. Alhamdulillah anak saya sudah divaksin cacar air. Sedang langka juga di sini, sampai ikut PO dan antri. Semoga anak2nya cepat pulih ya. Aamiin…

    Like

  2. Di Indonesia, antivaksin juga mewabah Mak. Mostly yang jadi alasan menolak vaksin adalah agama. Cuma ngelus dada + istighfar kalau baca tulisan/komentar tokoh AV & followernya. Secara ‘kebetulan’, ada KLB difteri di bbrp daerah. Dokter2pun jadi meradang. Untunglah msh bnyk yg tegas meluruskan salah pahamnya antivaks. Semoga anak2nya cepat sembuh ya Mak.

    Like

  3. Cepet sembuh ya Mak, salep acyclovir terus dioles untuk mengurangi gatelnya. Vaksin cacar disini juga belum wajib Mak, karena masih impor dan mahal. Sayangnya vaksin basic yang gratis disediakan pemerintah juga masih banyak yang menolak dengan alasan kaidah agama. Padahal kalo udah kena penyakitnya, selain sesal kemudian juga bikin wabah dan biaya lebih besar untuk pengobatan yang belum tentu bisa sembuh kembali.

    Like

  4. cacar emang cenderung kenanya sama anak2 ya mak, anak sy yg pertama kena klo gak salah pas usia 2th. sy pake herbal mak, pagi bangun tdr tak kasih habbasssauda, pagi siang sore sy bikinkan jamu dr jahe,kunyit, kencur dan temu lawak. lalu utk dioleskan sy campur asam jawa dan kunyit dipanaskan pake minyak kelapa. alhamdulillah sembuh, abis diolesin cacarnya layu dan gak nambah. smg krucils cpt sembuh ya

    Like

  5. Sebelum lihat posting ini, saya tidak terlalu membayangkan akibat cacar air.. Terima kasih sudah berbagi info.. Puji Tuhan, Dylan sudah di vaksin chickenpox saat check 15 bulan kemarin.
    Semoga lekas sembuh ya.. Oya, kalo di keluarga saya ada yg kena cacar air, kami pakai parutan jagung mudah untuk menghilangkan bekasnya.. 🙂
    Salam kenal 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s