Rumah Tangga tanpa Asisten/Pembantu (bagian 5 dari 5)

nyuci piring

Berikut ini adalah lanjutan dari tulisan Rumah Tangga tanpa Asisten/Pembantu bagian ke-4 sekaligus bagian terakhir.

Menurut hasil penelitian, keikutsertaan para suami dan ayah dalam pekerjaan rumah tangga, berpengaruh positif terhadap keutuhan dan keharmonisan keluarga. Tentu saja tidak ada satu resep baku untuk membangun rumah tangga sakinah-mawaddah-rahmah. Tetapi, peneliti dari Universiti of Missouri, AS, menemukan bahwa pasangan suami-istri lebih bahagia jika mereka berbagi pekerjaan rumah tangga dan tanggungjawab pengasuhan anak. Meski demikian, menurut Adam Galovan (saat ini adalah Professor in the Departement of Human Development and Family Studies at University of Missouri – Columbia, Columbia, Missouri, USA), berbagi pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan anak, tidak berarti suami-istri harus membagi jumlah pekerjaan secara seimbang.

Membagi pekerjaan rumah tangga seimbang yang dimaksud misalnya adalah begini, suami hanya diserahi tugas-tugas yang berat seperti mengangkat galon minuman, mengganti tabung gas, membuang sampah, mengurus mobil, memperbaiki genteng bocor, mengecat tembok, atau membersihkan selokan. Sementara perempuan mengerjakan semua selain di atas; housekeeping, dapur, manajemen keuangan rumah tangga, dan anak-anak termasuk urusan pendidikan anak. Pembagian seperti ini kadang-kadang bisa menjadi kesalahan.

“Berbagi bisa berarti sesuatu yang berbeda untuk setiap pasangan. Ini bisa berarti bergiliran mengganti popok atau salah satu orangtua menjaga anak-anak sementara yang lain mempersiapkan makan malam. Melakukan hal-hal bersama-sama dan menyepakati pembagian kerja bersama menguntungkan kedua pasangan. Semakin banyak istri merasa sang suami terlibat dalam tugas pekerjaan rutin keluarga, semakin baik hubungan untuk kedua pasangan,” jelas Galovan

Erin Holmes, rekan peneliti Galovan yang juga profesor dari Brigham Young University, menyatakan, “Kami mendapati bahwa tidak masalah siapa yang mengerjakan apa, tapi seberapa puas orang-orang ini dengan pembagian tugas tersebut. Ketika para istri bekerja sama dengan suami, ternyata mereka lebih puas dengan pembagian tugas tersebut.”

Para peneliti mengamati bagaimana 160 pasangan suami-istri heteroseksual dalam menangani pekerjaan rumah tangga dan mengasuh anak, dengan umur perkawinan rata-rata 5 tahun, minimal memiliki satu anak berusia 0-5 tahun, mayoritas responden berusia 25-30 tahun, dan semua memiliki anak berusia lima tahun atau lebih muda. Penelitian ini mengambil sampel keluarga dengan balita, karena menganggap memiliki anak-anak yang masih kecil merupakan tahapan paling menantang bagi orangtua muda.

Dari hasil pengamatan tersebut didapatkan bahwa kualitas hubungan ayah dan anak ternyata menjadi faktor paling penting dalam keharmonisan rumah tangga, diikuti dengan kesediaan untuk melakukan pekerjaan rumah tangga bersama istri. Bagi kaum perempuan, hubungan ayah dan anak yang baik menandakan bahwa orangtua pun kemungkinan akan memiliki hubungan yang baik.

Peneliti juga mengukur keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak dengan sejumlah cara, di antaranya kuantitas waktu yang dihabiskan ayah untuk bermain bersama anak, menemani anak mengerjakan hobinya, mendampingi anak membuat PR, dan sejenisnya.

Menurut Galovan, “Dalam penelitian kami, istri melihat keterlibatan suami dan partisipasi dalam pekerjaan rumah tangga saling terkait. Melakukan pekerjaan rumah tangga dan bermain dengan anak-anak tampaknya menjadi cara yang penting bagi suami untuk berhubungan dengan istri mereka, dan koneksi tersebut berhubungan dengan hubungan yang lebih baik.”

“Sesuatu yang sederhana seperti membacakan buku untuk anak setiap malam dan ngobrol bersama mereka mengenai aktivitas mereka sepanjang hari akan memberikan manfaat dalam jangka panjang,” tutur Galovan.

Ikatan antara ayah dan anak-anak juga memberikan kontribusi terhadap kepuasan pernikahan suatu pasangan. “Ketika istri merasa suami mereka dekat dengan anak-anak, kedua pasangan cenderung memiliki pernikahan yang lebih baik. Hubungan ayah-anak sangat penting bagi istri,” ujar Galovan.

Dalam penelitian sebelumnya, Holmes mendapati bahwa suami dan istri sama-sama meningkatkan kerjasama dalam pekerjaan rumah tangga ketika bersiap menjadi orangtua. Para ayah umumnya melakukan pekerjaan rumah tangga dua kali lebih banyak setelah bayi pertama lahir. Sedangkan para ibu melakukan pekerjaan rumah lima kali lebih banyak daripada sebelumnya!

“Namun ketika para istri merasa puas dengan pembagian tugas, hasil penelitian menyatakan, kedua belah pihak memiliki kualitas pernikahan yang lebih tinggi,” tutur Holmes.

Galovan mengatakan pasangan harus menyadari bahwa transisi menjadi orangtua memerlukan periode penyesuaian, dan normal jija suami dan istri merasa stres. Untuk menangkal stres ia menganjurkan agar orangtua membuat membuat beberapa prioritas, seperti makan malam berdua tanpa anak-anak.

“Suami istri perlu tetap mencari cara untuk berhubungan sepanjang hari, bahkan jika itu hanya mencuci piring bersama-sama atau menonton film. Hubungan sederhana dalam kehidupan sehari-hari berpengaruh dalam meningkatkan kepuasan perkawinan dan meningkatkan kualitas hubungan pasangan,” simpulnya sebagaimana hasil risetnya yang dipublikasikan dalam Journal of Family Issues ini.

Selama 14 tahun, Salary.com melakukan survei dengan jumlah responden lebih dari 15.000 ibu. Hasil survei pada tahun 2014 menyimpulkan berikut ini adalah 10 pekerjaan yang paling menyita waktu ibu rumah tangga:

10. Menjadi CEO (Direktur utama perusahaan), (3,2 jam/minggu)
9. Laundry operator, termasuk urusan jemur-setrika (6,5 jam/minggu)
8. Janitor alias tukang bersih-bersih (7,8 jam/minggu)
7. Driver alias supir antar-jemput krucils (7,8 jam/minggu)
6. Psikolog (8,3 jam/minggu)
5. Operator komputer untuk anak-anak (8,6 jam/minggu)
4. Facility manager (10,9 jam/minggu)
3. Daycare teacher alias guru PAUD-TK (14,3 jam/minggu)
2. Memasak (14,5 jam/minggu)
1. Housekeeper alias menata rumah (14,6 jam/minggu)

Atas seluruh pekerjaan tersebut seorang ibu rumah tangga di Amerika Serikat berhak mendapatkan upah $118,905/tahun pada tahun 2014 yang jika dikurskan ke rupiah saat ini sekitar Rp1.573.553.098,-/tahun. Jadi pekerjaan ibu rumah tangga di AS, kalau diuangkan, bisa mencapai Rp1 Milyar lebih. Jumlah yang besar ini disebabkan karena ibu rumah tangga banyak melakukan pekerjaan ‘overtime’ alias kerja lembur di ‘luar jam kantor’.

Lebih lengkap bisa dilihat pada infografik Salary.com di bawah ini:

stay-at-home-mom_page_2014

(Berapa upah yang layak untuk stay-at-home mothers? Tahun 2014 dan 5 tahun sebelumnya)

working-mom_page_2014

(Total salary working moms tahun 2014 dan 5 tahun sebelumnya)

Dalam Islam sebetulnya suami tidak haram membantu istri menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Misalnya sebagaimana yang disebutkan dalam beberqapa hadits berikut ini:

– ‘Aisyah Radhiallahu anhum, pernah ditanya: “Apakah yang dilakukan Rasulullah di dalam rumah?” ‘Aisyah menjawab: “Beliau adalah seorang manusia biasa, ia menambal pakaian sendiri, memeras susu dan melayani dirinya sendiri.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

– Urwah bertanya kepada Aisyah, “Wahai Ummul Mukminin, apa yang diperbuat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam jika ia bersamamu di rumah?”, Aisyah menjawab, “Ia melakukan seperti yang dilakukan salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya, ia memperbaiki sandalnya, menjahit bajunya, dan mengangkat air di ember.” (H.R. Ibnu Hibban)

Dalam Syama’il karya At-Tirmidzi terdapat tambahan, “Dan memerah susu kambingnya…”

– Aisyah r.a. pernah ditanya seorang lelaki yang bernama al Aswad bin Yazid tentang apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw ketika dalam rumahnya? Maka Aisyah menjawab: Rasulullah SAW sentiasa membantu ahli keluarganya dalam kerja rumah. Dan apabila sudah tiba masuk waktu solat, Baginda keluar untuk solat. (HR Bukhari Muslim)

– Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wassalam pernah bersabda; “Orang beriman yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya, dan orang yang paling baik akhlaknya adalah orang yang paling baik terhadap isterinya” (Riwayat At-Tirmidzi)

Colchester, Essex, 15 Maret 2015

 

 

 

Advertisements

5 thoughts on “Rumah Tangga tanpa Asisten/Pembantu (bagian 5 dari 5)

  1. ada adabnya juga ya bila suami membantu pekerjaan isteri di rumah… untuk rumahtangga saat ini kebanyakan ada asisten rumah tangga semua ya… padahal bisa dikerjakan sendiri tergantung si empunya rumah bgmn memanage pekerjaan itu… nice post…salam kenal ya…

    Like

  2. aku merasa beruntuuungg sekali karena suami aku yang ngerjain hampir semua pekerjaan rumah tangga. menurutnya, secara agama pun pekerjaan rumah tangga adalah kewajiban suami. istri hanya membantu bila ikhlas. 😀 jadi aku bagi tugas, kerjaan rumah tangga dia yang kerjakan, yang berhubungan dengan bayi aku yang kerjakan.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s