Anakku ‘tidak’ berprestasi(?)

mums day(Difoto gurunya Dinara)

Kemarin hari Bring Your Mom to School untuk Fahdiy dan Dinara. Berdasar undangan di newsletter-nya, acaranya sih cuma satu jam.

“Kamu yakin mau datang sendiri?” tanya Si Ayah.
“Iya. Kamu di rumah saja jaga Dara dan Mahdi.”
“Kok agak aneh acaranya dijadikan satu…” gumam Si Ayah, tapi nggak saya perhatikan.

Bulan Februari, sekolah bikin acara Bring Your Dad to School. Setiap hari untuk satu angkatan. Karena kami punya dua anak, suami harus meluangkan 2 hari untuk duduk di kelas Fahdiy, dan hari lainnya duduk di kelasnya Dinara. Sementara untuk Bring Your Mom to School, undangan untuk ibu seluruh anak, dalam satu hari.

dinara ayah(Dinara dan Ayah bikin air balloon… yang sangat tidak memuaskan… Hehehe… Topiknya transport to the moon…. Bapak2 lain bikin roket guede-guede….)

Awalnya saya kira kami semua kan dikumpulkan jadi satu di aula sekolah. Ternyata setelah sambutan sebentar, para ibu diminta menuju kelas anaknya masing-masing. Kontan, saya bingung.

Dalam perjalanan ke kelas Dinara, saya melewati kelas Fahdiy. Saya masuk sebentar. Fahdiy sudah happy, menggamit tangan saya, mau ngajak duduk.

“Mas, Bunda ke kelasnya Dinara sebentar, ya…” kata saya pelan di telingnya.
“Oh, oke…”

Di kelas Dinara, saya melihat ia sedang main puzzle di lantai bareng salah satu gurunya. Setiap anak diberi aktivitas bareng ibunya. Atau neneknya, tantenya, atau siapa pun yang mewakili ibunya. Bisa membaca buku, bermain macam-macam, mengoperasikan komputer, main layar touch screen yang super gedeeee ngalah2in TV, dan sebagainya. Saya langsung nimbrung menyusun puzzle. Setelah beberapa saat, bel kelas berbunyi. Beberes, alias Tidy up time. Miss Wood akan membacakan, atau tepatnya menceritakan kisah Handa yang diangkat dari buku Handa’s Surprise.

handa(Sampul buku Handa’s Surprise. Kalau pengen tahu isi bukunya, isi bukunya sudah dibuat filmnya, durasi 4 menit,  di sini.)

“Dinara, Bunda ke Mas Fahdiy sebentar, ya…” Saya langsung menyelinap kabur ke kelas Year 2.

Di kelasnya, murid Year 2 tugasnya melukis Moonlight Sonata. Padahal itu judu lagunya Beethoven tapi dikasih ilustrasi di TV kelas yang segede gaban itu contoh lukisan begini:

moonlight

(Sumber gambar http://en.wikipedia.org/wiki/File:Sea_view_by_Moonlight.jpg)

Saya duduk di bangku. Fahdiy mulai melukis. Ibu-ibu lain langsung melukis dengan penuh semangat. Tapi saya biarkan saja Fahdiy nggambar sendiri semaunya.

Beberapa guru kelas lewat dan memuji-muji lukisan Fahdiy yang jelek. Beneran jelek. Makanya saya nggak komentar apa-apa. Lha tapi saya juga gak jago melukis, kok… Hehe…

Selang beberapa waktu Miss Froud, sang wali kelas, mengangkat lukisan salah satu siswa dengan penuh kebanggaan. Nada-nada pujian pun berdengung-dengung memenuhi ruang kelas yang penuh sesak dengan 30 anak, 30 ibu, dan 4 guru.

“Look, Bunda,” kata Fahdiy. “Yasmina’s painting is so beautiful…”
“Yes, it is,” kata saya sambil menggamit tangannya menuju Miss Froud.

“I’m sorry,” kata saya ke Ibu Guru. “May I take Fahdiy to Dinara?”
“Sure.”

Langsung kabur ke Reception Class. Lho, anak-anaknya sudah berhamburan ke luar kelas.

“Help Bunda find Dinara, Mas,” kata saya.
Dinara ada di luar, duduk menggambar di salah satu bangku TK.

Sementara saya bernapas lega. Dinara dan Fahdiy main di lapangan. 60 anak umur 4-5 tahun ditemani ibu/nenek/tante-nya masing-masing.

“Dinara, ikut ke kelas Mas, yuk,” saya menggandeng tangannya.

Di kelas Fahdiy, suasana ribut bukan main. Para siswa berdiri. Entah apa aktivitas sebelumnya.

Dinara ketakutan dan mulai rewel.

“I don’t want to get in, Bunda,” mulai narik-narik tangan ngajak keluar. “No… No… No…”

Di tengah-tengah kebingungan, Fahdiy ngomong, “Bunda, take Dinara to her class.”
Saya bengong. “Are you sure?”
Fahdiy mengangguk.
Kelas yang ramai membuat kami nggak bisa ngobrol lebih panjang.

Saya balik ke Reception Class. Siswa dan ortunya sudah berada di dalam ruangan, mengerjakan aktivitas yang tenang, semisal membaca buku, main blok, komputer, dan sebagainya.

Dinara berjalan menyeberangi kelas, mengambil jurnal kegiatannya yang diabadikan gurunya setiap hari. Secara bersamaan dari balik kaca pintu saya melihat anak-anak dari kelasnya Fahdiy dan para ibunya, berbaris, bersiap menuju aula. Waduh, kasihan dong anakku ngga ada ibunya! Saya langsung kabur keluar sebentar.

Begitu melihat saya, Fahdiy memeluk dan menggeret tangan saya, “Assembly, Bunda…. Come on!”
“Eh, tunggu, ngajak Dinara dulu…”

Balik sebentar ke Reception Class, Dinara bingung mencari emaknya yang ngilang.

Akhirnya Dinara yang masih pegang jurnal hariannya yang supertebal (lah isinya foto-foto aktivitas dia sejak first day at Reception Class, jadi foto-foto dia sedang melakukan kegiatan apa, gambar, tulisan, apapun sejak September 2014) dibawa ke aula bareng kakaknya.

Di aula, kami langsung berbaur dengan para siswa dan ibu lain yang sudah lebih dulu hadir. Fahdiy terpisah jauh dari guru kelas dan teman-temannya. Sementara teman-teman Dinara menyusul datang belakangan. Sambil menunggu acara dimulai, saya membuka-buka jurnalnya Dinara. Kami bertiga ngobrol tentang isi jurnal itu.

Assembly menampilkan anak-anak menyanyikan lagu dengan tema Mother’s Day. Acara diakhiri setelah sekitar 10 siswa dari Dance Club unjuk kebolehan berjoged. Semua siswa berbaris, bersiap menuju kelas masing-masing. Saya menyusupkan Dinara dan Fahdiy ke barisan kelasnya masing-masing. Setelah mereka berada di tangan gurunya dengan selamat, saya keluar ruangan. Jam di mobile phone sudah menunjuk jam 10.18 sementara suami ada acara penting jam 11.00.

Setiap kali acara assembly di aula, Fahdiy akan selalu berada di barisan paling belakang. Semua hasil karyanya tidak pernah layak ditampilkan di barisan terdepan, untuk dipamerkan kepada para orang tua dan wali murid yang hadir.

Dia tidak bisa menyanyi atau pidato atau kegiatan semacam itu di hadapan orang banyak. Dia jelas nggak bisa dancing. Lukisannya jelek. Prakaryanya nggak pernah ada yang jadi. Dia belum pernah bawa pulang sertifkat Writer of The Month. Olah raganya payah. Serius, saya melihat sendiri kalau Sport’s Day. Math, Science, dan English-nya rata-rata, tidak ada yang istimewa.

Tapi makin ke sini, makin banyak adiknya, berkali-kali suami saya bilang, “Fahdiy memang dilahirkan untuk jadi anak sulung dengan banyak adik yang selisih umur adiknya berdekatan.”

Dia penurut ke orang tua (bedaaaaa bener dengan Dinara yang lebih… ehm… tough or stubborn, dan sejak dini udah kelihatan bossy-nya), sensitif dengan perasaan orang lain (sering ikut sedih dan ikut nangis kalau Mahdi nangis lama krn saya masih repot ngurusi hal lain), penolong, perhatian ke adik-adiknya (seriiinnngggg banget nanya-nanya, “What’s happened, Dinara? What’s happened Dara?), pengertian, dewasa, tulus, dan tidak punya rasa bersaing dengan orang lain.

Kalau melawak, membanyol, dan menghibur orang lain, bisa dijadikan salah satu prestasi, mungkin inilah salah satu keahlian Fahdiy. Atau mungkin humoris adalah kata yang lebih bisa mewakili? Saya tidak tahu.

Dua tahun lalu ketika guru-gurunya di sekolah lama bilang dia populer di sekolah, saya tidak percaya. Anak pemalu mana bisa populer di sekolah?

Melihat Fahdiy, saya selalu teringat kisah anak yang ranking 23 di kelasnya. Kisah itu mengingatkan diri saya sendiri, yang pernah jadi ranking ke-23 dari 48 siswa di kelas. Untuk yang belum pernah baca, saya posting ceritanya di sini.

Sebagai langganan ranking satu di kelas dan peraih Ganesha Prize, suami saya, tentu saja sangat tidak puas dengan prestasi anak sulungnya.

Di situ, kadang saya merasa sedih.

Di sisi lain, sebagai ibu yang seumur hidup tidak pernah juara kelas, saya cenderung nyantai dengan urusan sekolah. Urusan pelajaran agama pun idem ditto. Dengan kualitas tsaqofah saya sekarang, ditambah lingkungan tempat tinggal kami saat ini, mungkin Fahdiy tidak akan menjadi scientist atau hafizh.

Tapi mungkin juga kelak dia akan jadi scientist dan hafizh. Allahua’lam. Masa depan adalah rahasia Allah. Dan meski fasilitas terbatas, saya percaya pada kekuatan doa seorang ibu… Hehehe…

Yang terpenting bagi saya sekarang adalah anaknya sehat, happy, akhlaqul karimah. Mau sekolah. Mau mengerjakan tugas. Mau mengerjakan PR. Mau berangkat ke Islamic School. Mau buka Iqra’ tiap hari. Dimulai sejak akhir Desember lalu, hari ini Fahdiy khataman Iqra bab 3.

“He is my best student,” kata Ustadh Safaru ketika suami menjemput krucils di Islamic School-nya.

Di situ, selalu saya mengucapkan alhamdulillah.

Colchester, Essex, 14 Maret 2015

Advertisements

5 thoughts on “Anakku ‘tidak’ berprestasi(?)

  1. Nice story mba,, 🙂 justru sebenarnya dengan cerita sampeyan inilah kami dapat banyak titik point. Fahdiy yang dewasa dengan kepeduliannya pada Dinara menjadi nilai plus baginya. Dinara, yang lebih aktif. Jadi pengen kenalan sama Fahdy dan Dinara, salam ya mba,,

    Like

  2. Jadi keingetan cerita, ada anak yang prestasi akademiknya biasa-biasa aja, tapi waktu dia sakit dan gak masuk sekolah, temen-temennya merasa kehilangan, dan gurunya juga bilang begitu ke ibunya.
    Ibunya gak percaya bahwa teman-temannya merasa kehilangan anaknya, padahal baru beberapa gak masuk kelas karena sakit.
    Ternyata sang anak yang memiliki bakat akademis yang biasa-biasa aja itu punya kecerdasan humanistis, naturalis, dan interpesonal yang bagus, dia selalu membuat temannya merasa nyaman ketika bermain dengannya, dan dia adalah anak yang rajin menolong.

    Dibalik ‘kekurangan’ sesungguhnya ada kelebihan anak yang begitu luar biasa ya Mak, orang tua lah yang berkewajiban mengasahnya supaya makin berkembang baik.

    Salam kenal ya Mak 🙂

    Like

  3. wah anak2ku juga nggak pernah berprestasi di sekolah mb, tp sy tdk terlalu peduli hal itu krn sy yakin anak2 punya potensi sendiri yang insyAllah menunggu waktu untuk berkembang, mungkin tak di SD, yg penting adalah kita menanamkan aqidah islam yg kuat dan shaksiyyah islam yg kokoh, yg lain nyusul insyAllah.

    Like

  4. kisah kita kurang lebih sama mbak, anakku juga ga ‘secemerlang’ sepupunya yang lain, tapi saya mensyukuri saja, saya memandang anak saya ibarat bunga yang memiliki cara tersendiri untuk mekar. sebagai orang tua yang masa mudanya berprestasi harus berlapang dada, karena sekalipun anak adalah darah daging kita, tapi mereka tidak harus seperti kita.. tetap semangat ya mbak

    Like

  5. Pingback: Seminggu tanpa MedSos, Mulai Nggremeng Sendiri – Rumah kecil di seberang universitas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s