Futur risetnya atau imannya?

miller(Kenneth Raymond Miller)

“Mas Hendra (bukan nama sebenarnya) ngajak chatting aku,” kata suami, yang ngeloni laptopnya di kasur.
“Oh ya? Kenapa?”
“Dia kasih pertanyaan susah-susah. Katanya, Mas, iman state saya sedang dalam keadaan futur… Radio apa yang bisa saya dengarkan?”
Radio Mutiara, dong, batin saya. “Terus kamu jawab gimana?”
“Tak guyoni dulu. Futur imannya atau risetnya ini, Mas? Kalau saya, biasanya ya MQFM…”
Halah, batin saya lagi. Biasaya juga yang disetel radio yang 100% Rhoma Irama…
“Mas Hendra curhat, apa betul Tuhan itu ada? Apa betul Allah itu ada? Kalau ada, mengapa Allah tidak menolong ummat Islam yang dihinakan di mana-mana? Mengapa Allah membiarkan ummatnya seperti buih di lautan?”

Saya menggendong Mahdi dan melongok ke luar jendela.
“Apa Tuhan itu ada bukan hanya kehebatan intelegensia manusia saja? Apa tidak mungkin jika di kemudian hari science sudah demikian maju, kita bisa membuktikan bahwa sebetulnya Tuhan itu tidak ada?”

Saya mengusap punggung Mahdi pelan-pelan.
“Jika di masa depan semua kehidupan sudah berjalan baik, masih relevankah agama? Jika semua sudah baik-baik saja, lantas untuk apa agama ada? Jika manusia sudah berada di puncak peradaban, maka apakah agama tidak relevan lagi?”

Saya pribadi nggak kenal dengan Mas Hendra. Saya hanya tahu beliau sekarang menjalani post-doctoralnya di salah satu negara maju di Eropa daratan.

“Apakah agama masih akan bertahan, jika ia hanya sekadar hasil kecerdasan berpikir manusia yang memiliki keterbatasan dalam pengetahuannya?”

Mendengarkan pertanyaan-pertanyaan semacam itu, saya jadi teringat ketika mengaji pertama kali. Tujuhbelas tahun lalu, saya mengkaji Islam dengan suatu gerakan yang dalam pemikiran saya sangat aneh. Saya yang sudah siap-siap mendengarkan pembacaan ayat-ayat Alquran dan Hadits, justru banyak diajak berdialog. Pertanyaan-pertanyaannya sangat aneh dan menurut saya waktu itu sangat tidak bernuansa ngaji.

Alih-alih pengajan, saya malah diberi pertanyaan tentang mengapa kita ngaji? Mengapa harus paham Islam? Mengapa harus ber-Islam? Mengapa harus beragama? Apakah saya yakin Tuhan itu ada? Apakah saya yakin Allah itu ada? Bagaimana saya yakin kalau Allah itu ada? Bagaimana kita tahu Alquran itu benar kalam Allah?

Di pertemuan berikutnya, pertanyaan semakin dalam, “Dari mana kita berasal? Untuk apa kita hidup? Ke mana nanti kita akan kembali?”

Tentu saja saya tidak menjawab dengan, “Entahlah saya berasal dari mana, saya tidak pernah memikirkan hal itu. Saya hidup pokoknya untuk kuliah, untuk jadi dokter, kalau perlu ambil S2, S3, atau spesialis supaya jadi dokter yang laris, kaya, mapan, terus mati kalau bisa dalam keadaan kaya raya dan terkenal. Lantas ke mana saya setelah mati? Entahlah…”

Pertanyaan-pertanyaan itu membawa saya berpikir lebih dalam tentang segala hal. Terutama tentang diri saya sendiri. Saya beruntung karena sejak masih duduk di bangku TK Aisyah Bustanul Athfal yang berada di naungan Muhammadiyah, saya sudah dicekoki dengan pemahaman tentang Allah. Ditambah lagi masa SD di mana setiap hari wajib mengaji di masjid yang dikelola para takmir berhaluan Nahdlatul Ulama (NU).

Saya nggak merasa perlu repot-repot memikirkan tentang asal usul saya, dari mana saya berasal, dari mana asal kehidupan, dari mana asal alam semesta, dan seterusnya. Jawabannya sudah jelas, dari Allah Swt. Dan saya menerima itu semua sebagai taken for granted, alias ya sudah pokoknya percaya dan tidak mempertanyakan lagi.

“Terus kamu jawab apa, Yah?”
“Ya aku bilang, kalimat ‘jika manusia sudah berada di puncak peradaban, maka agama tidak relevan lagi’ ini kalimat logika jika-maka. Terus aku kasih ceramahnya Kenneth Miller…”
“Kenapa?”
“Karena Mas Hendro penggemar teori evolusi. Dia berusaha memahami dirinya dari teori evolusi. Sementara Di Barat sendiri, perdebatan science versus religion sudah selesai. Ken Miller itu yang menunjukkan bahwa sebetulnya Darwin tidak sedang berbicara tentang atheisme, atau meniadakan keberadaan Tuhan, atau semacamnya. Darwin hanya menunjukkan bahwa makhluk hidup mengalami evolusi, bahwa semua makhluk hidup berasal dari protein…”
“Terus?”
“Tapi Darwin sendiri tidak tahu apa yang membuat protein bisa hidup. Bagian ini yang disembunyikan kalangan ateis. Ken Miller sendiri justru malah penganut Katolik Roma yang taat, jadi dia memang punya posisi unik di kalangan ilmuwan.”
“Kok tetiba Kenneth Miller, bukan yang lain, Richard Dawkins, misalnya?”
“Ya soalnya pembimbing S3-nya dia Craig Mello, dosen biologi UMass (University of Massachusetts, tempat suami post-doc 2 tahun) yang dapet Nobel Prize itu…”

Kenneth Miller sendiri bukan orang UMass. Dia professor of Biology and Royce Family Professor for Teaching Excellence di Brown University, salah satu universitas papan atas kiblat sains dunia sekarang. Bidang kajian risetnya adalah struktur dan fungsi membran sel, dengan spesifikasi membran tilakoid kloroplas. Miller, yang seorang pemeluk Katolik Roma taat, menolak creationism (penciptaan manusia dan alam semesta sebagaimana penjelasan Bibel/Injil), termasuk menolak gerakan pseudoscience (pura-pura atau kelihatannya ilmiah padahal bukan, kayak antivaksinasi) intelligent design (ID) yang sebetulnya creationism versi lain. Kenneth Miller menulis dua buku penting di dunia evolusi: Finding Darwin’s God, yang menyatakan bahwa penerimaan teori evolusi kompatibel (sejalan) dengan keyakinan pada Tuhan ; dan buku Only a Theory, yang mengeksplorasi gerakan ID.

“Kayaknya kalangan Kristen juga keras penentangannya terhadap teori evolusi?” tanya saya nggak mudeng.

Suami pun memulai ceramahnya. Bahwa teori evolusi dikembangkan sudah berabad-abad yang lalu, berkali-kali diuji secara ilmiah (peer-reviewed) dan bahkan sudah menjadi pondasi keilmuan dari berbagai cabang sains. Mulai dari genetika, antropologi, ilmu kedokteran dan bahkan psikologi. Meski tidak berhenti mengundang resistensi dan kontroversi hingga di abad 21 ini.

“Untuk ilmuwan dan agamawan (Kristen) seperti Ken Miller, mengkaji evolusi tidak harus terjebak dalam kutub yang ekstrim, hitam dan putih. Bahwa seakan jika menerima teori evolusi berarti menolak Tuhan karena teori evolusi bertentangan dengan kitab suci. Jika menerima teori evolusi, lantas diasumsikan atheis karena beranggapan bahwa teori evolusi ini anti Tuhan dan anti agama. Nah, kalangan ilmuwan pola pikirnya bukan begitu…”

Saya melongo.

Suami melanjutkan, “Yang mungkin banyak orang tidak tahu, teori evolusi, seperti keilmuan sains lainnya pada dasarnya bebas-nilai…”

Ah, mana bisa teori evolusi bebas nilai?
“Evolusi tidak bicara soal Tuhan ataupun agama ataupun ayat kitab suci. Dia hanya merupakan satu kesimpulan mengenai cara dunia bekerja, dibangun berdasarkan data dan pengamatan ilmiah dan berkembang sesuai kaidah-kaidah sains yang baik dan benar. Tidak ada dalam teori evolusi yang memaksa orang untuk menjadi atheis atau theis. Tuhan, keyakinan dan agama bukan urusan teori evolusi…”

“Jadi manusia itu dari monyet, gitu? Jadi Nabi Adam itu dari monyet, gitu?” tanya saya norak.

“Lho, bukan begitu menyimpulkannya,” katanya lagi. “Menyimpulkannya seharusnya begini, ada kemungkinan, manusia dan kera itu berasal dari rumpun yang sama. Karena banyak sekali kemiripan antara kera dan homo sapiens. Tapi sekali lagi, ini semua teori, dalam dunia ilmiah, ini adalah salah satu teori dari ratusan teori tentang dari mana asal muasal manusia. Teori ini belum bisa dibuktikan kebenarannya, karena alat untuk eksperimennya belum ada…”

“Terus?”

“Faktanya, secara ilmiah, evolusi makhluk hidup itu terjadi, dan masih berlangsung sampai saat ini…”

“Kenapa monyet di bonbin ngga jadi manusia?”

“Pertanyaannya bukan begitu…” jawab suami mulai kesel karena pertanyaan-pertanyaan saya nggak ngilmiah blas. “Kalau kamu bertanya ke Kenneth Miller atau Richard Dawkins, mereka pasti bisa memberikan penjelasan panjang untuk menjawab pertanyaanmu…”

Saya mulai mual. Ini sudah masuk ranah, apa tuh namanya? Filosofi?

“Sebetulnya normal kalau scientist akhirnya mempertanyakan asal muasal manusia, dan segala sesuatu di dunia ini…” khotbah pakne krucils lagi. “Di fisika misalnya, kita mengenal bahwa segala sesuatu terdiri dari materi (atau massa? Lupa deh…). Materi (atau massa?) terdiri dari proton, neutron, elektron, dan di dalamnya masih ada partikel-partikel lain yang lebih kecil. Yang terkecil adalah energi. Sampai sekarang juga belum ketahuan, siapa yang menciptakan energi ini. Sama seperti Darwin yang tidak bisa menunjukkan mengapa protein yang benda mati ternyata bisa hidup…”

Yang saya bayangkan adalah, bagaimana kalau kelak krucils menanyakan hal-hal seperti yang ditanyakan Mas Hendra?

“Bunda, is Allah a boy or a girl?”
“Allah bukan manusia, Sayang. Dia bukan boy, bukan girl, bukan man or woman…”
“Where is Allah?”
“Allah ada di mana-mana?”
“Where? I can’t see Allah here…”
Saya mencubit tangan Dinara. “Do you feel pain?”
Dinara mengangguk.
“Well, I can’t see your pain. Show me your pain, Dinara…”
Dinara bengong.
“Just because we can’t see it, doesn’t mean it’s not here. You feel pain, eventhough you can’t see it.”
Saya meniup wajahnya. “Can you feel the air?”
Dinara mengangguk.
“Where is the air? Show me…”
Dinara bengong lagi.
“We can’t see the air, but it’s here. Do you understand?”

Atau Fahdiy yang bertanya, “Does Allah have hand, Bunda? Can Allah see? If we’re good, will Allah give us sticker?”
“Yes, Allah has hand, but unlike our hands. Yes, Allah can see, but unlike how we see. And no, Allah won’t give us sticker if we do the good thing, like ngaji… But Allah will love you more and protect you, and hopefully give you more good friends and health…”

Itu level anak usia 5-7 tahun. Bagaimana jika di masa depan anak terpapar ide-ide para evolusionist, Darwinist, atau bahkan atheis?

“Kita itu bisa apa dengan masa depan,” komentar suami nyantai ketika saya curhat. “Biarpun kita berdua profesor, banyak uang, dan punya kekuasaan besar, kita tidak akan mampu mengendalikan masa depan anak-anak.”
“Terus diem aja gitu?”
“Ya yang bisa kita lakukan ya yang di waktu sekarang, berusaha menyiapkan anak sebaik-baiknya, dan berdoa.”
“Menyiapkan supaya mereka independent thinking, dan nggak ikut-ikutan pemikiran yang salah?”
“Lho, bukan…”
Halah salah terus…
“Tapi menyiapkan supaya anak-anak bahagia dunia dan akherat…”

Bersyukur dulu bersama Hizbut Tahrir betul-betul diajak berpikir tentang uqdatul kubra, yakni 3 pertanyaan mendasar; dari mana saya datang? Untuk apa saya hidup? Ke mana nanti saya akan kembali? Termasuk diajak untuk membuktikan dengan pasti tentang keberadaan Tuhan Allah, kebenaran Alquran, Nabi dan Rasul, hingga hal-hal yang tidak bisa dijangkau oleh indera manusia semacam eksistensi malaikat, surga, neraka, Hari Akhir, juga memahami qadha dan qadar secara benar.

Sekarang, seringkali merasa rindu untuk kembali mengkaji kitab Nizhomul Islam (Peraturan Hidup di dalam Islam). Dan baru merasakan pentingnya bab Thoriqul Iman (Jalan menuju iman) yang di Barat sangat penting. Sekarang baru memahami mengapa Hizbut Tahrir membangun pondasi aqidah hanya dengan dalil-dalil naqli yang kuat yakni Alquran dan Hadits mutawatir. Dulu sempat kaget ketika ada buku Hizbut Tahrir Neo Muktazilah yang menganggap HT sesat karena dianggap tidak menerima hadits Ahad.

Ternyata maksudnya bukan begitu. HT menerima hadits Ahad, namun hanya menggunakan dalil-dalil yang kuat untuk membangun pondasi aqidah… Kalau bercermin dari orang-orang seperti Mas Hendra saya pribadi bisa memahami mengapa aqidah state harus berada pada posisi kokoh dan tak tergoyahkan. Buat yang nggak setuju, silakan konsep HT didebat lagi… 😀

Mengingat itu semua, saya jadi pengen mengaji lagi, dalam bahasa Indonesia. Soalnya bahasa Inggris saya jelek. Tetapi mengaji secara nukil (langsung baca kitab bahasa Arabnya) sekarang itu sulit saya lakukan. Di situ kadang saya merasa sedih… (Brigadir Dewi Sri Mulyani mode: ON)

Colchester, Essex, 22 Februari 2015)

 

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Futur risetnya atau imannya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s