Ketika suami mengeluh capek ngurus krucils…

ayah(Ayah octopus :D)

Mahdi (14 bulan) sesak sejak dua hari yang lalu. Plus demam. Kemarin pagi saya putuskan membawanya ke surgery (puskesmas) sekadar minta second opinion kepada ahlinya.

“I’m not happy with his breathing,” kata dokter Shrimpton yang cantik itu. Saya sudah menduga. Mahdi memang sudah masuk kategori tachypneu, bernafas cepat, ditambah lagi otot-otot leher dan sekitar dada dan perutnya retraksi (recession) kalau dia menarik napas. Saturasi oksigennya tidak pernah mencapai 90%. Mahdi dirujuk ke rumah sakit. Karena bisa berangkat sendiri, bu dokter tidak mengusahakan ambulans untuk kami.

“Seharusnya buku-buku parenting Islami itu nggak cuma ngomong tentang mendidik anak, mendidik generasi, dan sejenisnya,” ucap suami, di dalam mobil, dalam perjalanan ke rumah sakit.

Kami terpaksa berangkat berenam, karena sekolah masih libur semua, dan suami berkeras mau mengantar Mahdi ke rumah sakit.

“Maksudnya gimana?” tanya saya nggak paham.
“Ada nggak sih buku parenting Islami yang juga berisi kesulitan dan tantangan dalam mengasuh anak?”
Saya masih mikir ketika suami menyambung, “Kok selama ini setahuku buku-buku tentang pernikahan dan pengasuhan anak yang Islami itu isinya yang indah-indah saja…”

Hari itu seharusnya suami ada janji dengan salah satu mahasiswa S3 yang dibimbingnya. Sebelum berangkat saya udah ngomong, “Atas nama Mahdi, sampaikan permohonan maaf kami ke Omar, karena bikin dia nunggu kamu lama buat ketemuan di kampus…”
Suami cuma ‘mencep’. Saya tahu dia pasti banyak pikiran, antara anak kandung yang dirujuk ke rumah sakit, dan anak bimbingan yang -eehhhmmm….- itung-itungan risetnya gak jalan atau entah apa masalahnya sehingga perlu konsultasi serius.

Tentu saja buku dan artikel tentang pendidikan anak sudah banyak ditulis. Mau yang sekuler? Ada. Mau yang Islami? Melimpah. Mau yang umum? Banyak. Mau yang spesifik mengasuh anak berkebutuhan khusus? Di Barat jumlahnya sudah ratusan.

Tapi, berapa pun banyaknya kitab atau buku yang saya baca, rasanya tidak akan pernah menyiapkan saya 100% dalam menghadapi berbagai problem rumah tangga, termasuk dalam pe-ri’ayahan (pengurusan) anak.

Di rumah sakit, sambil menjalani treatment dan menunggu hasil, saya terus memikirkan keluhan suami. Selama ini biasanya saya yang lebih sering mengeluh capek.

“Aku lelah sekali, Yah,” kata saya suatu kali. “Aku ingin liburan…”
“Jangan sekarang, Bu… AKu juga sedang sibuk di kantor…”
“Aku mengajukan cuti… Potong gajiku juga gapapa…”
“Nanti saja bulan Juli… Pas mahasiswa libur…”
“Yaaa…. Capeknya sekarang, kok…”

Sama sekali nggak pernah terpikir bahwa suami juga bisa bosen, capek, jenuh, dan bete, mengasuh dan mendidik anak-anak. Mungkin ini terjadi karena saya pikir kerja di kantor lebih ringan daripada kerjaan rumah tangga. Bagaimana pun kerja di kantor ada jam kerjanya. Kerjaan rumah tangga, ngga ada jamnya. Kerja di kantor, kerja dengan orang dewasa, yang bisa diminta pengertiannya. Kerja di rumah, kerja dengan anak-anak kecil yang tidak selalu bisa memahami kita. Seringkali mereka berempat mengeluarkan perintah secara bersamaan.

Ada bayi mengantuk yang ingin digendong. Ada balita yang lapar ingin minum susu. Dan ada dua anak TK yang berkelahi saling dorong, saling pukul, ada yang nangis. Di lain waktu, ada dua anak TK yang harus mengerjakan PR, dan ada satu baby yang selalu berusaha menjamah bahkan menyobek buku-buku kakaknya. Di lain waktu, ada batita yang ingin ke playground, sementara kakak-kakaknya ingin di rumah, main game di komputer atau membaca buku.

Seringkali lebih sering lelah jiwa daripada lelah fisik itu sendiri. Apalagi ketika ada yang sakit, harus menginap di rumah sakit. Pasti langsung kepikiran, “Gimana baju kotor, pasti gak ada yang menggarap. Setrikaan numpuk. Rumah berantakan..” Dan seterusnya. Padahal di rumah sakit ‘enak’. Nggak pakai kerja bakti. Nggak pakai masak udah dapat makan… Hihihi…

Alhamdulillah Mahdi boleh pulang, nggak harus rawat inap.

Mungkin saya perlu bilang ke suami saya. Bahwa kita tidak harus menjadi orang tua yang sempurna. Menjadi orang tua yang baik saja, itu sudah cukup. Kita tidak akan bisa menjadi orang tua yang sempurna, dan anak-anak pun juga bukan anak yang sempurna.

Kalau sesekali kita kehilangan kendali, marah, membentak anak, berteriak kepada anak, it’s oke. Kalau sesekali inkonsisten dan tidak disiplin, ya nggak apa-apa, sepanjang untuk urusan yang halal. Apalagi ‘cuma sekadar’ rumah berantakan, makan jacket potato (kentang panggang tabur keju dan kacang merah saus tomat instan), atau setrikaan numpuk. Semua orang tua di Barat, yang mengasuh anak-anaknya tanpa bantuan asisten/pembantu/keluarga besar, pasti pernah mengalaminya.

Saat liburan sekolah, sementara kantor nggak libur, memang jadi tantangan tersendiri. Yang di rumah, harus mengasuh 4 anak, dan melepaskan beberapa pekerjaan rumah tangga. Ketika jam kantor usai, yang capek di kantor masih harus kerja bakti di rumah mengurus krucils. Kadang jam ngantor terambil untuk acara semacam Dad’s Day di sekolah. Ya mau bagaimana lagi, kalau ayah nggak hadir di acara Dad’s Day, nanti dikirain ibunya single parent...

“Menjadi orang tua dan mengasuh anak ternyata nggak seromantis buku-buku yang kubaca ketika masih bujangan dulu…” kata suami.

Saya cuma memilih diam. Nggak perlu dibantah dengan kalimat, “Ya iyalah, kamu kapan ada waktu baca buku-buku parenting keluaran terbaru? Makanya jangan baca paper penelitian melulu…”

Kadang ‘mengasuh suami’ itu sama seperti mengasuh anak. Mungkin mengasuh istri juga sama. Sering kali nggak semua perlu ditanggapi. Cukup didengarkan saja.

Yang paling penting semua sehat. Sehat fisik, dan psikis. Sisanya kita pikirkan kemudian.

Anyway, tidak ada orang tua yang sempurna. Tidak ada orang tua yang mengasuh anak-anaknya tanpa asisten/pembantu/keluarga besar, yang tidak mengeluh capek. Kita bisa capek, ya karena kita orang tua normal. Bukan super parent. Bukan perfect parent.

“Ngasuh anak ya memang capek, Yah,” ucap saya suatu ketika. “Khan, mangsa labuh…”
“Gayamu, kayak ngerti mangsa labuh segala…”
“Lho, aku khan wong Jawa…”
“Kamu khan Jawa murtad...”

Mengasuh dan mendidik anak ketika mereka masih kecil itu, menurut sebagian tokoh parenting, ibarat mangsa labuh atau musim bertanam. Masa sulit-sulitnya, capek-capeknya. Panennya masih jauuuuhhhh…
Modal iman dan ketakwaan memang wajib. Segenggam rasa humor bisa sedikit mengobati lelahnya jiwa. Dan kata para pakar parenting, pahamilah, serta maklumilah kalau kita tidak sempurna.

Katanya, sih, “Perfect parents don’t exist, so accept your limitations and go forward with your parenting life from there. Perfect parents don’t exist, and neither do perfect children –And that’s what we call A Family…”

Dan secapek-capeknya mengurus anak, bagi yang muslim, pasti akan memahami, “Laa yukallifullahu nafsan illa wus’aha, lahaa maa kasabat wa ‘alayha maktasabat… Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya…”

Happy parenting, happy weekend and Jum’at mubarok for everyone.

Colchester, Essex, 20 Februari 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s