Rumah Tangga tanpa Asisten/Pembantu (bagian 2 dari 5)

P1060972Tulisan ini lanjutan dari Rumah Tangga tanpa Asisten/Pembantu (bagian 1 dari 5)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang biasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga memiliki harga diri (self-esteem) lebih tinggi, lebih bertanggungjawab, dan memiliki kemampuan lebih baik dalam menghadapi rasa frustrasi dan penghargaan dalam jangka panjang yang tidak langsung dirasakan/diberikan, di mana semua sikap ini memberikan kontribusi keberhasilan mereka dalam urusan sekolah. Lebih jauh, hasil penelitian Marty Rossman menunjukkan bahwa melibatkan anak dalam pekerjaan rumah tangga sejak mereka berusia dini, memberikan dampak positif terhadap kehidupan mereka selanjutnya. Menurut Rossman, faktanya, “Indikator keberhasilan terbaik untuk menilai keberhasilan para dewasa muda usia 20 tahun-an, adalah partisipasi mereka dalam pekerjaan rumah tangga saat mereka berusia tiga atau empat tahun.”

Melakukan pekerjaan rumah tangga memberikan kesempatan kepada anak untuk menolong orang tua. Anak-anak kecil akan memandang hal in sebagai suatu hal yang penting, bahwa mereka ternyata memiliki kontribusi terhadap keluarga. Mereka akan lebih dekat dan akrab dengan keluarga. Memberikan tugas rumah tangga kepada anak, secara positif dapat meningkatkan rasa tanggungjawab mereka dan melatih mereka bertanggungjawab terhadap banyak hal di Masa depan. Anak-anak akan merasa memiliki keterampilan lebih baik untuk menyelesaikan kewajiban-kewajiban mereka dan menuntaskan tugas-tugas mereka.

Namun yang sering kita jumpai adalah orang tua mengerjakan semuanya untuk anak-anak, dan tidak memberi kesempatan anak untuk belajar menyelesaikan persoalan rutin sehari-hari. Padahal, ketidakmampuan mengerjakan hal-hal rutin sehari-hari, dapat membatasi kemampuan anak untuk berkembang maksimal sesuai umurnya. Misalnya Sara (umur 5 tahun) adalah salah satu dari sedikit sekali anak di TK-nya yang tidak bisa memakai jaketnya sendiri, dan tidak bisa merapatkan retsliting/kancing jaketnya sendiri. Atau Sam (umur 7 tahun), yang diundang bermain di rumah temannya, dan saat makan siang menjadi satu-satunya anak yang tidak bisa menuang jus ke cangkirnya sendiri. Atau Beth yang di usia 18 tahun sudah kuliah namun masih tidak tahu bagaimana cara mencuci dan menyeterika pakaiannya sendiri. Dengan melatih anak mengerjakan sendiri apa-apa yang menjadi tugasnya, serta mengajari mereka berkontribusi dalam pekerjaan rumah tangga, orangtua membekali anak dengan skill yang pasti akan mereka butuhkan ketika mereka mulai mandiri dan keluar menuju dunia yang lebih luas.

Dengan begitu banyak waktu yang dimiliki orang tua (18 tahun adalah batas anak disebut dewasa di Barat), orang tua perlu menolong anak untuk belajar bagaimana menggunakan waktunya, dan mengajari anak tentang prioritas aktivitas. Kalau orang tua, membebaskan anak dari pekerjaan rumah tangga, denga alasan mereka sudah terbebani dengan begitu banyak tugas-tugas sekolah, atau sibuk dengan ekstrakurikuler dan les-les, maka secara langsung maupun tidak langsung, orang tua mengatakan kepada anak bahwa skill akademis mereka adalah yang terpenting dan segala-galanya. Dan jika di kemudian hari anak gagal dalam tes, atau tidak menjadi juara di bidang akademis, maka mereka akan gagal di dalam hal yang dianggap orangtuanya paling dan sangat penting dan segala-galanya. Mereka tidak memiliki skill kompetensi lain yang bisa digunakan untuk hidup. Dengan melibatkan anak dalam pekerjaan rumah tangga, mereka mungkin tidak akan menjadi bintang kelas, tetapi mereka akan tahu bahwa mereka tetap memiliki kontribusi terhadap keluarga, dan mereka memiliki skill atau keterampilan yang diperlukan untuk menjaga serta merawat diri sendiri, dan mereka belajar skills yang akan mereka perlukan sebagai orang dewasa.

PEKERJAAN RUMAH

Bagi yang tidak terlalu lama bersekolah, pekerjaan rumah langsung diartikan sebagai pekerjaan-pekerjaan yang lazim dilakukan ibu kita di rumah seperti memasak, mencuci pakaian, dan merapikan tempat tidur.

Demikianlah pada suatu pagi hari libur istri saya minta anak kami yang sedang membaca sesuatu untuk mengambil tempat sampah dan mengumpulkan tumpukan dedaunan di halaman belakang untuk di buang ke tempat sampah di depan rumah. Dia menjawab, ’’Aku sedang mengerjakan PR, Ma.’’ Lalu, dia kembali melakukan hampir semua hal untuk menyelesaikan PR dari dosennya, kecuali yang diminta istri saya itu. Saya dan istri saya mulai berdiskusi tentang PR tersebut.

Saya pikir, kata PR itu betul-betul mantra ajaib. Melalui PR tersebut sekolah mulai menanamkan gagasan kepada anak saya bahwa pekerjaan membuang sampah di rumah itu tidak berkaitan dengan belajar. Begitulah anak saya mulai meremehkan pekerjaan-pekerjaan ’’rumahan’’ itu. Pekerjaan rumahan adalah pekerjaan murahan. Lalu, anak saya juga berpikir bahwa belajar hanya terjadi di sekolah atau kampus, sedangkan rumahnya sendiri bukan tempat belajar yang penting.

Walau berat hati, saya terpaksa mengatakan bahwa sekolah adalah predator keluarga di rumah. Guru dan sekolah, antara lain melalui PR, berusaha keras untuk memberikan pesan dan kesan sebagai satu-satunya tempat belajar. Banyak orang tua yang kemudian percaya pada pesan dan kesan itu. Apalagi sekarang muncul istilah ’’pendidikan karakter’’ dan ’’full-day school’’. Peran mendidik dalam keluarga secara perlahan tapi pasti diambil alih sekolah. Banyak keluarga yang mulai ’’menitipkan’’ anak-anak mereka ke sekolah, tentu untuk harga yang cocok.

Pendidikan karakter dan budi pekerti hanya mungkin berkembang di rumah dan di luar sekolah. Sekolah hanya lingkungan buatan yang sering dimanipulasi. Bahkan, anak belajar ketidakjujuran di sekolah. Di banyak sekolah, sing jujur malah ajur (yang jujur malah hancur). Karakter hanya tumbuh subur dalam kehidupan nyata yang penuh tantangan, kegetiran dan kepedihan. Menyerahkan pendidikan seluruhnya kepada sekolah merupakan bentuk sikap orang tua yang tidak bertanggung jawab.

Kurikulum hanya resep makan siang seragam di warung dekat rumah yang disebut sekolah. Anak yang sarapan dan makan malam bergizi yang disiapkan ibu di rumah tidak terlalu membutuhkan makan siang seragam di sekolah. Hanya anak yang tidak sarapan yang mengharapkan makan siang di sekolah.

Keluarga harus merebut kembali tugas-tugas mendidik karakter anak-anak dengan membiasakan mereka melakukan sendiri pekerjaan-pekerjaan di rumah. BKKBN perlu menyediakan tunjangan bagi ibu hamil dan menyusui serta merawat balita di rumah. Itu jauh lebih efektif daripada PAUD. Kehadiran Pembantu Rumah Tangga (PRT) bisa berdampak buruk bagi pembentukan karakter anak. Pekerjaan-pekerjaan di rumah adalah bagian penting dalam pembentukan karakter anak-anak kita dan dalam rangka home-makings. Barat menggantungkan keberlanjutannya pada sistem persekolahannya. Kita menggantungkannya pada keluarga di rumah.

Sumber tulisan:
Benefits of Chores, http://centerforparentingeducation.org/library-of-articles/responsibility-and-chores/part-i-benefits-of-chores/
Pekerjaan Rumah, Prof. Daniel M Rosyid, http://www.jawapos.com/baca/artikel/283/Pekerjaan-Rumah

Colchester, Essex, 17 Februari 2015

Lanjutan: Rumah Tangga tanpa Asisten/Pembantu (bagian 3 dari 5)

Advertisements

One thought on “Rumah Tangga tanpa Asisten/Pembantu (bagian 2 dari 5)

  1. Pingback: Rumah Tangga tanpa Asisten/Pembantu (bagian 3 dari 5) | Rumah kecil di seberang universitas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s