Rumah Tangga Tanpa Asisten/Pembantu (bagian 1 dari 5)

pekerja anak(Mempekerjakan anak di bawah umur untuk beberes mainannya :D)

Masalah yang kini kita saksikan di panggung duna kerja dan dunia politik (juga dunia birokrasi dan akademik), sesungguhnya tak lepas dari bagaimana manusia-manusia Indonesia dididik dalam keluarga pada masa kecil. Tak mengherankan, setiap orang tua diberi mandat mengurus kelahiran dan tahap awal kehidupan manusa. Melalui tangan orangtua, bayi-bayi mungil yang tak berdaya itu diberi kehangatan, kasih sayang, kelembutan, asupan gizi, ASI, dan seterusnya.

Kita sudah tak ingat lagi masa-masa itu, tetapi setiap saat mempunyai bayi kecil, kita manusia Indonesia meneruskan tradisi ini. Di tangan kita mereka aman, nyaman, dan berkembang. Setelah itu kita memikirkan pakaian, aksesoris, sekolah, guru, mainan, dan lain sebagainya. Anak-anak itu kita bentuk sesuai keinginan kita. Sehingga setiap akan melakukan sesuatu ia wajib bertanya, “Mama, ini boleh nggak?”

Tetapi waktu berlalu dan saat mereka sudah bisa berjalan sendiri kita masih membelenggu mereka dengan ‘hubungan batinnya’ pada pikiran kita. Saat mereka ingin ikut berkemah dengan teman-temannya, kita katakan, “Jangan, Nak, nanti kamu sakit.”

Atau saat ia ingin backpacker-an ke luar negeri, kita pun mengernyitkan dahi. Mereka hanya boleh ke luar negeri, “Kalau Mama ikut,” atau, “Kalau ada saudara yang menjemput”. Kita mencarikan mereka tiket yang sudah bisa mereka urus sendiri. Kita menentukan ke mana mereka pergi. Sampai memilihkan travel agent-nya dan membayar semua biayanya. Kita berikan yang terbaik agar anak-anak terlindung, tidak tersesat, aman, dan nyaman.

Bahkan saat mereka memilih pendamping hidup, kita pun menetapkan syarat-syaratnya. Kita yang memilihkan, atau setidaknya menetapkan persyaratan-persyaratan lahiriah calon pasangan hidupnya. Kalau sudah menikah, tak sedikit orangtua yang mengatur kehidupan anak-anaknya. Tempat tinggal, karier, gaji, dan sebagainya, masih banyak diurus orang tua.

Harus diakui, semakin ke sini, generasi baru Indonesia adalah generasi servis. Mereka dibesarkan dengan servis yang dibeli oleh orangtuanya yang bekerja. Yang punya uang sedikit lebih banyak, membesarkan anak dengan asisten rumah tangga. Yang lebih sejahtera, membeli jasa baby sitter. Belajar pun mereka didampingi guru-guru les yang dibayar orangtua. Pergi ke luar negeri pakai travel. Urus paspor saja pakai calo. Akibatnya, mereka kurang inisiatif.

Saya menerima anak-anak pintar itu dengan sukacita. Tetapi saya langsug teringat dengan koleksi burung merpati saya. Burung-burung itu sangat banyak di kandang, tak pernah bisa kabur jauh.

Anda tahu apa yang saya lakukan? Persis!

Sayap burung-burung itu saya potong sedikit supaya lebih pendek, lalu saya jahit dengan benang. Mereka masih bisa terbang, tetapi tidak bisa tinggi dan jauh. Semakin lama koleksi merpati saya makin banyak karena mereka beranak pinak dan tidak bisa pergi jauh.

Saya bahagia, dan sering menerima pujian dari tetangga dan teman. Sampai suatu ketika saya termenung, “Bahagiakah burung-burung itu di tangan saya?”

Tanpa kemampuan berkelana dan terbang tinggi mereka pasti kehilangan jiwa yang seutuhnya. Sayap-sayap mereka yang terbelenggu pasti membuat mereka tak nyaman. Mereka begitu jinak dan mudah saya belai atau usap kepalanya. Tapi bahagiakah mereka?

Waktu berlalu, bulu-bulu yang saya potong sudah tumbuh kembali. Jahitannya pun sudah terlepas. Tetapi burung-burung yang seharusnya bisa terbang begitu tinggi dan jauh itu sudah tak memiliki rasa percaya diri lagi bahwa mereka bisa terbang tinggi. Mereka hanya berkerumun di loteng rumah kami. Sampai saya berpikir, andaikan suatu saat saya tak mampu memberi makan, masih bisakah mereka meneruskan keturunannya?

Itulah yang mendorong saya mengirim mahasiswa-mahasiswa saya ke luar negeri. Bukan bergerombol, tetapi harus sendiri-sendiri, tanpa orangtua, saudara, teman, kenalan, atau jemputan. Pokoknya pergilah ke tempat yang jauh dan cari uang sendiri. Dan ajaib, semua bisa pergi.

Semuanya kesasar dan semuanya belajar. Prinsip orang berpikir adalah keluar dari rutinitas. Kalau setiap hari melakukan hal yang familier/rutin, atau selalu dibimbing orang lain, maka manusia cenderung menjadi ‘penumpang’ bagi orang lain dan tidak berpikir lagi.

Di lain pihak, orangtua punya tendensi mengawal dan menuntun. Sebagian mahasiswa yang berangkat terpaksa bertengkar dengan orangtua, tak jarang orangtua menghubungi relasi-relasinya di luar negeri untuk mengawal anak-anaknya. Bahkan ada yang menyabot hak anak untuk pergi mandiri dengan perjalanan wisata yang diorganisasi tour company. Ini, tentu saja semakin mengunci potensi yang harusnya bisa dikembangkan anak.

Saya melihat kontras antara anak-anak di Indonesia yang terlihat banyak ketakutan dalam mengungkapkan isi pikiran dan analisisnya kendati sudah dewasa, dengan anak-anak yang dilepas orangtuanya merantau. Di Amerika Serikat, saya bertemu ribuan anak muda dari berbagai bangsa. Ketika banyak anak Indonesia hidup manja dari beasiswa atau tunjangan orangtua, saya bertemu kaum muda Tiongkok, Vietnam, Kamboja, Aljazair, Mesir, Israel, Rusia, bahkan Amerika atau negara Barat pada umumnya yang dibiarkan orangtuanya untuk belajar hidup. Di Barat, selepas usia 18 anak dianggap dewasa dan biasanya keluar dari rumah orangtua. Biaya studi didapatkan dari hutang kepada negara yang akan dibayar kelak ketika mereka lulus dan bekerja. Sejak masih mahasiswa mereka harus bekerja untuk membayar sewa tempat tinggal, makan sehari-hari, buku dan biaya kuliah, tetapi mereka mendapatkan kemandirian. Mereka jadi pembersih toilet, memupuk kebun jagung, pelayan restoran, loper koran, atau tukang cuci piring di rumah makan dan hotel. Saya temasuk yang harus menjadi asisten riset dan mengajar, dan istri bekerja mengantarjemput anak-anak tetangga ke sekolah, memasak, dan memberi makan anak-anak tersebut karena beasiswa tak cukup untuk hidup sekeluarga.

Apakah dengan mandiri kami lantas tidak respek kepada orangtua? Tentu saja tidak. Kita hanya menjadi lebih realistis menghadapi tantangan kehidupan, karena kelak kita pun akan menjadi orangtua bagi anak-anak kita. Kita akan menjadi tempat bertanya bagi orangtua, bahkan mungkin sebaliknya, kitalah driver-nya. Orangtua yang dulu menjadi driver kita, kini duduk manis menjadi passenger yang harus kita layani. Itulah manisnya kehidupan.

Mungkin orang lain yang melihat kerasnya kehidupan anak-anak muda menjelang dewasa, akan terharu dan iba. Apalagi jika membandingkan dengan mereka yang biasa hidup enak dengan kiriman uang dalam jumlah besar dari orangtua.

Tetapi sekarang 10-20 tahun kemudian, keadaannya serba terbalik. Saya justru merasa kasihan menyaksikan hidup mereka yang dulu begitu dimanjakan orangtuanya. Tak sedikit di antara mereka yang kini kesulitan berselancar dalam dinamika kehidupan yang berubah-ubah penuh ketidakpastian. Sementara keluarga kami, telah tumbuh menjadi keluarga independen dan terbiasa menghadapi ketidakpastian. Sebagian mereka tetap menjadi passengers, kami telah hidup sebagai driver.

Psikolog Stanford University, Carol Dweck, yang menulis temuan dari eksperimennya dalam buku The New Psychology of Success, menulis, “Hadiah terpenting dan terindah dari orangtua pada anak-anaknya adalah tantangan”.

Ya, tantangan. Apakah itu kesulitan-kesulitan hidup, rasa frustrasi dalam memecahkan masalah, sampai kegagalan “membuka pintu”, jatuh bangun di usia muda. Ini berbeda dengan pandangan banyak orangtua yang cepat-cepat ingin mengambil masalah yang dihadapi anak-anaknya.

Kesulitan menyelesaikan tugas rumah tangga sehari-hari diselesaikan dengan merekrut asisten rumah tangga. Kesulitan belajar mereka kita atasi dengan mendatangkan guru-guru les, atau bahkan menyuap sekolah dan guru-gurunya. Bahkan, tak sedikit pejabat mengambil alih tanggung jawab anak-anaknya ketika menghadapi proses hukum karena kelalaian mereka di jalan raya.

Kesalahan mereka membuat kita resah. Masalah mereka adalah masalah kita, bukan milik mereka.

Rasa ketergantungan semakin besar, kian hari semakin banyak kita saksikan. Kasian anak-anak itu. Alih-alih menjadi manusia merdeka, seperti merpati-merpati saya, mereka selalu kembali ke ‘sangkar induknya’. Mereka menjadi passengers dalam kendaraan besar keluarganya.

Ditulis ulang dengan beberapa perubahan.

Sumber tulisan:

Anak-anak Kita Bukanlah Burung Dara yang Sayapnya Diikat, Rhenald Kasali
Mengapa Anak yang Pintar di Sekolah Bisa Alami Kesulitan Ekonomi?, Rhenald Kasali
Self Driving: Menjadi Driver atau Passenger? Rhenald Kasali

Colchester, Essex, 16 Februari 2015

Rumah Tangga tanpa Asisten/Pembantu (bagian 2 dari 5)

Advertisements

One thought on “Rumah Tangga Tanpa Asisten/Pembantu (bagian 1 dari 5)

  1. Pingback: Rumah Tangga tanpa Asisten/Pembantu (bagian 2 dari 5) | Rumah kecil di seberang universitas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s