Valentine’s Day itu bisnis, bukan cinta…

vd(Sumber gambar: Love Is An Expensive Business – Valentine’s Day By The Numbers [Infographic], Forbes)

Sejak kapan rakyat Indonesia, yang muslim, pula, jadi ikut-ikutan merayakan Valentine’s Day? Matur nuwun kepada walikota Surabaya, Bu Tri Rismaharani yang melarang Valentne’s Day di Surabaya. Terima kasih juga kepada Pak Mahyeldi Ansharullah, Pak Nurmahmud Ismail, Pak Mohammad Ramdhan Pomanto dan Pak Illiza Saaduddin Djamal yang melarang Valentine’s Day di Kota Padang, Depok, Makassar, dan Aceh.

Negara-negara Barat gegap gempita menyambut Valentine’s Day alasannya cuma satu. Bukan agama, bukan tradisi, bukan juga cinta. Tapi murni bisnis. Tahun ini saja, rata-rata setiap rakyat Amerika Serikat menghabiskan $142.31 (sekitar Rp1.800.000/orang) untuk urusan kado alias hadiah. Laki-laki menghabiskan uangnya 2x lebih banyak daripada perempuan. Total jumlah belanja-belanja urusan hadiah VD ini, rakyat AS menghabiskan $19 billion alias $19.000.000.000… Alias Rp242.867.499.999.822,- Gimana nih nyebut duit sebanyak gini?

Perinciannya:

Perhiasan $4.8 billion
Kencan (salon, baju, make up, restoran) $3.6 billion
Bunga $2.1 billion
Binatang piaraan (pet) eng ing eng…. $703 million!!!

Demi memperbesar putaran uang, VD bukan cuma untuk orang pacaran atau yang sudah nikah. Tapi dikampanyekan juga untuk keluarga, sahabat dekat, karib kerabat, teman sekelas, dan guru. Sebanyak 21,2% memberikan hadiah Valentine’s untuk binatang piaraannya. Ini yang ngasih ke binatangnya, kenapa coba?

Yang jelas, cinta itu dibuktikan dengan akad, bukan cuma coklat.
Kalau cinta sana nikah, jangan cuma kasih hadiah.

Hehe…

Kalau udah nikah, Valentine’s Day mungkin waktu yang pas untuk merenungkan kembali nasihat berikut ini, “Selalu saja ada rasa bangga dan haru mendengar, membaca dan menyaksikan pasangan-pasangan yang merayakan kelanggengan rumah tangga mereka. Apakah itu lima, sepuluh atau dua puluh tahun. Mereka bukan sedang di kapal pesiar. Mereka sedang mengarungi sebuah misi kemanusiaan di sebuah biduk ringkih yang diterpa amuk gelombang sambil berpegang kuat pada seutas tali dari langit. Sungguh, tak ada manusia perkasa yang sanggup melakukannya. Ini adalah prestasi para hero yang dengan cerdik menyadari bahwa rumahtangga adalah bahtera terbaik menggapai surga.”

Colchester, Essex, 14 Februari 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s